
Ghali yang kini baru sampai di markas Biro Keamanan Dalam Negeri, kemudian dirinya membawa 3 Orang tersebut kedalam ruangan introgasi.
Satu persatu mereka di periksa secara bergantian yang mendapat giliran pertama kali ini adalah Adi.
Ghali memerintahkan Zaid untuk mengintrogasi mereka semua, kini Adi tengah duduk dengan kondisi tangan di borgol.
"Adi sudah dari sejak kapan kamu menjadi mata-mata untuk kartel El-Nino ?" tanya Zahid, Adi pun hanya berseringai dengan sikap tengilnya itu "Apa maksudmu menuduh orang sembarangan ?, apakah ini cara pemimpin baru itu untuk mdmbungkam orang-orang yang tidak sepemikiran dengannya ?."
Zahid pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan mantan rekannya itu, kemudian Dirinya mengeluarkan sebuah dokumen yang menunjukkan transfer dana dari luar negeri ke akun bank milik Adi, nominal yang tertera disana berjumlah $ 1000 USD.
Adi yang melihatnya pun seketika terkaget sembari membelalakkan matanya kearah Zaid, "Apa ini, tidak mungkin !" ujar Adi sembari menatap tidak percaya.
"Itu betul Adi, sebelum pimpinan berada disini Dia sudah lama memiliki dokumen tersebut, kini kami tinggal mencari sembilan orang lagi yang terlibat dalam bisnis haram kalian, cepat atau lambat percayalah akan Kami ungkap semuanya." ujar Zaid sembari melipat kedua tangannya didada.
Adi yang mendengar hal tersebutpun seketika berlari ke kaca dua arah diaampingnya itu "Pimpinan !!, tolong ampuni Aku. Aku telah dijebak" ujar Adi sembari menggedor-gedor kaca tersebut.
Ghali yang melihat Adi dari balik kaca ruang introgasi itu pun tersenyum kecut, tak lama kemudian petugas yang lain mengamankan Adi menuju penjara.
Kemudian selanjutnya ini giliran Yuri dan Fion yang di introgasi namun berbeda dengan Adi kini mereka berdua sangat koperatif, menyampaikan apa adanya terkait dengan peranan mereka sebagai penyuplai informasi untuk kartel El-Nino.
Hampir 2 Jam kegiatan introgasi itu berlangsung, tinggal saatnya mereka bertiga menunggu untuk diadili atas kejahatan yang mereka lakukan terkait dengan membocorkan informasi rahasia negara yang dimana mereka bertiga terancam dengan pidana mati.
Usai melakukan introgasi pun, Ghali kemudian menghubungi Presiden terkait dengan kejadian ini, Presiden pun sangat bangga dengan kinerja Ghali yang belum genap 1 Hari Dia memimpin, akan tetapi Dirinya sudah melakukan trobosan yang cukup besar.
*
Disuatu tempat lain kini terlihat Long yang sedang menghadap Dominic "Tuan mata-mata Kita di Biro Keamanan Dalam Negeri, telah terungkap kini mereka bertiga sudah ditangkap dari pihak Biro Keamanan Dalam Negeri" ujar Long.
Gubrakkk !!!
"Sial !!, siapa lagi ini cepat selidiki pimpinan baru Biro Keamanan Dalam Negeri itu" ujar Dominic memekik kepada Long, "Baik Tuan akan, Saya laksanakan" saut Long kemudian dirinya berlalu pergi.
*
Kini kembali lagi kesisi Ghali yang nampak akan segera pulang dari kantornya itu, tiba-tiba Tigh masuk keruangannya "Tuan, saat ini orang-orang Dominic sudah mulai bergerak, dan juga menurut laporan Andreas, tadi Dominic terlihat sangat kesal menghadapi situasi saat ini" ujar Tigh.
Ghali pun tersenyum simetris "Kerja bagus Tigh, suruh Andreas untuk tetap mengawasi pergerakan Dom" ujar Ghali "Baik Tuan, akan Saya sampaikan" jawab Tigh.
Kemudian mereka pergi dari ruang tersebut untuk pulang ke villanya, ditengah perjalanan Ghali yang tengah menoleh kearah jendela sampingnya itu seketika teringat dengan salah satu perempuan yang dicintainya itu.
'Isel dimanakah Kamu saat ini..... Aku rindu kepadamu sayang, mohon jangan Kau biarkan Aku larut dalam nestapa' gumam Ghali seketika butiran air matanya jatuh begitu saja tanpa permisi.
