
.
.
Saat Lino masuk kamar Luna untuk mengantar makanan, Luna sudah mengenakan kaos biasa dan celana pendek, dia duduk di atas ranjangnya menunggu Lino sambil meminum air suci sedikit-demi sedikit.
“Kau sudah merasa baikan?” tanya Lino setelah menaruh nampan makanan di atas meja, kemudian Lino mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Luna, suhunya sudah terasa normal.
Luna menggenggam tangan Lino lalu meletakkan tangan itu ke pipinya “Tangan kak Lino hangat” Lino tersenyum mendengarnya, dia menatap ke dalam mata Luna yang kini lebih berbinar dari sebelumnya yang hanya tatapan kosong saja.
Lama mereka saling menatap hingga kemudian Lino ingat jika Luna harus makan, dia mengambil nampan tadi lalu memberikannya pada Luna “Aku membuatkan krim sup, ini juga ada roti, rotinya masih hangat, makanlah”
“Kak Lino?”
“Aku.. nanti saja”
Luna menggeleng “Ayo kita makan bersama”
Biasanya Lino tidak merasa secanggung ini dengan Luna, tapi kenapa tiba-tiba jadi canggung ya?
“Baiklah, ayo makan di ruang tengah, aku juga akan makan”
Lunapun setuju untuk makan di ruang tengah sambil menonton serial animasi lokal di salah satu stasiun TV, Lino juga ikut makan bersama Luna.
Setelah makan selesai, Lino membereskan piring dan menccucinya, Luna sudah mengatakan dia ingin membantu tapi Lino melarangnya, dia pikir Luna masih sakit dan tidak boleh banyak bekerja.
Setelah mencuci piring Lino kembali ke ruang tengah, Luna masih disana untuk menonton TV jadi Lino ikut nonton lagi. Lino sudah jarang menonton TV, Felly juga tidak suka menonton TV sekarang. Jadi jika Lino ingin menonton sesuatu, misal pertandingan bola, atau tinju atau berita, dia memilih menontonnya di internet. Apalagi di apartemen lama yang kecil itu tidak ada TV nya.
TUK
Luna ketiduran lagi dan bersandar pada bahu Lino. Lino mematikan TV lalu mengangkat tubuh Luna kembali ke kamarnya. Dengan hati-hati Lino merebahkan tubuh Luna di atas ranjang.
Lino masih duduk di tepi ranjang sambil memandangi Luna.
Tangannya terulur untuk meraih helaian rambut perak itu, ia mengambil gunting kecil yang dia siapkan di kotak menyimpanan, lalu menggunting sedikit dari rambut itu.
Lino kembali melirik Luna yang sepertinya tidak akan terbangun, jadi dia mengambil buku tebal dari kotak penyimpanan juga.
Ia menaruh rambut Luna di atas sampul, seketika sampul bersinar putih setelah menyentuh rambut Luna. Setelah sinar hilang, lambang kristal bulan di sampul sekarang bersinar putih.
Lino tidak percaya, ternyata tebakannya benar, padahal dia hanya coba-coba.
Kalau begitu, Lino harus mendapat rambut Sam juga.
Jika tebakan Lino tentang Darko adalah kristal hitam benar, berarti dia sudah memiliki tiga kristal bersamanya bukan?
Masalahnya... sekarang kristal langit dan matahari ada dimana?
Lino menghela nafas lelah, tapi pasti ada cara untuk menemukan dua kristal itu, apapun cara itu... Lino harus menemukannya.
Tepat setelah Lino mengembalikan buku tebal ke kotak penyimpanan, Luna terbangun dan tiba-tiba memeluk leher Lino erat “Kak Lino!”
“Eh? Luna... kenapa?”
Lino awalnya ragu, tapi dia tega setelah mendengar Luna terisak, apa dia mimpi buruk?
Jadi, Lino memilih untuk membalas pelukan Luna, lalu membelai rambutnya dengan lembut. Luna tidak menjawab dan terus terisak untuk beberapa saat, sebelum kemudian kembali bersuara.
“Jangan tinggalkan aku”
__ADS_1
“Aku tidak kemana-mana, jika kau mau, aku akan terus disini sampai Sam datang, okay?”
Luna menganggukkan kepalanya, lalu melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Lino “Kak Lino sungguh tidak akan meninggalkan kami?”
“Apa kau bermimpi buruk?”
Luna mengangguk pelan “Hmm, di mimpiku kak Lino pergi, ke arah yang berbeda, meninggalkan kami”
“Maksudmu kau dan Sam?”
Luna berpikir sejenak lalu menggeleng pelan “Kami.. ada lima, tapi hanya Sam yang ku kenali, yang lain hitam, biru dan orange”
Biru dan orange?
Warna biru pasti kristal langit, dan orange pasti itu kristal matahari.
Tapi kenapa Lino harus meninggalkan mereka? Padahal saat ini Lino sedang penasaran dan terus berusaha menggali informasi tentang mereka. Katakanlah Lino mudah penasaran, tapi... memangnya jika kalian ada di situasi Lino, kalian tidak akan penasaran dan mencari tahu?
