
Malam perlahan tersingkap Sang Terang. Suara cicit burung pagi bersahut-sahutan. Membangunkan Ganendra yang semalam tertidur di pinggiran hutan. Beralaskan rerumputan dan bersandar pada pepohonan. Mata Ganendra mengerjap-ngerjap perlahan. Menyesuaikan pemandangan yang ada di sekitarnya. Suara nyaring yang berasal dari perutnya terdengar bersahut-sahutan. Mau tidak mau Ganendra beranjak dan berdiri. Perlahan berjalan sembari memegangi tangannya yang masih belum sembuh.
Menyusuri pinggiran hutan dan berjalan entah kemana. Dia melihat dari kejauhan kepulan asap membumbung tinggi di angkasa.
"Mungkin di sana ada sebuah desa." gumam Ganendra sambil berjalan dan setengah menyeret kakinya yang juga terluka.
Setelah beberapa saat berjalan. Samar-samar dia mendengar suara tangisan silih berganti. Semakin lama semakin terdengar keras. Ganendra telah memasuki suatu desa. Di depannya dia melihat gapura yang terbuat dari tumpukan batu yang disusun indah.
"Gapura semacam ini pernah ditunjukkan ibu melalui sebuah gambar. Mirip sekali dengan era kerajaan di jaman dahulu sebelum Indonesia menjadi negara seperti sekarang ini." gumamnya sendirian.
*gapura desa
Ganendra berjalan tertatih memasuki gapura desa. Beberapa orang desa terlihat sedang terduduk sembari menangisi jisim yang ditutup kain. Tidak jauh dari sana, asap pemujaan terlihat mengepul di udara. Beberapa sesepuh sedang memanjatkan puja puji pada Dewata Agung. Kemudian membakar jenasah-jenasah yang tidak hanya satu melainkan beberapa jenasah. Tangis pecah di mana-mana.
Sembari terseok-seok Ganendra mengamati semua penduduk desa yang seolah dilanda kesedihan. Hingga tidak ada orang yang memperhatikan kedatangannya.
"Ada apa dengan penduduk desa di sini?" tanyanya pada diri sendiri.
Tetapi karena dia kelaparan dan kehausan otaknya tak dapat berpikir. Ganendra menyipitkan mata sembari melihat sekeliling. Ada sebuah kendi di depan halaman rumah seseorang. Dia bergegas mengambil dan meminumnya hingga tak bersisa. Setidaknya lumayan untuk membasahi kerongkongan dan membohongi perutnya.
Tanpa Ganendra sadari seseorang menepuk bahunya perlahan. Dia menoleh dan mencari orang yang menepuk bahunya. Tepat di hadapannya, seorang pemuda dengan tubuh tambun dan mengenakan ikat kepala menatapnya dengan tatapan curiga.
"Apa kau pencuri?" tanya pemuda itu.
Ganendra hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku bukan pencuri. Kebetulan aku lewat di desa ini dan merasa kehausan. Jadi aku meminum air yang berada di kendi ini."
Pemuda bertubuh tambun di hadapannya masih menatapnya dengan curiga. Melihat beberapa luka yang ada di tubuh Ganendra.
"Kau ini sebenarnya siapa? Aku belum pernah melihatmu di desa ini?" tanyanya dengan nada curiga.
"Ah, perkenalkan namaku Ganendra. Aku memang bukan berasal dari desa ini."
"Lalu luka ditubuhmu?" tanya pria tambun sambil menunjuk luka di bagian tangan Ganendra.
__ADS_1
"Luka ini aku dapatkan ketika berada di sarang para Ditya."
"Apa???!!!" pekik pemuda bertubuh tambun.
Seketika beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Pemuda tambun seketika menutup mulutnya. Dia tidak boleh berteriak di tengah kesedihan warga desa.
"Namaku Balin, ikutlah denganku. Kita bicara di tempat lain." ajak Balin dan menggandeng lengan Ganendra. Menuju tempat yang agak sepi.
"Kau sungguh dari sarang para Ditya? Bagaimana kau bisa lolos?" tanya Balin keheranan. Dia mengamati penampilan Ganendra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Aha!!! Aku tahu! Apa kau seorang Ksatria Saka?" tanya Balin lagi.
"Jangan membicarakan soal Ksatria Saka. Itu membuat ku jengkel." jawab Ganendra mengingat dia mengalami banyak masalah juga karena berhubungan dengan Ksatria Saka.
"Lalu... Bagaimana kau bisa lolos dari sarang Ditya?" tanya Balin dengan rasa penasaran.
