SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
036 - MENCARI INFORMASI TENTANG RAVENNA DE VILLE


__ADS_3

Teror tak hanya satu atau dua kali didapat oleh Roma dan teman-temannya.


Berulang kali, orang-orang suruhan Ravenna De Ville melakukan teror bertubi-tubi.


Tak hanya soal surat berdarah, mereka bahkan mengirim bangkai ke rumah penginapannya.


Bukan hanya itu, terkadang mereka juga mengganggu Roma dan yang lain dengan suara-suara aneh setiap malam.


Roma dan Milan masih bisa menangani teror-teror tersebut dengan sihir mereka dan tak membalas mereka.


Namun, pria itu jadi berpikir bahwa mungkin dia harus memperlambat pergerakannya dan bergerak secara diam-diam agar teror demi teror yang terjadi hilang dengan sendirinya.


“Milan, bagaimana kalau kita pindah dari sini?” tanya Roma.


Milan yang menikmati makanannya terkejut.


“Maksudmu? Kenapa kau mau pindah? Raja Genoa telah memberikan tempat tinggal ini untuk kita,” ujar Milan.


“Iya, aku tahu. Namun, jika kita terus berada di sini, teror akan datang terus-menerus. Aku tak mau kita gagal dalam menjalankan misi. Tolong, mengertilah. Kita harus segera menuntaskan misi kita yang sebenarnya di sini.”


"Ini misi party kita, tetapi semua hal Raja menyerahkan padamu," ujar Milan.


“Baiklah, terserah padamu. Jika memang tak mau pindah, aku saja yang pergi dari sini. Aku tak mau menerima semua teror yang terjadi bertubi-tubi!” ujar Roma.


Milan terdiam. Sejujurnya, dia juga sudah lelah menghadapi teror yang datang dari Ravenna De Ville.


Meski tak tahu bahwa siapa pengirim teror-teror menakutkan itu, Milan tahu pasti itu perbuatan petinggi asosiasi perdagangan.


Di sisi lain, teman Roma itu tak enak hati pada raja Genoa jika pergi meninggalkan rumah penginapan yang sudah disediakan untuk mereka.


Sebenarnya Roma bisa saja menangkap mereka dengan mudah, tetapi mereka selalu ada terus menerus setiap hari.


Pernah Roma mengalahkan salah satu dari mereka pada satu malam.


Namun, keesokan harinya mereka kembali lagi dan lebih banyak hal menjijikkan yang mereka lakukan.


“Leo, kau mau ikut denganku atau tinggal bersama dengan Milan, di sini?” tanya Roma pada kucingnya.


“Aku akan ikut kemana kau pergi, Roma. Lagian, aku juga sudah lelah dengan teror yang terjadi,” ujar Leo.


Roma dan Leo pun meninggalkan penginapan secara sembunyi-sembunyi dan membiarkan Milan tinggal sendiri di penginapan.


***

__ADS_1


Sebenarnya, Roma melakukan itu agar memancing para peneror untuk keluar dari tempat persembunyian mereka. Jika dia bisa mengecoh para peneror itu, bisa dipastikan tak ada lagi teror yang berdatangan.


Tak hanya berniat mengecoh para anak buah Ravenna De Ville, Roma juga berpikir untuk mencari tahu secara diam-diam siapa sosok musuhnya itu.


Dia harus tahu bagaimana cara menghadapi Ravenna De Ville.


“Leo, kau tahu bukan, aku sebenarnya tak ingin pergi dari penginapan. Aku hanya ingin para peneror itu berhenti mengirim teror yang tak jelas itu,” ujar Roma.


“Tentu, aku tahu. Kau mana tega meninggalkan Milan sendiri di sana. Semoga saja dia mengerti dengan keputusanmu,” ujar Leo.


“Dia sudah mengerti, Leo. Sebelumnya, aku memang sudah mengatakan padanya soal ini. Terlebih, aku tahu selama ini ada dinding pendengar yang menguping pembicaraan kita.


Jika kita berdua pergi, mereka akan mengejarku dan bukan Milan. Jadi, aku bisa melawan mereka,”ujar Roma.


“Syukurlah kalau Milan sudah tahu. Aku khawatir padanya.”


Benar saja, Roma diikuti oleh beberapa orang yang tak dikenal. Dengan kemampuan sihirnya, Roma membuat anak buah Ravenna yang mengawasinya tersesat.


Setelah dipastikan aman, Roma dan Leo kembali ke penginapan.


