
.
.
“Tapi mereka suka menyimpan harta karun”
Mata Lino yang sudah besar itu makin membelalak mendengarnya. Ayolah.. siapa yang tidak suka harta karun?
“Hanna kau serius? Tidak ada nama hantu di buku monster”
“Mungkin karena mereka setengah manusia, tapi tidak bisa disebut manusia juga sih, mereka seperti manusia transparan, mereka memiliki kemampuan untuk berubah wujud juga, tapi itu pun hantu yang sudah tingkat tinggi”
“Jika kita mengalahkannya, akankah
kita akan dapat harta karun?”
Hanna mengedikkan bahunya “Tidak tau, tidak semua hantu punya harta sih”
“Aku penasaran, jadi aku akan membelinya”
Hanna tersenyun senang “Lalu kita bisa menanam banyak mawar! Lalu membuat nexie!”
“Lalu menjualnya” sahut Lino
“Dijual? Memang manusia suka?”
“Aku suka kok, Felly juga”
“Sungguh?” Hanna terlihat senang “aku senang jika manusia juga menyukainya”
“Kita jual kecil-kecilan dulu, mungkin saja suatu saat bisa jadi pabrik yang besar kan?”
“Kalau kita punya pabrik yang besar, berarti punya uang yang banyak?”
Lino mengangguk “Tentu saja, uang akan mengalir ke rekening kita”
“Berarti bisa jajan yang banyak juga?”
Senyum Lino luntur terganti dengan tatapan datar “Kau ini hanya peduli dengan jajan saja, pasion mu itu hanya untuk jajan ya?”
Hanna mencebikkan bibirnya “Mau gimana lagi, aku hanya tertarik dengan jajanan”
“Minta saja Felly membuatkanmu kue”
“Benar juga”
“Master...”
Belum ada yang tidur di antara mereka, Lino hanya menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, dan Hanna yang menyandarkan kepalanya di dada Lino, mendengarkan detak jantung Lino yang berdetak teratur.
“Hmm?” Lino hanya menggumam untuk menjawab Hanna, tangannya ia gunakan untuk membelai rambut kecoklatan Hanna yang terasa halus, lembut, wangi seperti aroma mawar. Lino pikir, Hanna sepertinya menyukai mawar, tapi mungkin itu karena bunga mawar adalah bunga yang paling berharga di kerajaannya.
Karena dengan bunga mawar mereka bisa mendapakan nexie, dan juga minyak mawar. Lino belum belum bertanya minyak mawar untuk apa.
“Karena kita sudah menikah..” Hanna
__ADS_1
“Iya?” Lino
“Apa yang harus kita lakukan? Memangnya orang menikah melakukan apa? Kenapa harus menikah?”
Lino terkekeh mendengar pertanyaan Hanna “Kau serius tidak tau?”
Hanna mengangguk pelan karena dia memang tidak tau.
“Astaga, kau ternyata masih bocah, aku merasa bersalah menikahimu”
Hanna mendongakkan kepalanya, tidak terima dengan ucapan Lino “Aku bukan bocah!”
“Oh ya? Orang menikah itu adalah sebuah ikatan yang suci – eum, tujuannya untuk mendapatkan keturunan”
“Oooh, anak” Hanna mengangguk-angguk mengerti, tapi Lino malah tertawa lagi melihatnya.
Lino menangkup kedua sisi wajah Hanna dengan telapak tangannya, Hanna mengedip-ngedipkan matanya tidak mengerti. Hanna membelalakkan matanya saat wajah Lino mendekat, mendadak wajahnya memanas, dia merasa wajahnya telah memerah seperti kepiting rebus.
Ah, jadi pengen makan kepiting.
CUP
Refleks Hanna menutup matanya saat bibir keduanya menempel.
Lino mencium bibir lembut Hanna perlahan-lahan, ini pertama kalinya dia mencium seseorang, jadi dia juga gugup. Lino menarik Hanna untuk duduk di pangkuannya, lalu Hanna mengalungkan kedua lengannya ke leher Lino.
Ciuman berubah semakin panas. Perlahan ciuman itu turun ke leher, Lino mengecup beberapa titik di leher Hanna, membuat Hanna mendesis karenanya. Sementara itu tangan Lino bergerak membuka kancing dari piyama yang Hanna kenakan.
“Sshh master..”
Hanna mendesis tiap kali Lino menyentuh kulitnya, dia sangat menyukai sentuhan Lino.
“Master...”
Lino kembali menatap mata Hanna, tangan Lino bergerak ke atas menuju tengkuk Hanna, kemudian mendekatkan kembali wajah mereka, menyatukan kedua belah bibir mereka. Kali ini pagutan itu terasa lebih panas dari sebelumnya, begitu intens.
Tanpa terasa pakaian mereka telah terlepas, berserakan di lantai kamar.
Mereka telah terlena ke dalam pesona pasangan mereka, terlarut dengan suasana yang mereka ciptakan sendiri.
Malam terasa sangat panjang, mereka bergerak sepanjang malam, tanpa mempedulikan sekitar mereka. Malam ini menjadi milik mereka berdua.
