SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 31 : Mencoba bahagia, Mampukah ?


__ADS_3

Ghali !!!


Pekik Nancy dan Anisa melihat Ghali yang kini terkulai tidak berdaya.


Hiks...hiks...hiks


Kesedihan Ghali kini sudah tidak terbendung lagi, Dirinya menatap nanar surat tersebut "Isel.... Hiks hiks hiks, maafkan Aku kenapa Kau pergi meninggalkan Aku.


Fylan tergesa-gesa usai Dirinya diberi tahu masalah yang tengah dialami Ghali saat ini. "Dik" ujar Fylan kemudian memeluk Ghali, diusap punggung Adiknya itu, kini semakin kencang isak tangis Ghali.


"Kak tolong... Aku kak, cari Isel Kak tolong kak" racau Ghali sembari terisak, "Iya iya dek akan aku cari kemanapun Dirinya berada" jawab Fylan menenangkan Ghali.


Nancy dan Anisa kian terpaku menatap lirih Ghali, namun mereka juga tidak bisa menyalahkan Isel dilain sisi.


"Dek, perjalanan Kita akan sangat berat kedepannya, Kita tidak boleh mengambil langkah seperti Isel..... Lihatlah Dia, Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Kita semua meninggalkan Dirinya nanti, rasa cintanya begitu besar kepada Isel dan Aku sangat yakin hal itu berlaku sama dengan kita" ujar Nancy yang suaranya hanya terdengar oleh Anisa.


"Tentu kak.... Kita harus membuat komitmen ini, Aku juga tidak mau memberikan Dirinya luka, kak.... Apapun yang terjadi pada Kita nantinya.... Kita harus sabar menghadapinya" jawab Anisa dengan penuh keyakinan.


Ibu Ratna yang baru datang di kamar tersebut berjalan lemas ke arah Ghali, Dirinya semakin iba menatap anaknya itu kini.


"Nak... Ibu disini, menangis lah nak keluarkan kesedihanmu semuanya jangan ditahan-tahan lagi ada Ibu disini" ujar Ibu Ratna.


Ghali menghamburkan pelukannya kepada Ibunya itu sembari terisak.


Hiks... hiks.. hiks


IBU MAAFKAN AKU, ISEL MENINGGALKANKU BU TOLONG AKU!


Isak Ghali meluapkan kesedihannya didalam pelukan Ibu. "Nak sebentar lagi tamu akan datang masalah Isel saat ini untuk sementara kita kesampingkan dulu, sebab tidak ada gunanya menangisi Dirinya, hal itu tak akan membuat Dirinya kembali kesini" ujar Ibu Ratna sembari mengusap air mata Ghali dengan kedua tangannya itu.


"Tengok nak lihatlah mereka...." ujar Ibu Ratna sembari menatap ke arah Anisa dan Nancy yang tengah berdiri di dekat sudut kamar, "Mereka sama sedihnya dengan yang kamu rasakan saat ini, akan tetapi saat ini fokus pikirkan mereka, mereka juga berhak bahagia di hari bahagia ini... Jangan sampai gara-gara sebuah masalah, kemudian mendatangkan masalah lain.... Belajarlah ketegaran dan ketabahan hati dari mereka berdua, Kau harus banyak-banyak belajar dari mereka" ujar Ibu Ratna kepada Ghali.


Mendengar perkataan Ibu Ratna saat ini sedikit demi sedikit mulai menghangatkan hatinya yang kini tengah terluka. "Baiklah Ibu, terima kasih... Telah menyemangatiku" ujar Ghali.


Ghali bersama Anisa dan Nancy pun pergi meninggalkan kamar Isel, mereka bersiap-bersiap untuk melakukan pernikahan.


Waktu berlalu hampir 2 jam...


Telah hadir disana juga paman Richard dan juga Ibu dan Ayah Anisa, melihat Ghali dan para wanitanya yang kini sudah mengenakan busana pengantin mereka dibikin terpukau.

__ADS_1


"Wah..... Cantiknya anak mamah" ujar Aulia kepada Anisa sembari memeluk Anisa, "Terima kasih mah" jawab Anisa sembari mengusap punggung Ibunya itu, mereka yang hadir disana pun ikut memberikan selamat dengan para pengantin.


