
Edgar dan Nancy yang datang untuk mendiskusikan kerjasama dengan Agnes, keduanya memutuskan pergi setelah kesepakatan kerjasama urung terjadi. Nancy tidak terkejut dengan penolakan Agnes, dikarenakan ia tahu wanita itu tidak bodoh. Sedangkan Edgar, ia merasa kesal dikarenakan rencananya gagal, padahal sebelumnya ia sudah membayangkan keuntungan besar tanpa melakukan sesuatu yang merepotkan.
Morgan sendiri juga telah meninggalkan kantor Agnes, dan ia sekarang yakin bakal semakin sulit mendekati Agnes setelah gagalnya rencana keluarganya.
“Sial... Sial.... Sial!... Kalau saja pria itu tidak bersama Agnes, aku yakin semua rencana keluargaku bakalan berhasil, tapi karena pria sialan itu, semua menjadi gagal total!” kata Morgan begitu kesal saat ia sedang mengemudikan mobil.
Sementara itu, diwaktu yang sama, Noah bersama tiga orang di mobilnya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mereka lebih dulu pulang dibandingkan karyawan lainnya, dikarenakan sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakan Agnes di kantor. Selagi pekerjaan itu bisa diselesaikan dari rumah, Agnes lebih memilih menyelesaikan pekerjaan itu di rumah.
...----------------...
Malam harinya.
“Apa sebaiknya yang aku lakukan malam ini? Semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing, sedangkan aku bingung karena tidak memiliki kesibukan.” Noah mengeluh karena sekarang ia sedang bosan, dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa bosannya.
Memutuskan keluar rumah menggunakan motornya, ia pergi ke tempat yang biasanya digunakan untuk balapan liar. “Mungkin aku bisa sedikit menghibur diri dan menghilangkan rasa bosan di tempat itu!” gumamnya.
Hari ini ia sudah menyelesaikan seluruh misi sistem, dan mendapatkan hadiah. Jadi sekarang ia ingin pergi bersenang-senang, meski malam ini ia bepergian seorang diri, tidak ada keberadaan wanita yang menghangatkan boncengan motornya.
“Morot elite, pasangan sulit!” katanya, dan tersenyum dengan keadaannya saat ini.
Tidak lama Noah akhirnya sampai di lokasi yang dituju, dan tempat itu malam ini sangatlah ramai. Banyak motor sport berjajar rapi di pinggir jalan, termasuk dengan motor Noah.
Saat Noah masih duduk santai di atas motornya bahkan belum membuka helmnya, seorang pria datang menghampirinya.
“Datang untuk ikut balap atau cuma nonton? Motor keren dan sepertinya cepat, kalau cuma datang untuk menonton, setidaknya keluarkan uang untuk taruhan!” kata pria itu, dan ia masih memperhatikan motor Noah yang terlihat menarik di matanya.
Noah sesaat terdiam, memikirkan apa yang ingin ia lakukan. Hanya menonton jalannya balapan tidak akan membuatnya puas. “Aku ikut balapan dan taruhan!” katanya, dan ia mengeluarkan uang lima puluh juta sebagai taruhannya.
“Apa lima puluh juta cukup untuk taruhan?” tanya Noah yang tidak tahu berapa nominal taruhan yang biasa dilakukan.
Pria yang menerima uang Noah, ia adalah orang yang mengurusi balap liar dan juga taruhan orang-orang. “Malam ini lima puluh juta adalah nominal tertinggi, dan sudah ada lima orang yang mengeluarkan taruhan dengan nominal yang sama. Kamu punya waktu lima menit untuk melakukan persiapan, setelah itu datang ke garis start!”
Noah hanya mengangguk, dan sekarang pandangannya tertuju pada beberapa orang yang sudah berada di garis star. Ia tersenyum saat melihat kenalannya sudah berada di garis start, dan segera ia menempati tempat tepat di sebelah orang itu.
Balapan akan dimulai kurang dari sepuluh menit, dan masih ada tiga tempat kosong yang bisa ditempati oleh mereka yang ingin berpartisipasi dalam balapan.
“Kakak ipar, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Apa kekayaan yang kamu miliki masih kurang sampai mencari tambahan uang di tempat ini?” tanya Noah dan tentu saja pertanyaannya membuat terkejut pria di sebelahnya, yang sedang duduk tenang di atas motornya.
Pria yang dipanggil kakak ipar oleh Noah adalah Leo, dan ia juga sosok kenalan Noah, yang sudah beberapa saat yang lalu berada di garis start.
__ADS_1
Leo yang merupakan juara bertahan, ia masih terkejut setelah tahu siapa saingan barunya malam ini. “Adik ipar, bukannya uangmu juga sudah banyak, apalagi kamu adalah cucu orang itu, lalu kenapa kamu juga ikut balapan? Apa kamu sedang mengumpulkan recehan?” kata Leo yang sudah tahu perihal Noah adalah cucu dari Richard.
“Aku sedang bosan, jadi memutuskan ikut balapan!” balas Noah dengan santainya.
