
.
.
Di pagi hari Lino terbangun, dia melihat Roi masih tidur disampingnya, dia tidur melingkar seperti kucing sedangkan selimutnya sudah tidak beraturan di bawah.
Lino tersenyum kecil sebelum meraih selimut dan menutupi tubuh Roi lagi. Setelah itu Lino beranjak dari sana menuju kamar mandi, mencuci mukanya lalu kembali lagi melihat Roi. Lino bimbang untuk membangunkan bocah itu atau tidak, tapi akhirnya Lino memilih untuk melakukan misi hariannya dulu di taman samping apartemen.
Saat ada tukang sayur lewat, Lino menghampirinya, langsung saja para ibu-ibu yang juga tinggal di sekitar sana mengerubungi tukang sayur, ada juga ibu-ibu yang sudah belanja tapi kesana lagi.
Tentu saja untuk melihat Lino.
Mereka menanyai Lino banyak hal, ada juga yang berusaha menjodohkan putrinya dengan Lino, tapi Lino tersenyum dan menolak dengan halus, dia berkata sudah punya kekasih.
Lino ke tukang sayur sebenarnya ingin membeli tahu tempe dan beberapa bumbu yang kebetulan habis, Lino juga membeli ikan asin yang kecil dan tipis, dia juga membeli ikan teri.
Entah mengapa, Lino ingin memasak sesuatu yang spesial untuk dirinya sendiri, dan juga untuk Roi, berhubung dia masih disana.
Selesai belanja, dia pun pamit pada ibu-ibu, tadi ada juga ibu-ibu yang bercanda minta dibayari Lino karena Lino sudah banyak uang. Tapi Lino benar-benar membayari semua belanjaan mereka, hitung-hitung berbuat baik pada tetangga, Lino juga jarang bertemu dan menyapa mereka sejak pindah di apartemen ini.
Dengan itu, bukan hanya ibu-ibu.. tukang sayur juga jadi menyukai Lino. Karena total belanjaan ibu-ibu ada satu juta lebih delapan ratus ribu, Lino memberi dua juta, kembaliannya untuk tukang sayur saja.
Makin sukalah ibu-ibu itu pada Lino, ada juga yang berharap Lino putus dari pacarnya biar bisa didekati putrinya nanti.
Setelah sampai apartemen Lino memasak sarapan. Dia menggoreng tahu dan tempe lalu membuat sambal teri, tidak lupa dia membuat sayur bening.
Setelah semuanya siap, Lino pergi ke kamarnya untuk membangunkan Roi, ternyata dia sudah bangun, tapi dia hanya duduk di atas ranjang.
“Hei, kau sudah bangun? Ayo sarapan denganku” ajak Lino
“Gendong..” gumam Roi
“Sini aku seret sampai ruang makan” Lino bersiap-siap menjewer Roi
“Iya iya aku jalan sendiri!” Roi
Setelah sampai ruang makan mata Roi berbinar-binar melihat makanan yang sangat asing baginya “Apa ini tempe? Wah, baru kali ini aku melihatnya langsung..”
“Kau belum pernah memakan tempe? Pasti hidupmu menyedihkan” Lino
“Aku lebih suka tahu!” Roi
“Ya udah gak usah makan tempenya” Lino
“Kok gitu sih??”
“Ini rumah siapa?”
“Aku akan telfon 911”
“Buat apa?”
“Buat nglapor kalo kak Lino gak bolehin aku makan tempe”
Lino terkekeh melihat ekspresi Roi, mirip dengan Sam jika sudah ngambek, jika ada yang bilang mereka dua orang yang sama pasti banyak yang percaya.. hanya saja wajah mereka tidak semirip itu, rambut Roi juga pirang dengan mata biru.
“Roi” panggil Lino
Roi mendongak menatap Lino “Kenapa?”
