
.
.
Mereka sudah kembali ke istana Raja Iblis, anak-anak itu betah tinggal disana. Padahal dulu mereka takut dan sangat khawatir. Darko, Sky, Sam, Felly dan Luna sangat bahagia karena mereka bertemu dengan kelurga kandung mereka, apalagi ibu dan ayah mereka sangat menyayangi mereka.
Alpha memilih untuk mengunjungi wilayahnya, lalu Xia dan Hanna pergi ke istana masing-masing untuk berkunjung juga. Lino ingin ikut dengan Hanna untuk berkunjung ke istana peri bunga, namun bagaimana dengan Randy?
Randy ingin pulang untuk bertemu orangtuanya.
Jadilah Lino kembali ke dunia manusia, kali ini menggunakan gerbang di sistem. Setelah sampai apartemen, Lino harus mengantarkan Randy pulang ke rumahnya, mereka disambut dengan baik oleh ibunya Randy.
Bagaimanapun juga, Randy pasti iri melihat teman-temannya bertemu keluarga mereka, jadi tidak anah jika dia mau pulang untuk bertemu ibunya.
Lino juga merindukan keluarganya.
Setelah mengantar Randy, Lino hanya bengong di kamarnya sampai ponselnya berbunyi.
Seseorang menelfon Lino.
“Zeus?”
Lino punya teman saat di SMA namanya Zeus, dia bisa dibilang anak yang jenius. Dia setahun lebih muda dari Felly, tapi ikut akselerasi hingga bisa sekelas dengan Lino, itupun hanya satu tahun, tahun berikutnya dia sudah lulus dan bersekolah. Zeus berkuliah dan cita-citanya menjadi seorang dokter.
Saat ini, Zeus sudah lulus kuliah, cepat sekali ya? Dari kabar yang terakhir Lino dengar Zeus kini bekerja di salah satu rumah sakit di China... kalau tidak salah, Shanghai?
Meski hebat begitu, Zeus sangat menyukai Lino, Zeus itu laki-laki ya.. maksudku suka disini adalah suka sebagai teman. Zeus selalu memberi kabar ataupun menanyai kabar Lino paling tidak sebulan sekali. Kalau Zeus ada di kota ini dia pun pasti menghubungi Lino untuk minta bertemu.
Jangan tanyakan kenapa namanya Zeus, Lino juga tidak paham.. tapi ibunya Zeus namanya Haera.. mungkin jika si Zeus punya adik lagi akan dibernama poseidon atau aprodite.
“Halo?”
“Kak Lino! Kakak ada dimana? Alamatnya udah ganti lagi?”
“Oh? Aku belum memberitahumu? Maaf ya aku sangat sibuk”
“Aku pikir kak Lino kenapa-napa.. bisa kita ketemu? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan”
“Mager nih”
“Kak Lino kebiasaan!”
“Kamu kesini aja, aku masakin banyak makanan enak deh”
“Serius? Alamatnya?”
“Aku kirim lewat pesan”
Setelah telfon terputus, Lino menghela nafas lelah lalu kembali berbaring di ranjangnya. Dia hampir saja tertidur jika tidak ingat temannya akan datang, dengan ogah-ogahan Lino bangkit dari tidurannya dan pergi ke dapur.
Dia tidak tau mau masak apa... tapi, dia ingin menguji kehebatan persik putih untuk masakan, jadi Lino akan memasak daging kali ini, Zeus juga suka daging, jadi pas lah.
Selain daging sapi, Lino mengolah daging ayam untuk dijadikan sate dan ayam goreng, selain itu dia juga menggoreng cumi, lalu tentu saja... bintang dari segala masakan, apalagi jika bukan sambal. Kali ini Lino membuat sambal cabe ijo, mumpung cabe ijo dan cabe rawit sedang banyak di kulkasnya.
Tepat setelah sambal matang, suara bel pintu apartemen berbunyi.
Lino mencuci tangannya dan melepas apron yang ia kenakan lalu membukakan pintu.
Seorang laki-laki tinggi tampan dengan hidung mancung dan kulit putih berdiri disana.
“Kak Lino!” Zeus sudah ingin memeluk Lino tapi menghindar, Zeus berdecak kesal.
__ADS_1
“Masuk aja Ze, tutup lagi pintunya” perintah Lino
“Bawelnya masih tetep ya – eh, si Felly dimana?”
“Gak ada”
“Gak ada maksudnya?”
“Maksudnya ya gak ada”
Zeus berdecak kesal lagi karena masih menyebalkan seperti dulu-dulu, yah.. Zeus juga tidak berharap Lino berubah hanya karena sekarang sudah kaya raya.
“Sepertinya hasil dari menjadi pemburu banyak sekali ya, kak Lino sampai bisa membeli apartemen ini” kata Zeus, dia sudah duduk di kursi meja makan dengan manis, menunggu Lino.
“Anggap saja aku sedang beruntung Ze, mau langsung makan atau nunggu nanti aja?” tanya Lino.
“Ya langsung makan lah, laper nih”
“Aku juga sih”
Mereka segera memasuki ruang makan sekaligus dapur, sudah tersedia berbagai makanan disana, semuanya terlihat enak dan menggiurkan.
“Skill masak kak Lino makin bertambah ya” oceh Zeus sambil meraih piring dan nasi.
