
Ghali yang kini baru sampai di mansionnya, menyuruh Fylan untuk mengantar Clay menuju kamarnya, Ghali dan Nancy pun kemudian memasuki mansion bersama, kedatangan mereka disambut hangat oleh Anisa Isel dan Ibu Ratna serta adik kembarnya itu.
Ghali menyapa mereka satu persatu, tak urung Ghali kini menyempatkan waktunya untuk sekedar bermain dengan si kembar Mita dan Mira "Adek-Adek, Kakak bagaimana tadi sekolahnya seru gak ?" tanya Ghali kepada mereka.
"Seru kak, kini aku dan kak Mita punya banyak teman di sana" ujar Mira, "Bagus... Adek-Adek Kakak harus semangat ya sekolahnya, biar pinter seperti Kakak." ujar Ghali sembari mengusap-usap pucuk kepala Mita dan Mira, si kembar pun menjawab nya dengan anggukan.
Kemudian Ghali pergi ke kamarnya setelah puas menyapa adik-adiknya itu.
Ghali yang kini baru saja sampai di kamarnya, kemudian pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tapi diluar dugaannya kamarnya diam-diam, di masuki oleh Nancy, Isel dan Anisa.
Bunyi gemercik air di dalam kamar mandi seketika berhenti, hal itu menandakan Ghali yang sudah selesai mandi.
*T*ek
Bunyi kenop pintu kamar mandi yang di putar, sontak saja Ghali kaget dengan kehadiran tiga wanitanya itu, "Apa yang kalian lakukan disini.... lalu.... pakaian itu" ujar Ghali kaget, melihat mereka yang mengenakan pakaian mini tersebut.
"Ya... Kami sudah sepakat sebelumnya, untuk melakukan hal ini bersama-sama." ujar Isel mewakili para saudarinya itu.
'Ini, GILA!, ini diluar dugaan ku' gumam Ghali, kemudian dirinya di tarik oleh Isel menuju ranjang, kini Ghali terlihat sudah berbaring di ranjang yang hanya mengenakan sehelai handuk yang melekat di pinggangnya itu.
Flashback On
Pagi hari tadi setelah kepergian Ghali dan Nancy sebenarnya Isel dan Anisa mengatur siasat untuk melakukan hal tersebut bersama-sama, "Dek... bagaimana nanti malam kita lakukakn hal itu dengan Ghali" ujar Isel, Anisa nampak berfikir sesaat sebelum menjawab Isel.
"Ide bagus kak... Sejak lama aku ingin melakukan hal itu dengan Ghali namun Dia selalu menolaknya kak" jawab Anisa lirih.
"Nah aku ada ide, maka dari itu kita lakukan bersama-sama dengan Nancy juga nanti" ujar Isel, "Apakah kak Nancy sudah mengetahuinya" tanya Anisa.
Isel menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tapi kamu tenang saja Aku akan menghubunginya setelah ini, sekarang sebaiknya Kita bersiap-siap pergi" ujar Isel.
"Haaaaa.... Pergi kemana kak ?" ujar Anisa yang tampak kebingungan, "Udahlah ikut Kakak, kita akan ke mall, untuk membeli baju tempur" jawab Isel di sertai dengan senyuman, "Emangnya ada gitu Kak, jualan baju tempur di mall" jawab Anisa sembari menggaruk-garukan kepalanya.
pletak
Awwwwwww..... Ish sakit kak !
Ringis Anisa, "Kamu tuh, masih gak paham aja yang kayak begituaan.... udah ikut Kakak aja jangan banyak tanya" ujar Isel dengan nada sebal, 'Ghali di mana kamu menemukan wanita sepolos ini hadeuh....' gumam Isel sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kini mereka sudah berada di salah satu mall terkenal. Tanpa berlama-lama mereka menuju ke tempat yang menjual pakaian dalaman wanita, terlihat di sana berbagai pakaian mini wanita berjejer di sana, mulai dari berbagai model dan ukurannya.
Anisa yang melihat hal tersebut pun seketika matanya membelalak ke arah Isel 'Crazy ' begitulah kira-kira umpatan dalam hati Anisa saat ini.
