SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
021 - CALON PEMILIK GUILD YANG BARU?


__ADS_3

Perlahan kemudian hubungan Roma dan Milan semakin dekat mereka semakin akrab menjadi sebuah tim party yang luar biasa.


Tidak ada yang berani mengganggu mereka sama sekali bahkan mereka disebut sebagai anggota party paling hebat yang pernah ada meskipun saat ini mereka masih peringkat s+


Hingga menunggu waktunya saja sampai mereka menaiki peringkat SS, lalu SSR.


Dengan begitu mereka akan menempati Puncak sebagai anggota party dengan tingkat tertinggi.


Mereka bisa mendapatkannya mungkin dalam waktu yang singkat dan tak akan ada masalah untuk itu


Semua orang juga tahu bahwa mereka memiliki kekuatan yang hebat maka tak akan heran jika mereka bisa melakukannya secepat yang mereka mau.


Lagi pula ini bukan hanya Roma yang memiliki kekuatan seperti itu tetapi juga Milan.


Semua yang Milan punya saat ini juga atas bantuan dari Roma itu sendiri yang mengajari banyak sihir yang baru untuk Milan.


Memang Milan sendiri yang memintanya supaya Roma mengajarkan sihir padanya karena selama ini ia hanya pandai menggunakan sihir panahan yang memang keahliannya sejak kecil.


Selain itu dengan bantuan dari Roma, Milan juga terus menambahkan kekuatan mana sihir pada panah miliknya.


Bahkan ia saat ini yakin bahwa level kekuatannya ia miliki begitu hebat dan semakin bertambah.


"Kamarmu sempit juga ternyata," kata Milan saat untuk pertama kalinya ia mengunjungi kamar Roma.


"Sempit kalau di dalam ini ada kita berdua, tetapi cukup lengang untukku yang sendirian ini," ucap Roma.


"Tetapi kau betah di sini, ya."


"Aku memang membebaskan diri. Lagi pula jika aku terlalu jauh dari guild, itu akan membuatku lama mengambil misi. Kalau lama mengambil misi nanti peringkatku turun lagi," papar Roma.


"Benar juga apa yang kau katakan, jika terlalu lama tak menjalankan misi, peringkatmu pasti turun. Si tua Tere itu tak akan pernah mau rugi."


Roma mengangguk mendengarkan apa yang dikatakan Milan itu, bos mana yang mau rugi dengan tempat yang saat ini dikelolanya.


"Dia juga mau untung, apalagi kita menjalankan misi ini dengan baik dia pasti mendapatkan uang yang banyak dari itu."


"Mau bagaimana lagi namanya juga sebuah bisnis."


Mereka berbicara banyak hal di dalam, tetapi tak lama kemudian mereka pun keluar dari sana,  karena memang tujuan awal mereka masuk kamar Roma hanya ingin melihat bagaimana bentuknya tidak lebih.


Sesampainya di luar mereka pun menanyakan misi pada Tere, ternyata ada misi yang cocok untuk mereka dan mereka mengambil misi itu.


Hari-hari mereka sejak terbentuknya party itu mereka terus menjalani misi bertiga, Roma, Milan dan juga Leo.


Bersama dengan party ternyata lebih memudahkan mereka untuk menjalani sebuah misi, mereka bahkan bisa menyelesaikannya dengan  cepat.

__ADS_1


Apalagi jika misi itu berada di bawah peringkat S, maka tak akan ada masalah bagi mereka.


"Berapa lama sebenarnya kau sudah menjalani kehidupan sebagai seorang anggota guild?" tanya Roma kemudian pada Milan.


"Sekitar lima sampai enam tahunan mungkin, aku tidak ingat pastinya kapan. Tapi saat aku pergi dari rumah itu sekitar 15 tahun umurku," jawab Milan.


Cukup lama juga ternyata Milan sudah menjadi anggota guild itu, maka tak heran ia memiliki banyak kecakapan dan kehebatan.


Meskipun kekuatannya di bawah Roma jauh, tetapi setiap menjalankan misi ia selalu memiliki intuisi yang tepat, maka dari itu Milan tak pernah meleset sedikitpun dalam menjalankan misi itu.


Pantas saja desas-desus yang ia dengar dari para anggota party mereka mengatakan bahwa Milan digadang-gadang akan menjadi pengganti dari Ketua Guild, yakni Tere.


Hal itu sebenarnya wajar, mengingat Tere sudah cukup berumur dan seharusnya beristirahat tanpa sibuk mengurus pekerjaannya.


"Orang-orang mengatakan bahwa mereka mau kau menjadi pengganti Paman Tere, apa itu benar?" tanya Roma lagi.


"Pengganti bagaimana?" tanya balik Milan.


"Sebagai ketua guild."


Mendengar ucapan dari Roma itu Milan hanya menatapnya dengan sedikit bingung lalu ia mengerutkan kening.


"Banyak anggota party yang mengatakan hal serupa sebenarnya sejak lama, tetapi aku tak tertarik sama sekali, meski Tere juga sudah pernah menanyakan hal itu padaku."


Kemudian Milan mengingat Bagaimana pertemuannya dengan Tere saat itu ketika mereka terlibat obrolan hanya berdua.


Sebagai seorang ketua guild itu. Jelas saja Milan bingung harus mengatakan apa, tetapi kemudian ia sadar apa sebenarnya tujuannya bergabung dengan guild itu.


