
Ghali kemudian menutup bilah panel statusnya, "Tigh mari kita pulang" ujar Ghali sembari berjalan.
Dirinya buru-buru pulang bukan tanpa sebab, melainkan hari ini adalah hari terakhir sebelum acara pernikahan Dirinya dan para wanitanya, tentunya hal tersebut mendorong Ghali untuk mengawasi persiapan acara secara langsung.
30 Menit berlalu...
Saat ini Ghali baru saja sampai di mansion miliknya. Alangkah terkejut Dirinya melihat panggung pelaminannya yang sangat megah itu
Woooooooow
Tatap Ghali kagum, 'Ini.... Jauh dari kata sederhana bahkan acara pernikahanku yang terbatas ini. Ini lebih mewah dari dugaanku, bahkan untuk dikatakan sederhana saja ini sudah melebihi daripada itu.' Gumam Ghali sembari memandang panggung pelaminannya itu.
Dari arah belakangnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, seketika memecah lamunannya.
Pada saat dirinya berbalik terlihat para wanitanya menatap Dirinya dengan penuh rasa penasaran, "Habis, darimana kamu semalam kok ke perusahaan keamanan gak bilang-bilang sama Kita" ujar Isel mewakili tersirat dari kata-katanya mewakili perasaan jengkelnya.
Sembari mengusap tengkuk belakangnya "Aku memang melakukan beberapa pekerjaan disana" ujar Ghali gugup.
"Lalu apa ini !" ujar Isel sembari menunjukan berita dari ponselnya itu. "Ghali, Aku sudah katakan padamu, Aku tidak suka Kamu melakukan sesuatu dibelakang ku, apapun itu alasannya !!" ujar Isel dengan nada lantang.
Kini Anisa dan Nancy pun ikut-ikutan menatap geram Ghali, sebab yang kini mereka rasakan adalah mereka merasa dikhianati oleh Ghali.
"Apakah Kamu masih menganggap Kami sebagai wanitamu, atau jangan-jangan kau hanya menganggap kami hanya sebagai pemuas nafsumu !!!" ujar Nancy dengan nada datar disertai tatapan dinginnya.
Diantara para wanita Ghali selama ini Nancy yang paling dewasa dan penyabar diantara mereka bertiga, tetapi kini yang tengah Ghali hadapi adalah Nancy dalam wujud yang berbeda dari biasanya.
"Bukan, begitu maksud ku" belum selesai Ghali berkata, "APA !!!, mau alasan apalagi sudah jelas-jelas di berita itu menyebutkan kartel narkoba El-Nino dan aku yakin hal tersebut berhubungan dengan menghilangnya Dirimu kemarin, secara tiba-tiba tanpa penjelasan..... Hiks...hiks...hiks, Aku tidak masalah apapun yang akan Kamu lakukan li... Aku cuma mau Kamu jujur kepadaku, bukan kayak begini caranya..." ujar Isel sambil terisak.
"Oke.... Ghali, kalau memang harus seperti ini, sebaiknya Kita batalkan pernikahan ini!!!" ujar Isel kembali, sembari membanting cincinnya dihadapan Ghali.
Nancy dan Anisa pun hanya menghela napas kemudian berlalu pergi mengejar Isel.
Hatinya kini sangat remuk, melihat sikap Isel yang seperti itu. Namun Dirinya, tidak bisa juga menyalahkan Isel yang seperti itu sebab ulahnya yang, tidak bisa terbuka dengan para wanitanya itu.
Tanpa Ghali sadari disisi para wanita sebenarnya hanya mengkhawatirkan satu hal. Yaitu keselamatan Ghali sendiri, ketika mereka mengetahui Ghali melakukan hal yang berbahaya, bahkan hal tersebut bisa saja sewaktu-waktu merenggut nyawanya.
Begitu besarnya cinta mereka kepada Ghali bahkan untuk memikirkan Ghali pergi saja mereka tidak akan kuat, apalagi memikirkan jikalau Ghali memang benar-benar meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya.
Memikirkan hal tersebut saja membuat mereka sangat tidak kuasa, jika seandainya hal tersebut memang benar-benar terjadi. Sebab mereka pasti akan kehilangan arah dan pundak tempat yang selama ini tempat mereka bersandar dan melepas keluh kesahnya.
Kini kembali disisi Ghali, Dirinya kini meremat kasar kepalanya.
ARGHHHHHHHHH.... APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN !!!
Teriak Ghali, seketika orang-orang yang sedang berada disana menatap heran Dirinya, bahkan Tigh yang berada didekatnya itupun tidak dapat berbuat apa-apa, Ghali yang tengah berjongkok disana sambil menangis sesal kini memaki dirinya sendiri dalam larutan kesedihannya.