"Udah cepat jangan bengong... Pilih lah yang kamu mau, ngambil banyak juga ga papa, tenang saja calon suami kita kan kaya.... Beli yang beginian juga gak bakalan habis itu duit, lagian ini juga untuk menyenangkannya juga kan !" seru Isel memecah lamunan Anisa.
__ADS_1
Kini mereka berdua tengah memilih berbagai pakaian, termasuk juga pakaian untuk Nancy, selama beberapa saat kemudian mereka membayar barang-barang pilihan mereka, dengan cepat setelah selesai mereka pun pergi kembali menuju mansion.
Saat ini Isel dan Anisa yang baru sampai di mansionnya itu, kemudian mereka menghubungi Nancy menggunakan ponsel milik Isel.
Tut...tut...tut
Bunyi panggilan telepon sebelum dijawab Nancy, tak lama beberapa saat kemudian terdengar sahutan dari seseorang diseberang telepon.
"Hallo, ada apa dek" saut Nancy dari seberang telepon.
"Kak kamu masih bersama Ghali sekarang ?." tanya Isel
"Tidak, emangnya kenapa ?" tanya Nancy kembali
"Kebetulan sekali, baiklah kak apakah Kamu mau ikut Kami malam nanti, untuk memuaskan Ghali ?" ujar Isel tanpa basa basi, tak lama setelahnya terdengar suara Nancy yang tengah tersedak.
Uhukkkk
"Apaan sih dek" ujar Nancy
"Iya.... Kami malam ini rencananya akan bermain bersama Ghali, dan juga aku sudah membeli baju tempur untuk Kita pakai malam ini" ujar Isel.
"Apa....! Kita, berarti Anisa ikut juga ?" tanya Nancy.
"Huuuuuu..... Baiklah Aku akan mengikuti rencana kalian, baikalah sampai ketemu dirumah nanti, bye...." ujar Nancy yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Yes... kak Nancy sepakat, sebaiknya kita bersiap-siap setelah ini" ujar Isel.
Waktu pun berlalu....
Kini terdengar Ghali dan Nancy sudah sampai di mansion, dengan cepat Isel dan Anisa menarik Nancy tanpa sepengetahuan Ghali yang tengah fokus ngobrol dengan adik kembarnya, Nancy di bawa ke kamar Isel di lantai dua.
"Cepat kak... mandi dulu habis itu, pakai ini" ujar Isel sembari memberikan satu set pakaian mini nampak seperti jaring-jaring itu.
Nancy yang melihat pakaian tersebut pun terperangah melihatnya 'Niat sekali mereka, sampai segitunya' gumam Nancy, "Baiklah tungguin ya..." ujar Nancy sembari berjalan cepat menuju kamar mandi.
Selama beberapa saat kini Nancy keluar dari sana dengan pakaian tersebut yang melekat di tubuhnya itu, sama halnya dengan Isel dan Anisa "Baiklah sekarang apa lagi ?" tanya Nancy, "Sekarang saatnya kita let's go " ujar Isel sembari mengacungkan jari telunjuknya.
Sampai pada akhirnya mereka sudah berada di kamar Ghali saat ini.
Flashback Off
Saat ini Ghali tengah asik bermain dengan bidadarinya itu, dengan olah formasi tiga lawan satu terjadi saat ini. Para bidadarinya itu pun mendapat gilirannya satu per satu.
__ADS_1
Yang pertama mendapatkan serangan dari Ghali adalah Isel, sedangkan dua yang lainnya nampak terbaring pasrah usai melakukan pemanasan, Isel sangat menikmati permainannya kali ini ada sensasi tersendiri yang sulit diungkapkan lewat kata-kata.
Tidak terasa Ghali mengolah Isel dengan sangat singkat dari waktu biasanya, sebab kali ini dirinya mengerahkan seluruh stamina dan kemampuannya, tentunya hal tersebut sangat berdampak pada durabilitas lawan jenis untuk mengimbangi permainan Ghali.
Tak lama bersalang itu terdengar lenguhan panjang yang menandakan pelepasan pertama Dirinya, seketika tubuh Isel ambruk setelah mencapai pelepasannya.