Ia tak tertarik menjadi seorang pemimpin maupun penguasa, ia lebih senang menjadi anggota yang bisa melakukan apapun dan bebas ke sana kemari bukan berada di belakang meja.


"Lagi pula aku akan pulang setelah merasa bahwa diriku cukup kuat, aku memiliki keluarga yang masih ada," ujar Milan mengakhiri ceritanya. "Kenapa tidak kau saja yang menjadi seorang ketua guild?"


"Untuk apa? Tentu saja tidak. Sejak awal Paman Tere tahu bahwa aku tak akan lama berada di sana, aku akan pergi dalam beberapa waktu ke depan dan akan terus berkelana," jawab Roma.


Roma tak mungkin menetap di satu tempat, setelah ia mendapatkan apa yang ia mau ia harus menjelajah ke setiap tempat dan mencari keberadaan dari cincin Bintang.


Karena memang sejak awal tujuannya adalah melakukan hal itu, ia dipaksa lahir kembali untuk membuat dunia menjadi lebih damai dan siklus kehidupan berjalan dengan tenang, bukan malah duduk dengan santai di belakang kursi dan meja bekerja.


Sedangkan Milan yang mendengarkannya bingung, karena sejak awal ia tak tahu apa sebenarnya tujuan Roma menjelajah setiap tempat.


Jika itu tentang kematian orang tuanya apa ia ingin membalaskan dendam, tetapi kepada siapa dan bagaimana.


Roma tak pernah bercerita hal itu dan Milan juga tak mungkin bertanya tiba-tiba, karena hal itu akan membuat rumah menjadi sedikit risih nantinya.


Lalu mereka pun terus terbang untuk menjalankan misi di satu tempat. Dalam misi itu mereka harus mengalahkan Elang raksasa pemakan manusia yang hanya keluar di malam hari.

__ADS_1


Begitu sampai di tempat itu keadaannya cukup kacau.


Semuanya hancur berantakan tidak terlihat satupun orang keluar padahal ini masih menjelang sore belum malam seperti apa yang dikatakan sebelumnya.


"Apa kalian dari guild Eagle?" tanya seorang lelaki tua yang mendekati keduanya.


Milan dan Roma mengangguk mendengarkan pertanyaan dari lelaki tua itu.


"Aku adalah kepala desa di sini, ikutlah aku," sambung lelaki tua yang mengaku kepala desa itu.


Milan dan Roma mengikuti kepala desa itu menuju salah satu rumah yang tak jauh dari sana, rumah yang masih terlihat kokoh bangunannya.


Keduanya kemudian dijamu dengan baik oleh kepala desa dan istrinya.


"Ada apa sebenarnya di desa ini, Paman?" tanya Milan pada kepala desa itu.


Kemudian kepala desa mengatakan bahwa beberapa waktu lalu seekor Elang raksasa seukuran lebih besar daripada rumah datang ke desa itu.


Setiap malam elang itu selalu berkeliling mencari manusia-manusia untuk ia makan, selain membunuh manusia jika elang itu tak mendapatkan apa yang ia cari kadang menghancurkan tempat itu.


Sudah sejak lama kepala desa meminta bantuan, tetapi tidak ada yang datang maka dari itu ya meminta guild Eagle untuk mengurus Elang tersebut.


"Saat matahari terbenam biasanya elang itu terlihat terbang di atas langit, kepakan sayapnya bisa membuat pusaran angin," kata kepala desa.


Roma dan Milan mengerti apa yang dikatakan kepala desa itu kemudian mereka pun menunggu sampai waktu malam hari tiba karena saat itu waktu yang tepat untuk mengalahkan perang raksasa.


Sebelum melakukannya mereka persiapan lebih dulu karena elang itu berada di atas maka kemungkinan yang bisa menjangkau adalah panah dari Milan.


Dan Tak lama kemudian Elang itu pun datang terlihat tubuhnya yang memang begitu sangat besar untung saja Elang tak biasa mengepakkan sayapnya mungkin hanya sekali dua kali dan itu pun menjadi angin ribut.


Pertarungan pun terjadi antara Elang Milan dan Roma. Saat itu Milan terus mengeluarkan anak panahnya beberapa mengenai tubuh elang itu tetapi sepertinya tidak bereaksi apapun.


"Berikan aku satu anak panah," kata Roma kemudian.


Milan tanpa bertanya langsung memberikan anak panas itu.


Roma meletakkan sihir sistem di anak panah itu, lalu kembali memberikannya pada Milan.


"Panah tepat di kerongkongannya."


Milan yang mendengar perintah dari Roma pun mengikuti dan langsung mengenai tenggorokan itu hingga tak lama kemudian elang raksasa itu tewas.


Milan memasukkan elang itu ke dalam kantong, untuk ia tunjukkan kepala Tere nanti.


Dalam waktu singkat misi itu pun berhasil dan keduanya pun memutuskan untuk pulang saat itu juga meskipun harinya masih malam karena memang jarak dari tempat mereka ke desa tersebut tidaklah begitu jauh hanya beberapa puluh mil saja.

__ADS_1


Keduanya bahkan tak sempat membantu para penduduk desa untuk membangun kembali tempat mereka tetapi itu tidak masalah yang penting mereka memiliki kehidupan lagi tanpa harus takut dia bayang-bayang oleh elang raksasa tersebut.


__ADS_2