Sistem Pemburu: Penjinak Monster

Sistem Pemburu: Penjinak Monster
Menjinakkan para kristal


__ADS_3

.


.


Lino menatap tidak percaya pada Luna, yang tadi warna matanya berubah merah dan menatap Lino penuh amarah, kini kembali lagi menjadi perak menatap Lino dengan polosnya.


Ternyata perkiraan Lino tentang Luna yang merupakan kristal bulan itu benar adanya, atau kristal putih jika menurut sistem.


Berarti benar Sam adalah kristal laut atau mungkin dia adalah kristal merah, itu berarti mungkin Darko memang kristal hitam.


Dari awal mereka memang bukan manusia, atau mungkin setengah manusia? Entahlah, yang pasti mereka berbeda.Lino tidak bisa menebak-nebak yang satu ini, tapi dia tau jawabannya ada di buku tebal yang masih tersegel tersebut.


“Kau tidak ingat apa yang sebelumnya terjadi?” tanya Lino


Luna menatap tangan kanannya yang dirantai, lalu kembali menatap Lino kemudian menggeleng pelan “Tidak, apa yang terjadi?”


“Yang terakhir kau ingat?”


Luna terlihat berpikir “kita  menonton TV lalu... aku sepertinya tertidur, harusnya aku yang bertanya, kenapa kak Lino merantaiku? Apa aku berbuat jahat?” Luna berusaha membuka rantainya dengan tangan kirinya, tapi tidak berhasil, dengan sihirnya juga tidak berhasil.


“Luna, berhenti, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika berusaha melepasnya – sekarang katakan yang sejujurnya”


Tapi Luna tidak mau berhenti, Lino jadi panik takut tangan Luna lecet, jadi dia menarik tubuh Luna mendekat dengan memperpendek jarak rantai. Dia tau rantai ini adalah rantai besi biasa, dan mungkin rantai ini dimodifikasi oleh siatem agar bisa menjerat dengan kuat dan tidak mudah terlepas.


Buktinya berbagai boss dungeon bahkan Hanna juga tidak bisa melepasnya dengan mudah.


Luna tidak berkutik berada di pelukan Lino, dia terlihat ingin menangis tapi Lino tau Luna sedang menahan tangisannya, mungkin dia tidak ingin menangis di depan Lino.


“Apa itu tadi sihir khusus milikmu? Membuatku bingung seperti orang gila... aku tau kau marah padaku, tapi aku bahkan tidak bermaksud menolakmu atau apa.. aku hanya – sebenarnya aku sudah menikah dengan Hanna, walau itu tidak sah, tapi –”


Lino berhenti berkata saat melihat Luna sudah menangis tanpa terisak sedikitpun, airmatanya mengalir begitu saja di pipinya yang putih.


“Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi, tapi bukan berarti aku tidak akan mencari tau – kau dan Sam adalah tanggung jawabku sekarang, dan rantai ini – ” Lino mengangkat tangan Luna yang masih ada rantainya “Rantai ini adalah tanda jika kau milikku, kau tidak bisa melawanku atau pergi dariku sekarang, tidak peduli siapapun kau dan Sam, kalian tidak bisa pergi dariku, aku akan mencari tau siapa kalian berdua”


Luna tersentak saat mendengar Lino mengucapkan ‘akan mencari tau siapa kalian berdua’, dia mendongak menatap Lino tidak mengerti “Kenapa? Apa itu bisa dicari? Padahal pihak asosiasi tidak bisa mencari tau juga”


“Tentu bisa, aku lebih hebat dari mereka”


Kemudian terdengar ribut-ribut dari luar kamar, sepertinya anak-anak sekolah sudah pulang, jadi Lino melepas rantai dari tangan Luna.


“Kau disini saja, biar aku yang melihat keluar” kata Lino.


Luna hanya diam melihat Lino pergi dari kamarnya, dia kembali melihat tangan kanannya yang tadi dirantai, bekas merah di tangannya karena tergores rantai telah hilang bersamaan dengan lepasnya rantai.


