SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 46 : Menolong Orang Asing


__ADS_3

"Joy, Aku mohon sebaiknya kau katakan yang sebenarnya kepadaku" ujar Ghali dengan nada dingin, Joy pun semakin enggan menatap Ghali.


Setelah berpikir beberapa saat "Oke, oke baiklah Tuan, sebenarnya mereka mengejarku bukan karena hutang saja.... Akan tetapi karena ini juga" ujar Joy sembari membuka isi dalam tasnya.


Ghali yang melihat isi tas tersebut hanya menghela napas pasrah, "Haaaaaa, apakah Kamu tau hukuman yang akan Kamu terima bila ketahuan mengedarkan barang-barang ini Joy ?" ujar Ghali sembari memegang pundak Joy.


Joy pun tertunduk tak kuasa, Dirinya terisak tak kuasa karena menyesali perbuatannya, "Tuan Aku awalnya berhutang kepada mereka sebenarnya untuk biaya berobat nenek ku.... Akan tetapi Aku tidak bisa melunasi hutangku, oleh karena itu Aku disuruh mereka untuk mengedarkan obat-obatan ini, akan tetapi hari ini Aku berencana untuk membawa kabur barang ini dari tangan mereka dan memusnahkannya, tetapi seperti yang kau lihat Aku ketahuan dan berakhir seperti ini." ujar Joy sembari tertunduk lemas.


Ghali yang mrndengarnya pun merasa Iba kepadanya, nampak tidak ada kebohongan dari kata-kata Joy barusan "Hufhhhh, baiklah habis ini sebaiknya Kita ke rumah sakit untuk mengobati lukamu kebetulan Aku adalah seorang dokter" ujar Ghali yang kemudian membawa Joy menuju mobilnya.


Tak lama berselang polisi datang menghampiri Ghali dan Ordo, merekapun dimintai keterangan tentang kejadian ini, usai Ghali memberikan keterangan polisi pun pergi sembari membawa para preman.


"Tunggu pak, bawa ini sekalian pada saat Aku datang kemari mereka menyiksa anak itu untuk mengedarkan obat-obatan ini" ujar Ghali kepada salah satu polisi, "Baiklah terima kasih atas bantuanmu Tuan, maaf telah mengganggu waktu liburanmu dinegara ini" ujar sang polisi kemudian pamit pergi.


Kini disisi Ghali yang saat ini sedang berkendara menuju rumah sakit tempat nenek Joy dirawat, Ghali pun menyuruh sistem untuk membuatkannya kartu identitas beserta kartu izin praktek dokter untuk internasional, dan tak lupa juga dirinya memberi satu set jarum akupuntur untuk berjaga-jaga.


[DING] 'Memotong 10.000.000 Poin, sisa poin Tuan saat ini berjumlah 2.289.990.000.000 '


Process.......10%…20%…30%…50%…70%…100%


Selesai


[DING] 'Barang-barang telah terkirim kedalam inventory sistem '


Kini mereka baru saja tiba di rumah sakit, Ghali dan Ordo pun mengikuti Joy menuju kamar rawat inap.


Sesampainya disana, Ghali melihat seorang wanita lansia yang tengah terkulai lemah diatas tempat tidur, Ghali pun mengarahkan pandangannya kearah layar monitor detak jantung.


"Joy sebaiknya, terlebih dahulu kita pindahkan nenek mu ke ruang rawat naratama, Ordo uruslah kepindahan kamarnya" ujar Ghali sembari memberi black card nya kepada Ordo.


Joy dan Ordo pun pergi meninggalkan ruangan rawat inap tersebut untuk mengurus administrasi, Ghali yang saat ini tengah menganalisa penyakit yang diderita sang nenek, sembari menggunakan fitur scanner.


Setelah beberapa saat Dirinya pun mengetahui penyakit yang diderita oleh nenek Joy, "Baiklah ternyata peradangan usus dan komplikasi jantung" ujar Ghali sembari memegang nadi tangan nenek Joy.


