SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 39 : Sapu Bersih dan Terbunuh


__ADS_3

Operasi pemberantasan terhadap kartel narkoba El-Nino pun terus berlanjut sampai dengan saat ini.


Usai mereka menggagalkan upaya penyeludupan narkoba di pelabuhan utara tadi malam, kini mereka semakin banyak mendapat informasi terkait tempat-tempat yang memang menjadi tempat peredaran narkoba tiap-tiap daerah.


"Zaid bagaimana kondisi terkini ?" tanya Ghali, "Izin Pimpinan saat ini, Kita sudah mengamankan sebanyak dua ratus tujuh puluh delapan orang termasuk para ketua geng yang memegang tiap-tiap provinsi" ujar Zaid.


"Bagus.... Lalu berapa banyak narkoba yang berhasil Kita amankan ?" tanya Ghali kembali, "Untuk narkoba sendiri Kita sudah mengamankan satu ton ganja, sepuluh ribu butir ekstasi, lima ratus kilogram sabu-sabu, dan sisanya berbagai jenis psikotropika yang jika ditotal-total barang tersebut bernilai 1,2 Triliun Rupiah" ujar Zaid.


Glek...


Ghali menelan kasar salivanya "Zaid apakah memang sebanyak itukah narkoba yang beredar saat ini ?" ujar Ghali dengan nada kaget.


Dengan getir Zaid menjawab "Itu benar Pimpinan", mendengar hal tersebut Dirinya menghela napas 'Aku tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak generasi yang rusak dari barang yang sebanyak itu sungguh jahat sekali' gumam Ghali sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Zaid usai operasi ini terhadap narkotika dan psikotropika yang telah Kita sita, serahkan semuanya ke Badan Farmasi Nasional, sebab sejak tiga bulan terakhir mereka terkendala suplai obat-obatan untuk memasok tiap-tiap rumah sakit pemerintahan." ujar Ghali.


"Terus kemudian, lakukan pelacakan aset mereka semua yang berkaitan dengan kartel, rampas semuanya..... Supaya dikemudian hari masalah ini tidak terjadi lagi" ujar Ghali kembali.


"Siap laksanakan Pimpinan" saut Zaid dengan tegas.


*


Disisi lain terlihat Dominic sedang menatap seseorang yang tengah terduduk lemas dengan kondisi tangan terikat.


Byurrrrrrr....


Long mengguyur badan orang tersebut dengan air "Bangun !" pekik Long, dengan kondisi yang masih lemas Andreas pun berusaha membuka matanya, Dirinya berusaha mengembalikan kesadarannya.


Ughuk...ughuk


Andreas nampak terbatuk, Dirinya merasakan sakit ditenggorokannya sebab, selama lebih dari dua belas jam, Dirinya belum sekalipun diberi minum dari Dominic yang kini tengah menyiksanya.


"Katakan informasi apa lagi yang Kau bocorkan kepada Biro Keamanan Dalam Negeri ?" tanya Dominic dengan nada dingin.


Hehehe.... hehehe


Andreas hanya terkekeh mendengarnya, seperti yang sudah-sudah memang sikap Andreas selalu tengil dalam situasi apapun.


"Apapun yang aku dapatkan yang pasti, Aku akan mendapatkan kemulian... Ini adalah jalan penebusan dosaku" ujar Andreas sembari berseringai.


OMONG KOSONG !!!


Bugh... bugh.... bugh.... bugh


Krack....


ARGHHHHHHHHHH !!!


Pekik Long yang kemudian memukul wajah Andreas berkali-kali dan pada akhirnya Long mematahkan jari telunjuknya, seketika teriakan Andreas menggema diruangan bawah tanah itu.


BAJINGAN KAU LONG !!!


Hujat Andreas sembari meringis menahan sakitnya "Ketahuilah Long.... Lawan yang kalian hadapi sekarang bukanlah seorang manusia, bahkan kekuatannya pun diluar batas nalar manusia... Hahaha setelah ini, sekalipun Aku akan mati. Tapi Aku sangat yakin tak lama juga kalian akan menyusulku... Hahahaha " ujar Andreas sembari tertawa.


Dominic yang mendengar omong kosong Andreas pun, semakin geram dibuatnya. "Jangan munafik Andreas, tidak akan ada yang bisa menghancurkanku asal kau tau berapa pun banyak masalah yang tengah kuhadapi saat ini, tidak akan Aku biarkan orang lain menghancurkanku !!!" pekik Dominic.


Hahahaha


Andreas tertawa meremehkan Dominic, "Sadar dirilah Pak Tua, Kau memang sudah tidak punya kekuatan seperti dulu lagi" ujar Andreas dengan lantang.


