
Mendung bergelayut di Desa Medangwantu. Ganendra hanya diam dan menunduk setelah menceritakan kejadian yang dia alami bersama Parama. Termasuk pertukaran yang harus mereka lakukan. Parama merasa bersalah telah gagal membawa Bunga Wijayakusuma. Sadana masih tak sadarkan diri. Tubuhnya semakin mengigil. Dia dalam keadaan sekarat.
Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada masih berusaha menyatukan kekuatan Kadewatannya. Supaya Yantra Pengasrepan pada tubuh Sadana dapat sedikit ditahan.
“Kurang ajar! Aku akan membunuh Ditya Kalandaru dengan tanganku sendiri.” ucap Soma dengan nada marah.
Dia hendak melangkah. Tetapi Balin buru-buru menahannya.
“Soma, jangan lakukan itu. Ditya Kalandaru bukan sembarang Ditya. Semua ini tergantung pada Putri Nalini.” ucap Balin sambil melirik ke arah Sang Putri yang sejak tadi hanya diam saja.
“Aku setuju dengan Soma. Kita rampas paksa saja Bunga Wijayakusuma.” ucap Ganendra semangat.
Parama menimpali, “jika kita menyatukan kekuatan. Pasti bisa mengalahkan Ditya Kalandaru.”
Ganendra, Soma dan Parama hendak melangkah. Namun, suara Putri Nalini menahan mereka.
“Tidak!”
“Aku akan pergi.” kata Putri Nalini sambil bangkit berdiri.
“Aku tidak setuju, kau melakukan itu.” balas Ganendra.
Buyut Wengkeng ikut bicara, “Gusti Putri, benar apa yang dikatakan Ganendra. Kami tidak berani melakukan itu. Bagaimana kita akan menyampaikan hal ini pada Yang Mulia Sri Mahadana. Kami tidak akan berani menghadap Yang Mulia Raja.”
Buyut Bawada menimpali, “benar apa yang dikatakan Buyut Wengkeng. Mohon Gusti Putri mempertimbangkannya.”
“Ki, bagaimana bisa aku duduk dan berdiam. Menatap Kakang Sadana yang bersedia melindungi kami. Hingga mengantarkan nyawanya sendiri.” jawab Putri Nalini sambil menatap Sadana yang terbaring tak berdaya.
Kemudian dia melanjutkan, “mungkin kebanyakan dari kalian menilaiku sebagai Putri yang congkak dan egois. Tetapi setelah melihat, bagaimana Kakang Sadana merelakan dirinya hingga terluka. Aku tidak bisa tinggal diam. Suatu hari aku yang akan menggantikan ramanda menjadi tampuk pimpinan Kerajaan Ayodya. Bagaimana bisa aku hanya diam. Melihat temanku sekarat. Padahal aku memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya.”
Putri Nalini berucap dengan nada tegas dan yakin. Ganendra tersenyum mendengar ucapan Putri Nalini. Soma langsung menatap takjub pada Putri di depannya ini. Tidak hanya cantik. Tetapi juga memiliki kebijaksanaan dalam berpikir.
Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada saling pandang. Di sisi lain, benar apa yang dikatakan Putri Nalini. Meski merasa khawatir. Tetapi kedua buyut itu ikut memberikan ijin.
Kini Ganendra, Putri Nalini ditemani Soma, Parama dan Balin pergi ke tempat yang sudah ditentukan oleh Ditya Kalandaru.
“Ganendra, tempat ini menakutkan.” ucap Balin yang menempel pada Ganendra.
Parama dan Soma berjalan beriringan. Mereka melindungi dari belakang. Putri Nalini berjalan di tengah. Menatap sekeliling hutan yang cukup gelap.
Mereka menuju sebuah bangunan yang diapit dua gapura. Bangunan itu berbentuk candi yang terbuat dari bebatuan. Dari balik pilar candi, beberapa pasang mata dengan taring tajam mengawasi mereka.
Putri Nalini merasa bergidik. Meski takut, dia tidak mungkin mundur lagi. Soma yang melihat itu segera maju mendekat.
“Gusti Putri tidak perlu takut. Hamba…” kalimat Soma terputus karena Putri Nalini malah mendekat ke arah Ganendra. Tanpa sengaja mengabaikan Soma. Sang Putri malah memegang lengan Ganendra.
“Tempat ini menyeramkan.” ucap Putri Nalini.
“Tetapi lebih menyeramkan melihatmu bersikap congkak.” balas Ganendra enteng.
“Kau! Masih menyebalkan.” ucap Putri Nalini kesal.
__ADS_1
“Hei, aku juga takut. Nanti kau lindungi aku.” timpal Balin pada Ganendra.
“Di sini, akulah yang paling harus dilindungi.” ucap Putri Nalini.
Ganendra yang berada di depan. Hanya menghela nafas.
“Baiklah, aku akan melindungi kalian. Jadi singkirkan tangan kalian dari tanganku.” ucap Ganendra. Tetapi Putri Nalini dan Balin bukannya melepaskan malah menempel erat.
Soma menatap Putri Nalini dengan tatapan sedih. Parama sepertinya tahu apa yang dirasakan Soma. Jadi dia hanya menepuk bahu pemuda itu.
“Tetaplah berkonsentrasi dan waspada. Banyak yang mengawasi kita.”
Tepat disaat bersamaan Ditya Kalandaru muncul secara tiba-tiba.
“Huahahaha!!! Para Ksatria Saka. Selamat datang. Aku menunggu kedatangan kalian.”
“Tidak perlu basa-basi. Cepat kembalikan Bunga Wijayakusuma.” ucap Ganendra.
“Serahkan Putri Nalini terlebih dahulu.”
Ganendra berdiri di depan Putri Nalini.
