
Selesai melakukan sarapan pagi bersama, yang tentunya tidak dihadiri Jane dan Nancy yang menikmati makan pagi mereka di kamar, Noah pagi ini berencana mengunjungi restoran mewah, yang belum lama ini menjadi miliknya. Blue Sky Restaurant, nama restoran yang telah berganti kepemilikan menjadi milik Noah, dan nantinya Noah akan menyerahkan pengelolaan restoran pada Nancy.
“Dia bermimpi memiliki sebuah restoran, dan aku akan mewujudkan apa yang menjadi impiannya! Semoga dia senang dengan kejutan dariku!” kata Noah didalam mobilnya, sambil fokus mengemudikan mobil yang saat ini melaju di tengah keramaian jalanan ibukota.
Broom... Broom...
Tidak lama akhirnya Noah sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Sebelun keluar dari mobil begitu sampai di parkiran restoran, dia lebih dulu menghubungi manajer restoran, “Aku sudah ada di parkiran, dan akan masuk untuk melihat restoran!” dia mengirim pesan ke manajer restoran.
“Dengan senang hati saya menyambut kedatangan Tuan Muda!” balas pesan yang dikirim manajer restoran, dan setelahnya Noah keluar dari mobilnya. Hal yang pertama dilihatnya begitu keluar dari mobil adalah keadaan parkiran yang rapi dan bersih, cukup memberi nilai lebih restorannya jika dilihat dari luar.
“Bersih, rapi, serta tanaman yang terawat dengan baik, cukup memuaskan!” gumam Noah, lalu dia berjalan menuju pintu keluar masuk restoran.
“Selamat datang Tuan Muda di Blue Sky Restaurant!” sambutan karyawan yang bertugas sebagai penjaga pintu. Ada empat karyawan bertugas sebagai penjaga pintu, dan masing-masing dari mereka bekerja selama 3 jam setiap harinya.
Noah hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia bergegas masuk kedalam restoran. Suasana restoran belum terlalu ramai, dikarenakan memang baru saja buka.
Selanjutnya Noah pergi berkeliling melihat-lihat keadaan restoran. Ini kali pertama Noah mengunjungi restorannya, yang ke depannya akan dikelola Nancy. Meski baru kali pertama berkunjung, semua yang bekerja di restoran sudah mengetahui siapa sosok Noah, yang saat ini sedang melihat-lihat keadaan restoran.
Sekilas restoran terlihat dalam keadaan baik, tapi mata jeli Noah melihat beberapa hal yang harus segera diperbaiki demi kenyamanan pelanggan restoran. Namun itu hanya perbaikan minor, sedangkan untuk keseluruhan keadaan restoran masih dalam keadaan baik, dan tidak perlu melakukan renovasi besar-besaran.
“Begitu Nancy mengelola tempat ini, aku akan memperketat penjaga di tempat ini!” gumamnya.
Sampai di bagian restoran yang bertema luar ruangan, keadaan di sekitar Noah masih sangat sepi, dan hanya terlihat pekerja yang sedang melakukan pembersihan. Di kejauhan sebenarnya Noah sudah melihat keberadaan manajer restoran, tapi dia masih ingin menyelesaikan apa yang sedang dilakukan sebelum nantinya pergi menemui orang itu. Setelah puas berkeliling dan memastikan tidak adanya sesuatu yang memerlukan renovasi besar-besaran, Noah akhirnya menghampiri manajer restoran yang tersenyum saat menyambut kedatangannya.
Nina, wanita bersuami dengan dua orang putri, wanita itu adalah manajer restoran, yang kini telah menjadi milik Noah. Pekerjaan Nina yang sangat baik selama beberapa tahun menjadi manajer restoran, membuat Noah tidak memiliki niatan menggantinya dengan orang baru.