***


Pagi harinya, dua sekawan serta kucing itu menyusun rencana untuk digunakan dalam hal mencari tahu tentang siapa Ravenna De Ville.


Jika tidak, dia bisa dengan mudah mengalahkan Ravenna.


Namun, Roma masih belum menemukan cara untuk mengetahui hal itu. Dia pun memerintahkan Leo dan Milan melakukan sesuatu.


“Aku butuh bantuan kalian,” ujar Roma di sela-sela sarapan.


“Bantuan apa? Kami selalu siap membantu tanpa kau suruh,” ujar Milan.


“Aku ingin kalian cari tahu soal Ravenna De Ville.”


MIlan yang kaget langsung menyembur Roma dengan air putih.


“Apa? Kau ingin aku mencari tahu apakah Ravenna pemilik cincin bintang atau tidak?” tanya Milan kaget.


Roma mengangguk. Dia ingin melakukan teorinya dan membuktikannya sendiri.


“Kau benar. Aku butuh bantuan kalian untuk tahu apakah Ravenna salah satu pemilik cincin bintang atau tidak,” tegas Roma.


“Kenapa kau membutuhkan itu, Roma? Sebelumnya, kau tak membutuhkan informasi ini,” ujar Milan.

__ADS_1


“Karena saat ini situasinya berbeda. Kita tak sedang melawan orang lain tapi melawan Ravenna De Ville. Salah satu orang terkuat di Asosiasi Pedagang. Aku mana sanggup melawannya tanpa tahu bahwa sebenarnya dia kuat atau tidak,” ujar Roma jujur.


“Baiklah, aku akan membantumu nanti. Kau puas Roma?” tanya Milan.


“Tentu, Milan. Terima kasih telah membantuku.


“Jika Milan mau membantumu, aku juga akan membantu. Tenang saja, akan aku cari tahu segera siapa Ravenna De Ville itu dan informasi yang kau butuhkan,” ujar Leo, kucingnya.


“Baiklah, Leo. Kau memang harus melakukan itu. Jika tidak, tak akan ada makanan enak untukmu,” balas Roma.


Leo bersungut dan menggoyangkan ekornya. Ingin sekali rasanya kucing hitam itu mencakar wajah pemiliknya.


 Sayangnya, Leo bukan kucing nakal yang berani melakukan itu.


***


Roma menyamar menjadi orang lain dengan rapi. Dia melakukan sihirnya untuk mengelabui para anak buah Ravenna dan mencari tahu tentang orang itu.


“Aku harus temukan bukti seberapa kuat Ravenna itu. Dan apakah dia adalah salah satu orang yang membuat keluargaku sengsara atau tidak,” ujar Roma.


 Roma melakukan segala cara agar bisa mengungkap siapa musuhnya. Dia memang tak sendiri.


Milan dan Leo juga sistem yang selalu membantunya kapan dan dimanapun, juga membantu Roma kali ini.


Akhirnya, Roma mengetahui sesuatu tentang Ravenna De Ville. Bahkan, dia sama sekali tak menduga bahwa siapa sebenarnya musuhnya kali ini.


“Dari informasi yang kudapat, begitulah Ravenna orangnya,” ujar Milan bercerita suatu hari.


“Terima kasih, Milan. Informasi ini sangat penting bagiku,” ujar Roma.


“Kau yakin akan melawan Ravenna, Roma?” tanya Milan lagi.


Roma terdiam sesaat. Dia teringat akan keluarganya dan janjinya pada Raja Genoa. Tentu, Roma akan melakukan segala cara untuk menaklukan Ravenna.


Terlebih, dia juga harus menghancurkan asosiasi perdagangan yang menyengsarakan kerajaan. Ini adalah misi yang dia miliki.


“Tentu. Aku akan melakukan itu. Tenang saja, kita akan melawannya dengan cara kita. Sistem dan Leo juga akan membantuku. Kau tak perlu cemas. Bukankah selama ini kita selalu berhasil melawan musuh-musuh?” tanya Roma.


MIlan membenarkan, selama ini mereka memang berhasil melawan musuh-musuh. Namun, musuh mereka tak seperti Ravenna De Ville. Ada rasa kekhawatiran Milan.


“Aku tahu, semoga saja kita bisa melawan musuh kita kali ini,” ujar Milan.


“Tentu saja. Selama kita bersatu dan tak bercerai, itu akan bisa ditangani dengan baik. Hal terpenting adalah kita harus saling menolong dan bekerja sama,” tukas Roma.

__ADS_1


Kemudian mereka menjalankan misi mereka lagi.


__ADS_2