Tangan kanan Lino terangkat untuk menangkup pipi Luna, dengan ibu jarinya ia hapus airmata yang hampir menetes di pelupuk matanya.
“Jangan menangis, aku tidak akan pergi, tidak ada alasan untukku meninggalkan kalian bukan? Aku sudah menganggap kalian seperti adikku sendiri”
“Kak Lino hanya menganggapku adik?” tanya Luna, Lino bisa melihat kesedihan di dalam mata indahnya.
“Itu... untuk saat ini, iya”
Mendengar itu Luna kembali menangis, tapi dia tidak mengeluarkan suara isakan apapun, dia diam saja.
“Hei.. jangan menangis”
Lino kembali mengusap airmata Luna, tapi Luna tidak bisa berhenti menangis, Lino jadi merasa bersalah entah karena apa.
“A..apa maksudmu?”
Luna kembali memeluk leher Lino erat, refleks Lino membalas pelukan itu “Luna..”
“Aku menyukai kak Lino, tapi... tidak apa, aku bisa mengerti jika kak Lino tidak menyukaiku seperti itu, maaf aku bertingkah seperti ini”
Mereka tidak mengucapkan apapun setelahnya, Lino hanya memeluk Luna erat dan merasa bersalah. Setelah dia pikir-pikir, tidak aneh jika Luna menyukainya seperti itu, karena mungkin baginya Lino orang pertama yang memperlakukannya dengan baik dan tulus.
Bisa saja Lino memilih untuk menerima Luna, mengingat pernikahannya dengan Hanna tidak bisa sah secara hukum, karena Hanna juga bukan manusia, tidak punya identitas jelas di dunia manusia.
Tapi mengingat Hanna waktu itu cemburu dan menangis, Lino jadi tidak tega, tapi melihat Luna serperti ini juga tidak tega.
“Luna, kau boleh menyukai seseorang, tapi kau harus ingat, kau juga masih sekolah bukan? Pikirkan lagi tentang ini setelah lulus sekolah ya?”
Luna kembali melonggarkan pelukannya, mendongak menatap wajah Lino. Pipi Luna yang putih sekarang jadi sedikit memerah, hidungnya juga sedikit merah. Meski begitu, Lino pikir Luna sangat cantik jika begini.
“Kak Lino, sedang pacaran dengan Hanna?”
“Kau... tau?”
Luna menggeleng “Tidak, tapi aku curiga”
“Begitu... maaf ya?”
Luna menggeleng lagi “Tidak apa, tapi...”
“Tapi?”
__ADS_1
Luna tidak menjawab, dia hanya meraih wajah Lino dengan kedua lengan lentiknya. Kejadiannya begitu cepat, saat Lino sadar bibir mereka telah bertemu.
Beberapa detik kemudian Luna melepas tautan mereka, menatap wajah Lino yang terlihat bingung “Kak Lino, maaf...”
Ini hanya imajinasi liar Lino, atau dia memang melihat mata Luna yang tadinya perak kini berubah menjadi merah? Dan... apa itu taring yang ia lihat sekilas di dalam mulutnya?
Apa yang terjadi?
“Luna...” kata-kata Lino terhenti saat Luna kembali menciumnya.
Kesadaran Lino perlahan menghilang, dia tidak tau lagi apa yang terjadi setelahnya.
***
Perlahan Lino membuka matanya, kepalanya terasa sakit saat ini. Saat Lino mencoba untuk duduk rasa sakit di kepalanya kembali menyerang, jadi dia memegangi kepalanya berharap dengan begitu rasa sakitnya menghilang.
Akan tetapi, saat ia mengangkat tangannya, ia keheranan melihat cincin yang tersemat di jari manisnya mengeluarkan rantai.
“Kenapa.. rantai ini..”
Saat itulah Lino sadar, dia masih ada di kamar Luna, dan rantai dari cincinnya menjerat tangan kanan Luna. Luna sendiri hanya tertidur lelap seakan tidak memiliki dosa.
Apa ini? Kenapa rantainya menjerat Luna?
Apa ciuman yang tadi hanya mimpi?
Bagaimana dengan mata Luna yang berubah merah? Lalu..
Taring itu..
Ting!
[Anda telah berhasil menjinakkan kristal putih, informasi lebih detail masih tersegel]
Lino kembali menatap Luna.
Padahal Lino ini penjinak monster lho...
Oh?
Apa... Luna dan Sam bukan manusia biasa?
Tidak mungkin, ini pasti mimpi, ini sangat aneh.
[Jika anda bingung, lebih baik anda segera mencari kristal yang lain segera agar dapat membuka segel buku]
“Apa tidak ada petunjuk untukku?”
[Tidak ada, anda harus berusaha sendiri]
Sial! Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Lino harus mencari kristal yang lain?
Luna bergerak dan terbangun dari tidurnya, dia mengangkat tangannya untuk mengusak matanya tapi..
"Kak Lino, kenapa aku dirantai?"
Mata merah dan taring itu tidak ada, apa itu hanya mimpi?
.
__ADS_1
.