SISTEM PATRIOT

SISTEM PATRIOT
Chapter 7: Mengalahkan Preman Sekolah, Perang Urat Saraf


__ADS_3

Pagi ini Ghali tengah bersiap pergi kesekolah untuk melaksanakan ujian kelulusan nya, sebelumnya ia melaksanakan misi hariannya dengan berolahraga disekitaran panti.


[DING] 'Misi harian telah dilaksanakan, hadiah telah dikirim kedalam Inventory sistem '


Ghali yang kini tengah duduk di ruang makan sembari menikmati sarapan ditemani oleh Ibu Ratna dan si kembar Mita dan Mira, sampai akhirnya Ghali beres melakukan sarapan kemudian pamit kepada Ibu Ratna "Ibu aku pergi dulu ya" sembari salaman kepada Ibu Ratna "iya nak hati-hati dijalan" jawab Ibu Ratna.


"Adik kembar kakak yang manis, selama kakak tidak ada tolong temani ibu ya.... dan jangan meropatkannya" ujar Ghali sembari mengelus-elus kedua pucuk kepala adik kembarnya itu "iya kak... dadah" ujar Mita dan Mira, Ghali pun membalas mereka dengan meniru lambaian si kembar kepada dirinya.


Ghali yang sudah berada didepan sekolah kemudian masuk kedalam sekolah tidak lupa dia menyapa pak karno satpam disekolahnya yang dekat dengan dirinya itu, karena Ghali dikenal selain sebagai anak yang baik dan juga cerdas dalam hal akademiknya "pagi pak" sapa Ghali kepada pak karno, pak karno pun menjawabnya dengan senyuman "eh...nak Ghali sekarang kamu makin ganteng aja... semangat ya ujiannya semoga mendapat hasil yang terbaik" puji pak karno yang melihat perubahan penampilan Ghali yang tidak seperti biasanya.


Ghalipun berlalu menuju kelasnya kemudian tidak lama berselang dihampiri oleh Hendri "hey... brother" sapa Hendri sembari merangkul pundak Ghali. "li... jangan lupa nanti ya tolongin gue, jangan lupa kasih info ke gue jawabannya okey..." ujar Hendri sembari mengedipkan matanya. "ckkk.... makanya lain kali belajar dong" sahut Ghali


"yaelah otak gue kan gak se encer otak lu" saut Hendri dengan nada jengkel. "yaudah itu mah gampang untuk sahabat gue apa sih yang enggak...hehe" ujar Ghali. "okey itu baru namanya sahabat...hahaha" sahut Hendri.


2 jam berlalu


kring...kring...kring


Akhirnya Ghali pun telah selesai melaksanakan ujiannya bunyi bel menandakan waktu berakhirnya ujian hari ini. Ghali terlihat yang tengah berjalan bersama Hendri, kemudian mereka berdua dihampiri oleh sekelompok orang terlihat disitu Gavin bersama genk sekolahnya, sesaat sampai dihadapan Ghali "hey bocah miskin aku masih ada urusan yang belum selesai denganmu" ujar Gavin dengan nada mengejek.


"ohoyyyy..." sahut Hendri sambil bertepuk tangan "nampaknya sang preman sekolah ingin mumbuat masalah lagi kah" ujar Hendri dengan nada menekan, wajar saja Hendri berujar seperti itu karena selama disekolah pun dirinya sangat tidak senang dengan perilaku Gavin yang suka menindas anak-anak lebih lemah dari dirinya, Hendri yang merupakan anak orang terpandang, ayahnya yang seorang petinggi militer yang menjabat sebagai wakil komandan wilayah berpangkat jendral bintang 1 dan ibunya memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di bidang fashion and beauty ditambah dirinya memiliki badan yang lebih besar dari Gavin, hal tersebut yang membuat Gavin sejak dari awal mereka satu sekolah segan terhadap Hendri, mengetahui ghaly yang dekat dengan Hendri. Hal tersebut membuat Gavin selalu hati-hati membuat masalah dengan Ghali.


