
.
.
Srigala es bertanduk memiliki bulu-bulu putih yang lebat, mereka memiliki satu tanduk warna perak di dahi mereka, mata mereka biru dan menyorot tajam.
Hampir sama seperti komplotan Alpha dulu, mereka cukup kuat tapi tentu saja dapat dihabisi dengan mudah karena Lino membekali anggotanya dengan senjata terbaik yang dia beli dari toko sistem, biar cepat selesai.
Karena mereka srigala, tentu saja bangkai mereka harus utuh setelah sampai pada asosiasi nantinya. Karena bulu mereka bisa dikuliti untuk bahan mantel, tanduk mereka juga memiliki sihir khusus, itu juga bisa dijual. Bulu srigala yang tebal dan bagus seperti itu biasanya harganya sangat mahal, karena akan di ekspor ke perusahaan fashion ternama di Prancis sana.
Tapi untuk boss dungeon, tentu saja harus dihabisi disini, karena Lino membutuhkan corenya dengan segera.
Setelah semua anggota srigala dihabisi oleh mereka, Lino segera menuju tempat bossnya, dia bersama Alpha.
Alpha meminta agar dia saja yang melawan boss itu, karena mereka ada dendam pribadi, jadi Lino mempersilahkannya. Jadi Lino menonton mereka bertarung dari pinggir ruangan sambil memakan kripik singkong keju balado.
Alpha sudah berubah menjadi srigala abu-abu, bertarung dengan srigala putih tersebut.
Entah karena Alpha akhir-akhir ini sering berlatih atau apa, tapi Lino bisa melihat dia sudah lebih kuat dari saat pertama kali Lino menemukannya.
Alpha berhasil menang melukai srigala putih tersebut meski Alpha sendiri juga luka, tapi tidak sebanyak luka srigala putih.
Lino mengeluarkan pisau belatinya, menyeringai melihat Srigala putih yang telah dikalahkan tersebut.
“Biar aku yang mengulitinya” kata Lino, kemudian dia menyerahkan bungkusan kripik singkong pada Xia yang sudah ada disana setelah srigala putih kalah, anak-anak lain juga menyusul mereka setelahnya.
Mereka menonton Lino menguliti, mencabik-cabik srigala tersebut, lalu mengeluarkan empat core dari dalam tubuh srigala.
“Bukankah pintudungeon tingkat A sangat mudah bagi kita?” tanya Lino
“Tidak juga” sahut Randy
“Bang Lino gak liat kita ngos-ngosan gini?” timpal Sam, Lino melirik pada bocah itu dan melihat kaos hitam yang dia kenakan sudah banjir keringat.
“Kita ada di dungeon es begini kenapa kau malah berkeringat bocah?” tanya Lino, mantel yang tadinya Sam kenakan sudah dibawa oleh Felly.
“Aku mengeluarkan terlalu banyak sihir api, jadi aku gerah sekali, dan bajuku basah karena kena air tadi” balas Sam
“Ku pikir keringat” Lino, dia menyimpan kulit srigala ke dalam kotak penyimpanannya, lalu keempat corenya juga, oh iya, tidak lupa tanduknya juga.
“Kalian ingin makan daging srigala?” tanya Lino
“MAU!!” sahut Xia
“Daging srigalanya enak kok! Kalian harus coba!” kata Hanna
Mendengar itu, Linopun kembali memotong-motong daging srigala dengan pisau daging menjadi beberapa bagian.
“Aku tidak ingin memakannya” kata Luna
“Kenapa? Kan enak!” sahut Hanna
“Aku penasaran juga rasanya bagaimana, beneran bisa dimakan? Gak beracun kan?” tanya Sky
__ADS_1
“Sebenarnya tidak beracun, tapi aku tidak ingin memakannya.. karena aku juga srigala” kata Alpha.
“Tidak perlu dipaksakan Alpha” timpal Darko
“Serigala jenisnya Alpha beracun, srigala yang ini bebas racun” kata Xia
Lino telah selesai memotong-motong daging srigala dan disimpan di kotak dimensi, agar tetap segar.
“Sekarang kumpulkan semua bangkai srigala dan juga semua kristal es sihirnya Hanna, lalu masukkan ke kotak penyimpanan” pinta Lino
“Siap!” setelah itu dengan kekuatan Hanna, semua bangkai srigala dan kristal es sihir berdatangan dan memasuki penyimpanan dengan cepat.
Selesai.
...--*--...
...SELAMAT!...
...Anda telah berhasil menyelesaikan misi tersembunyi! Hadiah dua juta koin sistem dan dua tiket masuk dungeon misi khusus telah dikirimkan....
...[Klaim] [Abaikan]...
...--*--...
Tentu saja Lino memilih pilihan klaim.
“Ayo kita kembali ke gedung asosiasi terlebih dahulu, tapi sebelumnya, kabari pihak asosiasi jika kita butuh pemburu lain untuk membedah semua srigala tersebut” perintah Lino
“Akan saya laksanakan kapten!” teriak Sky
“Kamu masih bocah, mendiang diam saja” Sky
“Randy..”
Mereka semua terdiam mendengar suara merdu Ara tiba-tiba memanggil Randy, Randy pun menoleh bingung padanya “Iya, Ara kenapa?”
Ara mendekat “pipimu terluka, aku akan menyembuhkannya” kata Ara
“Oh, boleh kok” kata Randy “Tolong ya”
Menyembuhkan? Jangan-jangan...
