Sistem Pemburu: Penjinak Monster

Sistem Pemburu: Penjinak Monster
Di bawah sinar rembulan


__ADS_3

.


.


Setelah meminum ramuan pendeteksi sihir hitam, Lino bisa melihat sendiri ada aura hitam menguar dari tubuh Darko. Alpha juga punya tapi jauh lebih sedikit, jika sekarang aura Darko telah berkurang, Lino tidak mengerti lagi bagaimana aura sebelum ini.


“Biasanya yang memiliki sihir hitam sebanyak itu hanya bangsa Iblis tingkat tinggi, namun aku tidak bisa merasakan aura bangsa Iblis dari Darko” kata Alpha


“Iblis? Ada bangsa Iblis juga?” tanya Lino


Alpha mengangguk “Tentu, tapi – hanya itu yang bisa ku katakan, aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini”


“Kalau kau mengatakannya, apa yang akan terjadi?” tanya Lino lagi


“Hmm, mungkin sakit kepala yang luar biasa, atau paling parah bisa langsung mati” jawab Alpha, Lino mengangguk-angguk “Begitu ya.. tidak apa, lagipula, aku akan segera mengetahui kebenaranya”


Lino kembali menatap Darko, Lino pikir mungkin kematian ibu asuhnya masih ada hubungannya dengan sihir hitam Darko. Karena sihir itu tidak terkendali, jadi ibu itu terkena, apalagi kelihatannya Darko tidak menyukai ibu asuhnya.


Lino benar-benar ingin tau apa yang terjadi.


“Buka rantainya, tapi kau masih harus mengawasi Darko, biarkan dia tertidur” kata Lino


“Baik master..”


“Aku akan melihat keadaan Felly”


Saat Lino kembali ke kamar Felly, dia bisa melihat aura sihir tiap orang, seperti Luna yang putih, Sam yang merah, Hanna hijau, Randy tidak ada tapi...


Felly memiliki aura sihir, warnanya kekuningan... atau, orange?


“Bang Lino!” Felly menghambur memeluk Lino erat, Lino membalas pelukannya “Felly baik-baik aja?” tanya Lino, Felly menjawabnya dengan anggukan “Aku sudah baikan, tapi sekarang masih lemes”


Lino membelai belakang kepala Felly lalu mengecup keningnya “Kau harus tidur, istirahatlah, semua akan baik-baik saja sekarang – kalian juga tidurlah, ini sudah malam”


“Aku akan menemani Felly disini” kata Hanna


Lino tersenyum lalu mengecup keningnya juga “Terima kasih, tolong jaga Felly ya”


Selain Hanna, yang lain keluar dari kamar Felly.


Randy dan Sam kembali ke apartemennya, tapi Luna tetap disana.


“Kenapa? Kau juga harus kembali, mau ku antar?” tanya Lino, Luna menggeleng pelan lalu memeluk Lino erat.


“Maksud kakak aku jadi milik kakak itu apa?”


Lino membawa Luna berteleportasi menggunakan ‘gerbang’ di sistem, Luna tidak mengetahuinya, dia terkejut tiba-tiba sudah berada di atap gedung bersama dengan Lino.


“Kak? Kenapa kita kesini?” tanya Luna.


Lino mengajak Luna untuk duduk di tepi gedung, sambil memandangi pemandangan malam. Dia mengeluarkan selimut hangat dari kotak penyimpanannya lalu menyelimutkan pada tubuh Luna agar Luna tetap hangat, kalau Lino sih memakai hoodie, jadi dia sudah merasa hangat.


“Semua kejadian hari ini membuatku pusing Luna, aku butuh ketenangan, oh iya... kau bilang Darko itu hitam kan? apa kau bisa melihat aura sihirnya juga?”


Luna mengangguk pelan “Iya, aku bisa melihatnya, Darko hitam, aku putih, Sam merah, Hanna hijau, Xia merah muda, Randy transparan... kebanyakan manusia transparan sih, tapi kak Lino dan Felly warnanya kekuningan, kak Lino kuning keputihan, jika Felly lebih ke orange menurutku, oh iya... Alpha abu-abu” kata Luna, kemudian dia mendongak menatap wajah Lino “Kak Lino, apa Alpha itu anak anjing siberian huski? Karena aura keduanya mirip, abu-abu”


Lino tersentak mendengarnya “It... itu.. iya, sebenarnya itu adalah kekuatan Alpha, dia bisa berubah menjadi anjing kecil”


Luna mengangguk-angguk mengerti “Sepertinya Alpha sangat menyayangi Felly, dia sangat khawatir dengan Felly tadi, dia marah karena aura hitam Darko sempat menutupi Felly – aku tidak tau apa itu juga yang terjadi padaku, tapi mungkin iya”

__ADS_1


Lino meraih tubuh Luna untuk di peluknya “Aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, mungkin ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, tapi aku akan mencari tahu. Oh iya, apa kau tau orang lain – mungkin umurnya tidak jauh dari kau, Sam atau Darko yang juga seperti kalian, sudah memiliki sihir dari lahir”


“Kakak ingin aku mencari tau? Akan ku cari tau apa ada yang seperti aku dan Sam, tapi mungkin tidak mudah karena sangat sulit membobol keamanan asosiasi, tapi aku dan Randy akan melakukannya” kata Luna


“Kau dan Randy bisa meretas keamanan mereka?” tanya Lino


Luna mengangguk pelan “Akan kami usahakan, kak Lino jangan khawatir, kami akan menemukannya untuk kak Lino”


Lino tersenyum mendengarnya “Tolong ya, aku mengandalkan kalian”


“Oh iya kak, aku sudah berbicara dengan Hanna tadi”


“Tentang apa?”