Fylan yang bertanggung jawab dalam acara pernikahan ini mengabarkan kepada Ghali "Dik.... Ayo sudah saatnya" ujar Fylan yang kemudian dijawab anggukan oleh mereka semua.


Di lapangan mansion tempat acara dilangsungkan nampak seudah hadir disana para teman-teman dari para mempelai, kolega bisnis, serta kerabat dari Anisa.


Pintu mansion dibuka menampilkan para pengantin disana, sorak sorai tepuk tangan meriah mengiringi Ghali, Anisa dan Nancy yang tengah berjalan menuju pelaminan.


Sesampainya mereka bertiga disana Ghali dan kedua wanitanya pun mengucapkan janji suci pernikahan yang diakhiri dengan kecupan singkat yang dilakukan oleh mereka masing-masing.


Acara kini tengah berlangsung, konsep acara yang berkonsep standing party itu berlangsung sangat meriah para pengantin pun merasa sangat bahagia meskipun acara ini terkesan sederhana.


Ghali kini yang tengah berdiri didekat salah satu meja usai menyapa para tamu satu persatu, Dirinya tengah berbincang dengan Hendri dan Gavin yang terlihat hadir disana.


"Saya ucapkan selamat bro atas pernikahan kalian" ujar Hendri, "Ya Saya juga... Selamat ya" ujar Gavin, "Terima kasih brother atas ucapan kalian" jawab Ghali datar.


Bugh..


Hendri menepuk punggung Ghali "Yaelah.... Elu udah nikahin dua cewek aja kayak gak semangat gitu, jarang-jarang tuh bro orang bisa punya nasib kayak elu." ujar Hendri.


"Iya tuh udah dua, cantik-cantik lagi... Emang lu lagi mikirin apaan sih" timpal Gavin, "Hehehe.... Enggak kok gua cuman capek aja, gara-gara ngepersiapin acara ini" ujar Ghali sembari tertawa getir.


Plak


"Dasar temen gak ada akhlak mana bisa kayak gitu Hen.... Lu punya otak dipakai dong buat mikir jangan asal ngomong aja" ujar Gavin jengkel.


Hendri yang tengah memegang kepala belakangnya usai dipukul Gavin "Yaelah bercanda doang... Gua biasa aja kale, si Ghali juga biasa-biasa aja kok... Kenapa lu yang sewot" saut Hendri jengkel.


Hahahahahahahaha


Ghali terkekeh melihat ulah temannya itu "Serah elu lah Hen, yasudah kalian nikmati aja yah hidangannya gua kesana dulu bentar" ujar Ghali kemudian pergi menuju meja tempat paman Richard, pak Syarif dan Tristan.


Kedua sahabatnya saling menatap kepergian Ghali, "Ehhhhh... Gav lu ngerasa aneh gak ?" tanya Hendri sembari menepuk punggung Gavin, "Iya.... Gua juga ngerasa kayak begitu, entah apa yang dialami oleh teman Kita ini" jawab Gavin sembari menggaruk kepalanya.


"Hufffhhhh.... Entah apa yang sedang dipikirin dari Ghali, tetapi melihatnya yang sekarang gua ngerasa memang ada sesuatu yang tengah dialaminya, si Anisa juga sama Liat noh..." ujar Hendri sembari menunjuk Anisa yang tengah menyambut para tamu disana.


"Apapun masalah mereka kita sebagai teman hanya bisa mendoakan kebahagian mereka..." ujar Gavin sembari memejamkan matanya.


"Sebaiknya Kita fokus dengan tujuan Kita saat ini Hen, gimana progress lu masuk tentara lancar ?" tanya Gavin, "Aman itu sih gua juga dapet peringkat pertama pada saat uji akademik dan uji jasmaninya" jawab Hendri sembari membusungkan dadanya.