Tidak ada aktivitas lain yang Ia lakukan sesaat Dirinya telah sampai kediamannya itu. Dirinya kemudian terlelap untuk melepas lelahnya.
*
Pagi hari ini Ghali yang baru saja sampai kantornya disibukkan dengan beberapa pekerjaan pada hari ini terutama terkait dengan ketiga orang yang Ia tangkap semalam.
"Zaid bagaimana kondisi mereka bertiga saat ini ?" tanya Ghali sambil melipat kedua tangannya didada.
"Izin Pimpinan, saat ini kondisi mereka baik-baik saja namun untuk Adi kondisinya memprihatinkan, Kami juga baru mengetahuinya tadi malam ternyata Dia juga pecandu narkotika, tubuhnya mengejang semalam akhirnya dengan terpaksa kami menyuntikan morfin ketubuhnya" ujar Zaid sembari tertunduk.
Ghali pun kaget mendengar fakta barusan, namun kini Dirinya tak bisa berbuat apa-apa "Baiklah Zaid proses hukum mereka, berdasarkan jadwal yang memang sudah kita agendakan."
Ditengah-tengah perbincangan mereka, Tigh memasuki ruangan "Tuan sudah waktunya kita rapat" ujar Tigh.
"Baiklah Tigh, Ayo..... Zahid jangan sampai tidak hadir rapat nanti" ujar Ghali mengarahkan jari telunjuknya, sembari berlalu pergi.
'Sungguh pemuda yang berwibawa dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi' gumam Zaid sembari menatap kepergian Ghali.
Ghali yang kini baru saja sampai diruang rapat "Selamat pagi rekan-rekan semua, bagaimana terkait agenda recruitment Kita ?" ujar Ghali tanpa basa-basi.
"Izin menjawab pimpinan.... Untuk kegiatan recruitment sendiri kita sudah mulai menjalankannya dengan rincian seperti tertera pada layar" ujar Mia sembari menunjuk layar LED besar didalam ruangan tersebut.
Ghali pun mengangguk puas mendengar penjelasan Mia, "Baiklah, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melaksanakan program pendidikan mereka ?" ujar Ghali.
"Enam Bulan Pimpinan" jawab Mia singkat, Ghali pun mengangguk paham 'Lumayan lama juga waktunya, tapi tidak masalah masih ada waktu untukku bersiap-siap menghadapi mereka' gumam Ghali.
"Baiklah laksanakan seluruh agenda yang telah kita susun sesuai jadwal jangan ada lagi penundaan, rapat kali ini Kita cukupkan sampai disini saja" ujar Ghali yang kemudian berjalan mendekati Zaid.
"Zaid habis ini kumpulkan semua orang divisi intelijen ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan kepada kalian semua" ujar Ghali.
"Siap laksanakan !, Pimpinan" saut Zaid yang kemudian pergi meninggalkan Ghali.
30 Menit berselang...
__ADS_1
Ghali yang baru saja dapat kabar bahwa orang-orang divisi intelijen sudah bersiap, Dirinya pun kemudian beranjak dari ruangannya itu, dan menuju ruangan divisi intelijen yang ditemani oleh Zaid.
Kedatangan Ghali disambut dengan sikap hormat dari mereka. "Duduklah" perintah Ghali kepada mereka semua.
"Singkat saja pada pertemuan Kita kali ini, Saya akan menyampaikan beberapa hal terkait dengan agenda recruitment Kita yang ternyata memakan waktu kurang lebih 6 Bulan lamanya" seketika Ghali berhenti sejenak.
"Waktu yang relatif lama itu tentunya sangat genting dengan tantangan yang tengah kita hadapi saat ini. Untuk itu Aku, menugaskan seluruh Agen baik yang ada disini maupun yang masih bertugas didaerah untuk memantau pergerakan yang dilakukan kartel narkoba El-Nino sampai dengan waktu yang tidak bisa ditentukan..... Segera laporkan kepada Saya jika keadaan memang sudah sangat genting" ujar Ghali penuh dengan ketegasan.
Siap Laksanakan !
Saut mereka serempak, "Operasi pengintaian ini aku serahkan kepadamu Zaid selaku penanggung jawab" ujar Ghali sembari menepuk pundak Zaid.
"Perintahmu akan Aku laksanakan Pimpinan" jawab Zaid dengan suara tegas.
Kemudian hari demi hari telah Ghali lewati dengan rutinitas barunya itu, bahkan kini Ghali sudah jarang menempati mansionnya itu.