"Seseorang membantuku. Tetapi itu tidaklah penting untuk saat ini. Lagipula kenapa desa ini sangat aneh? Banyak orang berkumpul dan menangis?" tanya balik Ganendra.
Balin lantas menunjukkan raut wajah penuh kesedihan. Sedetik kemudian dia menghela nafas perlahan. Seolah ada hal yang membuatnya terasa berat.
"Desa ini bernama Desa Karanglengki. Beberapa minggu yang lalu desa ini di serang oleh para Ditya. Pemimpin Ditya yang ikut dalam penyerangan membuat beberapa penduduk desa ini terkena penyakit cacar ganas. Hingga menewaskan Buyut Prabawa."
"Mereka yang terkena cacar ganas. Tidak akan bertahan sampai tiga hari. Setelah tiga hari mereka akan meregang nyawa."
Ganendra mendengarkan dengan seksama. Menatap Balin yang meneteskan air mata.
"Ksatria Saka dari Desa Karanglengki banyak yang menjadi korban. Bahkan orang tuaku juga..." tangisnya pecah tatkala mengingat orang tuanya juga menjadi korban.
"Kisanak, bantulah aku menemukan obat untuk penduduk desa. Aku sungguh tidak sanggup melihat orang-orang menderita seperti ini." pintanya sembari diiringi guyuran air mata.
Ganendra hanya menghela nafas dalam.
"Aku tak bisa membantumu. Aku sedang sibuk mencari Tirta Amerta."
Balin terus memohon pada Ganendra. Tetapi Ganendra tak bergeming. Dia juga ingin cepat mendapatkan hadiah dan keluar dari dunia yang menyeramkan ini. Nyawanya saja sering diujung tanduk. Bagaimana bisa membantu orang lain.
"Aku pamit. Tak ada yang bisa aku lakukan di sini. Lagipula namaku Ganendra jangan memanggilku apa itu tadi kisanak?"
__ADS_1
Balin menahan Ganendra.
"Baiklah aku tidak akan memanggilmu kisanak. Tetapi bantulah kami menemukan obat cacarnya. Aku berjanji akan membantumu apapun itu." bujuk Balin memelas.
Ganendra menatap Balin, "mana mungkin kau bisa membantu menemukan Tirta Amerta. Hanya Ksatria Saka yang mengetahui dimana tempatnya."
Langkah kaki Ganendra mulai terayun sampai terdengar suara Balin.
"Aha!!! Aku kenal banyak Ksatria Saka. Aku berjanji akan mengenalkanmu pada mereka. Mereka pasti mengetahui keberadaan Tirta Amerta."
Mendengar penuturan Balin. Ganendra menghentikan langkahnya. Samar-samar sebuah senyum mengembang di wajah Ganendra. Lalu menoleh ke arah Balin. Merangkul pria tambun yang sedang memohon padanya.
"Kawanku, kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? dengan begini aku akan senang hati membantumu." ucap Ganendra riang.
Balin menatap Ganendra tak percaya.
"Benarkah??"
Ganendra mengangguk dengan yakin. Balin langsung memeluknya erat. Ganendra meronta minta dilepaskan.
"Jangan mempermalukan ku seperti ini. Lepaskan!" pinta Ganendra.
Balin merasa sangat bahagia. Lalu perlahan melepaskan pelukannya.
Fiuuuh rasanya seperti tergencet gajah duduk. keluh Ganendra dalam hati.
Tidak lama kemudian Balin mengajak Ganendra berkeliling desa. Memperlihatkan suasana di sana. Beberapa Ksatria Saka yang terkena wabah cacar ganas tergeletak tak berdaya. Merasakan sakit ditubuhnya. Ganendra melihat di sekujur tubuh mereka terdapat bintik-bintik kecil. Jika bintik kecil membesar lama-lama akan meletup dan keluar air beserta nanah. Lalu menjalar ke seluruh tubuh.
Jika sampai tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Maka dalam waktu tiga hari mereka dipastikan hanya tinggal nama. Tak terasa pagi berganti petang. Malampun datang begitu cepat. Penduduk desa Karanglengki menyalakan obor yang digantung dibeberapa tempat.
Asap pemujaan masih mengepul. Bau pembakaran mayat menemani Ganendra malam itu. Diiringi isakan tangis kesedihan silih berganti dari penduduk Desa Karanglengki. Samar-samar terdengar kidung bernada duka.
Nalikane mripat iki wis ketutup
Nana sing bisa nulungi
Kajaba laku kang luhur
__ADS_1
Kang ditampi marang Hyang Widhi
Aja ngibadah kang awon