
.
.
“Master!”
Lino menoleh pada Hanna “Kenapa lagi?”
Hanna memperlihatkan satu crepe yang belum dia makan, Lino menatapnya bingung “Ini untukku?”
“Bukan!”
“Terus?”
“Keluarkan Foxy! Aku ingin berbagi crepe dengannya”
Lino menghela nafas lelah “Kau ini.. masternya sendiri malah tidak dibelikan”
“Master suka crepe?”
“Aku lebih suka yang pisang dari pada strawberry” kata Lino, kebetulan yang Hanna pegang itu memiliki isian strawberry.
Lino mengeluarkan Foxia.
“MASTER!!” Xia segera menghambur memeluk Lino setelah keluar dari cincin.
“Hati-hati Xia, kalau kita jatuh dari atas gedung ini gimana?” protes Lino. Dia dan Hanna masih duduk ditepi gedung, jadi kemungkinan jatuh itu sangat besar. Meski bahaya begitu, duduk di tepi atap sangat asyik, apalagi pemandangannya juga sangat indah.
“Jangan khawatir, aku bisa menolong master” Xia
“Foxy! Coba crepe ini... kau pasti suka” kata Hanna setelah Xia duduk di antara Lino dan Hanna. Dia terlihat senang menerima crepe itu “Apa ini? Imutnya! Woah.. enak! Kebetulan aku sangat lapar, hehe”
Lino mengangkat tangannya untuk menyentuh rambut Xia yang sangat halus, dia juga menyentuh telinga rubahnya, lembut...
“Master geli!” Xia terkikik geli saat Lino menyentuh telinganya.
Lino berhenti menyentuh telinganya, kini tangan jahil itu beralih membelai ekornya, tidak kalah halus dan lembut dengan bulu-bulu Alpha.
“Master aku juga mau diusap seperti itu!” protes Hanna, dia kemudian berdiri lalu duduk di sebelah Lino yang lain.
“Baiklah..” Lino membelai rambut Hanna, rambutnya juga halus.
Jika begini, Lino jadi merasa seperti punya dua pacar. Padahal kenyataannya mereka berdua itu harusnya peliharaan kan?
Tapi Lino sangat menyayangi mereka berdua, tidak peduli mereka bukan manusia, monster ataupun binatang. Meski jarang mempedulikan sekitarnya, Lino juga memiliki tempat di sudut hatinya yang mudah luluh dengan sesuatu yang manis dan imut.
Hanna sangat cantik dan manis, sedangkan Xia cantik, imut dan menggemaskan... lalu Alpha dalam bentuk siberian huski juga imut dan menggemaskan. Lino menyukai semuanya, Lino menyayangi semuanya. Walau dalam kasus Alpha agak berbeda.
Dalam momen-momen indah dan hangat seperti ini, tiba-tiba ada suara telfon yang mengganggu.
Mau tak mau Lino mengangkatnya, ternyata Bagas “Iya tuan Bagas?”
“Lino? Kau dimana? Ada pintu Dungeon yang aneh tiba-tiba muncul”
“Lalu? Timku tidak bisa, kan yang lain sekolah”
“Pintu itu dicurigai sebagai pintu dengan tingkat bahaya level S. Belum ada guild yang berani menghadapinya”
“Bagaimana dengan guild-guild besar itu? Pintu A+ tidak berani, pintu S juga tidak berani, mereka niat gak sih?”
“Lino tenang dulu... aku hanya ingin memintamu untuk memeriksa pintu itu terlebih dahulu, baru setelahnya melapor apa yang ada di dalamnya, dengan begitu kita bisa merencanakan bagaimana menghadapinya”
__ADS_1
Lino menghela nafas lagi, untuk entah yang keberapa kalinya hari ini. Kebahagiaannya tidak akan berkurang kan?
Dia sudah menduga dia hanya dimanfaatkan oleh asosiasi, pintu tingkat S tidak banyak muncul di negara ini, tapi tiap kali muncul mereka langsung panik dan saling tunjuk untuk memasukinya. Karena itu guild besar hanya akan langsung maju jika pintunya level A.
Ada sih guild besar yang berani mengambil pintu level S, itupun karena mereka memiliki pemburu rank S lebih banyak, kalau tidak salah itu guild di Jakarta dan Surabaya... ada satu lagi tapi Lino lupa kota mana, antara Bandung atau Semarang, Lino tidak yakin.
Dia hanya manusia biasa yang mudah lupa.
“Lino? Hanya kau satu-satunya harapan kota Malang ini, tidak mungkin kita meminta bantuan kota lain kan?”
Tentu saja mereka mengharapkan Lino yang sudah dicap sebagai pemburu yang dapat mengalahkan naga, dragon slayer atau dragon killer... entah apa.
Yang pasti, Lino juga tidak suka menjadi pengecut dan mencoreng julukannya sebagai pembunuh naga.
Lagipula ada cincin penjinak, dia pun punya sistem, tidak ada yang harus ditakuti.
Dan lagi... Lino sudah punya tiga monster level SS bersamanya.
“Bagaimana jika ternyata aku bisa menakhlukkan dungeon itu sendirian?”
Bagas tertawa di sebrang telfon, padahal Lino sedang serius “Kalau kau bisa melakukannya, kau akan langsung terkenal... tapi, jangan membahayakan diri sendiri, hanya karena kau telah mengalahkan naga, jangan sampai kau terlalu sombong dan menganggap remeh sebuah dungeon level S”
Bagas benar, Lino juga tau itu... masalahnya, Bagas kan taunya Lino sendirian.
