Sistem Pemburu: Penjinak Monster

Sistem Pemburu: Penjinak Monster
Terasa familiar


__ADS_3

.


.


“Tidurlah, aku akan pergi” ucap Lino setelah mengantar Rin menuju kamar yang ada di ruangan kantor.


“Rin?”


“Tidak, kau tetap disini denganku”


Rin memeluk tubuh Lino erat seakan dia adalah guling yang berbentuk manusia, Rin menarik Lino agar tidur di sebelahnya, mendekapnya erat dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut hangat.


“Rin, aku sudah punya Hanna dan Luna” kata Lino, meski dia ingin menolak Rin, entah kenapa sisi hatinya yang lain mengatakan dia tidak boleh meninggalkannya. Ini tidak mungkin perasaan cinta kan? menurut Lino cinta pada pandangan pertama itu hanya ilusi, tapi jika rasa tertarik atau naafsu semata itu masih mungkin.


Dan sepertinya perasaan Lino kali ini hanya nfsu saja, dia hanya ingin bersama dengan Rin, perasaan tertarik itu datang dengan cepat, membuat Lino ingin tetap tinggal dan memeluknya.  Seakan Lino sangat merindukannya setelah sekian lama terpisah.


Tapi Lino baru saja bertemu dengannya beberapa jam lalu, itupun karena memutar gacha.


“Luna itu yang putih kan?”


“Iya.. dia juga kekasihku”


“Tapi mereka berdua bahkan bukan makhluk dari dunia ini! Aku manusia biasa... lagipula kau tidak bisa menikah secara resmi dengan mereka, pernikahanmu dengan Hanna juga tidak bisa dihitung dan dinyatakan sah” kata Rin.


Lino pikir Rin ada benarnya juga. Lino sudah menceritakan tentang pernikahannya dengan Hanna, tentang kelima kristal, juga tentang mereka yang harus segera membuka gerbang menuju wilayah iblis. Lino bahkan menceritakan cerita dari Hanna, Alpha dan Xia tentang peri roh, dewa, dan keluarga manusia yang dikurung oleh dewa yang ternyata itu adalah keluarga Rin.


“Rin... makhluk apapun mereka, aku sangat mencintai mereka, aku akan marah jika kau ingin aku berpaling dari mereka”


“Aku tidak memintamu melakukannya, aku hanya ingin kau menyisihkan ruang di hatimu untukku saja, kau tidak bisa menikahi mereka dengan sah di dunia ini, tapi aku bisa”


“Kenapa kau bersikeras? Aku bisa menikahi


Luna secara resmi”


“Lino!”


Rin menaiki perut Lino, menatap Lino dengan tatapan serius “Kau tidak tertarik padaku? Kita sama-sama dewasa dan bisa melakukan apapun”


“Kalau kau dewasa kau tidak akan melakukan ini”


“Apa karena terlalu sering bergaul dengan makhluk lain kau jadi buta?”


Lino membalik posisi mereka, kini Lino yang berada diatas tubuh Rin, menahan kedua lengan di sisi kepalanya agar tidak dapat bergerak.


“Sebenarnya apa maumu?”


“Tidak ada! Aku hanya ingin masuk ke dalam duniamu karena aku merasa memiliki ikatan denganmu, itu saja... tapi kau bertingkah seolah tidak mempedulikanku dan tidak tertarik denganku sama sekali. Aku mengerti Hanna yang menyelamatkanmu hingga sekarang kau masih hidup jadi kau berpikir kau mencintainya, aku tidak peduli dengan Luna – tapi kau juga telah menyelamatkanku jadi masuk akal aku langsung menyukaimu”


“Aku akan membantumu membebaskan keluargamu, apa itu tidak cukup?”