"Kurang ajar !!" nampak Long yang akan memukul Andreas lagi, tetapi tangannya ditahan oleh Dominic, "Sabarlah sebentar lagi Long" ujar Dominic.


Dominic pun kemudian berjalan mendekati Andreas kemudian Dirinya mencengkram leher Andreas dengan sekuat tenaga.


Akh...akh...arkh...arkh


Ughuk...ughuk hoek !!

__ADS_1


Setelah beberapa saat dicekik oleh Dominic, Andreas pun terbatuk-batuk usai cekikannya dilepaskan "**** " umpat Andreas.


"Sekarang terimalah hukumanmu" ujar Dominic sembari mengokang pistolnya.


Dor... dor... dor


Dominic menembak kepala Andreas, kini Andreas pun meregang nyawanya, Long pun membuka ikatan tangan jasad Andreas kemudian membaringkannya.


"Long buang mayatnya ke sungai buat Biro Keamanan Dalam Negeri mengetahuinya, Itu hukuman bagi mereka telah mengusikku" ujar Dominic, "Baik Tuan" jawab Long kemudian membawa mayat Andreas bersama anak buah yang lain.


*


Kini kembali kesisi Ghali, yang saat ini Dirinya masih berada di ruang pusat komando misi Biro Keamanan Dalam Negeri.


Ghali masih mengamati perkembangan operasi yang masih berlangsung sampai saat ini lalu Dirinya bertanya kembali kepada Zaid.


"Zaid apakah keberadaan Dominic sudah ditemukan ?" tanya Ghali, "Mohon maaf Pimpinan, hingga saat ini dari sekian ratus orang yang Kita introgasi namun tak seorang pun yang mengetahui keberadaannya saat ini. Keunikan cara kerja kartel inilah yang menjadi kesulitan kita untuk menemukan Dominic" ujar Zaid.


"Terus lakukan pencariannya, Saya akan keruangan sebentar" ujar Ghali sembari beranjak dari duduknya, "Siap laksanakan" saut Zaid.


Ghali yang kini tengah berjalan menuju ruangannya, sebab Dirinya baru sadar bahwa Dia masih menyimpan dokumen yang diberikan oleh Isel sebelumnya.


Sesampainya dirungan, kemudian dirinya menuju berangkas penyimpanan untuk mengambil dokumen tersebut.


"Bingo" ujar Ghali usai menemukan dokumen yang Ia cari, kemudian dirinya memeriksa catatan yang tertera dalam dokumen tersebut satu persatu dengan sangat teliti, bahkan Dirinya membacanya berulang-ulang kali.


Namun Ghali belum menemukan apapun yang menunjukkan info keberadaan Dominic 'Coba saja ada Isel disini pasti semuanya akan jauh lebih mudah' gumam Ghali sembari memijat pelipisnya.


Ghali masih terus menatap dokumen tersebut sembari memijat pelipisnya, setelah beberapa saat Dirinya kembali tersadar kini Ia kembali membongkar kembali dokumen itu.


Ghali kaget ketika menemukan daftar yang menunjukan sejumlah aset-aset yang dimiliki oleh dominic yang atas nama orang lain itu.


"Ini dia yang Aku cari" ujar Ghali dengan tersenyum, dengan cepat Dirinya menyalin dokumen tersebut kemudian kembali keruangan kontrol misi.


"Zaid lihat lah ini" ujar Ghali sembari memberikan salinan dokumen tersebut kepada Zaid.


"Baik Pimpinan dimengerti, Saya akan mengerahkan tim intelijen untuk memantau tiap-tiap lokasi yang ada disini" saut Zaid.


Tak lama berselang Tigh memasuki ruangan kontrol misi dan menghadap Ghali "Tuan, saat ini Aku kehilangan kontak dengan Andreas, ini sudah lewat delapan jam dari waktu yang dijanjikan untuk kami saling menghubungi" ujar Tigh.


"Sepertinya kedok Andreas telah terbongkar Tigh, sebaiknya Kamu cari Dia" ujar Ghali, ditengah-tengah pembicaraan mereka berdua, salah satu anggota melapor kepada Ghali.


"Izin Pimpinan barusan Kita mendapatkan laporan bahwa telah ditemukan sebuah mayat di bendungan Arjuna" ujar Anggota tersebut.


'Kenapa laporan tersebut ditujukan kesini' gumam Ghali nampak heran, tersadar akan sesuatu Dirinya membulatkan matanya.


"Cepat evakuasi mayat tersebut dan bawa kesini, Tigh bawalah tim taktis untuk mengevakuasi mayat tersebut dan juga hubungi inspektur furuyama dari kepolisian" ujar Ghali, Tigh pun berlalu pergi meninggalkan Ghali.


