
"Sungguh indahnya pemandangan pagi hari disini, ada baiknya setelah ini Aku mengajak Nancy dan Anisa kesini" ujar Ghali sembari tersenyum.
Dirinya kemudian bergegas untuk melakukan aktifitas rutinnya seperti biasa, tetapi bedanya saat ini para pengawalnya juga ikut olahraga bersama dirinya sekitar 30 Menit lamanya mereka kemudian mengakhiri kegiatannya dan kembali untuk sarapan bersama.
[DING] 'Misi Harian terlaksana '
'Selamat Tuan Mendapatkan 500.000.000 Poin sistem. Poin tuan saat ini berjumlah 1.312.021.055.990 '
Pagi ini Ghali yang tengah bersiap berangkat pergi usai dirinya melakukan sarapan dan menjalankan misi harian sistem.
Tiba-tiba dari arah depan villanya, terlihat rombongan sekelompok orang berseragam menyambut Dirinya itu, pada saat mereka dihadapan Dirinya, seketika semuanya memberikan sikap hormat.
Selamat pagi pimpinan !!
Ujar mereka serempak, "Ada apa kalian kemari ?" tanya Ghali kepada mereka "Izin memperkenalkan diri pimpinan, nama saya Zaid saya adalah ketua Divisi bagian Intelijen dan strategis, Biro Keamanan Dalam Negeri, Kami telah mendapat kabar sebelumnya bahwa Anda Jendral Oray untuk memimpin Biro Keamanan Dalam Negeri. Mohon maaf telat menyapa anda pimpinan" tegas Zaid dengan khas militernya.
"Tris untuk saat ini Kamu kembalilah ke MW Group biar masalah ini Aku dan Tigh saja yang mengurusnya" ujar Ghali sembari menoleh kearah Tristan.
Kemudian Dirinya beralih menatap Clay. "Clay berhubung Kamu adalah warga negara asing ada baiknya kali ini biar Aku ditemani oleh Tigh saja karena ini menyinggung rahasia negara, tentunya dengan statusmu saat ini akan sangat sulit" ujar Ghali, Clay pun mengangguk paham dengan perkataan Ghali.
"Ayo Kita berangkat" seru Ghali kepada mereka, kemudian berlalu pergi menuju kantor Biro Keamanan Dalam Negeri.
Sesampainya Disana, kedatangan Ghali disambut dengan upacara seremoni sekaligus upacara serah terima jabatan dari pemimpin terdahulu sebab telah memasuki masa pensiun.
Jendral Orai yang kini tengah mendekap Ghali, usai mereka berdua berjabat tangan "Aku titipkan perjuanganku selanjutnya kepadamu nak" ujar Orai sembari menepuk-nepuk pundak Ghali.
Ghali pun sembari melepaskan rangkulannya mengangguk pelan kepada Jendral Orai. 'Ntah bagaimana Kakanda Presiden memilih anak muda ini, sebetulnya siapa pemuda ini, aku jadi semakin penasaran dengan Dirinya' gumam Orai sembari menampilkan senyum tipisnya itu.
Usai kini Ghali yang sudah resmi menjabat sebagai kepala Biro Keamanan Dalam Negeri, kini Dirinya akan segera melakukan rapat untuk pertama kalinya.
Kini didalam ruangan rapat tersebut telah hadir semua pegawai Biro Keamanan Dalam Negeri dari seluruh tingkatan, Ghali sengaja mengumpulkan mereka semua sekaligus untuk memperkenalkan Dirinya.
"Selamat pagi rekan-rekan bapak ibu sekalian, perkenalkan Saya Ghali Martin Pimpinan Biro Keamanan Dalam Negeri yang baru" sapa Ghali singkat kemudian dibarengi dengan tepuk tangan apresiasi.
Dirinya kemudian mengangkat tangan kanannya seketika suara riuh tepuk tangan berhenti, dan suasana kembali menjadi hening.
"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua yang telah menyambut kedatangan saya ini, untuk selanjutnya sebaiknya kita mulai rapat kita pada pagi hari ini" ujar Ghali yang kemudian dirinya kembali duduk.
Satu persatu tiap divisi menyampaikan laporan singkatnya mengenai pencaapaian dan pr mereka selama ini yang belum juga usai.
Hingga pada akhirnya Ghali berada di sebuah kesimpulan bahwa Biro Keamanan Dalam Negeri selama ini, sangat kekurangan SDM.
"Untuk divisi personalia kenapa selama ini kalian tidak melakukan open recruitment, Kenapa kalian cenderung membiarkan permasalahan ini ?" tanya Ghali.
