Sistem Pemburu: Penjinak Monster

Sistem Pemburu: Penjinak Monster
Membuka kotak kaca


__ADS_3

.


.


Lino telah berada di depan pintu apartemen adik kembarnya berada, tanpa ragu dan tergesa-gesa Lino memencet bel pintu apartemen. Seorang pria tampan membuka pintunya, dia menatap Lino takjub tanpa berkedip.


“Kamu..”


“Saya Marcelino, apakah –”


“Lino? Kenapa kamu bisa disini? Kemana aja kamu selama ini? Ayo masuk” Pria tersebut menarik lengan Lino agar memasuki apartemen, lalu mengajak Lino untuk duduk di sofa, setelahnya dia berteriak memanggil Roi dan Reina agar datang.


“Aku adalah sepupu dari salah satu istri ayahmu, namaku Jay, eum – kau Marcelino anaknya Lianna kan? aku tidak mungkin salah, kalian terlihat sangat mirip” kata pria itu, Jay.


Mendengar itu Lino segera mengambil buku rahasia dari kotak penyimpanan, membaca ulang catatan yang ada disana dengan seksama baru kemudian dia menjawab.


“Sepertinya anda benar.. berarti, eum – sepupu anda yang bernama Jenifer?”


Jay tertawa mendengar nada formal yang Lino ucapkan, kemudian Jay mengangguk “iya benar, sepertinya kau baru tau tidak lama ini ya? Lalu, apa yang membuatmu kemari? Kau ingin bertemu dengan adik-adikmu?” tanya Jay.


“Kak Lino!!” Roi langsung berteriak segera setelah melihat Lino duduk di sofa ruang tamu, dia berlari menghampiri Lino lalu memeluknya erat. Sementara itu, Reina di belakangnya hanya berjalan biasa saja malah dengan raut agak terganggu.


“Roi jangan berisik kau seperti anak kecil saja!” omel Reina.


“Biarin!” Roi.


“Sebenarnya saya kemari ingin membawa mereka berdua, saya membutuhkan mereka berdua untuk menyelamatkan keluarga yang terkurung di dalam mansion” kata Lino.


Sontak Jay terkejut mendengarnya “Kau serius? Bagaimana caranya?”


“Kalung yang ayah berikan pada mereka berdua, ku rasa kami membutuhkan itu” kata Lino.


Roi melepas pelukannya pada Lino dan menyentuh kalungnya sendiri, begitupun dengan Reina.


“Apa maksudmu? Apa yang terjadi?” tanya Reina, dia belum mengerti dengan apa yang Lino dan Jay bicarakan, begitupun dengan Roi.


“Orangtua kita masih hidup, itu jika kita bisa menyelamatkan mereka” kata Lino, kemudian dia tersenyum dan mengusak kepala Roi yang sedang menatapnya tidak percaya “Kalian ingin bertemu orangtua kita? Jika iya, ayo ikut aku” tambah Lino.


“Aku ikut!” teriak Roi


“Aku juga.. tapi – aku masih tidak mengerti” kata Reina


“Nanti kau akan mengerti setelah sampai sana – paman, aku akan memakai teleportasi, apa paman mau ikut kami?” tanya Lino


Jay menggeleng “Aku akan pergi naik pesawat, karena aku juga harus memberitahu yang lainnya, kita bertemu lagi disana”


Lino mengangguk “Ayo cepat, kita tidak punya waktu lagi, kalian sudah membawa kalung masing-masing bukan?”


“Apa kita perlu membawa senjata?” tanya Reina.


Lino mengangguk “Akan ada banyak penghalang, jadi lebih baik kalian sudah siap jika mendapat serangan”


“Kami mengerti!” Roi.


Setelah itu si kembar berlarian untuk mencari perlengkapan mereka, tidak lama kemudian mereka kembali lagi.


“Kami pergi dulu paman!!” Roi

__ADS_1


Lino pun membawa mereka berteleportasi kembali ke mansion.


Padahal mereka baru saja sampai, monster kalajengking besar langsung menyerang mereka, Reina yang memiliki refleks bagus segera menebas kalajengking tersebut hingga tubuhnya melebur dan menyisakan satu core besar.


“Reina keren!!” teriak Roi sambil tepuk tangan


“Jangan lengah Roi!” Reina


“Aku tau!” Roi


Meski baru sampai, mereka sudah disibukkan dengan berbagai monster yang berdatangan tanpa henti.


Lino tidak ingin melakukan sesuatu yang mencolok dulu tapi dia sudah kehilangan kesabarannya setelah mendengar teriakan Sam dari dalam manison, kemudian disusul dengan jeritan Felly dan Xia.


Lino harus melakukan ini, suatu sihir yang Lino dapat dari mempelajari berbagai buku sihir, terutama yang diberikan oleh mertuanya –ehem.


Untuk melakukan sihir besar tingkat tinggi tersebut Lino membutuhkan banyak energi sihir, dan itu akan menguras sebagian besar energinya, namun menurut Lino tidak masalah, dia bisa memulihkan energi dengan membeli ramuan di toko sistem. Meski untuk memulihkan energi sihirnya membutuhkan waktu agak lama tapi Lino tidak masalah.


Lino memusatkan energi sihirnya dan pikirannya, setelah itu baru dia dapat merasakan semua energi sihir para monster yang menyerang mereka, Lino harus mencari pusat darimana semua monster tersebut berasal.


