SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 10 : Makan Malam Keluarga Wiharja dan Rencana Untuk Anisa


__ADS_3

Ghali yang nampak sudah berada di depan kediaman keluarga wiharja, para pengawal yang memeriksa Ghali pun kemudian mempersilahkan dirinya untuk masuk kekediaman keluarga wiharja.


Ghali memberhentikan mobilnya ditempat parkir, nampak dari arah rumah. Anisa bergegas keluar menyambut dirinya dengan sumringah senyum penuh kebahagian "ayo masuk..." ajak Anisa sambil menggandeng lengan Ghali, mereka pun masuk kerumah dengan bergandengan tangan, orang-orang yang tengah berkumpul dirumah itu kaget melihat mereka bak seorang raja dan ratu.


Kedatangan mereka disambut hangat dari keluarga wiharja "Nisa...apa sebenarnya ini ?, kenapa ramai sekali" tanya Ghali. "Ini adalah perkumpulan keluarga ku yang diadakan satu tahun sekali... bukankah kedepannya kau harus terbiasa dengan hal ini li" jawab Anisa. "ahh apa maksudmu" Ghali yang nampak salah tingkah. "yaudah... yuk ayo duduk" ajak Anisa.


Acara makan malam berlangsung dengan sangat khidmat, Ghali yang sedikit demi sedikit mulai membuka diri, semakin bebas berbincang-bincang dengan orang-orang yang ada disana, tak jarang mereka berbincang sambil tertawa lepas.


Ghali yang sudah menghabiskan makanannya kemudian pamit untuk ketaman belakang bersama Anisa, namun saat mereka berdua yang tengah asyik berbincang nampak dari belakang pria paruh baya yang mempunyai tampang tegas memiliki kumis dan janggut yang lumayan tebal.


Dia adalah Syarif Wiharja papa dari Anisa dan suami dari Aulia ibu Anisa. "ehh... Papa ada perlu apa kemari" ujar Anisa. Syarif menanggapinya dengan tersenyum "anak papa satu-satunya ini ternyata sudah besar" sembari mengusap pucuk kepala anaknya itu, kemudian ia melanjutkan perkataannya "oh...iya apakah namamu Ghali martin" kemudian dijawab Ghali dengan anggukan.


"hemm.... bisa kah kita mengobrol lebih jauh saling mengakrabkan diri, maklum saja dirumah ini aku hanya lelaki sendiri sudah lama rasanya tidak mengobrol antar sesama lelaki dirumah ini" ujar Syarif, Anisa yang mendengar hal tersebut nampak khawatir dengan Ghali, namun Ghali yang menangkap raut kekhawatiran dari Anisa mengkodenya dengan anggukan kepalanya. "Papa, Ghali...kalau begitu aku permisi" Anisa pergi meninggalkan mereka berdua ditaman belakang rumah.


Kini disisi Ghali mulai dihantui perasaan gusar karena tatapan Syarif yang nampak menelisik Ghali dari ujung kaki sampai ujung kepala 'nampaknya dia bukan anak sembarangan' gumam Syarif.


"Ghali sudah lama kau mengenal Anisa ?" kata-kata pertama yang keluar dalam perbincangan antar lelaki tersebut. "iya...om saya mengenal Anisa sejak awal sekolah SMA" Jawab Ghali dengan nada gugup, wajar saja dirinya merasa demikian sebab dari awal kehadirannya di rumah ini dirinya selalu mendapatkan tatapan tajam penuh telisik dari sosok pria yang saat ini disampingnya tersebut.


"lalu siapa orang tuamu, dan apa pekerjaan mereka... karena kalau dilihat-lihat kamu bukanlah anak orang sembarangan" tanya Syarif mencecar Ghali, nampak terdengar sangat menyakitkan hati Ghali pertanyaan Syarif barusan, yang seolah-olah meremehkan dirinya.