Pimpinan divisi personalia pun menjawab pertanyaan Ghali "Izin menjawab pimpinan, bahwa sebelumnya bukan kami tidak mau melakukan open recruitment, akan tetapi memang lagi-lagi Kita terbatas dalam segi post anggaran" ujar Mia kepala divisi personalia.
"Bahkan tiap tahunnya memang kita selalu memangkas anggaran tiap-tiap divisi, dan mengalihkannya ke divisi lain berdasarkan skala prioritas" ujar Mia dengan tertunduk malu.
Ghali pun mengangguk lirih mendengarnya, 'Kenapa seperti ini.... Jadi wajar saja kejahatan merajalela, sedangkan instrument pemberantasannya acak-acakan dan selalu mempunyai keterbatasan yang seperti ini' gumam Ghali sembari memijat pelipisnya itu.
Disisi lain nampak segelintir orang pada barisan belakang dalam rapat itu, Menatap remeh Ghali yang saat ini tengah tertunduk.
Cihhhh.... Anak muda sok belagu
Ya..... Apakah Dia pikir tempat ini dianggapnya sebagai taman bermain baginya ?
Kenapa kita harus patuh dengan pemuda yang tidak kompeten seperti itu
Ujar masing-masing dari ketiga orang tersebut, sembari menatap remeh Ghali, padahal tanpa mereka sadari percakapan mereka terdengar jelas dalam pendengaran Ghali.
Dirinya pun dalam sekejap naik pitam terhadap ketiga orang tersebut
Wush wush wush wush
__ADS_1
Bang !!!
Seketika microphone, yang dilempar dari Ghali kearah salah satu dari Tiga orang tersebut mendarat telak dikening orang tersebut, sehingga menyebabkan orang tersebut pingsan.
Kedua Temannya yang melihat kejadian itupun tidak bisa berkutik, seketika tubuh mereka berdua bergetar hebat, bibirnya kini sangat putih memucat ketakutan.
Sebab kejadian tersebut terjadi dengan sangat cepat, lesatan mic yang dilempar Ghali tersebut nyaris tidak terlihat bagaikan desing peluru.
"Keluarkan orang yang pingsan tersebut bawa Dirinya kerumah sakit" ujar Ghali sembari menekan emosinya.
Kemudian pihak keamanan kantorpun membawa pria paruh baya itu keluar untuk dilakukan perawatan.
Kini Ghali kembali menatap dua orang yang tengah terkujur kaku itu, "Hey kalian kemarilah" pekik Ghali sembari menggerakkan tangannya memanggil.
Dengan langkah terpaksa kedua orang tersebut pun maju menuju ke tengah-tengah ruangan rapat, tentunya mereka berdua kini menjadi sorotan para rekan kerjanya.
Ghali dalam diamnya tanpa satu orang pun menyadari, Dirinya mengaktifkan scanner, pada saat Dirinya melakukan pemindaian betapa kagetnya Dia melihat seluruh orang yang berada diruangan tersebut, bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki tingkat loyalitas diatas 80%, seketika mukanya berubah merah padam.
Ditambah dua orang yang kini dihadapnnya itu sama sekali tidak menunjukkan tingkat loyalitas sama sekali.
"Kalian tau kesalahan kalian apa ?" ujar Ghali dengan penuh penekanan, dua orang tersebutpun mengangguk pelan.
"Ibu Mia tolong urus pemecatan ketiga orang ini" ujar Ghali kepada Mia kepala personalia. Perkataan Ghali sontak saja memancing riuh dalam ruangan tersebut.
"Perlu Aku beritahu kepada kalian, saat Aku sedang serius memikirkan masalah yang tengah Kita hadapi, jangan kalian anggap Diriku bercanda dan tidak akan melakukan apa-apa" ujar Ghali memekik.
Seketika suasana menjadi tegang tak seorangpun yang berani bersuara, "Masalah yang Kita hadapi saat ini sangatlah serius. Wajar saja permasalahan keamanan dalam negeri tidak kunjung selesai. Sebab perilaku dan kinerja kalian sebagai aparat yang seperti kep*r*t, saat ini yang selalu menganggap remeh kondisi yang sedang negara kita hadapi saat ini. Kartel narkoba El-Nino, belum lagi para-para mafia lokal yang sering kali menggoyangkan suksesi pemerintah dengan kekuatannya, ketika kebijakan yang kita buat sering kali melawan kepentingan mereka" ujar Ghali memekik sembari menunjuk kedua orang yang kini dihadapannya itu.
"Aku tidak akan mentoleransi pelanggaran seperti ini" ujarnya kemudian.