Dia tetap akan memperkerjakan Nina, dan mungkin nantinya Nina bisa menjadi asisten Nancy. Melihat usia Nina yang lebih dewasa tiga sampai empat tahun dari Nancy, Noah merasa jika Nina sangat tepat dijadikan seorang asisten, jika nantinya Nancy membutuhkan seorang asisten. Namun untuk saat ini Nina akan tetap menjadi manajer restoran, dikarenakan Nancy memang belum membutuhkan seorang asisten.
Begitu berhadap-hadapan dengan Noah, Nina mempersilahkan Noah masuk ke ruangan yang biasanya ditempati pemilik restoran saat datang mengunjungi restorannya. Ruangan yang mewah dan elegan, sekarang ruangan itu untuk sementara waktu akan menjadi milik Noah, sebelum nantinya akan menjadi milik Nancy.
Di dalam ruangan, Niah dan Nina melakukan pembicaraan santai, membahas ada tidaknya permasalahan yang sedang dihadapi Blue Sky Restaurant. Untuk saat ini memang tidak ada masalah yang, yang mengganggu operasional Blue Sky Restaurant, tapi Noah merasa masalah akan datang setelah restoran dikelola oleh Nancy. Itu bukan masalah yang berhubungan langsung dengan restoran, tapi masalah itu ada karena Nancy nantinya akan menjadi bagian dari keluarga Ludwing.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Nina, dan menyuruh Nina kembali bekerja, Noah bermaksud pergi meninggalkan restoran, tapi baru juga keluar dari ruangannya, dia bertabrakan dengan seorang wanita.
Wanita itu hampir saja jatuh kalau saja Noah tidak keburu memegang pinggangnya. Dengan mudahnya Noah membantu wanita itu berdiri, dan memastikan wanita itu tidak terluka. Apa yang baru saja terjadi murni kesalahan wanita yang berjalan sambil bermain ponsel, dan kare tidak melihat ke arah depan akhirnya wanita itu menabrak Noah, yang baru keluar dari ruangannya.
“Nona, lain kali jangan bermain ponsel sambil berjalan!” kata Noah memberi nasehat singkat.
Wanita yang telah dibantu Noah menganggukkan kepala, lalu dia bicara, “Maaf, dan terimakasih karena sudah menolongku!” Usai mengatakan itu, dia begitu saja pergi tanpa melihat wajah pria yang telah membantunya, tapi Noah jelas kelihatan seperti apa wajah wanita itu.
Mengabaikan keberadaan wanita yang begitu saja pergi setelah berterimakasih atas bantuannya, Noah segera saja pergi ke parkiran, tepatnya ke tempat dia memarkirkan mobilnya.
Sementara itu, di dalam restoran seorang wanita baru saja duduk di salah satu tempat duduk, dan di hadapannya terdapat seorang wanita yang sedang menikmati minuman hangat di pagi hari menjelang siang. “Apa telah terjadi sesutu sampai wajahmu terlihat begitu jelek, padahal pagi ini cuaca begitu cerah?” tanya wanita, yang baru saja meletakkan cangkir berisi minuman.
“Aku baru saja mendengar kabar jika ada yang mengusik bisnis kosmetik yang aku jalani, dan yang mengusik bisnisku adalah perusahaan milik Eden!” kata wanita, yang mana dia adalah Prilly. Sedangkan wanita yang sedang menikmati secangkir minuman hangat berwarna hitam, dia adalah Vita.
Keduanya pagi-pagi tadi baru saja sampai, dan mereka sudah mbuat janji bertemu di restoran, yang beberapa bulan lalu mereka pernah mengunjungi restoran ini. Jika beberapa bukan lalu mereka berkunjung bersama Miller, kali ini mereka hanya berdua.
