
Satu minggu kemudian...
"Sayang buruan !" seru Ghali kepada Anisa yang masih belum turun juga dari lantai dua mansionnya itu.
"Issshhh !, lama banget sih Dia udah jam berapa ini" ujar Ghali sembari melihat jam tangannya, tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh Anisa dan Filia turun dari lantai dua.
Hosh...hosh...hosh
"Issshhhh, udah tau orang lagi dandan, bikin repot aja !" ujar Anisa dengan jengkelnya kepada Ghali, "Heuhhhhh, Yasudah ayo kita berangkat ke bandara" saut Ghali tanpa ingin berdebat dengan Anisa.
Sesuai rencananya hari ini mereka akan berangkat liburan keliling Eropa, namun liburan kali ini, Ghali tidak membawa banyak orang. Sebab Ia memang sengaja mengkhususkan perjalanannya kali ini untuk berlibur bersama para Istrinya itu.
Hanya Gendhis, Filia, Ten dan Ordo yang ikut bersama Ghali kali ini, sebab yang lainnya sedang mengerjakan tugas yang Ia berikan sebelumnya, sudah menjadi ciri khas Ghali yang tidak mau lalai dengan rencananya dalam kondisi apapun.
Terlihat kini mereka baru saja memasuki mobilnya masing-masing dan segera pergi menuju bandara. Hampir tiga puluh menit berlalu, sesampainya di bandara dengan cepat Norm, Ten, Filia dan Gendhis membawa barang-barang bawaan mereka dan segera menuju loker boarding pass untuk keberangkatan internasional.
"Hufhhhhh, hampir saja telat" ujar Ghali sembari menyeka keringatnya, kemudian Dirinya mengalihkan pandangannya kearah Anisa dengan tatapan tajamnya "Kurang lama dandannya besok-besok sekalian aja seharian dandannya" ujar Ghali dengan jengkel kepada Anisa.
"Hehehehe, namanya juga cewek Kamu akhir-akhir ini sensi banget kayak cewek lagi PMS" saut Anisa sembari mengerucutkan bibirnya.
Nancy yang melihat kelakuan mereka berdua kini, hanya terkekeh dibuatnya. Tak lama kemudian mereka telah selesai melakukan boarding pass, Ghali dan para Istrinya itu terlebih dahulu menuju ruang tunggu keberangkatan, sementara para pengawalnya sedang menyelesaikan proses bagasi untuk Security Item, yang akan mereka bawa nantinya.
Ghali pun kini menatap aneh Anisa yang sejak dari tadi tidak senang diam, "Issshhh, bisa diam gak..... kayak anak kecil tau !" ujar Ghali berbisik kepada Anisa.
Dengan tatapan sebalnya kepada suaminya itu sembari memelintir perut Ghali.
Kyaaaaaaaa !!!
"Rasaiin tuh, hhuuuuu... Gangu kesenangan orang aja" ujar Anisa sembari merangkul lengan Nancy dan menjulurkan lidah mengejeknya kepada Ghali.
Ghali yang saat ini tengah meringis sembari memegang bagian perutnya yang mendapat cubitan itu, "Heeeee, liat saja nanti akan kumakan Kamu setibanya nanti di Eropa" ujar Ghali dengan seringai jahatnya.
"Ahhhhhhh, Kak Nancy tolong Aku takut" ujar Anisa sembari mengeratkan rengkulannya. "Hushhhhh, Honey dari tadi kalian itu sedang diperhatiin orang-orang" ujar Nancy sembari melihat kesekeliling mereka.
Ghali yang tersadar pun berdehem sembari merubah posisi duduknya, tak lama berselang empat orang pengawalnya menghampiri Ghali dan duduk didekat mereka.
Tak lama berselang panggilan keberangkatan pun terdengar, menandakan waktu keberangkatan Ghali dan rombongannya pun memasuki pesawat dan menuju kursi yang telah disediakan.
12 Jam kemudian...
Saat ini pesawat yang ditumpangi Ghali baru saja landing di bandara internasional Heathrow, London, Inggris.