“Aku bersama Hanna kok, kami berdua mungkin bisa saja mengalahkannya, kirimkan alamatnya, saya akan segera kesana”
“Baiklah, mohon bantuannya Lino”
***
Tempatnya ada di dalam hutan yang berada di pinggiran kota, Lino tidak mau mengambil resiko motor sport mahalnya dicuri orang, jadi dia menyimpannya di kotak penyimpanan sistem. Untungnya penyimpanan sistem bisa menyimpan apa saja, sebesar apapun ukurannya.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan pintu dungeon yang dimaksud, pintu tersebut bukan berwarna putih, biru atau ungu... namun warnanya sudah merah.
Jadi bisa dibilang, Lino yang pertama melihat dungeon ini, untung letaknya di dalam hutan yang jarang dimasuki manusia.
“Master...” Hanna merapatkan pegangannya pada lengan Lino.
“Kenapa? Kau takut? Apa dungeon ini sangat berbahaya?”
Hanna menggeleng “Aku tidak tau tapi, rasanya familiar dan juga – perasaanku agak buruk”
“Apa maksudmu?”
Hanna menggeleng lagi “Bisakah kita tidak memasukinya?”
Lino tersenyum kecil lalu mengusap kepala Hanna dengan lembut “Tenang saja, kita akan baik-baik saja... kalau kau takut aku bisa memanggil Xia atau Alpha saja”
“Aku tidak takut! Baiklah, ayo masuk”
“Kau yakin?”
Hanna diam sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
Lino meraih tangan Hanna dan menggenggamnya erat “Aku akan melindungimu” kata Lino, meski dia tau Hanna jauh lebih kuat darinya, namun dia yakin dia bisa melindungi Hanna.
Merekapun memasuki pintu tersebut. Hal pertama yang dapat Lino lihat adalah pemandangan serba hijau.
Ini seperti hutan impian, semua tanaman tumbuh sangat subur, pepohonan tinggi, bunga berwarna-warni, rumput-rumput liar, tanaman yang merambat.
Semuanya terlihat indah.
__ADS_1
Namun Lino tau ia tidak boleh terpesona dan malah menurunkan kewaspadaannya. Ini dungeon tingkat S, sangat berbahaya.
SRET
“Master!”
Kejadiannya sangat cepat, mungkin hanya dalam hitungan detik, Hanna ditarik menjauh dari Lino. Tiba-tiba saja sebuah pasukan yang terlihat seperti peri bunga berada tepat didepan Lino, mirip dengan penampilan Hanna saat pertama kali Lino lihat.
Rambut mereka hijau, mereka bisa melayang, warna mata mereka merah atau ungu, kulit mereka pucat, memiliki taring, dan yang pasti pakaian mereka sangat indah, tubuh mereka kecil.
Seperti peri.
Mereka menahan Hanna dalam kurungan berwarna putih.
Salah satu dari mereka yang terlihat seperti pimpinan mereka maju mendekati Lino, dia mengeluarkan sulur yang terlihat tajam untuk menyerang Lino.
Lino yang tidak siap hanya bisa mengelak dan mengindari serangan itu.
Sepertinya mereka adalah peri bunga sama seperti Hanna, bisa dibilang saudara Hanna? Jika seperti ini, mana mungkin Lino melawan mereka?
Lino tidak bisa membantai mereka di depan mata Hanna.
Jadi dia hanya akan melawan seperlunya saja.
Lino mengeluarkan pisau putih hadiah dari gacha, dia berusaha menghindar dan memotong semua sulur yang mengarah padanya.
Dia terus seperti itu hingga pemimpin pasukan tersebut merasa kualahan.
“Lawan aku dengan benar manusia! Kau berani menculik putri kami tapi ternyata kau pengecut!”
Lino terkejut saat ucapan monster tersebut dapat ia mengerti, namun karena keterkejutannya dia jadi tergores sulur tajam itu.
“Aasshh – aku tidak menculiknya!”
Cukup sudah, Lino tidak suka dituduh-tuduh seperti ini!
Linopun maju untuk menyerang pemimpin pasukan tersebut dengan membabi-buta, mungkin Lino tidak terlalu mahir dalam bela diri, tapi dia tau bagaimana cara bertarung.
“HENTIKAN!!”
Baru saja Lino sudah sedikit lebih unggul karena berhasil menodongkan pisaunya pada pemimpin pasukan, tinggal sedikit lagi Lino bisa menggoresnya.
Namun suara keras itu menghentikannya.
Dia terlihat jauh lebih kuat dari pemimpin pasukan yang sedang Lino lawan, bahkan Lino bisa merasa jika jauh lebih kuat dari Hanna. Lino sampai merasa tertekan hanya karena dia mendekat, seolah sebuah kekuatan besar sedang berusaha menekannya, sampai pisau yang Lino pegang jatuh begitu saja ke rerumputan.
“AARRRGGHHH”
Lino juga tiba-tiba jatuh berlutut di depan peri bunga paling kuat tersebut.
“AYAH HENTIKAN!! JANGAN SAKITI MASTER!!”
Teriakan Hanna barusan membuat Lino makin terkejut.
Jika yang dihadapinya ini ayahnya Hanna berarti.... Raja? Perlahan Lino mengangkat kepalanya menatap Raja tersebut.
Dia menatap Lino dengan tatapan garang.
Astaga, apa Lino bisa keluar hidup-hidup dari sini?
.
__ADS_1
.