SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 21 : Naga jadi Cacing


__ADS_3

Hari ini kondisi Anggoro Group semakin mengkhawatirkan, terlihat riuh para pegawai sangat sibuk bekerja lalu lalang.


Dalam waktu satu hari saja kondisi penuh ketenangan kantor Anggoro Group sebelumnya kini berubah carut marut bagaikan pasar malam.


Jajaran direksi pun saat ini tengah melakukan rapat darurat membahas permasalahan nasib perusahaan kedepannya, Suryo dan Jacob nampak tidak terlalu banyak bersuara kini masing-masing dari mereka hanya memikirkan untuk keluar dari masalah ini dengan cepat.


Media nasional semakin beramai-ramai memberitakan tentang mega project smart city Anggoro construction yang dikabarkan akan mangkrak. Hingga saat ini pun pihak Anggoro Group belum mengeluarkan pernyataan resminya.


Kemarahan publik pun semakin menjadi-jadi begitu banyaknya makian yang diarahkan kepada Anggoro group pada media sosial, memang selama ini publik sudah sangat geram dengan gaya bisnis yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang berada dibawah Anggoro Group ini, hingga saat ini seakan-akan mereka tidak dapat tersentuh meskipun sangat banyak pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan selama ini.


Momentum tersebutpun tentu saja menjadi pelontar kemarahan publik yang selama ini terpendam.


Reputasi Anggoro group hancur dan peluangnya sangat kecil untuk diselamatkan, nilai kredibilitas yang saat ini mereka bangun dan mereka jaga hanya menjadi sampah dihadapan kemarahan publik saat ini.


Bahkan dari para aparat penegak hukum pun mulai bergerak memeriksa penyimpangan-penyimpangan yang selama ini mereka lakukan.


Situasi yang sangat pelik saat ini dihadapi oleh Anggoro group hingga tidak ada para kolega-kolega nya yang bisa membantu mereka saat ini.


Hal tersebutlah semakin mendorong Suryo untuk melepas Anggoro group dengan terpaksa sebab keadaan.


Bahkan puisi yang sangat indah sekalipun tidak dapat menghibur rasa kesedihan yang dideritanya saat ini.


Roda kehidupan terus berputar ada kalanya kita berada dibawah dan ada kalanya kita berada diatas. Begitulah kira-kira kata-kata yang digaungkan para pujangga dimasa lampau yang saat ini tidak akan berpengaruh apa-apa pada diri Suryo.


Bagaikan seekor Naga yang berubah menjadi seekor cacing yang siap ditelan oleh kekejaman zaman, sungguh tidak ada toleransi lagi bagi dirinya, dimana ia harus merelakan semuanya dengan ketidak relaan.


Selama beberapa saat dirinya kalut dalam pikirannya "baiklah rekan-rekan sekalian sudah saatnya kita mengklarifikasi kondisi yang tengah kita alami dihadapan publik" ujar Suryo yang seketika membuat situasi menjadi hening.


"ya.... sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah bersama-sama berkontribusi dalam membangun Anggoro group ini menjadi besar seperti saat ini meskipun pada akhirnya saya tidak punya pilihan lain selain melepasnya" ujar Suryo dengan getir.


Namun tanpa ia sadari semua orang yang ada disana mengumpat dirinya didalam hati mereka, ada kelegaan didalam hati mereka meskipun sebentar lagi mereka juga akan kehilangan pekerjaannya.


Sebab sepanjang mereka bekerja di Anggoro group mereka selalu dipaksa bekerja dengan mengesampingkan nilai-nilai etis yang mengkerdilkan derajat manusia.


Konfrensi pers saat ini dilakukan digedung Humas Anggoro group. nampak wartawan dari berbagai media cetak maupun media online sedang menunggu kedatangan Suryo sang pemilik Anggoro Group.