Ghali yang baru saja terbangun dengan suara panggilan dari pramugari pesawat merematkan badannya "Eughhh, akhirnya sampai.... saatnya keliling Eropa" ujar Ghali sembari mengedarkan pandangannya kesekitar cabin vip nya.
'Patriot apakah kamu punya skill kemampuan berbahasa'
[DING] 'Ada Tuan apakah Tuan ingin membelinya ? '
'Ya sistem, dan pasangkan langsung skillnya'
[DING] 'Memotong 1.000.000.000 Poin sistem, sisa poin sistem saat ini berjumlah 2.290.000.000.000 '
[DING] 'Memasang Skill Berbahasa Asing '
[DING] 'Process.......10%…20%…30%…50%…70%…100% '
__ADS_1
[DING] 'Skill berbahasa asing telah terpasang '
Seketika kepala Ghali dipenuhi pengetahuan-pengetahuan tentang bahasa seluruh dunia termasuk kemampuan baca tulis dalam berbagai bahasa.
'Huuuufh, ini akan jauh lebih mudah, meskipun si rentenir itu menguras habis poin yang telah susah payah aku kumpulkan' gumam Ghali sembari menghela napas.
[DING] 'Senang berbisnis dengan Anda Tuan '
(/◕ヮ◕)
Cihhhhhh
Ghali hanya bisa pasrah dibuat sistem miliknya itu. Saat ini Dirinya dan rombongan sedang menunggu pengambilan bagasi, setelah semuanya beres tanpa berlama-lama mereka pun menuju hotel yang memang sebelumnya telah mereka pesan.
Tak kurang dari tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka pun tiba di hotel yang mereka tuju. "Selamat datang Tuan-Tuan dan nyonya-nyonya mari saya antar" ujar salah satu pelayan hotel.
Mereka pun diantar menuju kamarnya masing-masing yang saling berdekatan itu, sesampainya dikamar Nancy dan Anisa pun langsung merebahkan diri mereka di ranjang.
"Hem..... Capeknya" ujar Anisa sembari memijit pelipisnya, "Itu karena Kamu lagi hamil, sudah kalian istirahat dulu kalau masih capek, Aku akan keluar sebentar bersama Ordo" ujar Ghali sembari menyusun barang bawaan mereka.
"Iya hati-hati, Honey aku titip mangga muda ya...." ujar Nancy, Ghali yang mendengarnya pun kaget sembari menepak jidatnya "Aduh, Ini luar negeri Nancy...., mana ada pohon mangga dirumah tetangga, Kamu ada-ada aja" ujar Ghali.
"Hehehehe, ini bukan mau ku Honey, ini maunya anak Kita, liat saja nih Dia sampai ngences udah gak sabaran minta mangga muda" ujar Nancy sembari mengusap perutnya yang terlihat baru sedikit menonjol itu.
"Heuhhhhh, ya sudah akan Aku cari nanti... lalu kamu sayang, mau nitip apa ?" ujar Ghali bertanya kepada Anisa, "Eummmmm, Aku minta bawaiin jus tomat aja" ujar Anisa sembari tersenyum imut.
"Huffhhhh, yasudah nanti Aku bawakan pesanan kalian yah, kalau mau keluar minta temani sama Gendhis dan Filia" ujar Ghali, yang kemudian Dirinya berlalu pergi.
Saat ini Ghali sedang berjalan menggunakan mobil menuju ke salah satu mall terkenal di Inggris Westfield London.
husssshht !
Ghali memberhentikan langkah Ordo sembari mengedarkan pendengarannya "Apa Kau mendengar suara Ordo ?" ujar Ghali, "Tidak Tuan" jawab Ordo pelan.
"Ikuti Aku" ujar Ghali sembari menuju sumber suara, semakin dekat langkah Ghali, semakin jelas juga suara itu terdengar.
Arghhhhhh
****
Bugh...bugh....bugh
Ghali dan Ordo tengah bersembunyi dibalik mobil yang ada di basement tersebut, terlihat disana salah seorang pemuda tengah dikeroyok oleh beberapa orang.
