
.
.
Lino membawa Rin ke apartemennya, saat itu semuanya sedang berkumpul disana. Ada Luna, Felly, dan Alpha yang memasak makan malam, ada Ara yang sedang menunjukkan cara membuat gelembung dengan sihir air sementara Sam, Xia, Randy dan Sky menontonnya. Hanna dan Darko tadi sih sedang ke supermarket.
“Dia siapa?” pertanyaan sederhana dari Sam yang melihat Lino pulang membawa seorang gadis dalam keadaan kotor dan penuh bercak darah, membuat penghuni lain tertarik dan ikut menoleh.
“Eum.. kenalkan semuanya, ini Rin dia –” ucapan Lino terhenti saat pintu apartemen kembali terbuka memperlihatkan Hanna dan Darko yang baru pulang membawa barang belanjaan.
Hanna menatap Rin dengan tatapan menyelidik, kemudian menatap Lino meminta penjelasan.
“Rin, kau membersihkan dirimu dulu” pinta Lino
“Dimana?” tanya Rin, tapi dia sudah berjalan mendekati salah satu pintu, kebetulan itu kamar Lino, dia kemudian masuk begitu saja seakan sedang berada di rumahnya sendiri.
Mereka kembali menatap Lino meminta
penjelasan.
“Aku hanya menyelamatkan dia dari seekor naga, jika aku tidak membawanya kemari, mungkin dia sudah jadi abu” kata Lino.
“Dari mana kak Lino menemukan dia?” tanya Luna.
“Dari gacha” jawab Lino singkat, dia kemudian duduk di sofa di samping Xia.
“Aku dulu juga dari sana kan?” tanya Xia
“Benar – aku tidak mengerti kenapa bisa mendapatkan manusia yang juga seorang pemburu.. tapi bukankah ini hal yang bagus? Maksudku aku menyelamatkannya dari kematian – kasusnya sama sepertiku dulu, tiba-tiba seekor naga muncul dan mengacau, aku dulu bisa selamat karena ada Hanna, dia juga seperti itu” kata Lino.
Pada akhirnya mereka memilih menerima Rin disana dan melanjutkan aktifitas mereka, Lino tau Hanna dan Luna terlihat tidak begitu senang, tapi mau bagaimana lagi? Lino juga tidak mengerti kenapa Karina yang muncul saat dia memutar gacha? Padahal Lino pikir dia akan mendapatkan monster baru seperti Xia, atau senjata luar biasa, atau mungkin suatu skill yang sangat berguna.
Tapi dia malah menyelamatkan seseorang yang dia tidak kenal sama sekali.
Rambut pirang... Felly sekarang juga memiliki rambut pirang tapi rambut pirang milik Rin mengingatkan Lino tentang mimpi anehnya. Apa mungkin mimpi itu suatu pertanda jika Lino akan menyelamatkan Rin? Karena pria tampan dalam mimpi Lino memiliki rambut pirang yang sama dengan Rin.
Makan malam sudah siap, Rin keluar dari kamar Lino mengenakan hoodie milik Lino yang masih belum dipakai, hoodienya sangat besar hingga tubuh ramping Rin terlihat seakan tenggelam di dalamnya.
Tidak seperti biasa, mereka semua diam saja.
Lino pikir mereka hanya masih merasa canggung dengan Rin, Rin yang tau mereka masih belum bisa menerimanya juga memilih untuk diam dan menghabiskan makanannya.
Setelah makan malam selesai Rin mengatakan pada Lino untuk bicara berdua dengannya, Lino meminta ijin pada Hanna untuk pergi dengan Rin, tapi Hanna ataupun Luna terlihat tidak peduli.
__ADS_1
Jadi Lino memilih untuk pergi saja, membawa Rin ke gedung miliknya, lebih tepatnya kantor. Di ruangan yang luas ini ada kamar tersembunyi juga yang bisa digunakan untuk beristirahat.
“Kau bisa sihir teleportasi juga? Keren!!” kata Rin, kemudian dia berjalan menuju kulkas, membuka pintunya dan seketika matanya berbinar-binar melihat banyak sekali makanan dan minuman disana.
“Ini minuman apa? Bir?” tanya Rin, mengeluarkan botol berisi nexie.
“Bukan, itu nexie... terbuat dari sari madu bunga, nektar, cobalah” kata Lino, dia duduk di sofa, kemudian menyalakan penghangat ruangan. Karena entah mengapa suhu ruangan ini agak dingin.
“Kenapa kau menyalakan penghangat ruangan? Kan jadi panas” protes Rin yang sudah ikut duduk bersama Lino, selain sebotol nexie, Rin juga mengambil beberapa camilan lain seperti mochi, sepotong ice cream cake oreo dan Cheese cake. Dia juga membawa satu kotak susu strawberry berisi 500ml.
“Kau panas? Kenapa aku merasa dingin?” Lino yang merasa aneh akhirnya mematikan penghangat ruangan.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Ku rasa banyak yang harus kita bicarakan” kata Lino kemudian.
Rin yang baru saja meminum nexie terlihat terkejut dengan rasa minumannya, manis... seperti madu, tapi tidak terlalu manis, terasa ringan dan juga segar.
“Aku baru tau ada minuman seperti ini” kata Rin
“Hanna membuatnya sendiri, tidak ada produk seperti itu dipasaran.. kau tidak akan menemukannya dimanapun” sahut Lino.
“Hanna itu yang auranya hijau kan?”