“Tentang aku menyukai kak Lino”


“Kau... belum menghapus ingatanmu tentang itu?”


Luna menundukkan kepalanya “Maaf... aku hanya malu saja, jadi menghapusnya, tapi aku sudah mengembalikan ingatanku, apa kak Lino mau ku kembalikan ingatan itu?”


Lino mengangguk “Tentu saja, aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi”


Luna meraih wajah Lino.


“Lu.. Luna mau apa?”


“Mengembalikan ingatan Kak Lino...”


“Tap –”


Suara Lino terputus karena Luna sudah menautkan kedua belah bibir mereka, Lino merasakan Luna meniupkan sesuatu ke dalam mulutnya.


Setelah Lino melihat mata Luna berubah merah, saat Itu Luna sedang mengacaukan ingatannya, tapi Luna jadi tidak terkendali, dia menggigit Lino dan mengisap sedikit darah yang keluar dari luka itu.


Lino yang terkejut menjauhkan Luna darinya lalu menjerat Luna dengan rantainya, dan kemudian mereka tertidur.


Hanya itu ingatan yang menghilang, mungkin karena Lino keburu menjerat Luna dengan rantai makanya masih banyak ingatan yang tetap utuh.


Dan mungkin karena Luna sempat menghisap


darahnya, makanya Lino bisa menjinakkannya tanpa dia sadari.


Luna melepas tautan mereka, nafas mereka berdua memburu, mata mereka terpaku satu sama lain.


Entah apa yang Lino pikirkan, mungkin juga dia tidak memikirkan apapun, tapi dia kembali menautkan bibir mereka, menarik Luna lebih mendekat padanya. Selimut yang tadinya membalut tubuh Luna sudah terlepas begitu saja.


Luna mengalungkan lengannya pada leher Lino dan naik ke pangkuannya.


Setelah kehabisan nafas mereka kembali melepaskan tautan mereka.


“Hanna bilang, aku boleh menikahi kakak secara resmi, asalkan dia tetap menjadi ratunya – maksudnya apa ya?”


“Aku adalah calon Raja di masa depan, mungkin tidak di dunia ini, tapi... kau yakin mau menikah denganku? Meski pernikahanku dengan Hanna tidak resmi disini, tapi kau tetap menjadi yang kedua”


Luna mengangguk yakin “Aku adalah milik kakak, dan selamanya akan seperti itu”


“Kau tidak akan menyesal?”


Luna menggeleng “Aku sangat mencintai kak Lino”

__ADS_1


Lino kembali mencium bibir Luna, bohong jika Lino tidak memiliki n*fs* sedikitpun pada Luna, sejak awal bertemu Lino sudah memilikinya. Sepertinya Hanna juga menyadarinya dari awal, makanya dia mengira Lino tidak memiliki perasaan pada Hanna.


Lino tidak memikirkan apapun malam ini, yang ada dipikirannya hanyalah Luna.


Malam ini bulan bersinar sangat terang, beberapa bintang juga bertebaran, menjadikan langit malam terang benderang.


“Asshh Kak Lino..” Pekik Luna saat Lino tidak sengaja menggigit bibirnya.


“Ayo kembali ke kamarmu” Lino meraih selimut yang sudah merosot sampai lantai, lalu kembali berteleportasi sampai kamar Luna yang semuanya serba pink.


“Kak Lino tetap disini denganku..” Luna menduduki perut Lino agar Lino tidak bisa pergi.


Tapi Lino menarik lengan Luna agar berbaring di sebelahnya “Kau mau tidur denganku malam ini?”


Luna mengangguk pelan.


“Baiklah, ayo tidur... besok kau sekolah” Lino menyelimuti mereka berdua lalu mengecup kening Luna.


Lino harus menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih, bagaimanapun juga Luna masih sekolah.


“Aku tidak bisa tidur, tadi siang sudah tidur lama”


Benar juga, mereka berdua kembali duduk.


“Luna, mau membaca buku sihir denganku?”


“Buku sihir? Mau!”


Lino mengeluarkan buku sihir yang belum sempat ia selesaikan.


“Aku sudah bisa melakukan sihir, tapi masih yang dasar saja, aku juga mempelajari sihir agar bisa mengarahkan kalian dengan lebih baik”


“kak Lino mau belajar sihir es?”


“Kau mau mengajariku?”


Luna mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan “Aku bisa membuat salju seperti ini” kemudian ada hujan salju kecil di telapak tangan Luna. Lino mengulurkan jarinya untuk menyentuh salju mini tersebut, saljunya dingin.


“Keren sekali, kau bisa membuat salju yang lebih besar?”


Luna mengangguk “Bisa, mau ku tunjukkan”


“Jangan, nanti ranjangmu basah semua”


“Benar juga, kak Lino aku bosan”


“Lalu? Kau mau apa?”


“Lanjutkan yang tadi?”


“Tidak, kau harus tidur”


Tapi Luna sudah duduk di pangkuan Lino


“Luna, turun”


“Gak mau”


.

__ADS_1


.


__ADS_2