Sistem Pemburu: Penjinak Monster

Sistem Pemburu: Penjinak Monster
Harta para hantu


__ADS_3

.


.


Lino, Hanna, Xia dan Alpha sudah sampai lahan yang telah Lino beli. Lahan ini terlihat sangat suram, banyak tanaman liar, benar-benar terabaikan.


Ini sudah malam hari, mereka juga sudah makan malam. Setelah menitipkan Felly pada Luna, Lino dan yang lain pun pergi dengan alasan ada urusan. Meski yang Luna dan Sam tau Lino hanya pergi dengan Hanna. Lino masih menyembunyikan Xia dan Alpha.


Krak


Lino terperanjat saat dia tidak sengaja menginjak ranting kering.


“Ah, ngagetin aja” keluh Lino


“Hihihi master penakut!” ejek Hanna


“Awas aja ada hantu dateng terus makan kamu!” balas Lino


“Hantu gak mungkin makan kita master!” sahut Xia


“MASTER!” teriakan Alpha tersebut membuat mereka segera mendekati Alpha. “Kenapa?” tanya Lino dengan terburu-buru.


“Lihat itu... sepertinya portalnya disana” Alpha menunjuk semak-semak tinggi yang terlihat sangat seram di mata manusia normal.


“Apa itu pintu dungeon juga?” tanya Lino


“Bukan master, bisa dibilang... penghubung? Itu seperti pintu lain yang dibuat agar makhluk dalam dungeon bisa keluar bebas ke dunia ini. Tapi monster lain tidak bisa, karena energi sihir monster lain akan dapat terdeteksi, hantu hampir tidak memiliki energi sihir, jadi mereka butuh bantuan alat untuk melakukan sihir, seperti tongkat sihir begitu” jelas Hanna


“Karena itu portal ini tidak terdeteksi?” tanya Lino lagi


“Iya, karena mereka hampir tidak punya energi sihir, aku sudah bilang kan, mereka makhluk yang sangat lemah, lebih lemah dari slime. Tapi, mereka sangat jahil dan nakal, mereka suka mengganggu yang lain” kata Hanna lagi.


Sekarang Lino mengerti kenapa dalam beberapa tahun terakhir kasus hantu makin marak, banyak juga diberitakan di berbagai media.


 Lino jadi makin penasaran.


“Ayo tunggu apa lagi? Masuk! Alpha dulu” perintah Lino


“Harusnya master lah, kan master pemimpin” protes Xia


“Justru karena aku pemipin, makanya kalian duluan yang masuk, aku yang melindungi di belakang” kata Lino.


“Alasan! Bilang aja master takut” ejek Hanna


“Enggak ya! Udah buruan masuk dulu kalian!”


Merekapun masuk satu persatu mulai dari Alpha, Hanna, Xia lalu Lino.


Jauh dari ekspektasi Lino, setelah masuk mereka sudah berada di sebuah lorong, sepertinya lorong ini menuju suatu tempat.


Alpha dan Hanna jalan di depan, sedangkan Lino di belakang mereka dengan Xia yang memeluk lengannya erat.


“Xia kau takut?” bisik Lino


“Tidak kok.. hanya saja, tempat ini suram sekali” balas Xia


“Itu namanya kau takut”


“Bukan!”


“Ssssttt” Hanna berbalik, meletakkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh mereka yang di belakang diam.


Mereka sudah sampai di depan suatu pintu besar, perlahan Alpha membukanya.

__ADS_1


Benar saja, banyak sekali makhluk tembus pandang di dalamnya, melindungi sebuah kotak kayu, yang Lino pikir, itu mungkin harta mereka.


Para hantu itu ketakutan dan melayang kesana-kemari di dalam ruangan besar itu, namun mereka segera lenyap saat Alpha menyerang mereka dengan mengeluarkan sebuah sihir hitam.


“Apa itu?” tanya Lino.


“Itu adalah sihir serangan, menggunakan angin hitam” jawab Alpha.


“Hanya bangsa srigala yang bisa master” kata Hanna.


“Master juga bisa melenyapkan mereka dengan pistol putih yang master punya” sahut Xia.


Mereka sudah berada di depan kotak kayu, Lino membukanya dengan tidak sabaran.


Mereka terkesiap melihat isi di dalamnya, berbagai perhiasan mutiara, berlian, batu sihir, dan dua buku. Lino tidak tau itu buku apa, tapi dia memutuskan untuk mengambil semuanya.


“Hanya begini saja? Tidak ada tantangannya ternyata” keluh Lino


“Aku harus bilang berapa kali sih? Hantu itu sangat lemah!” sahut Hanna jengkel.


 “Benar, mereka dihempas dengan sihir angin


saja sudah lenyap semua, aku heran kenapa manusia takut pada mereka” kata Xia.


“Padahal manusia lebih kuat dari mereka kan ya?” timpal Hanna.


“Master..” Alpha menunjuk suatu tempat yang agak tinggi.


Ada sebuah rak tinggi yang di atasnya hanya ada satu buku tebal. Alpha menghampirinya dan mengambil buku itu “Apa master juga mau menyimpan buku ini?” tanya Alpha.