Joy dan Ordo yang baru saja menyelesaikan administrasi, masuk kembali dalam ruangan tersebut "Bagaimana Tuan ?" tanya Joy.


"Kamu tenang saja, sebisaku akan membantu menyembuhkan penyakit nenek mu ini" ujar Ghali sembari tersenyum.


Beberapa saat kemudian suster dan dokter pun memasuki ruangan untuk memindahkan nenek Joy ke ruang naratama, sesampainya diruangan Joy pun nampak terkagum-kagum dengan fasilitas yang ada diruangan tersebut.


"Tuan terima kasih banyak" ujar Joy sembari menundukkan badannya, "Sudahlah, tak usah dipikirkan" saut Ghali santai.


"Dokter Jimmy" seru Ghali sembari melihat kartu nama sang dokter tersebut, "Ya, Tuan ada yang bisa saya bantu ?" tanya Jimmy, "Bisakah Kamu siapkan obat bius 10 Mili sekarang." ujar Ghali.


Dokter Jimmy pun nampak bingung dengan penuh telisik menatap Ghali dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Mohon maaf Tuan, Kami tidak bisa menyanggupi permintaanmu itu, sebab hal tersebut menyangkut dengan nyawa pasien" ujar Jimmy, Ghali pun yang mendengarnya menunjukkan sebuah kartu identitas dokternya "Aku juga seorang dokter Jimmy, Aku melakukan hal ini karena Dia temanku" ujar Ghali sembari menunjuk Joy.


Jimmy yang mengambil kartu identitas Ghali pun kaget sebab kartu tersebut adalah, kartu identitas untuk dokter internasional.


"Mohon maaf Tuan... Atas ketidak tahuan Saya. Saya akan mengambil permintaan Tuan." ujar Jimmy sembari menundukkan badannya, Dirinya kemudian menyuruh salah satu suster untuk mengambil obat bius.


Tak lama berselang suster yang tadi kembali keruangan rawat sambil membawa obat bius dan menyerahkannya kepada Ghali.


Ghali pun melepas baju hangatnya dan menggulung lengan bajunya itu, Dirinya kemudian menyiram tangannya dengan alkohol.

__ADS_1


Ghali pun menyuntikkan obat bius tersebut lewat selang infus setelah beberapa saat kondisi nadi nenek Joy kembali tenang, itu menandakan pasien sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Ghali pun mengambil sebuah kotak kecil dibalik sakunya, tak lupa Dia juga mensterilkan jarun tersebut.


Dipasangnya jarum tersebut satu persatu mulai dari bagian wajah pasien, lengan hingga bagian perut terutama pada area sekitar pusar.


setelah beberapa saat pasien kejang-kejang yang menunjukkan kontraksi, Dokter Jimmy dan perawat pun panik bukan main melihatnya.


"Cepat ambil vibrator !!" pekik Jimmy, Joy yang melihatnya pun terduduk sembari terisak, yang kemudian ditenangkan oleh Ordo.


Namun disisi Ghali masih nampak tenang, memang saat ini Dirinya melihat proses detoxic secara langsung menggunakan matanya.


"Tuan, Kau harus tanggung jawab atas kejadian ini !!! " pekik Jimmy mencecar Ghali.


Ghali yang melihatnya pun hanya tersenyum "Tidak usah panik ini memang proses detoxic racun dalam tubuh pasien, Aku menjamin tidak akan apa-apa" ujar Ghali.


Kini tubuh nenek Joy pun mulai berhenti mengejang, Ghali pun melepaskan jarum-jarumnya dan membuangnya ketempat sampah yang ada diruangan itu.


Tak lama kemudian tubuh nenek Joy pun mengeluarkan keringat. Namun berbeda dari keringat yang biasanya, kini keringat nenek Joy berwarna hijau tua yang juga menimbulkan bau yang tidak sedap.


Semua orang pun termasuk Ghali menutup hidungnya "Suster setelah pasien sadar bantu bersihkanlah badannya dan ganti semua sarung bantal dan ranjangnya" ujar Ghali kemudian Dirinya keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh Joy dan Ordo.