“Itu.. kalungmu bagus juga”
Roi menunduk menatap kalungnya sendiri “Ini? Ini sudah ada bersamaku sejak aku lahir.. baguskan? Bentuk kepingan salju.. aku pikir ini dari orangtuaku”
“Jika sudah selesai makan mandilah lalu kita kembali ke tempat asalmu”
Mendengaritu Roi jadi tidak bersemangat “Memang aku gak bisa disini aja?”
Lino menggeleng “Tidak bisa, kau masih dibawah umur, jika kemana-mana kau membutuhkan persetujuan orangtua”
__ADS_1
Roi berdecak kesal, lalu kembali memakan makanannya.
***
Lino dan Roi sudah berada di depan pintu apartemen tempat tinggal Roi di New York. Lino tidak percaya dia bisa berada di salah satu apartemen termewah, bukan hanya di negara ini tapi di dunia, New York memang memiliki beberapa apartemen paling mahal dan mewah.
Malas-malasan Roi membuka pintu apartemennya lalu memasukinya.
“Aku pergi ya” kata Lino, tapi Roi malah menariknya masuk “Masuk dulu”
“Roi!! Where have you been all this time?” (kemana aja kamu selama ini?) seorang gadis yang juga berambut pirang datang menemui mereka, di belakang gadis tersebut ada seorang pria tampan yang kira-kira sudah berumur tiga puluhan.
“Apa ini kembaranmu?” tanya Lino, Roi mengangguk.
“Who are you?” tanya gadis itu, Reina.
Kalau Reina, mengingatkan Lino pada Felly, apalagi rambut mereka berdua sama-sama pirang, tapi tatapan Reina agak dingin, seperti gadis yang susah untuk didekati.
“Kak Lino, kenalin ini Reina saudari kembarku.. lalu ini paman Theo, paman yang membantu kami selama ini” kata Roi.
Lino memberi salam pada mereka, lalu menjelaskan kenapa dia bisa mengantar Roi, tentu saja Lino tidak mengatakannya dengan detail, dia hanya bilang jika Roi mengikutinya saja.
“Ah, begitu.. Roi memang menyukai pemburu-pemburu hebat seperti anda, terima kasih telah membawanya kembali kemari, maaf sudah merepotkan” ucap Theo.
“Aku tidak merepotkan” Roi
Lino tersenyum kecil lalu mengusak kepala Roi “Iya dia tidak merepotkan kok, aku sudah biasa direpotkan anak-anak.. aku memiliki beberapa kenalan yang juga masih bocah seperti Roi, jadi aku sudah terbiasa”
“Aku dan Roi bukan anak-anak!” sahut Reina, Lino hanya menoleh padanya dan tersenyum tampan, setelah itu Reina menundukkan kepalanya.
“Jika anda tidak keberatan, mau makan malam dengan kami?” tawar Theo
“Tidak perlu, saya sudah makan baru saja...” tolak Lino dengan halus, dia memang sudah kenyang setelah sarapan banyak dengan Roi.
“Kita makan masakan kak Lino! Semuanya sangat enak” sahut Roi
“Kamu bisa aja, kalau begitu.. saya pamit pulang” kata Lino
“Roi, jangan gitu, gak sopan, biarkan dia pergi, dia pasti sibuk” kata Reina, Roi sedih mendengarnya.
“Kita pasti bertemu lagi, Roi, Reina.. maaf ya, aku sangat sibuk, ada hal penting yang harus ku lakukan.. sampai nanti” Lino
“Kak Lino mampir lagi ya!” Roi
Lino hanya terseyum lalu pergi dari sana.
Lino berhenti setelah ia berada di lorong yang sepi.
Entah mengapa, Lino merasa sedih harus meninggalkan Roi disana, kenapa juga Lino sudah akrab dengan bocah itu?
Lino kembali berteleportasi, kali ini bukan ke apartemennya namun ke Sidney.
Lino kali ini bukan berada di depan mansion seperti kemarin, tapi di tepi pantai yang sepi. Dia juga tidak tau mengapa bisa sampainya disana.. apa dia pernah ke pantai ini sebelumnya?