“Aku tidak bisa menyerahkan Sang Putri begitu saja. Bagaimana jika kau ingkar janji?” tanya Ganendra.
“Bwahahaha!!! Baiklah. Supaya adil. Aku akan melemparkan Bunga Wijayakusuma ini ke udara dan Putri Nalini silahkan berjalan kemari.”
Ganendra melihat ke arah teman-temannya. Mereka mengangguk dan setuju. Lantas Ganendra menatap Putri Nalini.
Putri Nalini tersenyum mendengar ucapan Ganendra.
“Jangan biarkan aku dibawa oleh Ditya jelek itu.”
Keduanya saling melempar senyum. Sedangkan Soma hanya diam dan melihat saja. Tidak lama kemudian Ditya Kalandaru melempar Bunga Wijayakusuma ke udara. Putri Nalini berjalan pelan ke arah Sang Ditya sembari menarik nafas perlahan.
Ganendra bersiap, mengambil nafas.
“Soma!!!” teriak Ganendra.
Soma mengangguk dan mengambil anak panah yang terselip di punggungnya. Lantas melompat ke udara dengan cepat. Melepaskan anak panah ke arah Bunga Wijayakusuma. Ditya Kalandaru yang melihat itu juga tak tinggal diam.
“Tidak akan ku biarkan!”
Gadanya dia lemparkan ke arah anah panah Soma. Lalu menggunakan Yantra Welut Putih melesat dengan cepat menangkap Putri Nalini.
“Kyaaa!!!” Putri Nalini berteriak karena jijik melihat wajah Sang Ditya yang menyeramkan.
Ganendra bergerak dengan cepat. Melesat ke arah Sang Putri sambil mengayunkan pukulan ke Ditya Kalandaru. Tetapi sebelum pukulannya mengenai Sang Ditya. Beberapa Ditya bermunculan. Mereka melompat ke arah Ganendra. Menubruk pemuda itu hingga berguling di tanah. Ditindih beberapa Ditya yang hendak menggigitnya.
“Balin!” teriaknya.
Balin menganggukkan kepala dan bersiap. Mengerahkan tenaga dalam ke kepalanya. Lantas berlari ke arah Ditya yang mengerubungi Ganendra. Menubruk Ditya dengan kepalanya hingga terpental.
__ADS_1
Parama bergerak bagai kilat ke arah Ditya Kalandaru. Disusul anak panah Soma ke arah Sang Ditya. Ditya Kalandaru menggunakan Yantra Welut Putih untuk lolos dari serangan. Tangan kirinya memegangi Sang Putri.
Putri Nalini meronta dan mencoba menendang Ditya dengan kakinya sekuat tenaga. Tetapi percuma saja. Yantra Welut Putih Ditya Kalandaru membuatnya lolos dari serangan macam apapun.
Ganendra yang di bantu Balin, bergegas memukul Ditya yang hendak menggigitnya. Membuat kepala si Ditya pecah.
“Lepaskan aku! Ditya menjijikkan.” ronta Putri Nalini.
Soma merengsak ke depan dengan cepat. Mencoba menendang Sang Ditya. Tetapi, Ditya Kalandaru dengan sigap menghindar dan mengayunkan gada miliknya. Membuat Soma terpental jauh. Gantian Parama yang menyerang.
“Yantra Candrasa Apyu.” Parama mengayunkan pedang apinya.
Lagi-lagi Ditya Kalandaru menggunakan gada miliknya. Menahan pedang api Parama. Lantas dengan cepat membalas menendang Parama hingga tersungkur ke tanah.
Ganendra melompat ke udara. Berusaha mengayunkan tinjunya ke arah Ditya Kalandaru. Sang Ditya melempar gadanya. Membuat Ganendra tak sempat menghindar.
Duak!!
Tubuh Ganendra terjerembab ke tanah. Balin dilanda kecemasan. Dia langsung menghampiri Ganendra. Membantunya bangkit. Soma dan Parama hendak menyerang kembali. Tetapi Ditya lain menghadang langkah mereka.
Putri Nalini terus meronta. Minta dilepaskan. Saat itu Ditya Kalandaru menatap Sang Putri.
“Nalini, ini aku. Dananjaya.” ucapnya.
Mendengar itu, membuat Putri Nalini terkesima. Menatap tak percaya, bahwa Ditya Kalandaru yang ada di depannya adalah Dananjaya. Kekasihnya dahulu yang telah lama menghilang.
“Ka…Kakang Dananjaya?” tanya Putri Nalini setengah tak percaya.
Ganendra berusaha meraih tangan Putri Nalini.
“Nalini!” teriaknya keras.
Putri Nalini tersadar dan hendak meraih tangan Ganendra. Tetapi dengan cepat sebuah sinar hitam menyelimuti tubuhnya. Membawa Putri Nalini melesat. Menghilang dengan cepat bersama Ditya Kalandaru.
“Ganendra!!” teriak Sang Putri terakhir kalinya.
Hingga tubuhnya menghilang tanpa bekas.
Parama dan Soma sibuk melawan para Ditya. Balin berteriak keras.
“Bunganya!”
Ganendra tersadar dan melihat ke arah Bunga Wijayakusuma yang ternyata sudah diambil oleh Ditya lain.
“Sial!!!” ucap Ganendra.
Putri Nalini dan Bunga Wijayakusuma terlepas dari tangannya. Sejak awal, Ditya Kalandaru memang tidak berniat menyerahkan keduanya. Maka dari itu dia mengerahkan banyak Ditya. Membuat Ganendra dan kawan-kawannya kesulitan.
“Gyaaah!” teriak Ganendra sembari memukul tanah dengan penuh amarah.
Kini, Ksatria Saka yang mestinya sebagai pemburu Ditya. Malah sebaliknya, diburu oleh para Ditya.
__ADS_1