“Kenapa kak Lino ingin mencari tau siapa kita? Untuk apa?”


***


Saat Lino keluar, dia bisa melihat Sam dan Randy yang baru datang, mereka terlihat lelah dan tidak terlalu bersemangat.


“Kalian sudah pulang?”


Sam dan Randy menoleh padanya “Bang Lino, Luna baik-baik aja?” tanya Sam, dia terlihat sangat khawatir.


“Tenang saja, dia sudah baikan sejak beberapa jam lalu – apa kalian juga merasa sakit atau apa hari ini?”


Sam dan Randy saling pandang, lalu keduanya kompak menggeleng “enggak kok”

__ADS_1


“Kita baik-baik saja, tapi karena hari ini olah raga gabungan dan anak laki-laki bermain sepak bola melawan kelas lain, jadi tenaga kita terkuras habis” jawab Randy.


“Syukurlah jika kalian baik-baik saja, Sam, ayo ke kamarmu, ada yang ingin ku bicarakan” Lino menarik lengan Sam agar mengikutinya menuju kamar Sam.


Setelah sampai, Lino menutup pintu kamar rapat-rapat.


“Kenapa sih Bang? Ada apa?” tanya Sam, dia masih berdiri sedangkan Lino sudah duduk di tepi ranjang.


“Sini, duduk di sebelahku” Lino menepuk-nepuk tempat di sebelahnya agar Sam duduk disana, tapi sepertinya bocah itu tidak mau menurut “Gak mau, abang bicara aja sekarang”


“Sam.. cepet kesini”


Sam tidak bergeming, padahal biasanya jika disuruh dia langsung mengerjakan, tapi sekarang dia tetap berdiri disana dan hanya menatap Lino.


Ada yang aneh, hari ini si kembar tidak mengindahkan ucapannya, tadi Luna dan sekarang Sam. Ini benar-benar aneh.


Karena Lino tidak sabaran dan sedikit kesal, jadi dia merantai lengan Sam lalu menariknya agar duduk di sebelahnya.


“Bang Lino! Lepas!! Ini apaan!!” Sam berusaha melepaskan ikatan rantai di lengannya.


“Sam berhenti!”


Bocah itu tidak mau berhenti, jadi Lino membentaknya sekali lagi “SAM!”


Sam berhasil diam, lalu Lino menarik kembali rantainya “Kenapa kau tidak mau menurutiku?” tanya Lino, dengan nada yang berat dan tatapan seram tidak seperti biasanya Sam tidak bereaksi, dia hanya diam menatap Lino dengan tatapan polosnya.


Ting!


Layar sistem kembali muncul.


[Lebih baik kristal merah juga dijinakkan]


Lino mengeluarkan pisau belati biasa dari kotak penyimpanannya, Sam mulai ketakutan melihat pisau kecil itu.


“Bang... Bang Lino mau apa?” Sam sedikit mundur menjauh dari Lino, tapi Lino kembali merantainya dan menariknya mendekat, tidak peduli Sam meronta-ronta.


“Maaf bang Lino! Aku gak akan nakal lagi, ampuunn...” kemudian Sam menangis, kali ini dia benar-benar takut pada Lino.


Tapi tangisan Sam terhenti saat dia melihat Lino menggores jarinya sendiri dengan pisau “Bang Lino ngapain?!”


“Ssshh berisik kamu!”


Sam pun terdiam, menatap Lino bingung tidak mengerti, terutama ketika Lino menempelkan jarinya yang berdarah pada dahinya.


Bekas darah itu bersinar sejenak sebelum hilang.


Ting!


[Anda telah berhasil menjinakkan kristal merah, informasi lebih detail masih tersegel]


“Oh? Apa itu tadi?” tanya Sam.


“Tidak perlu dipikirkan, itu hanya tanda jika kau sekarang adalah milikku, kau tidak bisa pergi, dan tidak bisa memberontak, jadi mulai sekarang kau harus menurutiku, mengerti?”


Sam hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, entah dia benar-benar mengerti atau tidak.


