
"Leo, Milan, apa kalian baik-baik saja?"
Roma mendekat ke arah jeruji sel dan melongok dari sana. Ia menengok ke arah jeruji Leo yang berada di sebelah Milan.
Roma berusaha untuk memanggil Milan. Ia sungguh cemas kalau sampai ada sesuatu yang terjadi padanya.
Para algojo menyiksa mereka tanpa ampun, sudah jelas kalau teman-temannya akan merasa kesakitan. Ruangan penjara lengang, hanya ada penjaga yang berjaga di pintu depan.
Hal tersebut membuat Roma leluasa untuk berbicara pada keduanya temannya.
Sepertinya sandiwaranya mengorbankan kedua temannya sampai membuat mereka tersiksa begitu.
"Leo! Leo kau dengar aku?! Leo!" pekik Roma lagi, tetapi Leo masih terkapar tidak bergerak.
Tubuh mereka terasa hancur luar dalam ketika para algojo itu memaksa mengeluarkan kekuatan Cincin Bintang dari dalam tubuh mereka.
Roma tidak sedang berbohong, ia memang masih bisa merasakan mana milik Milan dan Leo meski sangat tipis dan samar.
Seperti dirinya, kekuatan Cincin Bintang milik Milan dan Leo juga sudah menyatu ke dalam darahnya sehingga sulit sekali dikeluarkan.
Bahkan hampir mustahil. Melepaskan kekuatan CIncin Bintang sama saja membunuh penggunanya.
Tiba-tiba tubuh Milan mulai bergerak. Roma merasa sangat senang ketika mengetahui Milan sudah sadar dan tidak terus pingsan.
"Milan, bagaimana tubuhmu? Apa Cincin Bintang masih ada di sana?!" tanya Tere panik.
Milan mengangguk lemas. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok sel dan tersenyum tipis.
Ada darah di sudut bibirnya, sepertinya perempuan itu tidak sengaja melukai bibir bagian dalamnya.
Milan terkekeh miris. "Kau benar. Aku merasa tulang-tulangku remuk dan tidak bisa digunakan. Ah, di mana Leo?!"
"Ada di sel sebelahmu. Sepertinya dia masih pingsan."
Milan kemudian menggedor-gedor jeruji sel milik Leo untuk membangungkan kucing hitam itu.
Tak berselang lama kemudian terdengar lenguhan Leo. Roma sungguh lega melihat kucing hitam itu akhirnya sadar.
"Leo! Astaga! Aku senang kau masih hidup!" pekik Tere.
"Ya-ya, aku juga senang melihat kalian masih hidup meski kondisinya mengenaskan," seloroh Leo yang disahut tawa kecil dari Roma.
Roma meringis, seperti ada satu tulangnya yang patah tiap kali ia berbicara. Kondisi tubuh dalamnya sungguh sangat memprihatinkan.
Meski Roma, Milan, dan Leo terlihat baik-baik saja di luar hanya karena wajah mereka pucat. Tetapi, tidak dengan bagian dalam tubuhnya. Mereka merasa tulang belulang mereka berderah patah hanya untuk bernafas.
"Bagaimana keadaanmu, Roma?" tanya Leo. Kucing hitam itu merangkak mendekat ke arah jeruji.
"Aku baik-baik saja, aku bahkan bisa menari sekarang," dusta Roma. Padahal ia sama sekali tidak bisa merasakan kedua kakinya lagi. Tubuhnya terasa hancur lebur.
"Kalau begitu menarilah untuk kami," sambar Milan. "Aku sedang butuh hiburan."
"Aku tidak akan melakukannya tanpa dibayar," seloroh Roma lagi.
Mereka berempat kemudian tertawa miris memikirkan kelanjutan nasib mereka yang sudah terkurung di dalam sel.
"Mereka menyiksa Palermo dengan sangat buruk," ucap ROma yang membuat ketiga temannya terdiam.
Hanya Roma yang mendengar teriakan Palermo Mancini yang menggema karena Leo dan Milan masih terkapar pingsan.
"Apa dia masih hidup?" bisik Milan.
Roma menggeleng tipis. "Aku tidak tahu, aku harap dia masih bisa bertahan."
"Kita harus keluar dari tempat ini, Roma. Kita tidak bisa membusuk di sini," ucap Leo yang membuat Roma terdiam.
Sejak tadi otaknya berusaha untuk mencari cara bagaimana mereka bisa kabur.
Namun, sel yang mereka huni sepertinya kebal dari kekuatan CIncin Bintang apapun, jadi Roma tidak bisa keluar dari dalam sel menggunakan kekuatannya.