Ghali pun hanya tertunduk lesu kemudian dirinya berkata "om... aku sudah tidak punya orang tua lagi, aku telah ditinggal kedua orang tuaku sejak berumur 1 tahun. Orang tuaku meninggal dalam tragedi kecelakaan na'as 17 tahun silam aku adalah satu-satunya orang yang selamat dalam kejadian tersebut, selama ini aku tinggal di panti asuhan namun sekarang tidak lagi, aku sudah tinggal mandiri, aku menjalankan beberapa usaha yang baru aku rintis untuk mencukupi kebutuhanku saat ini" jawab Ghali dengan nada senduh.


Syarif yang mendengar hal tersebut pun nampak bersalah namun penuh curiga. Sembari menepuk-nepuk pundak Ghali "mohon maaf sebelumnya nak, aku melontarkan pertanyaan yang seharusnya tidak aku tanyakan kepadamu".


Syarif terdiam kemudian melanjutkan perkataannya "tapi aku bangga padamu di umur yang semuda ini, dirimu sudah mandiri dan sudah tidak bergantung kepada orang lain lagi.... kau mengingatkan ku dengan diriku yang dulu ketika aku sedang merintis usaha dari bawah hingga pada akhirnya sampai sebesar ini" tanpa sadar Syarif sudah hanyut dalam suasana hingga akhirnya curhat kepada Ghali, pemuda yang notabene baru ia kenali itu.


Syarif memegang kedua pundak Ghali sembari berkata "tetap semangat ya nak... jangan mudah menyerah, punggung seorang laki-laki itu harus kuat, hatinya harus teguh dan dapat bertanggung jawab atas setiap keputusannya, semoga dirimu kedepannya bisa menggapai kejayaanmu" ujar Syarif dengan nada penuh semangat dirinya, telah mengagumi Ghali sejak awal cerita tadi sebab, dirinya sangat jarang menemui pemuda seumuran Ghali, yang sudah memulai usaha sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. "oh ya.... nak kalau kamu tidak keberatan boleh tau siapakah nama almarhum ayahmu ?". "nama ayahku adalah Rayhan Loys Martin" jawab Ghali.


deghhh


Mendengar nama tersebut terucap, seketika jantung Syarif berdegup kencang, hal tersebut mengingatkan dirinya kembali ke masa lalu 'ternyata dugaan ku benar sebelumnya bahkan dirinya saat ini terlihat mirip dengan dia pada saat itu, dan kejadian 17 tahun silam itu ternyata anak kecil itu kini ada dihadapan ku' gumam Syarif dengan ekspresi kagetnya.


"Ghali apakah nama ibumu Alya Gendis Rutsanaya dia dulunya berprofesi sebagai dokter gigi" Ujar Syarif dengan nada cepat.


"O...om bagaimana kau mengetahui itu" jawab Ghali dengan nada kaget. Syarif yang tidak percaya langsung memeluk Ghali dengan sangat erat, begitu terharu dirinya hingga meneteskan air mata, sambil mendekap Ghali Syarif berkata "nak...aku sudah lama mencarimu tidak kusangka ternyata keberadaanmu saat ini berada didekatku, maafkan aku rayhan yang telat mengenali anakmu" ujar Syarif kemudian melepaskan pelukannya.


Ghali pun kebingungan dengan perkataan Syarif barusan dirinya pun bertanya kepada Syarif "om apa maksud perkataan om barusan". Syarif yang tengah membersihkan air matanya kemudian bercerita kepada Ghali.


flashback on

__ADS_1


aku dan ayahmu adalah sahabat, pada saat itu aku dan ayahmu menempuh pendidikan yang sama di salah satu universitas di bandung ayahmu yang pada saat itu belum lama tinggal di Indonesia setelah pindah dari amerika, teman-teman sekelas agak kesulitan berkomunikasi dengan ayahmu sehingga tidak ada yang menemani ayahmu pada awalnya.