Mereka pun saat ini sedang melihat suster yang tengah membersihkan nenek Joy dari balik pintu kaca, setelah beberapa saat mereka pun selesai dengan tugasnya.


Dokter Jimmy yang baru saja keluar dari ruangan tersebut menyodorkan tengan kepada Ghali "Dokter, perkenalkan saya Jimmy senang bertemu dengan Dokter sehebat Anda" ujar Jimmy sembari tersenyum kagum kepada Ghali.


Ghali pun ikut membalas senyuman Jimmy "Tidak apa-apa Dok, ini hanya kebetulan saja dan memang mukjizat tuhan, Kita ini memang dokter hanya sebagai perantara saja" ujar Ghali.


"Tidak ada yang namanya kebetulan dalam praktek medis Dok, Kamu terlalu merendah, jangan membuatku tidak nyaman dengan mu" ujar Jimmy sembari terkekeh.


"Baiklah Dok, kalau begitu kita permisi dulu, dan untuk pasien hari ini juga sudah bisa pulang" ujar Jimmy.


"Tidak apa-apa Joy sebaiknya segera Kamu urus kepulangan nenek mu Aku akan mengantarmu juga hari ini" ujar Ghali.


Joy pun mengangguk kemudian bergegas berlari menuju meja administrasi, "Ordo bantu Joy urus hal tersebut" ujar Ghali, kemudian Ordo pergi menyusul Joy.


Dokter Jimmy pun ikut pamit pergi meninggalkan Ghali disana.


Kini Ghali masuk kembali keruang rawat tempat nenek Joy berada, sang nenek pun menatap asing prmuda yang dihadapannya kini.


"Kamu siapa ?" tanya sang nenek, "Aku Ghal, temannya Joy" ujar Ghali menyebut singkat namanya agar mudah disebut dalam aksen inggris tersebut, "perkenalkan Ghal, namaku Anna" ujar nenek Anna.


"Bagiamana kondisimu nek ?" tanya Ghali sembari duduk didekat nenek Anna, "Ntah mukjizat apa yang kini Aku alami, akan tetapi Aku merasa lebih bugar dari pada biasanya" ujar nenek Anna sembari menggenggam tangan Ghali.


Ghali pun tersenyum mendengarnya "Syukurlah nek kalau begitu, hari ini Kau sudah bisa pulang Aku akan mengantarmu dan Joy nanti" ujar Ghali.


"Hiks...hiks...hiks, sungguh pemuda yang baik terima kasih" ujar nenek Anna sembari memeluk Ghali.


Ggali pun menepuk-nepuk pundak nenek Anna, Joy dan Ordo yang baru saja kembali ikut menyaksikan momen haru tersebut, Joy pun ikut memeluk sang nenek, satu-satunya orang yang paling Ia sayangi.


Mereka pun kini pergi pulang menuju rumah Joy yang berada di pinggiran kota London tersebut.


Setelah 30 Menit perjalanan akhirnya mereka pun tiba di komplek rumah susun bergaya eropa kuno tersebut, Ghali pun kagum melihat arsitektur bangunannya, "Joy apakah kamu yang punya gedung ini ?" tanya Ghali usai Dirinya turun dari mobil.


Joy menggeleng-gelengkan kepalanya "Tidak Tuan, Kami juga disini hanya sewa" ujar Joy, Ghali pun tersenyum "Bisakah Kau hubungi pemilik gedungnya Joy ?, Aku ada keperluan bisnis dengannya" ujar Ghali.

__ADS_1


Joy pun dengan segera mengontak nyonya Florance, setelah beberapa saat Joy berbicara lewat telepon kemudian Dirinya kembali mendekat kepada Ghali.


"Tuan sebentar lagi nyonya Florence akan datang kemari, sebaiknya Kita masuk terlebih dahulu" ujar Joy sembari mengajak Ghali dan Ordo masuk kedalam condominium tersebut.