“Ara tung –” terlambat, Ara sudah mengecup pipi Randy yang terluka, sama seperti saat menyembuhkan jari Lino, bekas ciuman itu bersinar biru muda, saat sinarnya hilang, luka goresan pun ikut menghilang.
“Ara, sepertinya bibirku terluka, ayo sembuhkan aku juga!” Sky “AWW LEPAS!”
Luna menjewer telinga Sky yang berusaha ingin menipu Ara.
“Bibirmu tidak terluka kok” kata Ara bingung
“Dia hanya bercanda kok, jangan terlalu dipikirkan, ayo kita keluar” kata Felly, kemudian dia menyeret lengan Lino agar pergi dari tempat itu segera.
***
__ADS_1
Malam ini Lino duduk di tepi atap gedung apartemen, menatap langit malam yang gelap sambil menyesap teh mawar hangat dan memakan salad buah apel.
Mereka keluar dari pintu dungeon jam setengah tujuh malam, setelahnya langsung pergi ke gedung asosiasi untuk menyerahkan hasil perburuan, lalu pergi ke restoran untuk makan malam, kemudian baru kembali ke apartemen.
Yang lain sudah lelah dan mungkin sudah tidur, tapi Lino tidak bisa tidur dan malah pergi ke atap gedung untuk merenung. Ini sudah sekitar jam sepuluh malam, udara cukup dingin diatas sini, jadi Lino membungkus tubuhnya dengan selimut.
Lino memeriksa layar sistemnya, melihat-lihat kotak penyimpanan karena Lino sudah menyimpan banyak sekali barang di penyimpanan.
Tiba-tiba Lino berpikir, waktu itu kenapa buku rahasia menyebutkan kedua orangtuanya dengan cukup aneh. Saat orangtuanya menemukan Felly, orangtuanya disebut sebagai pasangan yang juga mengurus seorang anak. Kenapa tidak disebut sebagai pasangan yang juga mengurus anak mereka – ah, mungkin terlalu berlebihan memikirkannya.
Lino ingin menanyakan rahasia tentang keluarganya, tapi Lino pikir dia masih belum siap mendengar cerita apapun. Orangtuanya meninggal di umurnya yang masih sangat muda.
Lino tidak memiliki siapa-siapa karena paman dan bibinya tidak mau mengakui Lino dan Felly apalagi mengurusinya. Lino tidak mengerti kenapa mereka seperti itu.
Lalu yang membuat Lino malam ini memilh merenung adalah tadi, saat di gedung asosiasi, ada paman dan bibinya yang sengaja ingin menemuinya karena mereka mendengar berita tentang Lino. Mereka bilang mereka butuh uang dan meminta Lino untuk memberikan mereka uang.
Lino tidak mengerti, dulu mereka tidak mau membagi harta warisan kakek dan nenek sedikitpun untuk Lino dan Felly, mereka bilang Lino dan Felly bukan siapa-siapa mereka, Lino dan Felly hanya orang asing, jadi diusir begitu saja.
Lalu sekarang, mereka dengan tidak tau malu meminta uang pada Lino.
Garis bawahi itu, meminta!
Bisanya jika orang tau malu dan punya sopan santun paling tidak mengatakan meminjam atau apa.
Saat itu Lino sangat marah, dia hanya menatap paman dan bibinya dengan tatapan tajam, tapi beda dengan Felly yang langsung meledak.
Felly mengatakan semua unek-uneknya tentang bagaimana paman dan bibinya menelantarkan Lino dan Felly dulu, tidak mau membagi harta warisan dan membiarkan Lino dan Felly hidup susah. Felly bahkan harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan beasiswa agar tetap bisa sekolah.
Dimana mereka dulu saat Lino dan Felly terpuruk..
Beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar gedung untuk meliput kesuksesan guild milik Lino lagi segera datang dan merekam.
Lino mengeluarkan uang tiga juta dari kotak penyimpanan dan memberikan pada paman dan bibinya lalu mengatakan pada mereka untuk tidak mengganggu Lino dan Felly lagi, karena mereka sudah bukan keluarga.
Mungkin vidio tentang itu sudah tersebar dimana-mana, Lino tidak peduli juga sih.
“Bang Lino”
Lino mendongak dan melihat Felly berdiri di sampingnya, kemudian Felly ikut duduk di samping Lino.
“Kenapa abang ada disini? Tehmu sudah dingin, ingin ku panaskan lagi?” Felly merebut cangkir teh Lino, dengan sihirnya ia menghangatkan teh itu kembali, itu adalah sihir api sederhana yang sepertinya cukup berguna.
“Terima kasih, aku hanya sedang suntuk dan tidak bisa tidur” jawab Lino.
“Bang Lino memikirkan paman dan bibi? Pasti mereka begitu karena aku kan memang bukan keponakan asli mereka” kata Felly.
“Aku tidak ingin memikirkan mereka untuk sementara” Lino
Felly mendekat pada Lino lalu menyandarkan kepalanya di bahu Lino “Aku tidak pernah berpikir jika aku bukan adik kandungmu.. aku sudah terbiasa menjadi adikmu”
“Aku juga sudah terbiasa kau menjadi adikku,
dan selamanya akan seperti itu, kau adalah adikku” kata Lino, dia kemudian meletakkan gelas tehnya yang telah kosong ke dekat mangkuk salad apel. Setelah itu tangan Lino bergerak untuk memeluk Felly dari samping.
__ADS_1
.
.