
...Selamat membaca dan menikmati...
.
.
.
lapu yang tadi nya masih tertawa pun langsung terdiam karena dia juga penasaran bagaimana hal-hal yang di luar manusia normal ada pada satu manusia seperti Theo.
"Bagaimana bisa kamu memiliki cincin penyimpanan juga Theo? setahu ku hanya suku Dene yang memiliki itu, karena ini adalah harta karun suku kami yang turun temurun." ucap Omina menanyakan hal pertama yang dia lihat.
"ohh cincin ini? ini aku temukan di tepat di bawah sambaran petir. aku juga tidak tau awalnya kegunaan cincin ini tapi seiring berjalan waktu aku pakai cincin ini lama-lama aku mengetahui kegunaan nya untuk menyimpan barang"
ucap Theo yang memberi tahu sedikit detail bahwa memang cincin Jarvis berasal dari sambaran petir namun dia tidak menjelaskan lebih dari sekedar itu saja.
Omina dan lapu bingung bagaimana bisa cincin seperti itu jatuh dibawa oleh petir yang menyambar. namun mereka pikir Theo tidak ingin memberi tahu alasan nya karena itu rahasia Theo pikir mereka seperti itu.
"lalu Theo bagaimana kau bisa menghindari serangan ku dan bagaimana bisa kau memiliki kekuatan tubuh yang sangat kuat itu?" ucap lapu yang ikutan bertanya karena dia juga penasaran bagaimana bisa manusia memiliki kecepatan menghindari seperti Theo dan kekuatan yang dapat menerbangkan manusia dewasa dengan sekali tendangan.
"Itu mudah saja lapu, kalau kamu sering bertarung dan berlatih insting kamu dalam pertarungan akan menuntun gerakan mu selanjutnya. dan untuk kekuatan aku melatih tubuhku dengan sangat giat untuk memiliki kekuatan saat ini"
ucap Theo yang menjelaskan alasannya kepada lapu. dan lapu yang mendengar itu pun menjadi bersemangat karena dia yakin suatu saat nanti dia bisa memiliki kekuatan seperti Theo dia pun kembali bertanya.
"Bisakah kau mengajari ku Theo?" tanya lapu kepada Theo dengan semangat dan berharap Theo akan mengajari nya.
Theo yang mendengar ini pun berpikir apakah dia bisa mengajari lapu, dia pun bertanya kepada Jarvis.
"Jarvis ada saran untuk ini?" tanya Theo kepada Jarvis yang meminta saran untuk hal ini. karena dia mungkin saja bisa mengajari berbagai macam bela diri kepada lapu namun untuk memberi pelatih untuk haki dan kekuatan fisik dia belum memahami.
[mudah Theo, cukup kau ajari saja dia pelatihan fisik saitama dan mengusulkan dia untuk meningkatkan pelatihan nya secara bersekala untuk menembus batasan fisiknya]
[untuk pelatihan haki, kamu cukup ciptakan aja medan latihan yang penuh dengan rintangan dan jebakan yang akan membuat nya dalam kecepatan dan insting nya. atau kata lain kau ciptakan tempat latihan seperti yang di lakukan urokodaki dalam melatih tanjiro]
Theo yang mendengar penjelasan dari Jarvis pun mendapatkan titik terang, dia lalu kembali dari pikiran nya dan melihat Lapu sedang menatapnya menantikan jawaban Theo dengan penuh harap.
__ADS_1
"Baik lah kawan aku akan memberi mu kelas singkat untuk menambah kekuatan, kecepatan dan insting mu dalam pertarungan" ucap Theo yang menyetujui hal tersebut, tentu saja lapu yang mendengar ini sangat senang bahkan dia sampai berteriak.
"tapi aku tidak akan melatih mu sendiri, silahkan kau kumpulkan beberapa orang yang layak untuk di latih. lalu tunggu aku disini mungkin aku akan menghabiskan waktu 2 sampai 3 jam"
"aku akan ke dalam hutan membuat arena pelatihan yang akan kalian gunakan untuk melatih insting, kekuatan dan kecepatan kalian." ucap Theo memberi intruksi kepada lapu yang tentu saja membuat lapu sangat senang sekali. bukan hanya lapu tapi Omina juga senang karena dengan latihan yang di berikan Theo dia yakin lapu dan beberapa warga desa akan menjadi prajurit tangguh.
"Baiklah aku akan pergi memanggil yang lainnya." ucap lapu yang langsung bangkit dan pergi menuruni bukit untuk memanggil yang lainnya.
dan hanya menyisakan Theo dan Omina disana, lalu Omina pun berbicara kepada Theo sambil menundukkan kepadanya untuk memohon melatih warganya agar dapat mempertahankan diri mereka sendiri.
"Nak Theo aku mohon kepada mu untuk membantu kami dengan melatih mereka. aku mohon dengan segala kehormatan leluhur ku kepada mu untuk membantu kami" ucap Omina yang menundukkan kepalanya memohon kepada Theo.
Theo yang melihat ini pun langsung membantu Omina untuk mengangkat kepalanya agar tidak membungkukkan dirinya di hadapan Theo.
"iyaa pak kelapa desa, kau tidak perlu melakukan ini pasti akan ku bantu melatih mereka pak kepala" ucap Theo yang mengangkat tubuhnya Omina agar tidak membungkuk ke arahnya.
"Terima kasih nak Theo" ucap Omina dengan sungguh-sungguh berterima kasih karena Theo bersedia membantu melatih warganya.
"iya Pak kepala desa, ya sudah aku pergi dulu ke dalam hutan untuk menyiapkan area pelatihan" ucap Theo yang langsung bangkit meninggalkan Omina disana sendirian.