"Bagi siapapun yang tidak sanggup bekerja dibawah kepemimpinan ku mulai saat ini.... Silahkan angkat kaki dari sini sekarang juga" ujar Ghali suasana pun semakin tegang namun tidak ada satupun yang berani beranjak dari tempatnya.
Ghali melihat nilai loyalitas dari tiap-tiap orang yang seketika meningkat tajam. Dirinya hanya bisa tersenyum didalam hati.
"Bu Mia segera urus mereka bertiga" ujar Ghali kembali menunjuk dua orang dihadapannya itu, "Baik, pimpinan akan Saya laksanakan" jawab Mia gugup.
"Dan satu lagi, untuk divisi pengawas internal siapa ketua divisinya" ujar Ghali sembari mencari-cari diantara kerumunan.
Seketika mereka semua pun nampak saling bertatap-tatapan, namun terlihat salah satu pria yang masih tergolong sangat muda berdiri "Mohon maaf pimpinan yang barusan anda usir tersebut adalah mereka yang berasal dari divisi pengawas internal ketua dan wakilnya" ujar pria tersebut.
'Memang rusak sudah birokrasi ini, bobrok semuanya' gumam Ghali sembari menepak jidatnya.
"Baiklah tak usah pikirkan hal itu, mulai saat ini, untuk sementara waktu Aku yang secara langsung mengambil alih divisi pengawas internal sampai nantinya pegawai bafu bergabung bersama kita" ujar Ghali.
Nampak raut kebingungan diantara para hadirin, Ghali pun tersenyum "Ya betul.... Kita akan melakukan open recruitment secara besar-besaran, untuk masalah anggaran tak usah kalian pikirkan, Aku akan menyumbangkan sebagian hartaku untuk membangun Biro ini menjadi lebih baik" ujar Ghali.
Seketika raut sumringah hadir dari masing-masing wajah disana 'Patriot konversikan 1.021.055.990 Poin kedalam bentuk mata uang ' gumam Ghali.
[DING] 'Mengkonversi 1.021.055.990 Poin, process.......10%…20%…30%…50%…70%…100% '
[DING] 'Sisa poin sistem Tuan saat ini berjumlah 1.311.000.000.00 Poin '
[Ting] 'Transfer dana masuk ke rekning Anda sejumlah Rp. 102.105.599.000.000 , Total Dana akun bank anda saat ini berjumlah Rp. 112.105.599.000.000 '
Kemudian Ghali mengetikkan ponselnya usai mendapatkan nomor rekening dari bagian perbendaharaan Biro Keamanan Dalam Negeri. Setelah beberapa saat muncul notifikasi m-bangking kembali.
[Ting] 'Transfer dana keluar dari rekning Anda sejumlah Rp. 102.105.599.000.000 , Total Dana akun bank anda saat ini berjumlah Rp. 10.000.000.000.000 '
Ghali seketika memperlihatkan layar ponselnya kepada bendahara biro, melihat nominal tersebut semuanya sangat kaget.
Apa 100 Triliun Rupiah
Bahkan anggaran kita sebelumnya setengah dari itu
__ADS_1
Bisik orang-orang yang ada disana, seketika pandangan orang-orang terhadap dirinya berubah 180°, banyak dari mereka dalam sekejap kini mengagung-agungkan Ghali.
"Pergunakan uang itu sebaik mungkin sebaiknya hari ini aku ingin setiap divisi untuk mengumpulkan rencana-rencana yang sebelumnya tertunda." ujar Ghali.
Setelah beberapa saat Dirinya kemudian keluar dari ruangan rapat tersebut dan kembali kedalam ruangannya diikuti oleh Tigh dan para ketua tiap-tiap Divisi.
Kini mereka tengah duduk santai diruangan tersebut, suasana yang jauh terbalik dibandingkan sebelumnya.
"Divisi personalia aku ingin tahu berapa banyak tim taktis yang kita miliki ?" tanya Ghali, "Izin pimpinan untuk tim taktis saat ini berjumlah 100 Orang tetapi semuanya berasal dari pasukan khusus pilihan" jawab Mia.
Ghali kemudian nampak tengah berfikir 'Bahkan hal ini pun tidak memadai' gumamnya. "Baiklah untuk tim Intelijen ada berapa jumlahnya Zaid ?" tanya Ghali, "Izin pimpinan, untuk tim intelijen sendiri berjumlah 1.000 Orang yang tersebar diseluruh provinsi.
Ghali pun mengangguk puas mendengarnya sebab dari sekian bagian hanya divisi intelijen yang memenuhi syarat dari segi kuantitas.