1 Jam berselang...


Tigh kembali bersama para anggota yang lain melapor kepada Ghali "Tuan itu adalah mayat Andreas, kini sedang diautopsi oleh dokter forensik dari kepolisian" ujar Tigh.


"Sudah kuduga, antar Aku kesana untuk melihatnya." ujar Ghali kemudian Tigh mengantarkannya menuju kamar autopsi mayat.


Kini Ghali tengah menyaksikan proses autopsi yang dilakukan oleh dokter dari balik kaca transparan dihadapannya, setelah beberapa saat kemudian, autopsi pun telah selesai dilaksanakan.


Ghali dan Tigh pun memasuki kamar autopsi. Dirinya melihat kondisi mayat Andreas dengan luka-luka disekujur tubuhnya nampak bekas penyiksaan.


"Tigh, untuk yang terakhir kalinya lakukanlah pemakaman untuknya.... Sebab bagaimanapun dirinya telah berjasa untuk membantu Kita menumpas Kartel El-Nino" ujar Ghali dengan sendu menyayangkan akhir dari Andreas.


"Baik Tuan" ujar Tigh, "Bawalah ini Tigh, urus pemakamannya sekarang" ujar Ghali sembari menyodorkan black card nya.


Beberapa jam kemudian Ghali yang kini baru saja sampai di tempat pemakaman umum, saat ini Dirinya tengah menyaksikan pemakaman Andreas, nampak pemakamannya hanya dihadiri oleh Ghali dan beberapa orang-orang dari Biro Keamanan Dalam Negeri, sebab memang Andreas hidup sebatang kara tanpa kerabat, karena sebab itu juga Ghali melakukan hal tersebut.


Usai melakukan tabur bunga, Ghali pun kembali ke kantor Biro Keamanan Dalam Negeri, sesampainya disana Dirinya kembali ke ruang kontrol misi.


"Zaid bagaimana perkembangan terkini ?" tanya Ghali, "Izin Pimpinan, untuk saat ini situasi aman terkendali, dan untuk barang sitaan dari berbagai provinsi akan tiba besok disini, kami juga mulai melacak aset-aset mereka dan sebagiannya telah Kami sita dan sisanya masih Kami telusuri" jawab Zaid.

__ADS_1


"Bagus Zaid lanjutkan, dan tetap lakukan pengintaian terhadap tempat-tempat yang telah kita curigai sebelumnya sampai Dominic ditemukan" ujar Ghali, "Siap laksanakan" jawab Zaid.


Kini Ghali tengah fokus mengotak-atik komputernya, saat ini mereka juga tengah mencari juga identitas ke sembilan antek kartel lewat penelurusannya yang dibantu oleh para agen lapangan akhirnya Ghali menemukan ke sembilan identitas orang tersebut.


'Bingo..... Kena kalian, saatnya penghakiman dimulai' gumam Ghali sembari berseringai, "Okey... perhatian semuanya !!, rekan-rekan sekalian saatnya Kita menangkap ikan besar" ujar Ghali kepada semua orang yang ada disana.


Siap Laksanakan !!!


Ghali kemudian pergi menuju gedung tempat tim taktis berada, sesampainya disana Ghali langsung mengorganisir mereka menjadi sembilan regu yang masing-masing regu terdiri dari lima belas orang.


"Baiklah rekan-rekan untuk regu satu yang akan di pimpin oleh saya sendiri Kita akan bertugas menangkap Jendral Pablo kepala biro komunikasi publik, kemudian regu dua bertugas menangkap kolonel Boris kepala polisi daerah,...." Ghali pun membacakan tugas regu masing-masing sampai pada akhirnya.


"Baik cukup sampai disini saja, apakah sudah cukup jelas" ujar Ghali, "Siap jelas Pimpinan !" ujar mereka serempak, kemudian mereka bergerak menuju tempatnya masing-masing.


Regu yang dipimpin Ghali telah sampai di kediaman jendral Pablo beserta empat belas orang anggotanya, namun kedatangan mereka tidak disambut baik dari para penjaga rumah jendral itu.


"Ada keperluan apa Biro Keamanan Dalam Negeri kemari !!!" ujar salah satu penjaga kepada Ghali.


Ghali pun kemudian menunjukkan surat perintah penangkapan kepada penjaga "Saat ini Kami sedang tugas mohon kerja samanya bapak-bapak sekalian, jangan menghalangi Kami karena ini mandat langsung dari Presiden Saya diberikan wewenang penuh untuk melakukan tindakan apapun, jadi tolong mengertilah" ujar Ghali tegas.