Lino mengerutkan keningnya tapi kemudian dia mengangguk “Iya... dia istriku” kata Lino
Rin menoleh pada Lino tidak percaya “Istri? Tapi.. bukankah dia bukan manusia? Aku bisa merasakan jika dia monster – kau tau, aku memiliki skill untuk merasakan yang mana monster dan tidak. Tapi, ku rasa monster di tempatmu agak berbeda ya? Mereka sepertinya sudah jinak”
“Tidak perlu terkejut begitu, kan setiap pemburu punya skill unik tersendiri, bukankah kau juga begitu? Kau bisa menyelamatkanku dan juga bisa berteleportasi – ku rasa itu jauh lebih mengejutkan dari pada kemampuanku” kata Rin, kemudian dia menyuapi Lino ice cream cake oreo dengan sendoknya.
Setelah itu mereka tidak ada yang berbicara, Rin hanya sibuk makan dan Lino sibuk melamun.
Hingga makanan Rin habis dan dia mulai menancapkan sedotak pada kotak susu, Lino kembali mengatakan sesuatu sambil menatap wajah cantik Rin.
“Sebenarnya skill teleportasi dan yang lain itu hanya tambahan, kemampuanku yang paling utama adalah penjinak monster” kata Lino
“Keren sekali! Itu luar biasa, selain anak lelaki yang berwajah imut itu, semua yang ada di apartemenmu monster semua kan?” tanya Rin.
“Eum.. tidak juga, jika kau bisa melihat warna energi sihir Hanna, kau pasti bisa melihat yang lain juga kan? yang merah, biru, putih, jingga dan hitam pekat itu setengah manusia, lalu yang lain adalah makhluk mistis, atau kasarnya disebut monster” jelas Lino.
“Aku orang baru, kenapa kau langsung mempercayaiku dan mengatakan semua ini?” tanya Rin
Benar juga, kenapa Lino percaya dan mengatakan semuanya?
“Aku...”
__ADS_1
TAK
Rin metakkan kotak susu yang masih sisa setengah itu kembali ke atas meja, lalu Rin mendekat pada Lino, meraih sisi wajahnya dengan kedua tangan lentiknya.
“Apa kau juga merasakannya?” tanya Rin dengan nada agak berbisik, Lino yang bingung bertanya “Maksudmu?”
“Aku merasakan suatu ikatan denganmu, tapi tidak mengerti apa itu.. sepertinya kau juga merasakannya, karena itu mengatakan semuanya padaku, iya kan?”
Kata-kata Rin membuat Lino semakin tidak mengerti.
Rin mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Lino sekilas “Ini tidak buruk.. aku menyukaimu”
“Tunggu, kita baru bertemu beberapa jam yang lalu” Lino mendorong Rin agar tidak terlalu menempel dengannya. Akan tetapi, Rin tidak mau mendengarkan Lino, dia malah memeluk Lino dan menyandarkan kepalanya pada bahu Lino.
“Aku merasa sudah sangat mengenalmu dan kita begitu dekat, apa hanya aku yang merasa seperti itu? Atau aku tertarik padamu karena kau sudah menyelamatkanku?” kata Rin
“Aku tidak tau”
Tapi setelah Rin menyebutkannya, Lino jadi mulai berpikir Rin terasa sangat familiar dengannya.
“Apa kau mau mengatakan rahasiamu? Jika kau mau, aku akan mengatakan suatu rahasiaku juga padamu” kata Rin.
“Eum..” Lino tidak mungkin mengatakan sistemnya, mengingat Rin manusia biasa dan terlebih mereka baru bertemu “Boleh juga, aku dan anggota guildku, yang ada di rumahku tadi... akan berusaha menghentikan semua kekacauan ini agar dunia kembali seperti semula”
Rin mendongak menatap wajah Lino, mencari tau apakah Lino sungguhan mengatakan semua itu... tapi, Lino terlihat serius mengatakannya.
“Sungguh? Apa kau juga tau apa yang sedang terjadi? Karena... aku juga ingin mencari tau – keluargaku entah mengapa di kurung dalam sebuah mansion, di Jakarta sana. Sekarang mansion tersebut tidak akan bisa dirasakan manusia biasa, karena aku masih bagian dari mansion itu, aku bisa merasakannya. Ini sudah bertahun-tahun dan... kekuatan sihir yang mengurung keluargaku begitu kuat, ku pikir jika aku bisa menjadi pemburu dan semakin kuat, aku bisa menyelamatkan mereka” kata Rin.
Lino bisa merasakan kesedihan mendalam pada suara Rin, meski begitu Rin berusaha untuk tidak menangis, mungkin dia juga sudah lelah untuk menangis.
“Jika keluargamu dikurung disana, lalu selama ini kau dengan siapa?” tanya Lino.
“Bersama pamanku, paman Jake dan bibi Layla, pamanku yang mengajariku bahasa Indonesia, kata ibuku orang Indonesia, tapi sudah meninggal saat aku lahir. Yang dikurung di mansion tersebut adalah ayahku dan ibu tiriku. Karena kekuatan sihirnya terlalu besar, segala sesuatu tentang keluargaku seakan ditahan dan semua informasinya dihilangkan dari dunia, pamanku sangat beruntung karena tidak ikut terkurung”
Sekarang Lino mengerti, keluarga manusia yang berhubungan dengan peri roh dan dikurung oleh dewa adalah keluarga dari Rin.
“Rin, jika kau bergabung denganku, mungkin kau bisa menyelamatkan keluargamu, itupun jika kau mau, aku tidak akan memaksa”
Rin bergerak untuk duduk di pangkuan Lino, menempelkan dahinya dengan dahi Lino lalu dia berbisik “Tentu saja aku mau.. apapun akan ku lakukan untuk membebaskan mereka”
“Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu, Rin”
“Aku pikir juga begitu”
__ADS_1
.
.