Namun berbeda dengan hari ini Gavin yang nampak sudah jengah akibat beberapa hari lalu dirinya telah dipermalukan oleh Ghali, akhirnya dirinya melakukan tindakan tanpa memperdulikan lagi akibat yang akan diterimanya.


"tenanglah Hendri,... ini masalah antara kami berdua"saut Ghali sembari menarik tangan Hendri menyuruh kebelakang dirinya. "Gavin apakah kau sudah siap menerima akibat dari tindakan mu itu ?" ujar Ghali dengan nada sarat ancaman yang ditujukan kepada Gavin.


Mendengar hal tersebut seketika siswa-siswi yang sedang berkerumun menyaksikan kejadian itu menjadi ngeri dengan sikap Ghali. Mereka beranggapan Gavin yang terkenal dengan sikap tanpa belas kasihan dengan musuhnya itu, seketika merasa kasihan dengan nasib Ghali setelah ini.


"semakin hari... kau... semakin menyebalkan yahhh" pekik Gavin, kemudian terjadilah perkelaihan dengan cepat tanpa bisa dilerai lagi.


"rasakan ini..." pekik Gavin sembari melayangkan tinjuannya kearah Ghali.


chap....


Para siswa yang tengah menonton kejadian tersebut seketika dibuat kaget melihat Ghali yang dengan mudahnya menangkap pukulan dari Ghali. Kemudian Ghali melayangkan pukulannya kearah perut Gavin


bugh...

__ADS_1


Dengan telak pukulan tersebut mengenai perut Gavin yang mengakibatkan dirinya terduduk sembari meringis kesakitan. Kemudian Ghali mendekat kearah Gavin "ini kesempatan terakhir yang aku berikan kepadamu... setalah ini kalau kau berani mengusikku. tidak segan-segan aku akan memutilasi dirimu" ujar Ghali berbisik kepada Gavin dengan nada penuh ancaman. Tanpa menunggu jawaban Gavin Ghali pun langsung berlalu pergi meninggalkan Gavin yang tengah terduduk lemas, diikuti Hendri setelahnya.


Pada saat dirinya dan Hendri ditengah lapangan sekolahan, mereka berdua dihampiri oleh Anisa yang tengah berlari menuju kearahnya.


"Ghali" teriak Anisa sambil mengejar Ghali. Ghali pun kemudian menoleh kearah sumber suara.


"hosh...hosh...hosh" suara nafas Anisa yang tersengal. "Anisa kenapa kamu berlari seperti itu" ujar Ghali. Anisa langsung memegang kedua pundak Ghali kemudian memutar-mutarkan tubuh Ghali sambil bertanya "Ghali apakah kamu terluka" ujar Anisa sembari memegang kedua pipi Ghali.


"lepaskan dulu tanganmu Anisa ini masih disekolah" jawab Ghali seketika membuat Anisa malu "ehhh.... iya maaf li" jawab Anisa sembari melepaskan kedua tangannya dari wajah Ghali. "gini nih kalau udah berduaan selalu saja gue yang ditinggalin" ujar Hendri menyindir keduanya, sehingga membuat wajah Ghali dan Anisa memerah malu. "huft... ya sudahlah lebih baik gua pulang dulu daripada lama-lama disini ujung-ujungnya hanya jadi obat nyamuk" ujar Hendri sembari pergi meninggalkan mereka berdua. "gitu aja ngambek loe..." saut Ghali kemudian dibalas Hendri dengan lambaian tangan tanpa menoleh kebelakang.


"ehem... Ghali habis ini kau mau kemana" tanya Anisa, "ya... pulang lah mau kemana lagi coba... emangnya ada apa?" jawab Ghali. "bisakah kau menemaniku jalan-jalan hari ini" tanya Anisa. "hem" nampak Ghali yang tengah berpikir "oke baiklah, tapi aku mau pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian" ujar Ghali yang langsung dijawab oleh Anisa "ayo buruan aku antar biar cepet sampai... kebetulan aku memang bawa mobil" dan dijawab Ghali dengan anggukan.


