
Di ruang penyiksaan yang ada di penjara Mansion keluarga Ludwing, Nancy tidak melakukan siksaan secara langsung pada dua orangtua yang dulu dia panggil kakek dan nenek. Dia membiarkan keduanya tersiksa secara perlahan, dengan cara membiarkan mereka kelaparan dan kehausan.
Dengan tidak memberi mereka makan dan minum secara terus-menerus, meski tidak mendapatkan penyiksaan secara fisik, cepat atau lambat mereka pasti mati karena kehabisan energi dan cairan di dalam tubuh.
Nancy yang memegang sebuah cambuk dengan duri-duri tajam di ujung cambuknya, dia menatap tajam dua orang yang selama ini dianggapnya sebagai orangtuanya. Namun nyatanya, keduanya adalah orang yang telah menyebabkan kematian kedua orangtua aslinya.
Marah? Tentu saja dia marah, dan sekarang waktu yang gelap untuk meluapkan kemarahannya pada mereka.
“Nancy, apa yang ingin kau lakukan pada kami? Jauhkan benda di tanganmu itu dari kami! Seharusnya kau tahu kalau benda itu dapat menyakiti kami. Apa kau lupa jika kami ini adalah orangtuamu?” kata Widuri, dengan sorot mata dipenuhi ketakutan saat dia melihat cambuk di tangan Nancy. Dia bisa membayangkan rasa sakit jika cambuk itu digunakan untuk menyiksa dirinya.
Seketika Nancy tersenyum sinis setelah mendengar apa yang dikatakan Widuri. Dia tidak menyangka jika wanita menjijikkan itu masih saja bersandiwara di hadapannya.
“Hahaha... bagaiamana bisa wanita menjijikkan speetimu mengaku sebagai orangtuaku? Sudah, sebaiknya hentikan saja sandiwaramu yang sudah tidak lagi berguna! Aku sudah tahu semuanya, dan kini aku akan membalaskan apa yang sudah kalian lakukan pada keluarga asliku!” kata Nancy lantang, dan dia langsung saja mengayunkan cambuk yang ada di tangannya.
Ctas... Ctas... Ctas...
Bara yang sedari tadi hanya diam, dia justru menjadi orang pertama yang menerima cambukan Nancy. Tiga cambukan mengenai bagian dada Bara, membuat pria itu mengerang meluapkan rasa sakit yang dirasakannya. Seumur hidup dia tidak pernah merasakan sesuatu yang begitu menyakitkan, dan ini kali pertama dia merasakan rasa sakit yang benar-benar menyakitkan. Dia terus mengerang kesakitan, tapi Nancy tidak peduli, dan kembali dia mencambuk tubuh Bara.
“Apa yang kau rasakan saat ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan setelah tahu semua kebohongan kalian! Orang-orang yang selama ini aku anggap keluarga dan begitu aku hormati, ternyata kalian semua hanyalah sekelompok pembunuh kejam, yang telah membunuh seluruh anggota keluargaku!” teriak Nancy meluapkan amarahnya.
Ctas... Ctas... Ctas...
Lagi dan lagi Nancy mengarahkan cambuknya ke arah tubuh Bara, membuat pakaian pria itu hancur, dan terlihat darah mengalir keluar dari setiap luka menganga yang ada di tubuhnya. Bara masih sadar dan dia merasakan rasa sakit yang teramat menyakitkan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalaskan rasa sakit itu pada Nancy. Tangan dan kakinya terikat rantai, begitu juga dengan tubuhnya yang terikat pada sebuah tiang besi kokoh.
Keadaan Bara sudah sangat mengenaskan, dan sekarang tiba giliran Widuri merasakan apa yang sedang dirasakan suaminya. Namun, sebelum menggunakan cambuk untuk menyiksa Widuri, Nancy tiba-tiba berubah pikiran. Dia terpikirkan cara lain untuk menyiksa Widuri. Senyum lebar terlihat di wajahnya saat dia membayangkan siksaan yang paling tepat untuk Widuri.
“Meski tidak lagi muda, aku harus akui kalau kau wanita yang masih cantik dengan tubuh kencang yang menarik perhatian. Daripada menghukummu dengan cara kekerasan, bagaimana kalau aku memberi hukuman penuh kenikmatan padamu?” tanya Nancy yang berada tepat di hadapan Widuri, dan dengan kasar dia mencengkram salah satu bukit ukuran jumbo milik Widuri.