Setelah beberapa saat Dirinya kembali berdiri dengan langkah gontai tanpa semangat kemudian memungut cincin Isel dihadapannya itu, lalu tanpa berkata-kata Dirinya melangkah lesu kedalam mansion.
Dirinya yang kini tengah terduduk di ruang tamu, sembari menggenggam cincin yang dibuang Isel sebelumnya, mentap kosong kedepan, kini ntah apa yang sedang dipikirkannya.
Setelah beberapa saat Dirinya memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada Isel, Dirinya pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar Isel.
Diketuknya beberapa kali kamar Isel nampak tidak ada balasan dari dalam.
Tok tok tok
"Sel, Isel apa Kamu didalam ?"
Tok tok tok
Namun tidak ada sahutan dari dalam kamra tersebut, Ghali memutuskan untuk membuka pintunya, yang ternyata tidak turkunci.
__ADS_1
Dilihatnya pada tempat tidur disana, nampak Isel yang tengah merengkuh tubuhnya dengan selimut, sembari menahan tangisnya terlihat tubuhnya tersedu-sedu yang menandakan Dirinya sempat menangis hebat belum lama ini.
Melihat hal tersebutpun Ghali semakin tidak kuasa, seketika bulir bening jatuh tanpa permisi didekati Isel dengan perlahan, "Sayang.... Aku salah, maafkan Aku" ujar Ghali peran sembari membelai pucuk kepala Isel.
Namun Isel masih belum mengeluarkan suaranya selama beberapa saat.
Ghali kemudian memutar posisi Isel yang kini sudah menghadapnya. "Sayang, Tolong maafkan Aku" ujar Ghali lirih, namun Isel malah membuang mukanya sembari berkata "Tolong biarkan Aku sendiri saat ini" ujar Isel masih enggan menatap Ghali.
Ghali semakin tidak bisa berbuat apa-apa "Dan, satu lagi Li, Aku memang serius untuk tidak menikah denganmu !"
Degh degh degh
"A...Apa maksudmu sel ?" tanya Ghali dengan terbata-bata, "Tidak tidak tidak, Aku tidak akan melakukan hal tersebut !" ujar Ghali lantang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Plak
Plak
Isel dengan spontan menampar keras wajah Ghali "Apa hakmu memaksku Haaa!!!, Harusnya Kamu sadar dan berubah pada saat dulu Aku menamparmu.... Dan ternyata kau masih sama saja seperti dulu, dengan ke egoisanmu, dengan sikap angkuhmu yang selalu menggampangkan sesuatu." pekik Isel.
"Ya.... AKU EGOIS DAN BAJINGAN, Lalu kenapa Kau seperti ini Haaaaaa!!, Kau seharusnya berterima kasih kepadaku....." belum selesai Ghali berbicara.
Plak...
"Ini tamparan terakhir untukmu" ujar Isel dengab nada yang tak kalah lantang dengan Ghali.
"Apa Isel, TAMPAR LAGI TAMPAR AKU.... HAAAA!!!",
Plak
Plak
"CEPAT TAMPAR AKU LAGI SAMPAI KAMU PUAS" pekik Ghali kini Dirinya semakin jauh larut dalam emosinya.
"KAMU SUDAH GILA GHALI, SEKARANG CEPAT KAMU PERGI DARI SINI......!!!, PERGIIIIIIIIIIII!!!!" teriak Isel yang kemudian, Dirinya terisak.
ARGHHHHHHHHHHH!!!
Teriak Ghali sembari berlalu pergi.
Duarrrrr!
Bunyi pintu kamar yang ditutup keras oleh Ghali, Anisa dan Nancy yang kini melihat kejadian tersebut, hanya bisa melihat mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.
Disisi Ghali tengah merutuki kejadian yang dialaminya saat ini. 'Tuhan, cobaan apa lagi ini, apakah tidak ada maaf bagiku ?' gumam Ghali.
Hiks... Hiks... Hiks
Dirinya menangis dalam penyesalan.
Disisi Nancy dan Anisa yang saat ini tengah curhat dengan Ibu Ratna dan kak Fylan.
"Aku mohon Ibu, bantu kami" ujar Nancy memelas, "Iya Ibu, hanya Ibu dan Kak Fylan yang bisa menenangkan mereka berdua" timpal Anisa.
Ibu Ratna dan Fylan saling menatap, kemudian kembali mereka menatap lirih Nancy dan Anisa "Maaf nak Ibu tidak bisa mencampuri permasalahan rumah tangga kalian ini adalah masalah kalian sebaiknya kalianlah yang harus menyelesaikannya." ujar Ibu Ratna lirih.
Anisa dan Nancy saling menatap kemudian mereka berdua mengangguk.