Ghali yang sudah berganti pakaian pun kemudian pamit kepada Ibu Ratna "ibu aku pergi menemani Anisa jalan-jalan" ujar Ghali sembari mencium tangan Ibu Ratna. "ehemmm... udah berani jalan nihh" ledek Ibu Ratna, Ghali pun hanya tersenyum "yasudah hati-hati ya, kamu jaga Anisa baik-baik" ujar Ibu Ratna kemudian disusul Anisa yang ikut bersalaman mencium tangan Ibu Ratna.


Mereka pun sampai di taman terlihat disana mereka layaknya sebuah pasangan pengantin baru yang tengah berbulan madu, mereka pun tak ayal jadi pusat perhatian orang-orang disana .


"duh pasangan itu sempurna sekali cowoknya ganteng dan ceweknya cantik" apalah daya kita ini yang wajahnya pas pasan komen sekelompok wanita yang ada disana


"gua insecure sama badan gue liat aja cowok itu terlihat sangat gagah" ujar sekelompok cowok yang ada disana


"Ghali.... sayang" ujar wanita yang sedang berjalan kearahnya dengan setelan wanita kantoran. Ghalipun menoleh kearah sumber suara, mendapati Isel yang menuju kearahnya. Isel yang sudah dihadapan Ghali kemudian terlihat disana ada Tristan dan Tigh dengan setelan kerja mereka berdiri dibelakang Isel menundukkan kepalanya kearah Ghali, dirinya pun membalas mereka dengan anggukan.


"Ghali.... siapa mereka" tanya Anisa sembari memegang lengan kekar Ghali, Isel yang melihat hal tersebut pun seketika terbakar rasa cemburu "aku adalah wanitanya" sahut Isel dengan tatapan meremehkan kemudian ikut duduk kesebelah kiri Ghali dan langsung memeluk tangannya. Kemudian menatap tajam kearah Anisa "lalu kau wanita ingusan siapanya priaku" tanya Isel kepada Anisa dengan nada meremehkan. tatapan membunuh Anisa seketika muncul mendengar ejekan dari Isel "ah...a...aku" Anisa berusaha menjawab kemudian disanggah oleh Ghali "sudah cukup kalian berdua... tidakkah kalian sadar bahwa kita sudah jadi pusat perhatian orang disini" bentak Ghali kepada keduanya seketika menyadarkan Isel dan Anisa bahwa mereka telah jadi bahan tontonan masyarakat.


hufhh....


Ghali yang perlahan menghembuskan nafasnya kemudian berkata "lebih baik kita pulang membicarakan hal ini" ujar Ghali kemudian mengarahkan pandangan kearah Tigh dan Tristan "kalian antarlah nona Isel pulang terlebih dahulu aku akan menyusul kesana" ujar Ghali kepada keduanya kemudian mereka semua pergi menuju apartemen.


Ditengah perjalanan tampak dimobil yang tengah dikendarai dari Ghali terlihat Anisa yang tengah mematung untuk mencerna kejadian saat ini 'apakah benar dia itu wanitanya' gumam Anisa dalam hati sembari menatap mobil depan yang ditumpangi oleh Tristan,Isel dan Tigh. 'lalu dia bilang pulang.... ? apakah selama ini mereka satu rumah...?, kalau mereka satu rumah ahh... Ghali apakah dia sudah melakukan itu dengan wanita itu' gumam Anisa sembari menatap tajam Ghali.