Lino menerima buku tebal itu, ternyata sangat berat, mungkin kira-kira beratnya dua sampai empat kg. Sampulnya tebal seperti terbuat dari kulit kayu lalu dilapisi oleh kulit hewan. Seperti buku sihir kuno.


Tapi saat dibuka, lembaran-lembaran buku itu kosong.


“Sepertinya ku simpan saja, siapa tau ini berguna” putus Lino, sebelum memasukkan buku itu ke kotak penyimpanannya.


“Ayo kita keluar”


Dengan menggunakan gerbang, dalam sekejab, Lino dan yang lain sudah sampai di dalam apartemen. Felly masih di tempat Sam dan Luna, jadi apartemen sedang kosong.


“Kalian istirahat saja, aku akan menjemput Felly” kata Lino


“Baik master!” sahut mereka kompak.


Lino kembali memakai gerbang agar sampai di depan apartemen Sam dan Luna.


Setelah memencet bel pintu, tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan wajah khawatir Luna.


“Kak Lino!”


“Luna kenapa? Apa yang terjadi?”


Tepat setelah Lino bertanya seperti itu, Sam dan Felly berlarian menghampiri mereka dari dalam, mereka juga terlihat sama khawatirnya dengan Luna.


“Ada apa sih?” tanya Lino lagi.


“Randy bang!” teriak Felly.


“Oke, jangan panik dulu, jelaskan perlahan-lahan” pinta Lino.


Luna yang tenang lebih dulu, jadi dia yang menjelaskan “Hari ini Randy tidak masuk, tidak ada keterangan apapun dari rumahnya. Kami pikir dia sakit atau apa, tapi karena semua keluarganya sibuk jadi tidak ada yang menghubungi sekolah. Tapi ternyata, ayahnya menghubungi kita menanyakan dimana Randy berada”


“Oke, oke – kalian tenang, aku akan mencari Randy, kalian bisa tetap disini, aku akan segera kembali” kata Lino.

__ADS_1


“Bang... kalo Randy diculik gimana?” tanya Sam khawatir.


“Ku rasa itu tidak mungkin, kalian lupa dia itu rank A?”


Meski tau, tapi mereka tetap saja khawatir, jadi Lino memilih langsung pergi mencari Randy.


Kalau orang biasa pasti bingung mencari kemana kan?


Tapi Lino punya sistem, sistem punya banyak


fasilitas selain gerbang, yaitu fasilitas yang ada di dalam menu gerbang, peta atau map.


Lino tinggal menyebutkan nama Randy, dalam sekejab keberadaannya sudah dapat diketahui.


Gedung guild yang baru.


Lino pun berteleportasi kesana menggunakan gerbang.


Randy tidak ada di dalam ruangan yang akan menjadi kantor mereka, jadi Lino naik ke atas untuk ke atap gedung.


Randy ada disana, duduk di tepi atap sambil memandangi pemandangan malam kota. Dia tidak tau Lino ada di belakangnya.


Lino kembali berteleportasi ke bawah gedung, membeli dua burger dan dua minuman dingin, lalu kembali ke atap.


Dia duduk di sebelah Randy, bocah itu terkejut tiba-tiba ada Lino bersamanya.


“Kenapa Bang Lino bisa tau aku ada disini?” tanya Randy.


Lino menyerahkan satu burger dan satu minuman pada Randy “Makan dulu, kamu pasti laper kan?” Lino menyentuh pipi Randy, lalu keningnya “Kau juga dingin, berapa lama kau disini? Kenapa gak di dalam ruangan aja?”


“Tadi aku disana, tapi bang Lino gak ada” kata Randy, dia mulai membuka bungkus burger lalu memakannya dengan pelan.


“Ya iyalah gak ada... tadi aku sibuk banget ke gedung asosiasi, terus beli tanah – harusnya kau menghubungiku, bocah”


Randy kembali menatap ke depan “Maaf, aku merusakkan ponselku”


“Ya ampun... sebenarnya apa yang terjadi? Minum juga, keburu dingin” Lino


Randy menyesap minuman hangat itu sebentar sebelum kembali memakan burgernya.


“Aku diusir dari rumah bang, udah gitu ponselku dibanting juga, aku sengaja gak ke apartemen bang Lino karena masih pengen sendiri dulu buat nenangin diri”


Sepertinya masalah Randy berat kali ini. Lino tidak mengerti, kenapa anggotanya seperti ini? Sudah bocah semua, bermasalah semua juga... tapi justru itu yang membuat Lino semakin memiliki keinginan untuk melindungi mereka.


Sepertinya Lino memang terlahir seperti hero begitu ya? Banyak masalah datang menghampiri.


Tapi tak apa, dari pada hidup gitu-gitu aja ya kan? Setiap masalah yang datang akan membuatnya lebih kuat dan lebih bijak.


Karena Lino adalah calon Raja, jadi hal seperti ini wajar saja.


“Habiskan dulu burgernya, baru kita balik ke apartemen ya? Yang lain nungguin, mereka sedih tau kamu hilang”


Randy hanya mengangguk dan memakan burgernya dalam diam.


“Makasih bang” ucap Randy setelah beberapa saat kemudian.


“Sama-sama, jangan sedih lagi... ada aku, Luna, Sam, Felly... eum – Hanna juga, kamu punya banyak orang yang bersedia membantu, jadi semangat aja ya”


Randy mengangguk lagi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2