Aaargh...
Teriakan dari mulut Widuri terdengar, saat dia merasakan rasa sakit bercampur nikmat, disaat Nancy mencengkram kuat salah satu bukit ukuran jumbo miliknya. Sedangkan Nancy yang mendengar itu, dia tersenyum sinis, lalu dia mulai melucuti seluruh pakaian Widuri, sampai wanita itu benar-benar polos dan Nancy cukup kagum dengan tubuh indah Widuri, meski usianya sudah tidak lagi muda.
Uhmm... Aaaah...
Teriakan dan desah*n terdengar dari mulut Widuri, saat tiga jari Nancy secara kasar masuk ke bagian bawah Widuri. Merasa tiga jari belum cukup untuk memberi sensasi nikmat pada Widuri, Nancy menambahkan jari lainnya, dan kini ada empat jari yang keluar masuh deng sangat cepat. Sakit dan nikmat dirasakan Widuri diwaktu bersamaan, sampai akhirnya dia meraih puncak kenikmatan hanya dengan permainan jari Nancy.
Aaaargh...
Widuri mengerang penuh kepuasan, dan tiba-tiba tubuhnya lemah. Saat tubuh Widuri melemah, datang tiga pria berkulit hitam dengan bagian bawah berukuran super, dan mereka langsung saja menggunakan tubuh Widuri, untuk memuaskan keinginan mereka.
“Aaaah... sakit, tolong pelan-pelan! Aaaaah...” Mulut Widuri terus saja berteriak kesakitan, tapi di bawah sana dia merasakan nikmat, yang selama ini belum pernah dirasakannya.
__ADS_1
Meski diperlakukan kasar, dibawah sana Widuri terus saja merasakan kenikmatan, dan tibalah dia lemah tidak berdaya saat tiga pria secara bersamaan melakukan penyatuan dengan tubuhnya. Bagian atas ada satu pria, sedangkan di bawah sana ada dua pria yang saling berbagi tempat. Ketiganya sangat menikmati kehangatan tubuh Widuri, dan mereka sama sekali tidak peduli dengan keadaan Widuri.
Sedangkan Nancy, dia sudah meninggalkan Widuri, setelah menyiksa Widuri dengan permainan tangannya. Dia saat ini sudah berada di ruang penyiksaan selanjutnya, dan dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Widuri.
Ngomong-ngomong soal tiga pria yang saat ini sedang berpesta dengan tubuh Widuri, mereka adalah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Hans, atas permintaan Noah. Sebenarnya Noah ingin menggunakan mereka bertiga untuk menyiksa Widuri, tapi ternyata Nancy satu pemikiran dengannya, dan jadilah ketiga pria itu sekarang bersenang-senang dengan tubuh Widuri.
Bukan hanya hari ini mereka bebas melakukan apapun pada tubuh Widuri, tapi mereka bebas melakukan apapun pada tubuh wanita itu sampai beberapa hari ke depan. Rasanya akan sangat bagus jika Widuri hamil karena bersenang-senang dengan mereka. Setelah Widuri hamil, dia akan dibebaskan, tapi sebelum itu Noah akan memastikan Widuri mengalami gangguan jiwa permanen.
“Aku sangat membenci keberadaan pengkhianat sepertimu!” kata Nancy begitu dia tiba di ruang penyiksaan lainnya, dimana di ruangan itu terdapat seorang pria, yang mana pria itu dulunya adalah pengacara keluarganya, tapi demi uang dan kekayaan dia rela mengkhianati keluarganya.
Swush... Baaamm...
Nancy menggunakan tinjunya untuk mulai menyiksa pria yang tidak bisa bergerak atau bersuara, dikarenakan tubuhnya terikat kuat, sedangkan mulutnya disumpal kain.
Aaaaargh...
Suara erangan kesakitan tertahan terdengar dari pira, yang baru saja terkena pukulan Nancy tepat di wajahnya. Jelas pukulan Nancy sangatlah menyakitkan, terbukti dari bekas pukulannya yang meninggalkan luka cukup parah. Dari wajah, kini pukulan Nancy tertuju pada dada pria itu, dan saat pukulan Nancy yang begitu kuat mengenai dada pria itu, jelas terdengar suara retakan, yang berasal dari dada pria itu.