"kau kenapa menatapku seperti itu" ujar Ghali menatap Anisa disampingnya. "Ghali aku ingin bertanya kepadamu" sahut Anisa kemudian dirinya melanjutkan perkataannya "APAKAH KAU SUDAH TIDUR DENGANNYA" dengan nada penuh selidik. Ghali yang mendengar hal tersebut seketika tersedak.


uhuk...uhuk


"Anisa kenapa kau berpikir sampai sejauh itu" jawab Ghali sembari menoleh kesamping. "hummmpphhh.... benarkan kau sudah melakukannya dengan dia" ujar Anisa sambil menggembungkan pipinya. Mendengar Anisa demikian Ghali hanya bisa pasrah 'ternyata memang benar kata orang insting wanita lebih tajam daripada binatang buas' gumam Ghali.


bugh...bugh...bugh

__ADS_1


"Ghali jawablah pertanyaanku" pekik Anisa sembari memukul-mukul lengan Ghali. "aduh... esssttttt.... awww sakit Anisa ini masih dijalan" ringis Ghali "aku tidak tahu Anisa" jawab Ghali menutupi. Mendengar jawaban Ghali seketika membuat wajah Anisa memucat kemudian bulir bening jatuh dari kedua matanya.


"hiks...hiks...hiks kau jahat" Anisa yang sambil terisak kemudian membuang pandangannya kearah jendela samping. Melihat hal tersebut, Ghali tidak dapat berbuat apa-apa. mereka berduapun memilih untuk saling berdiam satu sama lain, sampai pada akhirnya mereka pun sampai di apartemen kemudian mereka masuk kedalam terlihat disana Isel sedang duduk diruang tengah, mereka yang baru datang pun kemudian ikut duduk bersama dengan Isel.


"pertama-tama aku ingin tahu siapa namamu ? perkenalkan aku Isel Triastika asistant tuan muda Ghali sekaligus wanitanya" ujar Isel bertanya kepada Anisa, dirinya terlebih dahulu membuka suara memecah keheningan "Anisa" Jawab Anisa singkat yang tampak enggan sebetulnya dirinya bersuara setelah mendengar salam perkenalan dari Isel.


"Ehemm... aku mohon Isel sebaiknya kau bersikap baik kepada dirinya" ujar Ghali sembari menoleh kearah Anisa "dia adalah wanita yang aku cintai" ujar Ghali dengan nada penuh keyakinan. 'hemm ternyata memang benar dia orangnya' gumam Isel. 'apa....aku ?,wanita yang dicintainya' gumam Anisa kaget mendengar pengakuan dari Ghali.


Ghali yang melihat perubahan raut wajah Anisa "Anisa aku memang sudah lama aku mencintaimu, dan sejak dulu aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya padamu. Bahkan sampai sekarang pun, perasaan ku padamu masih sama dan tidak berkurang". Mendengar pengakuan Ghali, Anisa hanya terdiam ada rasa kekguman dalam dirinya terhadap Ghali.


"ehemm" suara Isel menyadarkan mereka berdua "Priaku... sudah mengatakan sejujurnya kepadamu, sekarang giliranmu" ujar Isel dan dibalas oleh Anisa dengan tatapan heran "apakah kau tidak cemburu kak ?" tanya Anisa dengan ragu, Isel menggelengkan kepalanya "kamu tidak usah khawatir dengan hal itu, meskipun kau juga sama mencintainya dengan tulus aku tidak masalah diriku berbagi denganmu... lagian Ghali sudah berjanji akan berlaku Adil kepada para wanitanya" ujar Isel kepada Anisa.