Kini Ghali kembali menyerang para bidadarinya itu bagai bin***ng buas, saat ini selanjutnya giliran Nancy yang mendapat serangan, namun Nancy tidak mau kalah dengan Ghali seketika dirinya mengambil posisi diatas Ghali dan mendudukinya.
Bagaikan sang pemain profesional Nancy menggerak-gerakan tubuhnya turun naik.
Heumm.... yaaaa
Anisa yang tidak tahan melihat hal tersebut pun dengan inisiatif ikut menduduki Ghali namun, kini dirinya duduk diatas wajah Ghali, yang terlihat menginginkan sesuatu. Melihat hal tersebut pun Ghali mengerti apa yang di inginkan Anisa saat ini.
Disisi Nancy yang saat ini, dimana Dirinya sudah akan mencapai puncak nirwana semakin erat merengkul Ghali. Hal yang sama dirasakan dengan Ghali saat ini setelah beberapa saat, Ghali yang sudah tidak sabaran lagi menggenggam Nancy dan menggerakkannya dengan sangat cepat hingga pada akhirnya mereka bersama-sama mencapai pelepasannya.
Meskipun Ghali sudah dua kali mencapai pelepasannya namun dirinya pun belum juga terpuaskan, kini tinggal tersisa Anisa yang saat ini masih tengah asik ber solo karier, dengan cepat Dirinya memindahkan Nancy ketepian ranjang, lalu menarik Anisa kedalam rangkulannya.
Saat ini posisi Anisa yang berada di bawahnya itu, nampak terlihat sangat gugup, diusapnya pipi sang bidadari dengan lembut, yang tanpa Anisa sadari sesuatu yang amat besar mulai masuk semakin dalam dibawah sana, tentunya hal tersebut membuat Anisa berteriak bukan main.
hiks...hiks....hiks
Terlihat butiran bening menetes dari pelupuk matanya itu "Tenang sayang, pertama kali emang terasa sakit, setelah ini juga pasti terbiasa." bisik Ghali sembari menggerakan pelan-pelan tubunya itu, selama beberapa saat melihat Anisa mulai menikmati permainan dirinya kemudian menambahkan kecepatannya.
Hal tersebut membuat Anisa meracau tanpa permisi. Sembari menjambak rambutnya, "Sayang aku mau keluar" ujar Anisa, mendengar hal tersebut pun Ghali memacunya lebih cepat, hal tersebut tentu saja membuat Anisa melenguh panjang disertai getaran hebat dari tubuhnya itu, namun di sisi Ghali, Dirinya masih terus memacu dirinya sampai mencapai pelepasannya juga.
Kini terlihat Anisa sudah terkulai lemah, nampak seringai puas terpancar dari dirinya dengan mata terpejam.
Tidak sampai disitu saja Ghali kemudian menggilir mereka bertiga satu persatu, entah sudah berapa lama mereka melakukan permainan namun malam itu suara lenguhan terus saja terdengar di kamar itu yang berasal dari ketiga bidadarinya itu.
Hingga pada akhirnya Ghali juga ikut merasa puas, kini masing-masing tubuh mereka telah dibasahi keringatnya masing-masing, setiap bidadarinya itupun, satu persatu mendapatkan benih-benihnya tanpa terkecuali.
Tidak ada lagi keragu-raguan mereka untuk tidak memiliki anak dari Ghali, bahkan mereka juga sangat mengetahui bahwa ada banyak wanita yang tidak akan menolak apabila Ghali ingin menanam benihnya.
Namun Ghali bukanlah pria hidung belang Dia adalah sosok lelaki yang menghargai cinta tanpa syarat tanpa memandang apapun, apalagi atas dasar landasan nafsu semata.
Kini Ghali berbaring diantara mereka, merangkul mereka semua dengan senyuman. Hal yang sama pun dirasakan oleh Isel, Anisa dan Nancy yang ikut juga tersenyum puas ke arah Ghali, kemudian mereka semua pun tertidur nyenyak dengan penuh kepuasan.
Malam itu kegiatan malam mereka tak luput dari sepengetahuan Ibu Ratna, sebab ada hal yang sangat krusial yang mereka lupakan saat itu yaitu, membiarkan pintu kamar tidak tertutup rapat.
.
.
__ADS_1
Bersambung..