"Baiklah Kita harus cepat setelah ini, Saya minta semuanya bergerak cepat sebab ada banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan secapatnya, untuk divisi personalia lakukan rekrutmen besar-besaran sebar informasi diseluruh penjuru negeri, dan untuk tim taktis minta penambahan lagi sebanyak 200 Orang dari pasukan khusus, kirim surat kepada panglima sekarang" ujar Ghali tegas.
Usai mendengar perkataan Ghali mereka kemudian kembali ke tempatnya masing-masing.
Tak lama sepeninggalan mereka Ghali kemudian memanggil Tigh, "Tigh ada tugas yang harus kita selesaikan malam ini juga" ujar Ghali datar, Tigh pun menatap heran "Tugas apa Tuan ?" ujar Dirinya.
"Kau ingat ketiga orang yang barusan Aku usir tadi di ruang rapat ?" tanya Ghali, Tigh pun mengangguk paham.
"Mereka adalah salah satu dari 12 Orang antek yang membantu kartel narkoba El-Nino" ujar Ghali tanpa berkedip.
Sebaiknya kita membawa tim taktis untuk membantu Kita, Ghali kemudian kembali memanggil Zaid lewat telepon kantornya .
Tak lama berselang Zaid datang, "Zaid kerahkan anak buahmu untuk mengawasi pergerakan ketiga orang yang tadi sempat Aku usir dari ruang rapat" ujar Ghali.
Tanpa basa-basi Zaid melaksanakan perintahnya.
Kini Ghali telah berada di ruangan tempat tim taktis, kehadiran Ghali disana disambut dengan sikap sempurna dari mereka "Siapa ketua Tim ini" tanya Ghali.
Kemudian dari arah belakang seorang pria berbadan kekar berjalan mendekati Ghali "Izin pimpinan perkenalkan nama saya Rock saya adalah pimpinan tim taktis" ujar singkat perkenal dari Rock.
"Baiklah, Kita akan bergerak malam ini untuk menangkap penghianat" kemudian Ghali menunjukkan ketiga photo dari masing-masing orang yang berbeda.
"Tentu kalian mengenal siapa mereka...... Namun mereka sendiri terlibat juga dalam tindakan membocorkan informasi rahasia kepada pihak kartel narkoba El-Nino, misi kita malam ini menangkap mereka hidup-hidup apapun resikonya" ujar Ghali.
Mereka pun saat ini tengah bersiap, Rock mengerenyitkan tatapannya kepada Ghali kemudian Dirinya menghampiri Ghali, "Izin pimpinan apakah Kamu akan ikut bersama kami juga" tanya Rock nampak tidak yakin.
Ghali kemudian menepuk bahu Rock "Tak usah, Kamu pedulikan Diriku cukup kalian jaga diri kalian masing-masing" ujar Ghali sembari tersenyum usai Dirinya memakai perlengkapannya.
Waktu berlalu hampir 30 Menit kini Ghali, Tigh beserta tim taktis yang berjumlah 15 Orang itu tengah bersiap didalam mobil mini bus mereka masing-masing.
Sembari menunggu informasi dari Zaid, tak lama berselang Zaid memberikan informasi posisi keberadaan mereka bertiga, lewat alat komunikasi yang mereka pakai.
"Baiklah Tim saatnya kita bergerak" ujar Ghali lewat saluran HT nya itu.
Tak sampai 20 Menit kini mereka sudah sampai di lokasi yang sebelumnya didapatkan oleh tim intelijen, merekapun membagi menjadi 3 Regu dimana tiap-tiap Regu dipimpin oleh Ghali, Tigh dan Rock.
3 Regu itupun menyisir lokasi bekas pabrik tekstil tersdbut dengan penuh hati-hati.
Tak lama kemudian ketiga target pun nampak terlihat, tengah menikmati 1 Botol whisky ditemani dengan alunan musik yang berasal dari sebuah radio disana.
Melihat kondisi musuh yang lengah Ghali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan gerak bagai siluman dengan cepat dia berlari kearah tiga orang tersebut sembari memukul tengkuk masing-masing dari mereka.
Bugh...bugh...bugh
Seketika tiga orang tersebutpun pingsan, Rock yang melihat aksi Ghali barusan nampak sangat tidak percaya sebab ada manusia yang melakukan gerak secapat itu bagaikan siluman.
Kini mereka pun membawa ketiga tersangka kembali ke Biro Keamanan Dalam Negeri untuk dilakukan upaya introgasi.
.
__ADS_1
.
Bersambung..