Nancy yang ingin mendengar teriakan kesakitan pria yang sedang dia siksa, dia membuka sumpalan kaian yang menutupi mulut pria itu, lalu setelahnya dia begitu saja mematahkan kedua tangan pria itu dalam sekali gerak. “Aaaaargh... tanganku!” teriak pria yang kini tidak lagi bisa menggerakkan kedua tangannya.
Sayangnya siksaan yang dilakukan Nancy padanya tidak berakhir sampai di situ. Dikarenakan setslah pria itu berteriak, secara bertubi-tubi dan menggunakan seluruh kekuatannya, Nancy memberi pukulan di wajah dan dada pria itu.
Bugh.... Bugh... Bugh... Bugh...
Pria itu mengalami luka yang sangat serius, tapi dia belum mati. Nancy hanya memberinya luka di tempat yang jauh dari titik bahaya, jadi pria itu masih memiliki kesempatan hidup untuk beberapa waktu ke depan.
“To-tolong a-ampuni aku, dan ma-maafkan kesalahanku! A-aku masih memiliki anak dan istri, ya-yang membutuhkan nafkah dariku!” Susah payah pria itu berkata demi mendapatkan maaf dan pengampunan dari Nancy.
“Hmmm!... sayangnya aku tidak memberi maaf dan pengampunan pada pengkhianat sepertimu, dan aku sama sekali tidak peduli dengan keadaan keluargamu!” Memasang kuda-kuda kuat, dengan gerakan yang begitu cepat dan kuat, dia mengarahkan tendangan, yang mengarah ke arah kepala pria di hadapannya.
Baaamm... Krak...
Setelah terkena tendangan yang tepat mengenai kepalanya, pria di hadapan Nancy tidak lagi bicara. Bagaimana dia bisa kembali bicara, saat lehernya patah, dan tidak lagi ada napas yang keluar masuk mengisi paru-parunya.
Pria itu bisa dinyatakan mati, dan dia mati hanya dengan sebuah tendangan kuat yang dilakukan oleh Nancy. Meski itu hanya tendangan yang terlihat biasa-biasa saja, tapi tendangan itu memiliki kekuatan sepuluh kali lebih kuat, dibandingkan tendangan orang terkuat di Bumi.
Nancy tidak mengatakan apapun setelah memastikan kematian pengacara yang telah mengkhianati keluarganya. Dia juga tidak terlihat gemetaran, meski baru saja membunuh seseorang untuk pertama kalinya. Dengan santainya dia berjalan menghampiri Noah, lalu dia begitu manja memeluk lengan pria yang begitu dia cintai.
Setelahnya keduanya pergi meninggalkan ruang penyiksaan, dan membiarkan para penjaga membereskan mayat pria, yang sebagian oragan dalamnya masih bisa ditukarkan dengan uang.
......................
__ADS_1
Siang hari saat matahari tepat berada di atas kepala.
Noah saat ini sedang berkumpul dengan seluruh kekasihnya di kolam renang, yang ada di Mansion keluarganya Milito. Selain ke-enam kekasihnya, ada juga Ellina, calon ibu mertua Noah yang saat ini sedang asik bermain dengan Jihan. Berada di dekat kolam renang, tentu saja Noah saat ini sedang menikmati pemandangan indah, saat ke-enam kekasihnya berenang dengan lincahnya kesana-kemari, dengan menggunakan pakaian renang, yang membuat Noah bisa puas menikmati keindahan tubuh mereka.
“Apa kamu masih tahan dengan semua keindahan itu dan tidak ingin buru-buru menikmatinya?” tanya Ellina yang tahu arah pandangan Noah.
“Aku masih memiliki sedikit pertahanan, tapi aku tidak tahu sampai kapan pertahanan itu mampu menahan godaan bertubi-tubi yang diberikan mereka!” jawab Noah, dan dia menoleh untuk menunjukkan senyuman pada calon ibu mertuanya.
“Tidak perlu menikah lebih dulu untuk membobol mereka satu persatu! Mereka adalah milikmu, dan jelas aku melihat mereka sama sekali tidak keberatan melakukan semua itu denganmu!” kata Ellina sambil membenarkan posisi kain tipis yang menutupi bukit kembarnya, dan semua itu tidak lepas dari pandangan Noah.