Kini para istrinya itu juga ikut tinggal bersamanya di villa daerah puncak miliknya itu, hari ke hari kehidupan yang Dia lalui bersama para Istrinya itu hingga tidak terasa waktu sudah berlalu selama enam bulan.
Enam Bulan Kemudian...
Sesuai dengan rencananya bahwa hari ini adalah hari usainya pendidikan anggota baru Biro Keamanan Dalam Negeri.
"Sayang, Honey Aku berangkat dulu ya..." teriak Ghali dari lantai bawah villanya itu. "Ehhhhh.... Jangan lupakan bekalmu ini" ujar Nancy sembari memberikan satu buah kotak makanan kepada Ghali.
Chup...
Ghali mengecup kening Nancy "Dadah" ujar Ghali sembari melambai-lambaikan tangannya.
Ghali yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantor Biro Keamanan Dalam Negeri, didalam mobil Dirinya membuka portal berita online lewat tabletnya, Dia membaca berita bertajuk penggagalan upaya penyeludupan narkotika jenis shabu lewat jalur laut.
Seketika senyuman bahagia terpancar dari wajah Ghali 'Kini mereka semakin dekat dengan kehancurannya' gumam Ghali sembari menaruh kembali tabletnya itu.
30 Menit Berselang...
Dirinya telah sampai di kantornya itu, terlihat suasana lebih ramai dari pada biasanya bahkan para wartawan dari berbagai portal berita nasional nampak hadir disana.
Hal tersebut terjadi bukan tanpa sebab, karena hari ini adalah hari pelantikan para anggota baru Biro Keamanan Dalam Negeri, yang dimana akan dihadiri oleh Presiden secara langsung.
Terlihat saat ini Ghali tengah duduk tempat dimana acara berlangsung dengan mengenakan pakaian khas Biro Keamanan Dalam Negeri.
Kemudian mereka duduk berdampingan, disana juga hadir para pejabat-pejabat lainnya termasuk panglima dan juga menteri pertahanan yang sekaligus pamannya Ghali.
Acara itu berlangsung dengan lancar, Ghali pun ikut bangga dengan kemampuan para anggota baru, pada saat sesi unjuk kemampuan bela diri.
Ghali yang saat ini tengah berbincang dengan para anggotanya, dari arah belakang paman Richard terlihat menyamparinya.
"Li" seru paman Richard, Ghali pun memutar pandangannya kemudian memeluk hangat paman Richard.
"Li.... Paman bangga kepadamu" ujar paman Richard sembari mendekap punggung Ghali.
"Terima kasih paman atas bantuannya" saut Ghali sembari tersenyum, sontak saja interaksi mereka berdua mengundang ekspresi kaget para anggotanya yang menyaksikan kejadian tersebut.
'Ternyata Dirinya adalah ponakan dari bapak menteri pertahanan pantas saja Aku tidak bisa mengakses informasi pribadinya '
'Sungguh diluar dugaan ternyata menteri pertahanan adalah pamannya'
Gumam Mia dan Zaid. Ghali yang melihat raut wajah kedua anggotanya itu hanya terkekeh dibuat mereka.
"Paman terima kasih sudah datang, hati-hati dijalan" ujar ghali yang saat ini tengah menghantarkan paman Richard yang akan pergi dari sana.
Ghali kembali menatap Mia dan Zaid "Baiklah saatnya Kita kembali bekerja" ujar Ghali, kedua orang itupun hanya mengangguk pasrah menatap atasannya itu, yang memang dikenal sebagai maniak kerja.
Ghali yang saat ini tengah berada di gedung olahraga yang sebelumnya Dia memang telah berencana menguji kemampuan tim taktis.
Saat ini ada sekitar 300 Orang telah berkumpul disana dengan pakaian khas silat itu.
"Baiklah saat ini Aku akan menguji kalian satu persatu, jadi keluarkan kemampuan kalian semaksimal mungkin" ujar Ghali yang kini berdiri tegak di tengah kerumunan.
Rock yang hadir disana pun sebenarnya ingin melarang Ghali, sebab Dirinya sendiri belum terlalu yakin dengan kemampuan Ghali.
Kini nampak salah seorang dengan postur badan tinggi besar jika dibandingkan dengan postur Ghali perbandingan dua banding satu, maju ketengah lapangan untuk adu tanding dengan Ghali.
Rock yang saat ini bertindak sebagai wasit memimpin jalannya adu tanding itu, "Apakah kalian siap" ujar Rock sembari memberi aba-aba kepada mereka berdua.