"Sel ini terlalu kokoh, kita tidak bisa keluar dengan kekuatan CIncin Bintang."
Ketiga temannya kemudian terdiam membisu. Mereka juga tidak memiliki cara lain untuk keluar dari tempat ini.
"Jadi, kita tidak bisa keluar menggunakan kekuatan Cincin Bintang?"
Roma menggeleng menjawab pertanyaan Milan.
"Maka tidak usah keluar menggunakan kekuatan," sahut Leo yang membuat Roma seketika memiliki ide.
"Tunggu sebentar! Sepertinya aku memiliki ide bagus!" pekik Roma.
Ia seperti mendapat sedikit cercah dalam hidupnya.
Sedikit harapan untuk tidak mati membusuk di tempat ini. Roma kemudian memfokuskan pikirannya dan meminta bantuan pada Sistem.
Di sinilah letah keistimewaan klan Raffa. Roma memiliki sebuah skill untuk memalsukan kekuatan Cincin Bintang.
Roma mempelajari hal itu sesaat setelah ketua sekte itu datang ke guild eagle dan memberikan buku mantra sihir padanya.
__ADS_1
Buku mantra sihir itu peninggalan dari kakeknya.
[Penyimpanan berhasil dilakukan]
"Berhasil!"
Roma memekik kegirangan. Ia akan memalsukan kekuatan ketiga CIncin Bintang dan menyimpannya dalam penyimpanan Sistem yang sudah ia palsukan.
Lalu, menyimpan kekuatan CIncin Bintang yang asli jauh di dalam sehingga tak ada satu orang pun yang bisa menemukannya kecuali dirinya sendiri.
Roma mengusap bulir keringat yang berjatuhan di pelipis. Ia membuat Cincin Bintang palsu hingga semirip mungkin dengan yang asli. Dengan keakuratan 90 persen, ROma membuat cincin itu sulit dibedakan dengan pengguna yang tidak menggunakan Cincin Bintang.
Setelah semalaman membuat Cincin Bintang, Roma memberitahu rencananya pada kedua temannya. Mereka menyusun strategi untuk mengelabui para penjaga sel.
"Jangan biarkan para algojo itu mengetahui rencana ini!" ucap Roma pada kedua temannya.
Mereka sepakat untuk berpura-pura lemas dan menahan segala siksaan yang diberikan para algojo nanti.
Tak berselang lama kemudian, pintu utama sel terbuka dan para algojo mulai masuk ke dalam.
Para algojo itu kemudian menyeret mereka satu per satu keluar dari sel dan membawa ke ruang bawah tanah.
Seperti yang sudah mereka sepakati, Roma dan teman-temannya menahan seluruh siksaan yang diberikan para algojo.
Jika boleh jujur, sebenarnya tubuh Roma sudah berada diambang batas ketika para algojo itu menarik kekuatan CIncin Bintang.
Namun, ia harus menahan siksaan itu sampai selesai.
Hingga tak lama kemudian Cincin Bintang palsu yang Roma buat berhasil ditarik keluar dan algojo langsung membawanya pada sang kaisar.
"Kita apakan mereka?" tanya algojo pada satu algojo yang lain.
"Biarkan mereka membusuk di sini!" seru algojo itu.
Kemudian Roma dan teman-temannya yang pura-pura pingsan dibawa kembali ke dalam sel.
Para algojo itu kemudian pergi tanpa memastikan pintu sel tertutup sempurna dengan mantra.
Para algojo itu meninggalkan sedikit celah yang bisa ditembus oleh Roma dan teman-temannya. Karena para algojo beranggapan kalau mereka sudah lemas dan tidak mungkin bisa bangkit.
Sayang sekali yang terjadi justru sebaliknya. Roma menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika para algojo itu sudah pergi dan menyisakan mereka berempat di dalam sel.
"Rencanaku berhasil!" pekik Roma senang.
Milan dan Leo yang pura-pura pingsan kemudian turut bangun dan berseru senang.
"Kalian bisa jalan, kan?" tanya Roma memastikan.
Milan mengangguk tipis dengan Leo berada di pundaknya. Kondisi kucing hitam itu adalah yang paling parah di antara mereka berdua.
"Bagaimana kondisimu, Leo?" tanya Roma pada Leo.
"Sepertinya kakiku masih lemas dan nyawaku tinggal empat," ucap Leo yang masih bisa melontarkan candaan.
Roma menganggap si kucing Leo baik-baik saja karena masih bisa bercanda seperti itu.
Mereka kemudian memulihkan tenaga barang sejenak. Roma tidak memutuskan untuk tergesa-gesa keluar.
Ia tidak ingin dilempar kembali ke dalam sel dan benar-benar membusuk di tempat ini.