Lino berjalan menelusuri pantai sampai kemudian dia merasa menginjak sesuatu, diapun berjongkok untuk melihat apa yang dia injak.
Ternyata tiram.
Lino mengambil tiram itu, dia iseng membuka isinya.
Ada tiga mutiara merah muda disana.
“Mutiara..” kemudian Lino mendongak menatap lautan di depannya.
Lino mengambil mutiara merah muda itu lalu kembali berteleportasi sampai ke depan mansion besar.
Mansionnya ditutup?
GREP
__ADS_1
Hampir saja Lino berteriak karena terkejut tiba-tiba ada yang memeluknya, ternyata Rin.
“Aku sudah menduga kau akan ada disini untuk menemuiku, Lino” kata Rin, kemudian dia memeluk Lino lagi.
Lino merasa aneh, tapi dia tidak mau banyak berpikir, dia membalas pelukan Rin.
“Kau merindukanku?” tanya Rin
“Hmm.. ayo kita selamatkan keluargamu”
Rin melonggarkan pelukannya lalu menatap Lino “Caranya?”
Lino menggeleng “Tidak tau, kita ke tempatnya saja dulu, di Jakarta kan?”
Rin mengangguk “Iya”
Kembali Lino berteleportasi, menggunakan pilihan di gerbang yang menuju Jakarta.
Setelah sampai, mereka kembali ada di depan sebuah mansion, ada aura aneh yang mengelilingi tempat ini, Lino memasuki mansion itu, aura anehnya makin terasa.
“Lino”
Lino berhenti karena Rin menahan lengannya “Kenapa?” tanya Lino.
“Aku takut.. jangan masuk dulu ya” Rin
Lino menggeleng “Kita harus masuk sekarang Rin, tidak ada waktu lagi” kata Lino
“Tapi..”
“Rin, kau tidak ingin segera menyelamatkan keluargamu?”
Rin tidak menjawab, dia malah meraih sisi kepala Lino lalu dengan cepat mencium bibirnya. Lino bisa saja lengah dan terbuai dengan ciuman itu, namun Lino harus tetap sadar dan fokus pada tujuannya, jadi dia melepas ciuman itu dengan cepat.
“Aku harus menyelamatkan mereka”
“Lino..”
“Kalau kau takut disini saja, biar aku sendiri yang masuk”
Rin pun terdiam dan membiarkan Lino berjalan semakin jauh, mendekati mansion.
Lino tidak tau bagaimana, tapi.. dia akan berusaha sebaik mungkin, karena lebih cepat lebih baik.
Tanpa Lino ketahui, Rin menatap punggung Lino tajam.
“Aku tidak akan membiarkanmu, Lino”
Lino berjalan semakin mendekat pada mansion. Mansion ini begitu besar, meski tidak sebesar yang di Sidney sana. Di sekeliling mansion terlihat banyak pohon-pohon buah namun semuanya terlihat kering.
Pohon yang tidak kering hanyalah pohon persik putih yang ada di depan – tunggu! Kenapa ada pohon ini disini? Benih yang Lino beli saja belum ditanam, kenapa mansion ini sudah punya?
Mengesampingkan keterkejutannya, Lino pun berjalan semakin mendekati bagian depan mansion.
Baru saja sampai satu meter di depan pintu masuk, tiba-tiba sebuah anak panah hitam meluncur cepat ke arah Lino. Lino yang tidak sempat menghindar terkena panah itu, menancap hingga mengenai jantungnya.
BRUK
Lino pun roboh di tanah, sambil mendongak menatap siapa yang memanahnya.
Terlihat Rin berdiri di atap sambil memegang busur panah hitam, menyeringai padanya.
“Rin.. kau..”
Rin mengeluarkan sayap hitam dibelakang tubuhnya, kemudian berubah menjadi orang lain – tidak, bukan orang lain tapi.. iblis? Succubus?
Entahlah Lino tidak tau, karena kesadarannya mulai berkurang.
.
__ADS_1
.