***
Sam membuka pintu apartemennya, menatap tidak suka pada laki-laki tampan yang membangunkannya jam empat pagi dengan menelfonnya.
“Apa-apaan ekspresimu itu? Ini sudah hampir jam lima pagi, ayo buruan!” ucap laki-laki itu, Lino, siapa lagi?
Sam mengusak matanya lalu menguap sebentar “Ngantuk bang, ngapain olah raga sih? Mending lanjut tidur aja” keluh Sam.
Lino berdecak kesal “Aku mengajakmu olah raga agar kau lebih sehat, lihat dirimu ini, kurus kering kena tiup angin bentar langsung melayang. Cuci mukamu dulu, lalu berangkat”
Lino menyeret lengan Sam untuk kembali masuk apartemen, menutup pintu apartemen, lalu lanjut menyeret Sam ke kamarnya. Lino berdecak kagum melihat kamar Sam yang masih rapi bahkan setelah yang punya kamar baru bangun tidur.
Beda sekali dengan Felly yang berangkat tidur rapi, bangun tidur langsung seperti kapal pecah.
__ADS_1
Lino mendorong tubuh Sam masuk kamar mandi “Cuci muka sana, awas kalo tidur di dalem kamar mandi!”
Meski malas dan mengantuk, Sam takut juga dengan Lino, jadi dia menurut dengan mencuci mukanya dan gosok gigi, setelah itu kembali lagi keluar.
Lino duduk di tepi ranjang milik Sam sambil memandangi foto Sam dan Luna saat masih umur enam tahun.
“Udah bang”
Lino mendongak menatap Sam, dia tersenyum melihat anak itu sudah lebih segar dari sebelumnya.
“Ayo berangkat!”
“Tunggu bang!”
Lino kembali duduk, menatap Sam yang sedang membuka laci meja yang terletak di sebelah ranjang dengan bingung, setelah itu Sam mengeluarkan amplop dan menyerahkannya pada Lino.
“Apa ini?” tanya Lino, setelah membuka amplop itu, ternyata isinya uang.
“Bukankah beberapa hari lalu aku dan Luna sering dibayarkan bang Lino? Kami sudah menghitung semuanya, jadi itu uang bang Lino”
Lino menutup amplop itu kembali lalu memberikannya lagi pada Sam “Tidak, aku memang berniat membayarkannya untuk kalian, jadi kalian tidak perlu mengganti apapun”
Sam menerima uangnya kembali namun dia masih tidak mengerti “Tapi kan, bang Lino bilang gak mau bayarin a.. aku – jadi, kita memutuskan untuk mengembalikan uangnya”
“Sam, duduk”
Sam langsung duduk di lantai dengan menekuk semua kakinya, Lino menghala nafas lelah “Bukan di lantai..” lalu Lino menepuk tempat di sampingnya, agar Sam duduk di tepi ranjang di sebelah Lino.
Sam berdiri lagi lalu duduk di samping Lino.
Jika begini kan enak, Lino tidak perlu mendongak untuk menatap Sam.
“Kamu jadi laki-laki jangan baperan dong Sam, aku cuma bercanda, aku gak sungguhan saat mengatakannya. Uang bisa dicari kok, gak mungkin aku sepelit itu, aku menggodamu karena kau terlihat lucu saat ngambek. Yah, sebenernya aku agak gak suka – sebenernya lebih ke gak terima sih, karena Felly sepertinya menyukaimu, aku hanya kakak yang ingin adikku tidak salah langkah, jadi – bukannya aku gak suka kamu deketin Felly, aduh gimana ya? Aku udah nganggep kamu seperti adikku sendiri”
Sam menatap Lino, Lino bisa melihat bocah tampan rupawan tapi cengeng ini sudah mau menangis, entah karena terharu atau takut pada Lino, Lino juga tidak mengerti.
“Bang Lino bilang gitu karena kasihan pada kami setelah mendengar cerita kami dari Luna?”
“Iya, aku kasihan mendengarnya.. tapi sebelum mendengar cerita itu aku sudah menganggap kalian adikku sendiri, Randy juga. Aku ingin jadi ketua yang baik, kakak yang baik untuk kalian, karena itulah sekarang aku mengajakmu untuk olah raga bersamaku – tahan air matamu, laki-laki gak boleh terlalu cengeng”
Sam buru-buru menghapus air matanya dengan lengan bajunya “Udah..”
Lino tersenyum, lalu tangannya terangkat untuk mengusak rambut hitam Sam “Senyum dong... kalo kamu suka adikku, kau harus bisa jadi lebih kuat agar bisa selalu melindunginya, oke?”
Sam mengangguk pelan.
“Ayo berangkat, aku juga punya sesuatu untuk ku berikan padamu, ayo!”
“Apa itu pistol yang waktu itu?”
“Hmm sebenarnya bukan, tapi mirip dan mungkin lebih baik? Setelah olah raga, kita akan mengujinya”
Sam sudah bisa tersenyum lebar “Oke!”
.
__ADS_1
.