Anisa menoleh kearah Ghali "kenapa kau tidak mengatakannya dari awal bahwa kau mencintaiku... aku lelah sudah dilatih keadaan untuk menunggu kepastian dari dirimu" ujar Anisa kepada Ghali. Mendengar hal tersebut "Nisa... apakah artinya kau menerima cintaku" tanya Ghali kepada Anisa. kemudian Anisa menjawab "ya... aku sangat mencintaimu". "apakah kau tidak masalah harus berbagi dengan yang lainnya ?" tanya Ghali kemudian. "aku tidak masalah kalaupun harus berbagi, asalkan itu dirimu, dan aku percaya denganmu" mendengar penuturan dari Anisa, Ghali yang mendengarnya seketika memeluk Anisa "aku berjanji akan menyayangimu dan Isel, serta berlaku adil terhadap kalian berdua dalam hal apapun" ujar Ghali sembari melepas pelukannya


ekhemmm


"sayang... aku pengen dipeluk juga" ujar Isel manja sambil merentangkan kedua tangannya. Ghali pun terkekeh melihat perilaku Isel kemudian dirinya berjalan dan memeluk Isel. "habis ini kita akan pergi kesuatu tempat... anggap saja ini kencan pertama kita" ujar Ghali menatap kedua wanitanya. "horeeeee" jawab Isel dan Anisa serentak


"sayang apakah kita akan melakukannya aku sudah gatel" lirih Isel dengan nada manja kepada Ghali, seketika hal tersebut membuat wajah Anisa memerah 'ternyata benar dugaanku mereka sudah melakukannya' gumam Anisa.


"Isel jangan bertingkah seperti itu" pekik Ghali menahan malu sebab disana ada Anisa. "Hummmphhh... ternyata kau sudah melakukan hal itu dengan saudariku" ujar Anisa kecewa. "Anisa apakah kamu ingin ikut juga bersamaku, kita bisa melakukannya bersama-sama, aku yakin bahkan kita berdua pun belum mampu menghadapinya" ujar Isel sembari menunjuk kearah Ghali. seketika Isel mendapat tatapan tajam dari Ghali, Isel pun hanya menunjukan seringai kudanya "hehe".


"Isel apa-apaan kamu jangan meracuni otak polos Anisa seperti itu dia gak boleh melakukannya untuk saat ini" Ujar Ghali sembari menahan malu, karena arah pembicaraan Isel menuju kegiatan mereka beberapa hari lalu. Ghali kemudian mendekatkan wajahnya kearah Isel "aku akan menghukummu setelah ini, bahkan tidak ada kata ampun bagimu" bisik Ghali kepada Isel dengan nada sarat akan ancaman.


glekkk


Isel yang menelan kasar salivanya seketika wajahnya memucat, Ghali yang melihat perubahan ekspresi wajah Isel tersenyum jahat, mengingat prianya itu adalah monster pada saat diranjang. "baiklah kalian berdua disini dulu" aku masih ada urusan dengan Tristan dan Tigh, kemudian Ghali pergi menuju ruang kerja tempat tris dan Tigh, yang sudah menunggunya sejak tadi, mereka berdua melaporkan progress yang telah dilakukan pada hari ini terkait dengan akuisisi saham perusahaan yang Ghali lakukan sebelumnya.


"tris... bagaimana tugas yang sebelumnya aku berikan kepadamu ?" tanya Ghali kepada Tristan. "itu tuan saya sudah menemukan orang nya, mereka akan bekerja secepatnya... tinggal menunggu perintah selanjutnya dari anda ?" jawab tris. "sebaiknya 1 orangnya krimkan saja tris untuk bekerja di mansion, langsung saja suruh mereka masuk kerja secepatnya. karena setelah ini kita akan pindah ke mansion, apartemen ini akan di isi oleh ibuku dan adik kembar ku" ujar Ghali.


Ghali pun keluar dari ruang kerja nya sepasang sorot matanya tengah melihat 2 wanitanya sudah terlihat akrab berinteraksi satu sama lain.


haha.... (suara tertawa 2 wanita)


"kak... apakah itu sungguh, aku akan membujuknya nanti" Ujar Anisa kepada Isel yang tengah mengobrol. "ehemm" Ghali berdehem, menyadarkan mereka yang tengah asik mengobrol "bisakah kita pergi sekarang ?" ujar Ghali. Hemm jawab kedua wanita itu sembari mengangguk.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2