“Tidak! Aku menginginkanmu”


“Apa kau selalu seperti ini? Sepertinya sangat bebas luar sana ya”


“Aku tidak pernah dekat-dekat dengan lelaki lain selain pamanku! Aku bahkan sering dikurung di dalam mansion karena aku masih keturunan bangsawan, aku sangat dijaga dan bahkan semua pelayan di mansionku memanggilku tuan putri”


Lino melepaskan tangan Rin dari cengkramannya, perlahan dia beringsut menjauh dari atas tubuh Rin. Tapi Rin lebih cepat menarik leher Lino, menyatukan kedua belah bibir mereka, membawa mereka ke dalam ciuman yang memabukkan.

__ADS_1


Malam yang panjang dan panas mereka lewati bersama, tanpa memikirkan hal lain, hanya kesenangan nfsu yang mendominasi pikiran mereka. Mungkin malam itu Lino terhipnotis dengan pesona dan keindahan Rin, tidak peduli mereka belum terlalu mengenal satu sama lain.


Tidak peduli jika mungkin mereka memang memiliki keterikatan seperti yang Rin rasakan, menyesal urusan belakangan.


Suara merdu Rin menggema di ruangan itu, malah membuat Lino semakin gila dan tidak dapat berhenti.


Pagi hari telah datang, sinar mentari masuk menerobos lewat celah-celah jendela.


Lino terbangun dari tidurnya yang tidak terlalu lama, malah bisa dibilang sangat sebentar. Lino memeriksa ponselnya yang tergeletak diatas meja, menggerang pelan setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Sudah jelas anak-anak telah berangkat ke sekolah saat ini.


“G’morning!”


Lino meletakkan kembali ponselnya, melirik Rin yang baru bangun sedang memeluknya dari samping, Lino hanya membalasnya dengan gumaman.


Dia masih linglung dengan apa yang sudah terjadi, rasa bersalah muncul dalam benaknya setelah nyawanya telah terkumpul dan mengingat kembali perbuatannya.


Lino tau dia bukan orang baik, tapi dia tidak percaya dia juga orang brengsek, pasti Hanna dan Luna kecewa padanya, apalagi mereka kelihatannya tidak terlalu menyukai Rin.


Rin seumuran dengan Lino, hanya lebih muda beberapa bulan saja. Jadi Lino tidak perlu takut telah meniduri anak dibawah umur, tapi... tetap saja.


Jika menurut hukum manapun Lino tidak bersalah, Hanna tidak bisa dihitung sebagai istrinya dalam dunia ini, dia bahkan bukan berasal dari dunia ini. Jika menurut hukum dunia Hanna, Lino juga boleh memiliki kekasih lain.


Harusnya tidak apa-apa...


Tapi kenapa Lino merasa bersalah? Apa dosanya sudah terlalu besar? Baru kali ini Lino memikirkan dosa segala.


“Apa yang kau pikirkan? Kenapa tiba-tiba melamun?” Rin menangkup kedua sisi wajah Lino lalu mengecup bibirnya sekilas.


“Entahlah, perasaanku jadi aneh”


lengannya pada leher Lino “Jangan terlalu dipikirkan, kita hanya perlu bersenang-senang”


“Rin.. jangan macam-macam.. turunlah”


Rin menyeringai “kau ingin lagi?”


“Sebenarnya kau ingin segera membebaskan keluargamu atau tidak? Jika begini caranya aku akan mengirimmu kembali ke Australia”


Rin mengerutkan keningnya tidak mengerti “Kau bisa melakukannya?”


Lino mengangguk “Bisa, dengan teleportasi.. tapi – hanya bisa ke Sidney”


“Kenapa bisa begitu?”


“Entahlah, aku hanya bisa berteleportasi ke tempat-tempat tertentu”


Lino juga tidak mengerti, beberapa tempat yang dia yakin tidak pernah kesana muncul di pilihan gerbang, itu aneh sekali.. ada pilihan ke Jakarta, Seoul, Tokyo dan Sidney.