"Apa tidak sebaiknya Kita tolong saja Tuan ?" ujar Ordo pelan, "Tahan tunggu sebentar lagi" saut Ghali, mereka pun mengamati kejadian tersebut selama beberapa saat tak lupa Ghali mendokumentasikan kejadian tersebut.
Prok...prok...prok
Ghali menghampiri mereka sembari bertepuk tangan, pemuda yang kini tengah dikeroyok pun terlihat babak belur "Cek cek cek, Kasihan Dirimu, sepertinya setelah ini Kau harus minta pertanggung jawaban kepada mereka" ujar Ghali sembari menunjuk kumpulan yang terlihat seperti pereman itu.
'Ternyata dimana-mana selalu ada manusia brengsek seperti ini' gumam Ghali sembari tersenyum remeh kearah mereka.
"Hei, jangan ikut campur masalah Kami, pemuda ini telah berhutang kepada kami sebesar 2.000 Pound sterling kepada Kita, sebaiknya Kau tau usah berlagak sebagai pahlawan jika tidak mampu melunasi hutangnya" ujar salah satu preman.
Cihhhhhh
__ADS_1
"Hanya uang sebesar itu berani-beraninya kalian menggunakan kekerasan" ujar Ghali dengan suara lantang.
Merasa ditantang preman tersebut pun menyuruh anak buahnya menyerang Ghali, melihat dua orang maju kearahnya tidak membuat Ghali gentar bahkan Ia menyuruh Ordo untuk jangan ikut campur.
Bugh...bugh...bugh
Krack !!!
Dengan gerak cepat Ghali membanting salah satu dari mereka dan memelintir lengannya hingga patah.
Arghhhhhhh !!!
SIALAN !!!
Ghali pun hanya tersenyum "Ingin ku tunjukan yang lebih sakit dari pada ini" tanya Ghali tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut Ghali pun menginjak harta masa depan pria berbadan besar tersebut, sembari memutar-mutar kakinya.
ARGHHHHHHH !!!
SAKITT !!!
AMPUN !!!
Pekik Orang tersebut yang kini merasakan ada yang pecah dibawah sana, melihat rekannya menjerit preman yang lain pun menyerang Ghali.
Hyaaaaaaa !!!
Namun Ordo yang melihatnya tidak tinggal diam dengan cepat Ordo menerjang kearah mereka memberikan tendangan yang cukup keras mengarah ke dada salah satu penyerang.
Bugh....
Seketika peneyerang tersebut terhempas dan kemudian tidak sadarkan diri, tak sampai disitu saja Ordo pun kemudian menangkap dua orang lagi dan membantingnya sembari memberikan bogem mentahnya.
Bugh...Bugh...bugh
Gubrak !!!
"Cukup Ordo !, jangan sampai mematikan mereka, Kamu telepon lah polisi" pekik Ghali dan kemudian menyuruh sang pemuda yang sebelumnya dikeroyok tersebut untuk menelpon polisi.
Ghali pun mencari sesuatu disana, tak lama berselang dia mendapati sebuah kabel yang tak terpakai di area basement tersebut, Dia mengambil kabel tersebut dan menyuruh Ordo mengikat mereka.
Kini para preman sudah diamankan oleh Ghali, sembari menunggu polisi datang Dia mengintrogasi sang pemuda yang sebelumnya dikeroyok itu.
"Siapa namamu" ujar Ghali dingin, dengan hati-hati pemuda itu menjawab "Namaku Joy Ramsey, biasa diapanggil Josie."
"Kenapa mereka bisa sampai mengejarmu seperti ini ?" tanya Ghali penuh telisik sembari menganalisa perubahan ekspresi Joy.
"Aku pernah berhutang kepada organisasi mereka untuk modal bisnisku" ujar Joy tanpa berani menatap Ghali.
Ghali pun semakin curiga dengan gerak gerik Pemuda yang saat ini ditolongnya, namun Dirinya terus menggali lebih jauh untuk mengungkap permasalahan yang terjadi sebenarnya.
.
.
Bersambung..
__ADS_1