SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 18 : Saran dari Papa Syarif


__ADS_3

Pagi ini terlihat Ghali berjalan memasuki rumah keluarga Wiharja, rencananya hari ini dirinya mau menemui Anisa kekasihnya.


Sesampainya dirumah tersebut Ghali langsung disambut oleh pak Syarif yang kebetulan akan pergi "ehh.... nak Ghali udah lama sampainya ?" ujar pak Syarif. "belum kok, pa barusan sampai, Anisa ada didalam?" jawab Ghali, "ada kok, masuk aja,...... oh ya Ghali habis ini kamu jangan kemana-mana dulu ya papa mau bahas sesuatu sama kamu, papa pergi dulu sebentar menemui teman papa" ujar pak Syarif.


"baik, pa hati-hati dijalan" ujar Ghali yang kemudian dirinya memasuki rumah tersebut, dari dalam dirinya disapa oleh Ibu Aulia, ibu dari Anisa "Ghali.... udah sarapan?, yuk sarapan dulu sekalian tuh bangunin nisa kebiasaan kalau hari minggu bangunnya suka siang" ujar bu Aulia.


"iya, tante saya bangunin nisa dulu ya..." ujar Ghali sembari tersenyum, "hushhh.... gak usa panggil-panggil tante panggil aja mama" ujar bu Aulia sembari tersenyum kepada Ghali.


"ehhh.... iya mah" ujar Ghali, lalu dirinya berlalu menuju kamar Anisa, sesampainya didepan kamar Anisa.


tok...tok...tok


Suara ketukan dari luar kamar Anisa, nampak tidak ada balasan dari orang yang berada didalamnya, setelah menunggu beberapa saatpun Ghali tidak mendapatkan jawaban dari dalam, dirinya pun langsung memutar kenop pintu, terlihat disana Anisa yang masih tidur dengan nyenyak.


"nis... bangun" ujar Ghali dengan nada lembut sembari menepuk pelan pipi Anisa, "ehm...ehm" Anisa sembari merematkan badannya, "bentar lagi yank... masih ngantuk banget" ujar Anisa dengan suara seraknya nampak masih ingin melanjutkan tidurnya.


Seketika ide usil terlintas di kepala Ghali 'hemm.... baiklah kalau itu mau mu' gumam Ghali terlihat seringai iblis dari bibirnya.


kyaaaa..... hyaaaaa..... GHALI....GHALI

__ADS_1


"hentikan hentikan" teriak Anisa yang kini terkejut seketika tubuhnya di gendong dari Ghali, dirinya pun berusaha untuk melepaskan diri sembari memukul-mukul bahu Ghali dengan keras, tetapi Ghali tidak menghiraukan hal tersebut, dirinya terus membawa Anisa menuju kamar mandi, sesampainya disana dirinya pun menurunkan Anisa "cantik.... waktunya sarapan, mandi dulu sana gih" ujar Ghali sembari mencubit gemas pipi Anisa.


Anisa yang nampak jengkel sama Ghali menunjukan ketidak senangannya "dasar jahat" pekik Anisa, Ghali yang mendengar hal tersebutpun hanya terkekeh kemudian dirinya berkata "yaudah mandi dulu udah ditunggu mama tuh sarapan dibawah" sembari mengacak-acak rambut Anisa.


Ghali meninggalkan Anisa disana kemudian dirinya menghampiri mama Aulia, "li... Anisa nya udah dibangunin?" tanya Aulia, "udah tant....eh maaf mah" jawab Ghali sembari mengusap tengkuk lehernya, Aulia yang mendengarnya hanya tersenyum.


"jadi kapan rencana kamu" ujar Aulia sembari menatap Ghali yang kini duduk di hadapannya itu, "rencana" ujar Ghali sembari berpikir sejenak, "rencana nikah" saut Aulia, "ohh.....ya mah, Ghali usahakan secepatnya, setelah kelulusan sekolah nanti" jawab Ghali.


"hemmm.... tidak sampai 2 bulan ya..." ujar Aulia sembari menopang dagu dengan tangannya nampak berpikir, "baiklah kalau kayak gitu, tidak perlu acara yang besar nak...., yang terpenting akad nikahnya" ujar Aulia sembari tersenyum.