Lino mengembalikan pisau ke kotak penyimpanan lalu mengeluarkan gunting dan buku.

__ADS_1


“Menunduk” perintah Lino


“Maksudnya?” Sam


“Tundukkan kepalamu sebentar”


Sam mengerjakan perintah Lino untuk menundukkan kepalanya, dengan begitu Lino jadi mudah menggunting rambutnya. Setelah itu sedikit rambut hitam milik Sam ia letakkan di atas sampul buku, buku itu kembali mengeluarkan sinar, kali ini merah, lalu lenyap kembali, rambut Sam juga ikut lenyap.


“Bang Lino itu apa?”


Lino kembali menyimpan bukunya “Kau tidak perlu tau, karena aku juga belum tau, tapi kita akan segera mengetahuinya. Ada yang ingin ku tanyakan padamu, ku harap kau menjawab dengan jujur, jangan menutup-nutupi apapun oke?”


Sam mengangguk-angguk mengerti.


“Baiklah, karena kau memiliki sihir khusus.. pasti Luna juga punya bukan? Apa itu, ceritakan padaku”


“Luna? Eum.. sihir khusus Luna cukup seram – dia bisa memanipulasi pikiran, jadi saat dia marah, sedih, atau dalam situasi sulit, dia bisa mengecoh musuh atau orang lain dengan memanipulasi ingatan mereka, saat itu terjadi kedua matanya berubah merah. Tapi masalahnya dia akan kehilangan banyak energi setelah itu, atau kadang jadi tidak terkendali seperti mengingit, mencakar... walau setelahnya dia jadi lemah dan tertidur. Selain orang lain, Luna juga bisa memanipulasi ingatannya sendiri, seperti mengacaukan ingatan yang tak dia inginkan atau malah menghapusnya”


Penjelasan Sam membuat Lino mengerti


sebagian, tapi dia tidak puas sebelum ingatannya yang kacau atau hilang jadi jelas.


“Apa ada yang bisa ku lakukan untuk mengembalikan ingatan itu?”


“Memangnya apa yang terjadi Bang?” tanya Sam


“Aku juga ingin tau... karena Luna sepertinya menghilangkan sebagian, tapi.. mungkin dia sedang sedih saat ini, karena itu dia melakukannya”


Sam semakin bingung “Emang Luna ngapain?”


“Dia mengatakan jika dia menyukaiku”


“Oh.. gitu”


Lino menatap Sam penuh selidik “Kau sudah tau itu?”


“Abang lupa aku ini saudara kembarnya? Meski Luna memendam perasaannya, aku selalu bisa memahaminya. Luna itu lebih suka memendam perasaannya sendiri, mungkin dia malu atau menyesali perbuatannya, jadi dia kemudian mengacaukan ingatan Bang Lino agar melupakannya, dia mungkin juga menghilangkan ingatannya sendiri saat melakukan itu – oh, sepertinya dia menggigitmu Bang” Sam mengulurkan tangannya, menyentuh bagian di leher Lino yang terluka seperti terkena gigitan.


Mendengar itu Lino beranjak dari ranjang menuju cermin besar yang ada di kamar ini, benar saja ada bekas gigitan di lehernya, tapi tidak parah. Karena Sam bilang saat menggunakan sihir khusus Luna bisa kehilangan kendali, mungkin akhirnya dia mengigit Lino dengan taring...


Taring?


“Sam, kenapa Luna juga memiliki taring.. kau tau, seperti vampire?”


“Emang abang gak punya? Aku juga punya, tapi gak sepanjang vampire juga sih, kecil” lalu Sam membuka mulutnya, ada sepasang taring kecil di antara deretan giginya yang rapih.


Berarti Lino tidak salah lihat, Luna juga memiliki taring.


“Sebenarnya kalian itu apa sih?”


Sam menatap Lino bingung “Maksudnya Bang? Kita ya manusia lah!”


Lino tidak yakin dengan itu, karena Lino tidak bisa menjinakkan manusia.


Sam sudah.. sekarang giliran Darko.


.

__ADS_1


.


__ADS_2