Pilihan itu muncul setelah Lino mendapatkan kekuatan dari ayahnya Hanna.


“Aku ingin bersama denganmu”


“Tapi ku rasa yang lain tidak menyukaimu, kau juga hanya tertarik denganku, jika aku sudah tau cara menyelamatkan keluargamu aku akan menemuimu lagi, bagaimana?”


Rin memeluk leher Lino erat “Aku tidak ingin berpisah darimu..”

__ADS_1


Lino membalas pelukan itu “Rin..”


Lino jadi berpikir, apa Rin muncul di hadapan Lino untuk menghambat Lino? atau untuk menjadi ujian bagi Lino? Mungkin saja Rin muncul agar konsentrasi Lino bercabang dan jadi tidak fokus mengerjakan tugasnya untuk membuka gerbang wilayah iblis.


Jangan-jangan... ini perbuatan dewa di dunia Hanna, dia tidak ingin Lino sukses mengerjakan tugasnya.


Ah, Lino terlalu banyak berpikir.


Perlahan Lino melepas Rin dan menatap ke dalam mata Rin yang berwarna biru, lalu menciumnya dengan lembut.


“Bukankah keluargamu juga akan susah karena berpikir kau tidak selamat?”


“Kau benar.. pasti pamanku sangat khawatir”


“Karena itu, ayo kembali ke Australia”


“Kau yakin bisa berteleportasi ke Aussie?”


“Entah.. harus dicoba dulu”


Lino mengangkat tubuh Rin, membawanya ke kamar mandi, membersihkan mereka berdua, lalu memakai pakaian semalam, karena tidak ada pakaian lain.


Setelah sarapan dengan sandwich dan minum susu, Lino membawa Rin kembali ke Australia. Lebih tepatnya ke Sidney, satu-satunya tempat di Australia yang bisa Lino akses dengan menggunakan fasilitas gerbang di sistem.


Mereka sampai di sebuah mansion besar yang megah.


“Bagaimana bisa kita sampai di mansion milik kakekku? Ayo pergi ke dalam!”


“Tunggu! Tempat ini berpenghuni?”


Rin tertawa kecil “Tentu saja! Nenekku – eum.. ibu dari pamanku menempati tempat ini, sementara kakekku yang memiliki tempat ini juga terkurung di dalam mansion yang ada di Jakarta sana”


Mereka disambut oleh beberapa pelayan, mereka juga memanggi Rin dengan sebutan tuan putri.


“Mansion tempat aku dikurung itu ya disini, aku pergi ke Brisbane sejak lulus seolah saja, karena pamanku memiliki rumah disana, tidak sebesar mansion ini.. tapi sama mewahnya” jelas Rin.


Langkah Lino terhenti pada sebuah potret besar sebuah keluarga.


“Yang itu adalah kakekku, yang itu ayahku! Dia tampan kan? lalu yang itu adik laki-laki ayahku, itu adik perempuan ayahku.. lalu ini nenekku”


“Adik laki-laki ayahmu ini.. apa dia juga dikurung?”


Rin mengangguk “Benar, yang berhasil lolos hanya adik perempuan ayah, itu pun sudah lama meninggal bersama suaminya dalam kecelakaan, aku tidak tau cerita pastinya, karena paman maupun nenek sangat sedih jika menceritakan hal itu”


“Rin, aku harus pergi sekarang.. aku akan kembali jika sudah tau cara membebaskan mereka, okay?”


Rin mencebikkan bibirnya “Tidak mau main dulu?”


Lino menggeleng “Maaf.. aku akan sangat sibuk – aku janji akan menjemputmu lagi”


Lino mencium bibir Rin untuk terakhir kali sebelum kembali berteleportasi ke apartemennya.


Sebenarnya Lino buru-buru pergi karena merasa aneh, dia seperti familiar dengan foto keluarga Rin.


Tapi mungkin hanya perasaannya saja.


.

__ADS_1


.


__ADS_2