"iya... mah" ujar Ghali, yang kini perkataan dari mama Aulia nampak diluar exspetasi nya itu. "udah jangan, murung kayak begitu, yang penting kalian menikah atas dasar cinta bukan karena suatu sebab, mama pun tidak akan menuntut banyak darimu cukup kamu jaga Anisa dan rawat dia dengan adil tanpa membeda-bedakan dirinya dengan istrimu yang lain" ujar mama Aulia nampak matanya yang kini menahan tangisnya, Ghali pun yang melihat hal tersebut bingung dengan yang dirasakan mama Aulia entah kah itu air mata kebahagian atau air mata kesedihan.


"ma....maafkan Ghali yang tidak bisa menjadikan Anisa wanita satu-satunya bagi Ghali" ujar Ghali dengan nada penuh penyesalan, mama Aulia yang mendengar hal tersebutpun menepis perkataan Ghali. sembari mengusap air matanya itu "ahh... maafkan mama yang terlalu emosional menghadapi situasi ini, hanya saja mama iri dengan Anisa, kanapa dirinya begitu kuat menghadapi situasi ini justru dia bahagia menerimanya, mama iri kalau mama tidak setegar Anisa" ujar mama Aulia tengah tertunduk.


Nampak dari jauh Anisa mengamati dialog dari kedua orang yang amat dia sayangi tersebut, dirinya terharu melihat kejadian itu "mama aku datang ayo kita sarapan" ujar Anisa dengan suara lantang seketika memecahkan kecanggungan antara Ghali dan mamanya.


Merekapun menghentikan obrolan dan melanjutkan sarapan, merekapun menghabiskan makanan dengan tenang tanpa banyak mengobrol.


Kini Ghali tengah duduk diruang tamu rumah tersebut ditemani oleh Anisa, sembari menunggu papa Syarif pulang kerumah.

__ADS_1


*


Hari sudah menunjukan jam 5 sore, Ghali menyambut papa Syarif yang baru datang diikuti oleh Anisa untuk bersalaman dengan papanya. Syarif yang melihat Ghali dengan tatapan penuh arti dan mengarahkan tatapannya kearah ruang kerja Syarif.


Dirinya yang paham dengan sinyal yang diberikan oleh papa Syarif, kemudian dirinya mengikuti papa Syarif menuju ruang kerjanya.


Didalam ruang kerja, kini papa Syarif melihat Ghali dengan tatapan penuh keprihatinan, sembari menghela nafas huffhhhh "nak kini kamu sudah tidak bisa mundur lagi keluarga anggoro sudah mulai mengawasi MW Group lebih serius, nampaknya dalam waktu dekat mereka akan mulai beraksi" ujar Syarif.


'hemm..... jadi lagi-lagi masalah keluarga anggoro' gumam Ghali. "lalu apa yang telah papa ketahui dari rencana mereka ?" ujar Ghali dengan penuh rasa keingin tahuan yang tinggi.


Papa Syarif, diam sejenak kemudian berkata "nak... perjuangan kita kedepannya akan lebih berat aku sudah tau keluarga Anggoro dan bagaimana mereka melibas saingan bisnis nya para aparat hingga pejabat pemerintahan pun kebanyakan berafiliasi kepada keluarga Anggoro.... hingga kini pengaruhnya bisa sedemikian rupa, sehingga para pembisnis lebih memilih menjadikan keluarga Anggoro sebagai teman ketimbang menjadikan musuh" ujar pak Syarif.


Ghali tampak menyerna perkataan dari papa Syarif sembari menggaruk-garuk kepalanya "paa...." ujar Ghali dengan lirih, "aku tidak punya pilihan lain selain melawan mereka, kalau tidak ada orang lain yang mengingatkan mereka...!!! maka aku dengan suka rela menjadi orang yang akan mengingatkan mereka!!!" ujar Ghali dengan emosionalnya yang kini terdengar bagai suara perwakilan dari orang-orang yang tertindas.


"aku tidak bisa melarangmu tapi aku tidak akan membantumu kali ini nak..... maafkan aku yang lemah ini" ujar Syarif dengan penyesalan kali ini dia memang benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Ghali.


"baiklah pah... serahkan semuanya kepadaku kali ini, aku hanya butuh kepercayaan mu saja" ujar Ghali dengan tegas, Syarif menanggapinya dengan tersenyum yang nampak dipaksakan, namun didalam hatinya dia merasa iba terhadap Ghali.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2