Dengan sangat terpaksa para penjaga pun memberikan ruang untuk Ghali memasuki kediaman tersebut.


tok... tok.... tok


Ghali mengetuk pintunya beberapa kali, tak lama kemudian pintu dibuka oleh wanita paruh baya "Ada keperluan apa pak ?" tanya Istri jendral dengan lembut.


"Kami dari Biro Keamanan Dalam Negeri, ingin menjemput Jendral Pablo, beliau diduga telah menjual informasi rahasia kepada Dominic ketua kartel narkoba El-Nino, untuk itu kami akan membawanya untuk penyelidikan lebih lanjut" terang Ghali.


Seketika sang Istripun terduduk lemas menddngar penjelasan dari Ghali, melihat hal tersebut Ghali pun memerintahkan sebagian anggotanya masuk kedalam rumah untuk membawa jendral Pablo.


Tak lama berselang Jendral Pablo pun keluar dengan kedua tangan yang sudah diborgol, Ghali yang tengah menenangkan istri jendral pun kemudian memerintahkan kembali anak buahnya untuk segera membawa Jendral Pablo kembali ke Biro Keamanan Dalam Negeri.


"Ibu yang sabar ya menghadapi cobaan ini" ujar Ghali menenangkan Istri jendral tersebut, kemudian Dirinya berlalu pergi menyusul anggotanya yang lain kembali ke markasnya.


Di tempat lain hal yang sama pun terjadi ketika regu-regu lain menyiduk satu persatu dari sembilan daftar orang-orang tersebut.


Bahkan diantara regu-regu yang bertugas ada yang sempat memberikan tindakan tegas dengan menembak kaki tersangka, sebab mereka melawan dan tidak dapat diajak kerja sama.


Kini masing-masing regu pun telah kembali ke markas Biro Keamanan Dalam Negeri, satu persatu dari para tersangka digelandang masuk kedalam ruang tahanan, namun untuk Jendral Pablo sendiri langsung dibawa keruang Introgasi, kini terlihat Ghali dan Zaid yang mengintrogasinya secara langsung.


"Pablo sudah berapa lama Kamu menjadi penyuplai informasi untuk mereka ?" tanya Ghali, Pablo pun hanya diam sembari tersenyum.


Cuih...


Pablo meludahi Ghali, "Aku tidak sudi tunduk kepadamu" ujar jengkel Pablo.


Ghali yang kini tengah mengelap tangannya itu menatap dingin Pablo "Sejak kapan Aku menyuruhmu tunduk ?, Aku hanya menanyakan sejauh mana keterlibatanmu dengan kartel narkoba ini... Sebab Aku juga tidak butuh penghormatan dari pengkhianat negara sepertimu" ujar Ghali dengan nada penuh ancaman.


"Baiklah Pablo kalaupun Kamu tidak mau menjawab pertanyaan Kita maka terimalah hukumannya tanpa keringan sebab bukti yang sudah kami miliki saat ini sudah lebih dari cukup untuk menjebloskanmu kedalam penjara, nikmati hukumanmu dan merenunglah sampai Kau benar-benar menyesali perbuatanmu itu" ujar Ghali sembari keliar dari ruang introgasi itu.


Duar....!!!


Bunyi pintu yang dihempaskan oleh Ghali 'Huffffffhhhhh..... Sabar-sabar. Tapi masih ada saja orang-orang yang tidak tau diri seperti itu' gumam Ghali sembari menghembuskan napasnya meredam emosi.


Disisi Zaid yang kini masih belum beranjak dari ruangan itu menatap tajam Pablo yang saat ini tengah tertunduk mencermati kata-kata Ghali barusan.


"Belum ada kata terlambat Pablo, Dirimu memang salah akan tetapi Kamu juga berhak menebus kesalahanmu, Segala bentuk pengakuanmu itu akan meringankanmu dalam sidang pengadilan nanti" ujar Zaid.


Seketika Pablo terisak menangis sembari berkata "Aku menyesal, Aku menyesal tolong maafkan Aku... Aku akan memberitahu semuanya sekarang."


"Baiklah, mari Kita mulai saja" ujar Zaid kemudian membuka laptopnya. Dirinya kemudian mendengarkan setiap keterangan yang Pablo berikan, hingga pada akhirnya introgasi itu berakhir selama dua jam, Pablo pun dibawa kembali ke ruang tahanannya.


Kini Zaid tengah melapor kepada Ghali, "Pimpinan Saya sudah menyelesaikan introgasi Pablo, Dia telah mengakui semua tuduhannya" ujar Zaid, Ghali pun mengangguk-anggukan kepalanya "Bagus Zaid, lanjutkan prosesnya" seru Ghali.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2