Aku yang memang sudah fasih berbahasa asing, awalnya disuruh ayahmu menjadi penerjemahnya namun lama kelamaan hubungan kami semakin dekat sehingga kamipun bersahabat.


Beberapa tahun kemudian setelah kelulusan kami. Diriku bertemu kembali dengan ayahmu secara tidak sengaja pada saat itu aku dan ayahmu masing-masing sudah mempunyai keluarga. Bertemu di perusahaan keluarga yang dipimpin oleh ayahmu, pada saat itu aku sedang mengajukan proposal bisnis ke perusahaan ayahmu untuk memulai bisnisku.


Secara kebetulan saat itu aku bertemu kembali dengannya setelah sekian lama kami putus komunikasi, yang pada saat itu kondisi perekonomian ku tidak seperti sekarang, ayahmu yang tertarik dengan ide bisnisku kemudian dia bersedia membantuku dengan modal penuh hingga pada akhirnya bisnisku menjadi berkembang pesat.


Hubungan kamipun berlanjut dan keluarga kami berduapun semakin dekat. Terakhir kalinya aku mengunjungi ayahmu pada saat itu dirimu masih sangat kecil serta Anisa baru berumur beberapa bulan. Aku tidak menyangka pertemuan kami pada saat itu menjadi pertemuan untuk terakhir kalinya.


Hingga pada suatu hari aku mendapatkan kabar kejadian tragis yang menimpa kedua orang tuamu dan juga dirimu, yang pada saat itu aku tengah berada di eropa menjalankan urusan bisnis.


Mendengar kabar tersebut diriku bergegas pulang ke tanah air. Setibanya disini aku langsung bergegas melihat sahabatku untuk yang terakhir kalinya, kemudian aku mendapatkan informasi dari sekretarisku bahwa dirimu selamat dalam kejadian tersebut, kemudian aku memutuskan menemui richard pamanmu itu untuk mencarimu dan merawatmu, namun kebiasaan keluargamu yang selalu tidak ingin merepotkan dan mempunyai hutang budi kepada orang lain, membuatku menyerah mencarimu melalui mereka. Hal tersebut tidak memutuskan ku untuk menyerah sampai pada akhirnya hingga saat ini aku masih terus mencarimu.


Flashback off


"Ternyata keajaiban terjadi didepan mataku pada hari ini, sosokmu yang sudah aku cari selama belasan tahun kini muncul dihadapanku" ujar Syarif menutup ceritanya.


Ghali yang menyimak cerita Syarif sejak tadi merasa terharu kini keajaiban bukan tengah dirasakan Syarif saja, namun Ghali pun saat ini ikut juga merasakan keajaiban tersebut. "nak... Ghali mulai saat ini jangan panggil aku om, panggil saja aku papa sama halnya Anisa memanggilku papa" Ujar Syarif sembari menepuk punggung tangan Ghali. "iya om... ehh... maksudku pa" saut Ghali dengan tersenyum. Syarif yang mendengarnya pun nampak bahagia nampak senyum sumringah terpancar diwajahnya.


"Ghali... papa ingin bertanya kepadamu setelah ini apa yang akan kamu lakukan" tanya Syarif. "hufff ...entahlah pa semua ini serasa terjadi sangat cepat terhadapku mungkin setelah ini aku akan fokus mendirikan perusahaan Induk sebagai inti dari beberapa perusahaan yang telah kumiliki pa..." jawab Ghali perasaannya kini bercampur aduk antara kesedihan dari masa lalu dan kebahagian saat ini yang tengah dia rasakan.


Mendengar hal tersebut Syarif tersenyum "ide yang sangat brilian nak kebetulan sekali.... aku ada saran, untuk mempercepat perkembangan perusahaanmu itu lebih baik wiharja group ikut juga bergabung melebur kedalam group perusahaan mu, dengan jaringan bisnis yang sudah terbentuk tentunya akan mempermudah langkahmu kedepannya.... tidak usah khawatir nak, bagimanapun juga sejak awal Wiharja group adalah bagian mu, karena tanpa bantuan ayahmu dulu Wiharja group tidak akan bisa sebesar ini. Kini aku serahkan Wiharja group kepadamu" Ujar Syarif sembari mendekap pundak Ghali.