Noah segera melihat ke arah lain, dikarenakan dia tidak ingin dicap sebagai calon menantu kurang ajar oleh Ellina. Padahal, Ellina sengaja melakukan semua itu supaya Noah bersikap agresif pada para kekasihnya, dan setidaknya siang ini dia ingin melihat salah satu dari mereka berhasil dibobol Noah.
“Rasanya sedikit aneh jika melakukan semua itu sebelum resmi menjadi suami-istri!” ungkap Noah.
“Tidak ada yang aneh jika kamu ingin melakukan semua itu saat ini juga! Yang aneh itu jika kamu justru tidak tergoda keindahan tubuh mereka, dan tidak ingin segera melakukan penyatuan dengan mereka!” kata Ellina, dan lagi dia semakin memperlihatkan belahan bukit kembarnya, untuk semakin membakar g4irah yang dimiliki Noah.
Belum sempat membalas, Ellena dan Sasa datang menghampiri Noah, “Sayang, apa kamu bisa ikut dengan kami?” tanya Ellena yang begitu saja duduk di pangkuan Noah, dan dia bisa merasa jika ada sesuatu yang begitu besar, mengganjal di bawah sana.
Noah terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Ellena, tapi cepat dia berhasil kembali menguasai dirinya, dan segera dia menjawab pertanyaan Ellena, “Baiklah, aku akan ikut kemanapun kalian pergi!” kata Noah, dan setelahnya Ellena bangkit, lalu dia bersama Sasa bersama-sama menyeret Noah.
Wanita lainnya hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Ellena dan Sasa. Dalam diam mereka berharap Ellena dan Sasa berhasil menjadi wanita seutuhnya, baru setelahnya giliran mereka. Mereka sudah tidak sabar melakukan semua itu, jadilah mereka yang akan memaksa Noah melakukan dengan mereka.
Sementara itu, Noah saat ini diseret masuk ke dalam kamar oleh Ellena dan Sasa. Melihat kedua wanita mengunci pintu kamar lalu mulai menanggalkan seluruh pakai mereka yang sudah basah, Noah bisa menebak apa yang diinginkan keduanya.
“Sayang, kamu cukup menikmati apa yang kami berikan padamu!” kata Ellena dengan tubuh polosnya, lalu dia mendorong Noah, membuat Noah terduduk do pinggiran tempat tidur.
Begitu Noah terduduk, Ellena segera berjongkok tepat di hadapan Noah, atau lebih tepatnya berjongkok diantara kedua kaki Noah. Sedangkan Sasa, dia naik ke atas ranjang, dan saat ini memeluk tubuh Noah dari arah belakang.
Noah bisa merasakan bukit kembar milik Sasa yang bersentuhan dengan punggungnya. Rasanya begitu hangat, dan dia begitu ingin menyentuhnya. Namun, belum juga menyentuh apa yang ingin dia sentuh, di bawah sana ada yang sudah menyentuh bagian bawah tubuhnya, yang biasanya tersembunyi diantara kedua kalinya.
Melihat apa yang dilakukan Ellena, Niaht tersenyum tipis melihat Ellena yang sedang mengurut bagian bawahnya. Ellena terus saja melakukan itu, sambil sesekali dia menjilati bibirnya sendiri.
“Syang, kami milikmu, dan selamanya hanya milikmu!” bisik Sasa, dan dengan nakal dia menggigit telinga Noah.
“Syang, apa kamu ingin menyentuh bagian ini dan ini?” tanya Ellena sambil menunjuk bergantian kedia bukit kembarnya. Itu besar dan menggiurkan, membuat Noah langsung saja memegang keduanya.
Memegang sesuatu yang membuatnya merasa ketagihan ingin terus memegangnya, Noah disodorin bukit kembar lainnya, yang mana itu adalah milik Sasa. Ukurannya sama, dan sama-sama membuat ketagihan saat dipegang.
‘Aku sekarang mengerti kenapa para pria senantiasa ingin menyentuh bukit kembar, yang berukuran besar. Rasanya benar-benar membuat ketagihan!’ batinnya.
Terus saja Noah memainkan bukit kembar milik Sasa dan Ellena secara bergantian, dan dia sama sekali tidak merasa bosan melakukannya.
__ADS_1
......................
Bersambung.