“Aku dari dulu juga udah pinter masak, tinggal bahan makanannya aja yang gak ada” Lino
“Tapi kak.. yang aku denger dari mama, rumornya ayahnya kak Lino itu punya banyak uang, yang tau dimana uangnya cuma ibunya kak Lino sama orang-orang kepercayaan aja” kata Zeus
Lino menatap Zeus tidak mengerti “Mana mungkin ayahku punya banyak uang, kehidupan kami sangat sederhana”
“Kata orangtuaku, orangtua kakak itu sengaja hidup sederhana biar gak ketahuan orang-orang.. pokoknya ada alasan sendiri gitu katanya”
Memang sih, orangtuanya Zeus itu kenal dengan orangtua Lino, tapi Lino masih tidak bisa percaya. Memangnya untuk apa mereka merahasiakan harta mereka? Kalo ada pun harusnya sekarang sudah beralih ke Lino dong? Tapi mana.. tidak ada sama sekali.
Lino menggeleng “Masih kurang beberapa bulan Ze”
“Pantesan aja... terus kak yang ingin aku omongin tuh –”
“Ze... nanti lagi, kita makan dulu”
“Oh, oke”
Selesai makan Zeus merasa sangat puas, dia tidak hanti-hentinya memuji masakan Lino, dia bilang Lino sudah pantas menjadi chef berbintang di restoran bintang Lima.
Setelah mencuci piring, keduanya memilih untuk mengobrol di atap gedung, sambil minum kopi susu hangat untuk Lino, dan coklat panas untuk Zeus.
“Apa yang mau kamu omongin tadi Ze?” tanya Lino
“Oh iya hampir lupa.. gini – kan aku sekarang kerja di rumah sakit di Shanghai sana.. nah, aku gak sengaja liat ruangan yang selalu di kunjungi teman ayahku. Kau sudah tau ceritanya kan? yang ada di Shanghai itu, juga teman ayah dan ibumu... tapi –”
“Tapi apa Ze, cepetan aku udah penasaran!” desak Lino
“Bentar kak minum dulu – nah, teman ayahku itu salah satu konglomerat di Shanghai sana, dia mengunjungi suatu ruangan, yang setelah aku lihat di dalamnya ada seorang perempuan cantik, mirip sekali dengan ibumu hanya saja rambutnya tidak hitam tapi pirang” cerita Zeus
“Mungkin hanya mirip Ze”
“Dari yang aku tau, dia dibawa kesana tepat setelah orangtuamu kecelakaan.. dan sampai sekarang dia masih koma”
Lino menggelengkan kepalanya “Tidak, kamu hanya berlebihan”
“Kak Lino aku serius! Apa kak Lino mau melihat langsung?”
__ADS_1
Lino berpikir sejenak sebelum menjawab “entahlah Ze..”
“Ayolah kak Lino.. aku masih disini sampai tiga hari, setelah itu kau sudah harus memutuskan” Zeus
“Akan ku pikirkan dulu, lagipula jika itu hanya orang yang mirip gimana? Kakek dan nenekku bilang ayah dan ibu sudah tiada” Lino
“Apa kau melihat mayat ibumu?”
Lino menggeleng “Aku hanya bisa melihat ayah”
“Tuh kan!”
Ucapan Zeus membuat Lino kepikiran, sampai Zeus pamit pulang pun Lino masih memikikannya. Bagaimana jika yang Zeus lihat adalah ibunya?
Tapi bagaimana jika ternyata bukan?
“Apa aku harus kesana?”
[Itu terserah anda, tapi tidak ada salahnya mencoba]
[Jika tidak mau juga tidak apa-apa]
“Apa aku harus fokus pada misiku untuk membebaskan keluarga Rin saja?”
[Bukankah masih ada waktu tiga hari?]
“Kau benar.. aku harus menghubungi Rin untuk berangkat kesana bersama”
[....]
“Kenapa kau tidak membalasku? Hei? Hello? Ah terserah saja”
Lino sudah mengambil keputusan, dia akan menyelamatkan keluarga Rin dulu.
Keluarga Rin...
Bibinya Rin juga mirip dengan ibunya, hanya saja bibinya Rin memiliki rambut pirang – eh? Jangan-jangan itu bibinya Rin lagi...
Ah, lebih baik Lino simpan dulu dan pastikan nanti.
Orang bule memang mirip-mirip, jadi tidak heran jika ada yang mirip meski tidak ada hubungan.
Tentang ucapan Zeus jika orangtuanya sebenarnya kaya... itu sebenarnya tidak menutup kemungkinan, karena fasilitas gerbangnya di sistem mengatakan ia pernah mengunjungi beberapa tempat yang Lino tidak tau dia bahkan pernah ada disana.
Misalnya seperti Sidney dulu itu.. lalu ada juga pilihan kota Jakarta, ada lagi pilihan untuk ke Seoul dan New York.
New York..
Disana sedang siang kan jika disini malam?
Lino penasaran ingin menocba gerbang untuk kesana.
Lino bangun dari tidurnya, kemudian memeriksa musim dan cuaca di Amerika, utamanya kota New York.
Bagus.. sedang musim panas menuju musim gugur.
Lino mengecheck penampilannya kembali, dia hanya mengenakan celana training dan kaos biasa, jadi dia meraih jaket dari merek terkenal dan memakainya.
“Ayo jalan-jalan di New York dulu sebentar”
.
__ADS_1
.