Syarif kemudian menarik nafas dalam-dalam "Terima Wijaya Group atau jangan dekati Anisa lagi.... kubur saja perasaan cintamu itu kepada anakku dalam-dalam, karena aku tidak ingin anakku di jaga oleh pria lemah yang selalu bimbang terhadap keputusannya sendiri.... AKU MENANTANGMU GHALI" Syarif berbicara dengan nada tinggi.


Namun bagi Ghali itu adalah tantangan bagi dirinya untuk membuktikan dirinya dihadapan ayah Anisa "baik pa aku akan menerima tantanganmu ini" Jawab Ghali dengan penuh semangat tanpa keragu-raguan sedikitpun. "itu baru laki...." ujar Syarif dengan bahagia. "baiklah Ghali dan satu hal lagi.... aku titip Anisa kepadamu, aku harap kamu menikahi Anisa dan para wanitamu yang lainnya, secepatnya" lanjut Syarif kemudian.


"anu.... pa bagaimana kamu mengetahuinya" ujar Syarif. "Anisa sering bercerita kepadaku, dia mengagumimu sejak lama, ini terjadi seolah-olah ada benang takdir menghubungkan kita semua, aku tidak mempermasalahkan hal itu karena aku percaya padamu, dan ingat !!!..... jaga kepercayaanku ini" ujar Syarif.


"aku akan mengingatnya pah" jawab Syarif tegas tanpa keraguan. "bagus punggung lelaki itu harus kuat, hatinya harus tegar"."kalau kamu ingin berkunjung kesini jangan sungkan-sungkan, rumah ini akan selalu terbuka untukmu nak" Ujar Syarif kemudian pergi meninggalkan Ghali.


'ternyata mereka sama saja. Sifat tersebut ternyata menurun juga kepada Ghali.... sifat tidak ingin hutang budi kepada orang lain terkadang merugikan diri sendiri.... huffffth... akhirnya setelah ini aku bisa lebih bersantai, karena saat ini ada calon mantu yang dapat diandalkan. Han bagaimanakah kabarmu disana dengan Alya ? apakah kamu bahagia ?. Mulai saat ini kamu jangan khawatir sahabatku aku akan melindungi Ghali, anakmu kini sudah besar Han dia tampan seperti mu, dia baik, dia bisa diandalkan. kini bahkan anakmu berhasil memikat hati anakku Han,... aku berjanji padamu akan menjaga mereka berdua' Gumaman Syarif dalam kesendiriannya.


'hemmm.... ternyata orang tua itu sesecerewet ini ya... sama halnya dengan Ibu Ratna kalau udah nyerocos gak bisa berhenti... huffft. Lebih baik aku memikirkan langkah akusisi perusahaan kedepannya karena saat ini aku akan fokus mendirikan olympus capital terlebih dahulu. Dengan kehadiran wiharja group yang diluar rencana awalku, tentunya hal tersebut akan sedikit berbeda kedepannya, tapi apakah mereka akan mampu mengurusnya' gumam Ghali nampak tengah berpikir keras.


[DING] 'Tuan jangan khawatir dengan kemampuan Tristan dan Isel sistem juga percaya kepada mereka hehehe'


'ihhhh.... tumben kamu sehumbel ini kepadaku'

__ADS_1


[DING] 'Tuan aja yang tidak mengenal sistem lebih dalam'


'apaan sih elu kayak cewek ngomongnya'


[DING] 'sistem tidak punya gender tuan, sistem adalah sistem'


'iya iya iya deh bawel ahhh kek cewek'


[DING] 'hummmpphhh... tuan menyebalkan'