Mulai
__ADS_1
Perintah Rock yang menandakan mulainya pertandingan, suara riuh dari orang-orang yang ada disana ikut meramaikan jalannya pertandingan.
Ghali pun kini tengah mengambil ancang-ancang nampak tidak bergeming untuk menghadapi serangan lawan.
Pria tersebut pun dengan gerak cepat menyapu kaki Ghali.
Wosh...
Namun hal tersebut mudah saja dihindari dari Ghali "Ayo serang dasar lembek !!!" pekik Ghali memprovokasi.
Hal tersebut seketika membuat lawannya sangat berang, yang kini terbakar amarah.
Hiachhhhhhhh.....
Wush.... wush..... wush
Pria tersebut memekik sembari mengayunkan tendangan dan pukulannya namun tak satupun serangannya mengenai Ghali.
Ghali pun tersenyum remeh kearah pria berbadan kekar itu, "Baiklah kalau ini yang kamu inginkan, Aku tidak akan menahan lagi kekuatanku" ujar sang pria sembari menyapu tendangannya setinggi kepala Ghali.
Hiach.......
Wush
Ghali menghindar dengan menundukkan kepalanya, kemudian Dirinya melakukan serangan balasan menyapu kaki lawan dengan kakinya.
Wush.... Bugh...
Brack !
Hanya dengan satu kali gerakan, lawannya jatuh. Sejenak sang pria itu memegang pinggangnya yang terasa nyeri usai terhempas, kemudian Dirinya bangkit kembali, tanpa basa-basi lagi Dirinya menyerang Ghali.
Hiach....
Pak.... pak...pak...pak
Pukulannya yang sangat cepat menghujam kearah Ghali namun, nampak tak satupun serangannya mengenai Ghali, semuanya mudah saja ditangkis oleh Dirinya itu.
Bugh... Bugh...
Ghali meninju dua kali bagian perut lawannya seketika membuat lawannya terpundur, tak sampai disitu saja, Ghali kemudian kembali menyerang dengan tendangannya.
Hiach......
Bugh !!!
Gubrak !!!
Pekik Ghali sembari menerjang ke arah lawannya itu seketika tendangan Ghali mendarat telak didada lawannya, tanpa sempat diantisipasi dari lawannya itu.
Tendangan Ghali tersebut berhasil membuat lawannya terpental keluar lapangan pertandingan sejauh 10 Meter, hingga menyebabkan sang lawan pingsan.
Melihat hal tersebut dengan cepat rekan yang lainnya membawa pria tersebut keruang medis untuk dilakukan perawatan.
Rock pun menghentikan latih tanding itu "Saya rasa cukup sampai disini saja pimpinan" ujar Rock kepada Ghali, mendengar hal tersdbut Dirinya hanya mengangguk.
Kemudian mereka pun berkumpul untuk mendengar pengarahan dari Ghali, "Baiklah rekan-rekan sekalian, Saya harap rekan-rekan sekalian selalu mengasah kemampuan kalian semua. Sebab tugas yang Kita jalankan kedepannya sangat berat bahkan mengorbankan nyawa kita.... Saya tidak ingin mendengar anggota Saya gugur di medan tugas hanya karena musuh jauh lebih mumpuni dari pada kemampuan kalian, untuk latihan kalian sendiri akan dilatih langsung oleh Tigh" ujar Ghali sembari menunjuk Tigh.
"Asa terus kemampuan kalian itu, sebab ada banyak misi-misi yang menanti kalian dimasa depan" ujar Ghali.
Siap Laksanakan !!
Jawab mereka serentak, kemudian Ghali berlalu meninggalkan mereka mengingat hari sudah sore yang memang sudah waktunya aktifitas kantor disegerakan.
Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Dirinya, bahkan tak jarang Dirinya memutuskan menginap dikantor ketimbang pulang keumahnya.
Usai Dirinya membersihkan diri, kini Ghali telah mengenakan pakaian santai. Hal biasa yang selalu Ia lakukan semenjak beberapa bulan terakhir, Dia selalu berkumpul bersama para anggota tim taktis yang memang mereka sendiri, tinggal di asrama khusus milik Biro Keamanan Dalam Negeri, mengingat tanggung jawab mereka yang harus siap siaga 24 Jam penuh.
Hal tersebutlah membuat Dirinya itu sangat akrab dengan para anggota dari tim taktis itu.
.
.
Bersambung..
__ADS_1