Jadi, Roma memutuskan untuk menunggu waktu malam tiba untuk mereka kabur
"Kita harus menunggu di sini sampai malam. Kalau kita keluar sekarang pasti banyak anggota istana yang melihat kita dan kita pasti akan dijebloskan lagi ke dalam sel," ucap Roma yang disahut anggukan setuju oleh Milan dan Leo.
"Jadi, kita menunggu di sini sampai malam tiba? Baiklah, tidak masalah." Milan merenggangkan tubuhnya. Kondisi tubuhnya sudah lebih baik daripada kemarin.
Salah satu kelebihan pemegang Cincin Bintang adalah kondisi fisik mereka pulih lebih cepat daripada manusia normal kebanyakan.
Meski kemarin tubuh mereka nyaris tidak bisa bergerak karena dipaksa melepaskan kekuatan Cincin Bintang, tapi berkat ide jenius milik Roma tubuh mereka tidak terlalu tersiksa.
"Kira-kira apa yang terjadi pada Palermo, ya?" tanya Milan memecah keheningan.
Kondisi tubuh Roma sedikit berbeda. Meski Milan dan Leo sudah merasa lebih baik, tapi tidak dengan Roma. Tubuhnya masih merasa letih karena habis membuat kekuatan Cincin Bintang palsu dan membuat penyimpanan baru pada sistem. Hal tersebut nyaris mengeruk semua energi miliknya yang tersisa.
"Entahlah, kuharap dia baik-baik saja," sahut Leo.
"Wajahmu pucat sekali, Roma," ucap Milan ketika mendapati Roma hanya terdiam dengan wajah pucat pasi. "Kau baik-baik saja?"
Roma mengangguk tipis. "Ya, aku baik-baik saja. Hanya masih lemas karena memalsukan kekuatan Cincin Bintang itu tidaklah mudah."
Milan tersenyum tipis, "Terima kasih karena aku sudah menyelamatkan kami. Kau benar-benar jenius, Roma, kau bisa memalsukan Cincin Bintang dengan keakuratan nyaris sempurna. Sampai kaisar tidak menyadarinya bahkan sampai detik ini."
Milan benar. Sudah beberapa jam terlewat dan tak ada satupun orang yang kembali ke sini dan protes dengan kekuatan Cincin Bintang palsu yang ia berikan.
Tak satupun menyadari kalau Roma telah mengelabui mereka semua termasuk sang kaisar.
"Kekuatan nama belakangmu sungguh tidak main-main," ucap Leo yang membuat Roma tersenyum simpul.
"Kalian iri padaku, bukan?"
__ADS_1
"Tentu saja, bodoh! Aku iri dengan kekuatanmu yang diluar akal sehatku," seloroh Leo lagi. "Tapi, disamping itu semua aku sungguh senang mengenalmu sebagai seorang teman."
Roma dan Milan terdiam mendengar ucapan Leo yang tiba-tiba terdengar berbeda.
"Apa kau salah makan? Ucapanmu terdengar tidak seperti Leo si kucing pemarah," ucap Milan yang langsung dihadiahi geraman Leo.
"Sepertinya algojo itu memukul belakang kepalaku sedikit keras."
Mereka bertiga kemudian tertawa di dalam penjara khusus itu. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari tempat mengerikan itu dan menunggu sampai mana mereka terisi kembali.
Hingga beberapa jam kemudian saat Roma merasa bulan sudah berada di titik tertinggi, ia baru merasa lingkungan sudah aman.
"Sepertinya kita sudah aman," ucap Roma sembari melambaikan tangannya menyuruh kedua temannya untuk segera bergegas.
Roma memimpin jalan di depan, ia mengendap-endap menuju pintu utama dan memastikan tidak ada penjaga di depan pintu.
Dan benar saja, tidak ada satupun yang menjaga pintu penjara, sepertinya kaisar berpikir kalau mereka sudah dipastikan tewas.
Namun, sayangnya kaisar salah besar. Roma justru sedang mengendap-endap keluar dari penjara dan berjalan menyusuri lorong istana yang sepi senyap.
Roma tidak tahu di mana pintu keluar istana karena istana tersebut sangat besar. Roma hanya mengikuti kemana instingnya mengarah.
Hingga kemudian instingnya membawanya ke sebuah tanah lapang dengan bangunan di tengah-tengah. Seketika Roma digelitik oleh rasa penasaran.
"Tempat apa ini?" tanya Milan.
"Sepertinya tempat ini adalah tempat penelitian," sahut Roma kemudian berjalan mendekat.
"Hei, Roma! Apa yang kau lakukan?! Jangan mendekat ke sana!" bisik Leo penuh penekanan.