Terlihat Ghali yang nampak cengar-cengir yang tanpa ia sadari Anisa memperhatikan tingkah lakunya itu "hayo.... lagi mikirin apa bahagia banget kayaknya" ujar Anisa mengagetkan Ghali. "duhhh... nis bisa gak jangan mengagetkanku seperti itu" saut Ghali sambil mengelus-elus dadanya.


bugh...bugh...bugh


"habisnya kau dari tadi mendiamkanku terus" ujar Anisa sambil memukul lengan Ghali. "kalian ini selalu saja gemar memukul lengan ku" ujar Ghali sembari meringis. Nampak kemudian Anisa nyengir kuda "hehehe... maaf ya sayang" berbisik ditelinga Ghali. "hemm" jawab Ghali singkat.


"Nis... nanti rencanamu setelah lulus sekolah mau ngapain ?" Ujar Ghali. Anisa yang nampak tengah berpikir "hemm... anu... Ghali sebetulnya aku sudah diterima di Universitas Seol, program studi hukum, untuk program Kelas jarak jauh... hehe" ujar Anisa nampak ragu.


"kenapa kok kamu kayak ragu gitu" ujar Ghali keheranan dengan ekspresi Anisa. "bukan itu masalahnya li. masalahnya nanti ada sewaktu-waktu yang mengharuskan aku harus berangkat kesana" ujar Anisa nampak ragu.


Ghali yang menangkap kegalauan Anisa kemudian dirinya berjongkok dihadapan Anisa kemudian dirinya mendekap wajah mungil Anisa dengan kedua tangannya "Anisaku kamu jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja kok, aku akan selalu mendukungmu selama itu demi kebaikanmu". "lalu bagaimana dengan aku... aku pengen punya anak darimu li..." jawab Anisa dengan polosnya. Ghali yang mendengar hal tersebutpun kaget dibuatnya.


pletak...


Ghali menyentil jidat Anisa yang membuat Anisa meringis kesakitan "nampaknya pikiran polosmu telah terkontaminasi doktrin sesat Isel" ujar Ghali dengan nada sebal. "hummphhh... Ghali jangan menuduh saudaraku seperti itu dia ti....." ujar Anisa menggembungkan pipinya namun belum selesai dirinya bicara, Ghali menyesap bibir merahnya itu.


"kalau...seperti ini nampaknya aku harus menikahi kalian, apakah itu tidak masalah untukmu nis" ujar Ghali. bukannya menjawab Anisa langsung memeluk erat Ghali "li... terima kasih nikahi aku cepet ntar aku keburu diambil orang" ujar Anisa kemudian memasang wajah imutnya.


"ya... kamu ngebet banget deh... udah gak tahan lagi apa" ucap Ghali sembari menggigit lembut telinga isel "enghhhh" seketika lenguhan itu lolos saja dari mulut Anisa, ia kemudian menutup mulutnya "Ghali...kamu ini bagaimana aku gak ngebet coba.... kamu selalu aja memperlakukan aku kayak begitu" ujar Anisa membela diri.


"cihhh.... bilang aja kalau otak lu emang kotor mikirnya itu-itu mulu" saut Ghali dengan nada ngeledek. Anisa hanya merespon dengan mengerucutkan bibirnya.


"kamu jangan khawatir tentang masalah tersebut... aku akan melaksanakannya setelah urusanku yang lainnya beres" ujar Ghali sembari mengusap pucuk kepala Anisa. "hemm... tentu li i will be waiting for you" jawab Anisa.


"baiklah nis karena hari sudah malam aku pamit pulang dulu ya... sampai jumpa besok" pamit Ghali kepada Anisa diikuti kecupan singkat ke kening Anisa, mendapat perlakuan manis dari Ghali tersebut sontak saja berhasil membuat jantung Anisa berdegup kencang tak karuan.


Tak lupa Ghali berpamitan dengan kedua orang tua Anisa kemudian, dirinya pulang menuju mansionnya yang masih dalam satu kawasan perumahan elit yang sama itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2