Leo terkekeh pelan mendengar jawaban Noah. “Kalau soal bosan, aku sendiri juga sedang bosan, tapi untuk balapan, aku sudah melakukannya sejak masih di bangku sekolah, dan untuk sekarang sepertinya aku sudah kecanduan balapan seperti ini!”
Noah menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan Leo. “Kakak ipar, dikarenakan malam ini kita adalah rival, jadi mari kita buktikan siapa yang lebih baik dari kita! Kerahkan seluruh keterampilan yang kakak ipar miliki, jika tidak ingin kalah telak dariku!” kata Noah dan ia tersenyum dibalik helmnya.
Merasakan kepercayaan diri yang dimiliki Noah, Leo merasa tidak akan mudah mengalahkannya, dan ia tidak akan sakit hati jika kalah, asalkan kekalahan itu ia dapatkan lewat pertarungan yang adil. Ya, meski sesuatu yang adil sulit ditemukan saat sudah berurusan dengan yang namanya balap liar.
Hanya saja Leo bukanlah orang yang suka melakukan kecurangan saat melakukan balapan, tapi kalau soal dicurangi dan mendapatkan perlakuan tidak adil, ia sudah sangat sering mendapat perlakuan seperti itu, bahkan itu senantiasa terjadi saat ia ikut balapan.
Waktu bersiap telah habis, dan seluruh peserta saat ini sudah berada di garis star, di atas motor mereka masing-masing.
Ada sepuluh orang peserta yang mengikuti balapan, termasuk Noah dan Leo. Di tengah-tengah peserta balapan, berdiri wanita dengan pakaian yang sangat minim, dan di tangan wanita itu terdapat sebuah kain. Kain di tangan wanita itu adalah tanda, saat wanita itu menjatuhkan kain yang berada di tangannya, saat itu juga balapan dimulai.
Begitu balapan dimulai, semua orang memacu kencang motor mereka, mencoba meninggalkan semua lawan. Leo yang memacu kencang motornya, ia saat ini berada di posisi dua, tepat di belakang pengendara motor yang sudah lama menjadi saingannya. Sedangkan Noah, ia masih berada di posisi paling belakang.
Balapan malam ini akan dilakukan sebanyak tiga kali putaran, dan begitu memasuki putaran terakhir, Noah yang di putaran selanjutnya sudah merangsek ke posisi ke-lima, dengan sangat mudah ia merangsek ke posisi ke-tiga, dan sekarang ia sangat dekat dengan posisi pertama dan posisi ke-dua.
Leo sedang berdaing ketat dengan lawannya, yang sesekali menggunakan siku untuk membuat motornya tidak stabil. Sementara Noah yang berada di belakang mereka, ia terlihat santai dan menikmati jalannya perlombaan. Namun, saat melihat keberadaan tikungan terakhir dengan garis finish, ia jauh lebih lambat menekan rem motornya, membuatnya dengan mudah menyusul dua motor di depan.
Leo dibuat melongo melihat apa yang dilakukan Noah, begitu juga dengan lawannya. Sempat ia merasa khawatir saat melihat Noah menikung dengan kecepatan tinggi, tapi kekhawatiran itu berubah menjadi rasa takjub saat ia melihat Noah dengan mudah melewati tikungan dengan kecepatan tinggi, dan sekarang ia melaju kencang menuju garis finish.
“Ternyata ada juga orang yang dapat mengalahkanmu! Sekilas melihat kemampuannya, aku yakin jika ia jauh lebih baik darimu!” kata pria yang selama ini menjadi pesaing Leo.
“Ya, dia memang lebih baik dariku, dan aku harus mengakuinya!” blas Leo, dan ia pergi menghampiri Noah, meninggalkan pria yang sama sekali tidak penting dalam kehidupannya.
Leo terlihat begitu bersemangat saat datang menghampiri Noah. Meski ia kalah dan Noah adalah sosok yang berhasil mengalahkannya, ia sama sekali tidak masalah dengan kekalahannya, dan ia turut senang atas kemenangan mudah yang didapatkan Noah.
Sayangnya, baru juga ia menyapa Noah, datang banyak pria berpakaian serba hitam, dan kebetulan ia mengenali para pria itu dari tato, yang ada di leher mereka. “Black Viper, mereka datang di waktu kurang tepat!” kata Leo, dan ia segera memacu kencang motornya.
Melihat Leo yang buru-buru pergi setelah kedatangan banyak pria berpakaian hitam, segera Noah mengejar Leo, setelah ia melihat banyak motor yang dikendarai pria berpakaian serba hitam mengejar Leo.
Tidak terlihat kepanikan di wajah Noah saat ia melihat empat pria mencoba menembak Leo yang mengendarai motornya secara zigzag, guna menghindari banyaknya peluru yang ditembakkan ke arahnya. Melihat Leo dalam keadaan bahaya, Noah tidak tinggal diam, ia mengambil pistol di Ruang Segala Jenis Senjata, dan mulai menembak mereka yang mencoba mencelakai Leo.
Door... Door... Door... Door...