“Pria itu adalah rekan kita, tapi dalam beberapa waktu terakhir, dia senantiasa membuat kita merugi, dan dia senantiasa tidak merasa bersalah saat kita mengajukan protes. Jujur saja, aku sudah muak menjalin hubungan dengannya, dan hari ini juga aku akan memutus seluruh hubungan bisnis yang terlalu banyak memberi keuntungan padanya!” kata Prilly, yang mana barusan dia menghubungi asistennya untuk mengurus pemutusan semua hubungan kerja dengan perusahaan milik Eden.
Mendengar itu Prilly langs saja bicara, “Aku bukan hanya mengatakan omong kosong, tapi aku sudah mengambil tindakan nyata!” Dia menunjukkan percakapan dengan asistennya pada Vita, sedangkan Vita yang melihat semua itu, dia tersenyum sangat puas karena bukan hanya dirinya yang telah memutuskan keseluruhan hubungan kerja dengan Eden.
Setelah tahu Eden kembali mengusik bisnis yang dijalaninya, saat itu juga Vita mengambil keputusan, memutus seluruh hubungan kerja, yang nyatanya selama ini hubungan kerja itu terlalu banyak memberi keuntungan pada Eden, dan keuntungan yang didapatnya tidaklah seberapa banyak.
Saat Vita ingin mengatakan sesuatu pada Prilly, tidak sengaja dia melihat ke arah luar restoran, yang mana tempatnya duduk saat ini tidak terlalu jauh dari area parkir, terutama area parkir kendaraan khusus, yang dipenuhi kendaraan mewah, ataupun kendaraan pemilik dan manajer restoran.
Melihat ke arah parkir, tidak sengaja Vita melihat pria yang sedang berjalan ke arah mobil sport. Wajah pria itu jelas tidak asing baginya, dikarenakan beberapa hari terakhir ini dia terus saja mencari petunjuk tentang oria itu, tapi tiba-tiba kerutan muncul di keningnya, setelah dia melihat pakai yang dikenakan pria itu. “Bukannya itu pakaian yang sama seperti pria yang sebelumnya aku tabrak, dan membantuku untuk tidak sampai terjatuh?” ujar Vita, membuat Prilly yang mendengarnya, dia segera mengarahkan pandangan ke arah yang dipandang Vita.
“Vita, bukannya dia orang yang sedang kita cari-cari? Dia sepertinya baru saja dari restoran ini, dan aku yang sudah sendari tadi di tempat ini tidaklah menyadari keberadaannya!” Prilly kecewa pada dirinya sendiri karena dia tidak menyadari keberadaan pria yang saat ini berada di parkiran, yang mana pria itu adalah Noah.
“Hei Prilly, wajar jika kamu tidak menyadari keberadaannya di tempat ini karena bagaimanapun juga restoran ini sangatlah luas, tapi aku tadi jelasje bertabrakan dengannya, dan karena terlalu fokus pada layar ponselku, aku benar mengabaikannya, dan begitu saja pergi setelah sekedar mengucapkan terimakasih padanya!” kata Vita dengan tersenyum kecut, dikarenakan dia telah menyia-nyiakan pertemuan dengan pria yang begitu ingin dia temui.
“Sepertinya kita belum ditakdirkan bertemu dengannya!” kata Prilly setelah mendengar apa yang di katakan Vita, dan pandangan matanya terus saja tertuju pada mobil sport yang perlahan meninggalkan area parkir restoran, dan selanjutnya entah pergi kemana.
__ADS_1
“Kau benar, kita memang belum ditakdirkan bertemu dengannya!” kata Vita setelah tidak lagi melihat keberadaan mobil Noah.
Setelah kekecewaan mereka karena gagal bertemu Noah, mereka kembali fokus pada tujuan utama mereka melakukan pertemuan. Tentu saja pertemuan mereka adalah untuk membahas bisnis. Bukan bisnis dunia bawah, melainkan bisnis perlengkapan militer, yang selama ini cukup banyak memberi keuntungan pada mereka, apalagi setelah perusahaan mereka bekerjasama dengan perusahaan yang akhir-akhir ini mengeluarkan banyak inovasi pada senjata yang di produksi.