Tetapi, Roma sama sekali tidak mendengarkan perkataan si kucing Leo. Roma terus saja mendekat ke arah tempat penelitian itu.
"ROma! Kembali ke sini!" pekik Milan dengan suara tertahan.
Roma sama sekali tidak mengindahkan ucapan kedua temannya. Ia terus saja berjalan mendekat karena merasa familiar dengan teknologi-teknologi yang ada di sana.
Lalu benar saja, dugaannya tidak meleset. Bahu Roma seketika lemas begitu melihat teknologi yang ada di sana.
"Sebenarnya tempat mengerikan apa ini?" desis Leo tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Manusia-manusia di dalam tabung berisi cairan entah apa, dan banyak sekali anak kecil yang digantung seperti seekor hewan dengan banyak selang yang menjejali mulut juga hidung mereka.
Milan menutup mulutnya ketika melihat kengerian yang ada di depan matanya.
"Siapa yang membuat eksperimen seperti ini?!" ucap Milan.
"Ini bukan eksperimen lagi," sahut Roma dengan nada tidak percaya.
"Maksudmu?"
"Ini sudah bukan eksperimen lagi, Milan. Ini adalah pembunuhan karena orang-orang yang ada di sini sudah dipastikan tewas. Mereka hanya dijadikan wadah untuk menguji coba Cincin Bintang."
"Menguji coba? Apa maksudmu, Roma?" desak si kucing Leo.
"Kau lihat mesin yang ada di sana?" Roma menunjuk sebuah ruang tertutup di mana ada mesin raksasa tengah mengelilingi sebuah cahaya merah kebiruan di tengah-tengah. Cahaya tersebut berpendar-pendar dengan diselimuti percikan-percikan mana sihir. "Mereka mencoba untuk membuat Cincin Bintang."
Milan dan Leo sontak menahan nafasnya. Tempat yang mereka pijak adalah tempat penelitian untuk memproduksi kekuatan Cincin Bintang agar bisa membuat semua orang kuat dalam waktu singkat.
"B-bagaimana kau tahu semua ini, Roma?" tanya Milan dengan suara tercekat.
Ia sungguh tidak menyangka ada tempat mengerikan seperti ini. Terlebih mereka menggunakan manusia sungguhan untuk menguji coba kekuatan Cincin Bintang buatan mereka.
Manusia-manusia yang ada di tempat ini seperti dijadikan sebagai wadah untuk melihat sejauh apa kekuatan Cincin Bintang itu dapat berfungsi.
"Aku tahu karena dulu teknologi ini adalah milik keluargaku," jelas Roma.
Seketika benak Roma dirambati oleh perasaan marah dan murka karena teknologi milik keluarganya dirampas lalu disalah gunakan oleh kaisar seperti ini.
"Milik keluargamu? Berarti dulunya keluargamu yang membuat Cincin Bintang?" tanya Milan tidak paham.
"Tidak, bukan begitu, keluargaku hanya mengembangkan potensinya saja. Bukan untuk memproduksi kekuatan CIncin Bitang seperti ini dan digunakan pada sembarang orang."
Leo membuang napas, "Kaisar seperti sengaja ingin membuat pasukan yang memiliki kekuatan Cincin Bintang. Pasukan itu pasti menjadi pasukan terkuat dan sulit dikalahkan."
Roma mengangguk setuju. Pemuda itu mengepalkan tangannya erat-erat. Ia sungguh marah mengetahui kalau Kaisar Salerno De Santis merampas teknologi milik keluarganya dan menyalahgunakan teknologi itu.
"Aku tidak akan memaafkan kaisar itu!" ucap Roma dengan nada penuh kemarahan.
Roma tidak pernah mendengar kabar lagi tentang teknologi ini semenjak keluarganya tidak ada. Ia bahkan lupa kalau keluarganya memiliki teknologi semacam ini.
Ketika melihat sebuah mesij yang sangat familiar dari balik tirai tadi, Roma langsung mengenali teknologi yang sangat ia kenal ketika ia kecil dulu.
Sebuah mesin untuk Cincin Bintang, dan Roma semakin marah ketika mengetahui teknologi milik keluarganya rupanya dicuri oleh kaisar Salerno De Santis.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Roma?" tanya Milan.
Roma tidak tahu. Ia sungguh tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang. Yang pasti, saat ini Roma sedang dirambati perasaan marah dan murka.
Rasanya Roma ingin meratakan istana ini beserta penghuni-penghuninya. Tanpa Roma sadari, ia melepaskan kekuatan Cincin Bintang hingga membuat Milan dan Leo melangkah mundur.
__ADS_1