__ADS_1


"Syukurlah Hen, semoga sukses" ujar Gavin. sembari menepuk punggung Hendri. "Kalau elu sendiri sekarang, kesibukannya apa ?" tanya Hendri, "Gua sekarang gak ada kesibukan sih, tapi gua seminggu lagi bakalan pergi ke Amerika, gua keterima kuliah disana jurusan IT" ujar Gavin.


"Wih...... Selamat ya, gak nyangka gua elu pergi bakal sejauh itu" ujar Hendri sembari menepuk punggung Gavin, "Ya sama-sama" jawab Gavin dengan senyuman.


Kini kembali kesisi Ghali yang tengah berbincang bersama dengan Tristan, "Tuan, maaf terakhir saya beserta tim IT yang melacak keberadaan Isel, berada di bandara Internasional, lalu kemudian jejaknya menghilang, sepertinya Dia memang benar-benar pergi keluar negeri" ujar Tristan kepada Ghali.


Ghali pun seketika merenung, tatapannya kini kosong. "Sabar nak, papah dengan paman Richard saat ini juga telah mengerahkan orang-orang kita untuk ikut mencari keberadaan Isel" ujar pak Syarif, "Iya.... Itu benar namun perlu kamu ingat Ghal, Isel ini sepertinya orang yang sangat terlatih, dengan kemampuannya menjadikan Kita sangat sulit untuk melacaknya" ujar paman Richard.


"Terima kasih Papah dan Paman sudah mau membantu Ghali, semoga Isel bisa ditemukan secepatnya" ujar Ghali dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.


Acara tersebut pun berlangsung dengan lancar tanpa gangguan. Kini semua tamu telah bubar meninggalkan masion Ghali termasuk paman Richard dan Pak Syarif, tak lama berselang Ibu Ratna beserta adik kembarnya pamit kepada Ghali, untuk kembali kerumahnya.


Kini di mansion menyisahkan Ghali dan penghuni mansionnya yang lain, terlihat juga Anisa dan Nancy yang telah bergantian dengan pakaian santai menemani Ghali di kamarnya.


"Sekarang bagaimana sayang ?" tanya Anisa getir sembari menggenggam tangan Ghali, Dirinya menatap Anisa dengan memaksakan senyumannya "Masalah tadi tidak usah dipikirkan, Aku juga saat ini telah menyuruh orang-orang untuk mencari Isel kalian tak usah khawatir Isel akan baik-baik saja kok" ujar Ghali sembari mengusap lembut pucuk kepala Anisa dan Nancy.


"Kalau ada masalah jangan sungkan-sungkan untuk bercerita kepada kami, jangan dipendam sendiri.... Sebab Kita saat ini sudah resmi bersuami-istri dan kami adalah Istri-istri kamu Honey" ujar Nancy kemudian dirinya melanjutkan "Jadi jangan ada yang ditutupi lagi, ada kalanya kita membagi beban yang tengah kita alami supaya kita bisa kembali semangat menjalani kehidupan di hari esok."


Cup


Cup


Ghali mengecup singkat kedua pucuk kepala wanitanya itu "Aku bangga dengan kalian, terima kasih" ujar Ghali yang kemudian dibalas dengan pelukan hangat dari mereka berdua.


Kecupan Ghali tersebut membangkitkan gairah diantara mereka. Seketika mereka bertiga bergumul dengan beringas tak lupa diselingi suara rintihan kasih sayang menggema mengikuti irama hentakan yang dilancarkan oleh Ghali.


Dirinya kini semakin dalam terbuai oleh gairah cinta, seketika Dirinya lupa dengan masalah yang kini tengah dihadapinya itu, bahkan Dia menjadi makhluk yang paling bersemangat dalam bercinta pada malam ini.


Sungguh aneh bin ajaib begitulah kira-kira penilaian Nancy dan Anisa menatap Ghali saat ini, usai mereka mencapai puncak kenikmatannya bersama.


.


Malam ini Ghali tengah terduduk sendiri usai melakukan malam panas dengan para Istrinya itu. Dirinya tengah merenung dalam sunyinya malam 'Tuhan bantu aku setelah ini untuk menemukan Isel jaga Dia dan selamatkanlah Dia dari segala macam bahaya yang menghampirinya' gumam Ghali sembari memejamkan matanya.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2