Ketemu.


Seorang elf bersembunyi di atap mansion.


Dengan memakai sayap yang dia beli dari toko sistem, dia terbang diam-diam mendekati elf penyihir tersebut, kemudian berhenti beberapa meter di dekatnya.


“Maafkan aku tapi, aku harus menghabisimu”


DOR


Teriakan memekikkan terdengar seiring dengan suara tembakan pistol putih milik Lino. Elf tersebut tumbang, dan tentu saja sihirnya juga berhenti, monster-monster berhenti berdatangan, yang masih tersisa juga segera lenyap.


Lino yang kehilangan sebagian energinya sudah melemah, namun untungnya sayap yang ia gunakan bisa menahan tubuhnya untuk tidak jatuh begitu saja, Hanna menangkap tubuh Lino dengan sulurnya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Hanna


Lino tersenyum dan mengangguk “Aku baik.. kita harus menyelamatkan yang ada di dalam” kata Lino.


“Kak Lino!!” Subin dan Roi berlarian menghamipirinya, Lino sudah diturunkan oleh Hanna dan sudah bisa berdiri dengan baik, walau masih lemas.


“Aku baik-baik saja..” kata Lino.


“Kakak harus minum ini” Subin memberikan ramuan energi untuk Lino yang segera ia minum begitu saja. Rasanya enak, rasa jeruk.


Lino merasa segar dan kembali berenergi setelah meminumnya, meski begitu energi sihirnya masih belum pulih dan sedang pulih perlahan-lahan, membutuhkan waktu untuk kembali seperti sedia kala.


Sihir yang Lino gunakan tadi adalah sihir untuk mencari sumber masalah, meski hanya begitu saja tapi itu membutuhkan banyak energi sihir. Karena sihir elf juga bukanlah sihir main-main, dia menggunakan sihir tingkat tinggi untuk menyembunyikan keberadaannya, jadi untuk menemukannya membutuhkan sihir yang lebih besar lagi.


Akhirnya mereka kembali lagi di aula, anak buah Lino sudah duduk di lantai karena lelah. Bagaimana tidak lelah jika mereka melawan monster tidak habis-habis?


“Kak Lino baik-baik saja?” tanya Luna, dia terlihat sangat khawatir, dia sedikit berlari untuk menghampiri Lino.


“Aku baik-baik saja” kata Lino sambil tersenyum lebar.


“Tapi energi sihir kak Lino tipis..” Luna


“Itu tidak perlu dipikirkan, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana cara menghancurkan kotak kaca yang mengurung keluargaku” kata Lino.

__ADS_1


“Keluarga? Orang tua kak Lino ada disini? Yang mana?” tanya Hanna antusias.


“Pasti yang ganteng!” sahut Xia


Reina mendekati kotak kaca besar itu lalu menempelkan tangannya, setelah itu dia melepaskan tangannya lagi.


“Bagaimana cara membukanya?” tanya Reina kemudian.


“Aku juga tidak tau, tapi ku pikir itu ada hubungannya dengan kalung yang ayah beri pada kalian” jawab Lino.


Roi melepas kalungnya, itu adalah kalung peluit dengan hiasan kepingan salju, tanpa pikir panjang dia tiup peluit itu.


Terdengar suara yang indah dari tiupan peluit tersebut, membuat mereka terdiam dan fokus dengan suaranya.


Tiba-tiba kotak kaca besar itu bergetar, terdengar suara gemuruh hingga Roi menghentikan tiupannya.


Sekarang muncul sesuatu dari kotak kaca, seperti sesuatu yang berbentuk tetesan air.


Kali ini Reina melepas kalungnya, lalu menempelkan kalungnya yang berbentuk tetesan air hingga pas dengan bentuk.


Kotak kaca besar tersebut bergetar


lagi, kali ini lebih keras, hingga Lino harus menarik Roi dan Reina menjauh


dari kotak kaca.


Kotak kacatersebut pecah dengan suara


yang keras hingga yang ada disana harus menutup telinga mereka, namun pecahan


dari kaca tersebut menghilang begitu saja melebur menjadi cahaya.


Manusia yang ada di dalamnya masih membeku, mereka hanya diam menonton tidak tau harus bagaimana sampai kemudian sistem yang memberitahu Lino agar peluit kembali ditiup.


Maka Roi kembali meniup peluitnya, suara indah kembali terdengar.


Perlahan manusia yang tadinya membeku perlahan-lahan kembali bergerak.


Seperti yang telah Lino kira sebelumnya, isi mansion ini yang membeku waktunya juga turut dibekukan. Karena itu, manusia yang seharusnya berubah seiring bertambahnya tahun malah tidak berubah sama sekali.


Ayah Lino yang harusnya berumur 40 tahunan, hanya terlihat seperti pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan, begitupun dengan yang lain.


“Papa?” refleks suara tersebut Lino ucapkan, dia juga tidak sadar mengucapkannya.


“Lino? Itu kamu?”


 .


.


.


novel ini emang mau habis 😢😢 jadi jgn minta up 2 dong nanti cepet tamat 😢😢


karena itu aku ada gantinya 😊 aku buat novel baru, sistem lagi 😂 ceritanya aku buat beda dr yg lain (semoga kalianjuga berpikir gitu)


nantikan ya 😆👍

__ADS_1


__ADS_2