Suryo selangkah demi selangkah memasuki gedung tersebut, dirinya disambut oleh kilatan-kilatan cahaya dari kamera para wartawan, bahkan sepanjang perjalanannya menuju podium dirinya diserang berbagai pertanyaan para wartawan dari berbagai media.


Kini Suryo tengah berdiri berusaha mempertahankan sosok tegasnya di atas podium, para wartawan pun kini tengah bersiap dengan alat perekam dan laptopnya masing-masing.

__ADS_1


Suryo memulai pidatonya "baiklah rekan-rekan semua, mengenai pemberitaan yang baru-baru ini beredar bahwa apa yang terjadi terkait dengan pembangunan Smart city yang sedang dikerjakan oleh Anggoro construction terpaksa kami hentikan"


Seketika perkataan Anggoro mengundang antusias dari para wartawan yang ada disana "pak Suryo bisa anda jelaskan kepada kami kenapa hal tersebut bisa terjadi" ujar salah satu wartawan.


"hal itu melalui pertimbangan yang sangat matang dalam rapat direksi pagi hari tadi, sebab Anggoro construction harus membayar hutang bank yang sebentar lagi jatuh tempo, kemudian kami harus mengembalikan dana para nasabah yang sebelumnya memesan perumahan yang dibangun disana, ditambah kami telah gagal mempertahankan kepercayaan para investor kami sehingga, kami mengambil keputusan tersebut"


"pak Suryo... lalu apakah hal tersebut berpengaruh terhadap Anggoro group sendiri sebab saat ini ramai perbincangan di media sosial menyebut anda akan melepas Anggoro group" tanya wartawan sebelumnya.


Beberapa saat Suryo terdiam kemudian kembali berkata "aku tidak menyangka.... bahwa berita tersebut dengan cepat tersebar, namun saya tidak bisa membantah argumentasi yang saat ini beredar sebab itu memang benar adanya"


Statement Suryo kini kembali mengundang riuh suasana di tempat tersebut bahkan pada laman siaran live streaming pun dipenuhi oleh hujatan publik yang semakin menjadi-jadi, hingga kini kolom komentar di salah satu siaran live streaming tersebut berubah menjadi kolom penampungan para binatang yang hijrah dari dari kandangnya.


"langkah kami selanjutnya akan berfokus terhadap penyelesaian masalah ini bahkan kini ada beberapa perusahaan Anggoro group akan kami lakukan lelang secepatnya dalam waktu dekat, guna menutupi biaya operasional dan biaya kerugian akibat kejadian ini"


"terakhir.... saya akan sangat terbuka terhadap penawaran bagi siapa saja yang mau mengakusisi perusahaan-perusahaan kami ini...."


Tanpa permisi, Tanpa terima kasih, dan Tanpa permohonan maaf Suryo meninggalkan konfrensi pers tersebut secara sepihak dengan langkah yang sangat tergesa-gesa.


Tentunya hal tersebut juga tidak luput dari liputan media.


*


Melihat Suryo seperti sekarang menjadi hiburan tersendiri bagi Ghali, dirinya pun kemudian mematikan televisinya kemudian beranjak dari sana menuju ruang kerjanya.


"Tris.... Fase ke dua Naga jadi cacing" ujar Ghali mengucapkan kata-kata yang hanya dipahami mereka berdua.


Tristan menjawab dengan anggukan "baik tuan saya akan ke ibu kota untuk memanen cacing" kemudian dirinya beranjak pergi meninggalkan Ghali.


Tiba-tiba suara ketukan terdengar setelah beberapa saat kepergian Tristan, "masuk" sahut Ghali.


Fylan kemudian masuk keruangan tersebut setelah diizinkan dari Ghali "dik ada pak Syarif disini" ujar Fylan.


Ghali kemudian bergegas "baiklah kak kita temui papa" ujar Ghali sembari berjalan menuju Syarif yang kini sedang duduk diruang tamu mansionnya.