Ghali dan Ordo yang saat ini tengah menikmati secangkir teh hangat, tiba-tiba bel rumah Joy berbunyi, dengan cepat Joy pun membuka pintu sembari menyuruh masuk seorang wanita muda nan cantik tersebut.


Ghali pun tercengang melihat keindahan dunia yang kini hadir dihadapannya tersebut, disisi Ordo hanya terkekeh melihat tingkah Tuannya tersebut.


"Ehemmmm, Perkenalkan saya Eleanor Florence" ujar Florence sembari menyodorkan tangannya kepada Ghali.


Sesaat Ghali tersadar kemudian membalas jabat tangan Florence "Perkenalkan Saya Ghali Martin" ujar Ghali, "Nama yang unik sepertinya Kamu bukan penduduk asli sini" ujar Florence sembari tersenyum.


"Iya betul, Aku adalah turis luar negri, kebetulan Aku disini tertarik dengan condominium ini Aku terpukau dengan gaya arsitekturnya" ujar Ghali.


Florence pun menangkap niat Ghali "Kalau kau menginginkan Condominium ini tentunya uang yang sangat banyak, yang harus Kau keluarkan" ujar Florence sembari mengeluarkan suara sensualnya.


Ghali pun terkekeh mendengarnya "Baiklah berapa penawaranmu nyonya ?" tanya Ghali tanpa basa-basi.


"1.000.000 Pound Sterling" ujar Florence, "Oke Deal !" potong Ghali dengan cepat, Joy dan nenek Anna yang mendengarnya pun terperangah.


'Sunggu pemuda yang tidak biasa' gumam nenek Anna sembari menatap heran Ghali.


Ghali pun kemudian mentransfer uang dari rekeningnya ke rekening Florence


[ting] 'Transaksi dana sebesar Rp 17.000.000.000 dari akun bank anda ke bank tujuan luar negri Bank Of England bernomor 9263728******** -Berhasil-'


[ting] 'Sisa saldo akun bank Anda Rp. 9.980.000.000.000 '


Ghali pun memperlihatkan bukti transfernya kapada Florence, kemudian Florence menelpon seseorang untuk membawa sertifikat hipoteknya.


Setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang, Tak menunggu waktu lama kini sertifikat hipotek tersebut sudah berada ditangan Ghali.


Florence pun pamit kepada semua orang yang ada disana. Kini Ghali menatap Joy dan nenek Anna "Joy, selanjutnya sebagai bayaran rumah sakit tadi, Aku ingin Kau bekerja kepada ku" sembari menyodorkan sertifikat tersebut kepada Joy.


Joy pun menatap bingung Ghali, "Mulai saat ini uruslah condominium ini untukku, dan Kau dibebaskan sewa, dan untuk setiap penyewa disini ambillah 60% nya sebagai bagian kalian" ujar Ghali.


Betapa terharunya nenek Anna dan Joy, yang lagi-lagi Ghali kembali menolong mereka "Tuan lantas apa yang bisa Kami balas atas kebaikanmu ini" ujar nenek Anna sembari terisak.


"Aku hanya butuh kalian hidup lebih layak dan lebih baik dari pada saat ini" ujar Ghali sembari menangkupkan tangannya, mendekap tangan nenek Anna.


'Sistem konversikan poin 1.000.000 Poin kedalam bentuk mata uang Pound Sterling dan letakkan di bagasi mobil'


[DING] 'Memotong 1.000.000 Poin sistem, sisa poin sistem saat ini berjumlah 2.289.999.000.000 '


'Memprocess.......10%…20%…30%…50%…70%…100% '


[DING] 'Selesai '


Ghali pun pergi menuju lantai bawah dengan segera Dia mengambil setumpuk uang yang ada yang berjumlah 5.882.000 Pound Sterling itu.


Ghali pun menyerahkannya kepada nenek Anna "Ini adalah bantuan dari ku untuk biaya sehari-hari kalian pergunakanlah dengan bijak" ujar Ghali.


Setelah beberapa saat berbincang Ghali dan Ordo pun pamit pergi kepada nenek Anna dan juga Joy.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2