"Leluhur apakah ini ramalan mu, tentang orang yang akan membantu kami dan mengubah dunia ini?" tanya Omina ke langit yang tiba-tiba ada sebuah cahaya berkedip seolah-olah menjawab pertanyaan Omina.
Theo tentu saja tidak mengetahui ucapan atau ramalan yang di maksud oleh Omina itu. Theo berjalan memasuki hutan cukup dalam sampai dia rasa cukup, lalu dia pun berbicara kepada Jarvis.
"Jarvis bisa kau ciptakan tempat pelatihan yang sama seperti Urokodaki sekarang?" ucap Theo yang meminta Jarvis membuatkan tempat pelatihan karena dia tahu itu mudah bagi Jarvis. buktinya markas pusatnya saja di ciptakan secara singkat dan keren.
apalagi ini yang hanya tempat pelatihan biasa, dia yakin akan mudah dan cepat. Theo berbicara membutuhkan waktu tiga jam itu hanya sebagai alibi saja agar tidak di curigai oleh lapu dan Omina.
[Mudah sekali itu Theo tunggu sebntar] ucao Jarvis dengan santai dan menyuruh Theo menunggu.
lalu tiba-tiba terdengar suara gerumuh kecil dari setiap sisi hutan, karena proses pembuatan ini di jamin akan membuat Omina yang di luar sana tidak curiga.
[Selesai]
Theo yang mendengar notifikasi dari Jarvis kalau dia sudah selesai pun langsung mengecek menggunakan haki nya untuk memastikan apakah sama atau tidak.
__ADS_1
sesudah memastikan memang semua rintangan dan jebakan yang diciptakan untuk latihan ini tidak mematikan pun Theo cukup puas. karena dengan begini dia tidak perlu repot-repot membuat atau mendesign semua rintangan dan jebakan sendiri.
tapi Theo tidak berminat untuk mencoba nya karena rintangan itu di yakini akan sangat mudah sekali untuk nya. dia pun memutuskan untuk membuat kopi dan merokok saja sambil menunggu waktu yang di janjikan dengan lapu dan Omina berakhir.
Theo mengeluarkan peralatan memasak nya untuk membuat kopi dari inventaris karena tas nya di tinggal di rumah Omina tadi. sambil menikmati udara segar di tengah hutan ini Theo meminum kopi hangatnya dan menyalakan rokok.
lalu dia pun menyenderkan tubuhnya di salah satu pohon yang ada disana, dia kemudian tiba-tiba kepikiran bagaimana kabar yang lainnya ya Indonesia.
apakah sabas dan Frank sudah memulai rencana untuk menaklukkan dunia bawah tanah jakarta atau belum. dia juga kepikiran apa yang terjadi sama Sigit apa dia sudah mati atau gila. Theo tidak memikirkan wanita-wanita yang menunggu nya di Indonesia. karena baginya mau mereka menunggu nya atau tidak itu hak mereka.
Theo sekarang memiliki Bella dan banyak wanita lainnya yang pastinya akan di taklukkan oleh Theo. dia pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memikirkan orang-orang yang ad di Indonesia, dia pun memutuskan berbincang-bincang dengan Jarvis.
"Yo Jarvis menurut mu dunia yang damai tuh seperti apa?" tanya Theo kepada Jarvis yang tiba-tiba. Theo hanya ingin tahu pendapat Jarvis
[menurut ku dunia yang damai adalah dunia yang seimbang dimana ada yang kaya dan ada yang tidak, ada kejahatan dan ada juga kebaikan]
[tapi bagi ku dunia ini tidak akan damai tanpa merasakan kepedihan yang setara atau kalau kau pernah mendengar ucapan Pain disaat dia menyerang konoha? itu lah menurut ku seperti itu]
Theo yang mendengar ucapan Jarvis tentang dunia yang di anggap damai dan ketika dia mendengar nama Pain di sebut Theo pun teringat kata-kata Pain sebelum dia melakukan serangan Shinra Tensei
" Merasakan Kepedihan, Memikirkan kepedihan, Menerima kepedihan untuk mengetahui kepedihan. Orang yang tidak tahu kepedihan tidak akan merasakan kedamaian sebenarnya dan sekarang dunia ini harus merasakan kepedihan" ucap Theo yang mengingat perkataan Pain namun tiba-tiba di lanjutkan oleh Jarvis.
[Untuk mencapai kedamaian dunia ini sudah merasakan kepedihan dan ketidak adilan. oleh karena itu ini lah saatnya untuk mencapai kedamaian yang di harapkan]
Theo yang mendengar ucapan Pain di lanjutkan dengan ucapan Jarvis tentang dunia ini pun langsung menatap langit sambil memikirkan kata-kata Jarvis.
"Dunia ini sudah merasakan kepedihan dan ketidak adilan?" ucap Theo sambil menatap ke arah langit sambil memikirkan kepedihan dan ketidak adilan yang di rasakan setiap manusia miskin atau lainnya.
"mereka selalu merasakan kepedihan dan ketidak adilan dunia ini, sedang para elit dan orang-orang kaya selalu hidup nyaman dalam ranjang empuk nya. ya dunia ini sudah waktunya untuk mencapai kedamaian nya" ucap Theo dengan penuh tekad dan tangannya ke atas langit seakan-akan menggenggam langit.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih karena sudah mensupport dengan like, komen dan sarannya. mohon maaf apa bila masih terdapat banyak kesalahan dalam pengetikan dan kesalahan dalam pemilihan kosa kata yang kurang pantas atau kurang cocok.