Beberapa saat setelah itu, Anisa dan Nancy memutuskan untuk menemani Ghali malam ini, mereka pergi menuju kamar Ghali untuk menghibur calon suami mereka saat ini.
Ghali yang melihat kedatangan Anisa dan Nancy menatap mereka, terlihat mata Ghali yang sudah sembab.
__ADS_1
"Ya, ampun sayang" ujar Anisa kemudian memeluk Ghali yang diikuti oleh Nanci. "Honey, Izinkan Kami untuk tidur bersamamu malam Ini, Aku mohon tenangkanlah pikiranmu itu terlebih dahulu, besok pagi kita akan berbicara langsung dengannya" ujar Nancy.
Ghali hanya menjawab dengan anggukannya, tak lama kemudian mereka bertiga tidur.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu saat ini, kini jam menunjukkan pukul 5 Pagi hari, Ghali dan para wanitanya pun sudah rapi dengan pakaiannya masing-masing, kini mereka nampak akan bersiap untuk menuju ruang rias untuk mengganti dengan pakaian pengantin.
Tak lupa mereka menjemput Isel dan sekalian untuk membujuknya. Sesampainya Ghali dan kedua wanitanya, di kamar Isel betapa kagetnya mereka yang tidak menemukan keberadaan Isel.
Ghali mencari kesana kemari namun tetap saja Dirinya tidak menemukan Isel, hingga ketika pandangan Ghali tertuju pada selembar amplop diatas kasur, yang ketika Dia buka ternyata itu adalah sebuah surat, dibukanya surat tersebut.
________
****Dear****
Ghali Cinta Pertamaku
Aku tau Kamu bingung ketika Kamu membaca surat ini, itu berarti Diriku sudah pergi Darimu, betapa egoisnya Diriku yang meninggalkanmu pada hari bahagia Kita yang sudah sejak lama kita rencanakan ini.
Hanya kata maaf tanpa hapus seribu ampunan untuk menyudahinya... Kini Diriku akan pergi meninggalkanmu.
Aku tau sebelum, Aku menuliskan surat ini kita sempat bertengkar hebat namun, "Sayangku" , Aku meninggalkanmu bukanlah karena pertengkaran Kita.
Aku meninggalkanmu karena lemahnya Diriku menghadapimu
Diriku yang tidak siap kehilanganmu
Diriku yang hanya bisa memberikan luka di moment terindah dalam hidup Kita
Maaf sekali lagi Aku menolak ikatan pernikahan ini, alasannya bukan karena Aku tidak mencintaimu, justru karena lemahnya Diriku.
Yang tidak siap melihatmu hilang ketika Aku masih berada didekatmu.
Kini Aku memutuskan untuk pergi sejauh mungkin menjelajahi semesta ini. Jangan cari Diriku berbahagialah dengan Anisa dan Nancy pegang janjimu dahulu ketika Dirimu mengucapkan kata cinta kepada Kami semua, bahwa Kamu akan mencintai Kami dengan adil dalam situasi apapun, Aku mohon tepatilah janjimu itu, bahagiakan mereka dan lemah lembutlah kepada mereka berdua.
Apapun yang terjadinya kepadaku kedepannya, meskipun Dirimu suatu saat nanti mengetahui keberadaanku, Aku mohon jangan hadir dalam pandanganku.....
Sungguh Ghali Aku sangat sakit ketika bertemu denganmu nanti, jangan Kau paksa Aku untuk mengingat egoku, yang saat ini tengah Kamu alami akibat keegoisanku juga.
Bagiku saat ini akan terasa lebih lebih berat ketika kita sudah berikrar atas nama tuhan, sedangkan Diriku saat ini saja, tidak bisa menahan rasa rela melepasmu bahkan hanya dari membayangkan Kamu yang tiba-tiba pergi saja aku tidak mampu, apalagi saat nanti ketika Dirimu yang selalu melakukan hal-hal yang membahayakan nyawamu sendiri dan pada saat itu juga Kau diambil paksa kembali ke sisi Tuhan, sungguh membayangkannya saja aku sangat sakit, apalagi mengalaminya.
Entah dimana dan bagaimana nasibku ketika hal tersebut terjadi, Aku tidak mau kehilangan arah lagi seperti dahulu, tak usah risau sayang....
Ini adalah jalan terbaik untuk Kita bersama Ghali. Sekali lagi jangan khawatirkan Diriku, Aku baik-baik saja Disini, lanjutkanlah hidupmu dan berbahagialah.
Salam Dari...
Isel si manusia lemah.
________
Ghali ketika selesai membaca surat tersebut.
Gubrak...
Dirinya terduduk lemas seketika tatapannya kosong, tidak percaya Dirinya bahwa hal ini akan terjadi kepada Dirinya....
.
.
Bersambung..
__ADS_1