Empat peluru tajam ditembakkan Noah, dan semua tepat sasaran. Empat orang yang terkena tembakannya, mereka terjatuh dari motor, dan bisa dipastikan mereka semua telah mati.
__ADS_1
Tidak berhenti setelah menjatuhkan empat orang, Noah kembali menembak empat orang yang duduk di boncengan motor, membuat mereka semua terjatuh dari motor, dan bertemu dengan kematian. Sekarang hanya tersisa delapan orang yang merupakan pengemudi motor. Empat dari mereka berhenti mencoba menahan pergerakan Noah, sedangkan empat orang lainnya terus mengejar Leo. “Kalian tidak akan pernah bisa menahan pergerakanku!” kata Noah.
Door... Door... Door... Door...
Meski sambil mengemudikan motor, nyatanya tembakannya sama sekali tidak meleset, dan dengan mudah ia membunuh empat orang yang mencoba menghadang dan menahan pergerakannya.
Mengabaikan mereka yang mati di tengah jalan, Noah kembali tancap gas mengejar Leo dan empat orang yang mengikutinya. Mereka sudah jauh meninggalkannya, saat ia harus sedikit melambat guna mengatasi empat orang yang mencoba menghadang dan menahan pergerakannya.
Tidak lama kemudian Noah berhasil melihat keberadaan Leo, yang mana saat ini ia sedang berkelahi dengan empat pria berpakaian serba hitam. Leo membekali dirinya dengan belati, begitu juga dengan empat pria yang berkelahi dengannya.
Ciiittt... Brugh...
Noah dengan sengaja menabrak salah satu pria berpakaian serba hitam, membuat berkurang lawan yang harus dihadapi Leo. Melompat turun dari motornya, Noah segera membantu Leo, dan terjadilah perkelahian dua melawan tiga.
Meski hanya menggunakan tangan kosong, nyatanya tinju Noah jauh lebih menyakitkan dari goresan sebuah belati. Satu pukulan yang ia lakukan, membuat salah satu pria berpakaian serba hitam tumbang, sedangkan dua pria bertopeng lainnya, mereka mati di tangan Leo yang mengalami beberapa luka di tubuhnya.
“Apa luka kakak ipar ada yang serius?” tanya Noah saat melihat darah mengalir di lengan dan kening Leo. Sekilas dilihat memang tidak ada luka parah, tapi tetap saja Leo membutuhkan perawa sebelum keadaannya memburuk karena terlalu banyak kehilangan darah.
“Tidak ada luka yang parah, dan lagi aku sudah menangil orang kepercayaanku untuk datang ke tempat ini!” balas Leo, dan saat ini kedua matanya melihat keadaan Noah dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Senyuman terlihat di wajah Leo saat tidak menemukan keberadaan luka di tubuh Noah. Kalau saja ada luka, ia pasti akan kena marah adik tercintanya.
“Beruntung tidak ada luka di tubuhmu, kalau saja ada luka meski itu hanyalah luka gores, pasti aku kena amukan singa betina!” kata Leo, dan Noah tahu pasti siapa yang dimaksud singa betina.
“Kakak ipar, Ellena begitu cantik, bagaimana mungkin ia disamakan dengan singa betina?” kata Noah, dan ia tersenyum.
“Dia memang gadis cantik saat tidak marah, tapi saat marah, ia memang terlihat cantik, tapi disaat bersamaan ia juga akan terlihat menakutkan!” balas Leo yang sudah sering merasakan amukan Ellena.
“Hehehehe...” Noah terkekeh, dan berkata, “Aku berharap ia tidak akan pernah marah padaku, jika kemarahannya adalah sesuatu yang bisa membahayakan keberadaanku!”
“Aku yakin ia tidak akan pernah marah padamu, dikarenakan ia terlihat begitu jinak saat berada di dekatmu, jauh berbeda saat ia bersama kami yang merupakan keluarganya. Ia juga menjadi lebih sering tersenyum saat bersamamu, dan aku maupun kedua orangtuaku senang melihat ia menjadi lebih banyak tersenyum!” kata Leo.
Noah yang mendengar semua itu, ia senang karena keberadaannya memberi dampak baik pada kehidupan Ellena.
Tidak lama kemudian, dua mobil datang, dan mereka adalah orang-orang kepercayaan Leo. Setelah kedatangannya mereka dan memastikan Leo mendapatkan perawatan, Noah memilih pergi meninggalkan tempat itu, tentunya setelah pamit pada Leo. Ia memacu motornya melalui jalan memutar, dan tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah.
Sementara itu, di tempat Leo, ia memberi perintah pada anak buahnya untuk membersihkan mayatma yang berserakan di jalan. Beruntung malam ini sangat sepi, jadi tidak ada saksi mata yang melihat kejadian malam ini.
Setelah semua bersih dan mayat-mayat yang berserakan di jalanan telah diamankan, Leo dan orang-orang kepercayaannya kembali ke markas, dan begitu keadaannya membaik, Leo berencana membalas apa yang telah dilakukan musuhnya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.