Syarif yang melihat Ghali yang baru saja datang, menghamburkan pelukannya sembari menepuk-nepuk pundak Ghali "papa bangga padamu nak" nampak mata Syarif yang berkaca-kaca.


"Ghali tidak akan berhasil tanpa bantuan papa" ujar Ghali, "hahaha.... kamu terlalu merendah nak" sahut Syarif yang mengundang senyum semerkah dari bibir Ghali.


Bugh...

__ADS_1


Syarif memukul pundak Ghali "sebaiknya daripada kamu melakukan hal yang seperti ini sekarang lebih baik, cepat langsungkan pernikahan segera, aku tidak ingin Anisa mengandung anakmu sebelum menikah" ujar Syarif dengan tegas.


uhukk...uhukk...uhukk


Sontak saja Ghali tersedak kaget "pa.... aa..apa.... aku tidak pernah melakukan hal itu kepada anisa pa?" ujar Ghali gugup.


"hanya saja Anisa belum melakukan hal itu dengan dirimu, bukan berati kau tidak pernah melakukan hal tersebut dengan salah satu calon istrimu kan ?" ujar Syarif.


Seketika peluh membasahi dahi Ghali dengan tertunduk dirinya berkata "baiklah pa... aku akan melaksanakan pernikahan minggu depan.... tapi terus terang saja pah.... aku bisa menjamin kalau Anisa masih suci" ujar Ghali berusaha meyakinkan Syarif.


hahahahaha


plok..plok..plok


Syarif tertawa sembari bertepuk tangan "kamu sangat pintar tetapi kamu sangat naif nak... baiklah sebaiknya kamu lakukan itu minggu depan, kalau tidak aku akan melarang dirimu bertemu anakku untuk selamanya" ujar syarif sembari mengacungkan telunjuknya kearah Ghali.


'tentunya kalau akik-akik sudah marah memang sangat menyeramkan, apalagi yang saat ini berada dihadapanku, perubahan emosinya sangat cepat... atau jangan-jangan dirinya memang benar-benar mengidap bipolar' gumam Ghali sembari menatap ngeri Syarif.


"kau jangan mengumpat ku dalam hati, papa hanya mengingatkan mu sebagai orang tua" ujar Syarif sembari menahan senyumannya.


Ghali terkejut seketika matanya melebar "ahh....... tidak begitu kok pahhh, memang kata-kata papah barusan ada benarnya" ujar Ghali sembari menyapu tangannya untuk menutupi umpatan hatinya yang diketahui oleh Syarif.


"ada benarnya berarti ada salahnya juga kannnn ?" goda Syarif, "heduhhh..... salah lagi, salah lagi" kini jawab Ghali hanya pasrah saat ini seolah-olah perkataannya selalu salah dimata Syarif.


Syarif yang melihat kepasrahan Ghali tersebut terkekeh kecil "hihi.... baiklah nak kata-kata papa terakhir jangan kamu anggap serius" ujar syarif sembari memegang pundak Ghali.


"kalau begitu papa sebaiknya harus segera pergi ke ibu kota menyusul tristan.... untuk menyelesaikan kegaduhan yang telah dirimu perbuat" ujar Syarif.


Ghali memberikan seringai kudanya "hehe.... maafkan Ghali pah yang membuatmu gagal pensiun" ujar Ghali.


Syarif hanya tersenyum menanggapi Ghali kemudian dirinya berlalu pergi dari tempatnya.


'orang tua selain cerewet ternyata sangat menyeramkan juga ketika anaknya diganggu... perasaan aku tidak pernah menyakiti Anisa... tunggu-tunggu..... apa saat ini Anisa memang benar-benar merasa tersakiti ?' gumam Ghali sembari mencengkram rambutnya "haaaaaaaaa....." teriak Ghali sembari berguling-guling dilantai.


Fylan yang melihat tingkah laku adik sepupunya tersebutpun hanya tertawa 'ternyata dia tidak pernah berubah,..... masih seperti Ghali yang dulu' gumam Fylan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2