“Prilly, apa kamu sudah mengetahui siapa sebenarnya pemilii perusahaan yang saat ini sedang bekerjasama dengan kita?” tanya Vita.
Vita sudah menyelidiki pemilik perusahaan itu, bahkan dia sudah mengerahkan seluruh ahli IT terbaiknya, tapi pencarian tidak membuahkan hasil. Oleh kare itu dia mutuskan bertanya pada Prilly, berharap sahabatnya itu sudah memiliki jawaban dari pertanyaannya.
“Aku juga belum mengetahui siapa pemilik perusahaan itu! Tiap kali ahli IT yang aku miliki mencoba mencari identitas orang itu, yang ada peralatan mereka meledak!” kata Prilly mengatakan apa yang telah dialaminya.
Vita menghela napas panjang setelah mendengar apa yang dikatakan Prilly, lalu dia bicara, “Entah kenapa aku merasa identitas pemilik perusahaan itu, sama dengan identitas Tuan Muda keluarga Ludwing! Hal yang sama juga di alami ahli IT yang aku miliki, saat mereka mencari semakin jauh informasi yang berhubungan dengan Tuan Muda keluarga Ludwing.”
Kedua mata Prilly terbuka lebar secara sempurna, setelah dia mendengar apa yang dikatakan Vita. Dia benar-benar baru sadar jika hal yang sama juga pernah dialaminya, saat dia juga sedang mencari tahu informasi penting tentang Tuan Muda keluarga Ludwing.
“Kemungkinan besar pemilik perusahaan itu adalah Tuan Muda keluarga Ludwing! Aku memiliki keyakinan sebanyak 80 persen, dan bahkan lebih dari itu,” ungkap Prilly.
Keduanya memiliki keyakinan yang sama, tentang pemilik perusahaan, yang menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka. Namun, saat mereka ingin membahas lebih lanjut tentang semua itu, mereka sama-sama mendapatkan pesan dari Eden, yang mana pesan itu berisikan kemarahan pada mereka yang secara bersamaan telah memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan milik Eden.
Menanggapi kemarahan Eden, keduanya hanya tersenyum secara bersamaan, dan tidak ada satupun dari mereka yang berniat membalas pesan Eden, sekalipun mereka sudah membuka dan membaca pesan pria itu.
Dibandingkan membalas pesan Eden, mereka justru fokus memutuskan sisa-sisa hubungan yang terjalin antara mereka dengan Eden. Mulai hari ini mereka tidak lagi ingin ada hubungan apapun dengan Eden, dan mereka sama sekali tidak takut dengan ancaman Eden, yang akan menyerang kelompok Mafia mereka, jika memutuskan seluruh hubungan dengannya.
“Aku telah memutuskan seluruh hubungan dengannya dalam semua bidang! Sekalipun dia memberi ancaman terbuka padaku, aku sama sekali tidak peduli dengan semua itu! Berani dia macam-macam denganku, aku tidak akan segan-segan menghancurkannya!” kata Prilly tegas.
Vita tentu saja tidak akan membiarkan Prilly bersenang-senang seorang diri. Dia tentunya ingin ikut bersenang-senang saat sahabatnya itu ingin menghancurkan Eden. Dia sudah sangat lama ingin menghancurkan Eden, yang sudah banyak memberi kerugian padanya, tanpa ada niatan baik bertanggungjawab, ataupun meminta maaf.
“Kamu tidak akan sendirian menghadapi orang itu! Aku akan berada di sisimu, dan bersama-sama kita akan menghancurkannya!” Vita sangat bersemangat menghancurkan Eden, meski di masa lalu mereka adalah sahabat. Sedangkan untuk Miller, keduanya tahu jika Miller juga membenci Eden dalam diam, dan tidak sulit bagi mereka menarik Miller, untuk berada di pihak mereka.
......................
Bersambung.
__ADS_1