Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Sebuah Tekad


__ADS_3

Di pinggiran Desa Medangwantu. Semua penduduk mengenakan pakaian serba putih. Suara isak tangis terdengar bersahutan. Mereka berdiri membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran beberapa mayat penduduk desa yang meninggal akibat penyerangan Ditya di baringkan di atas tumpukan kayu. Termasuk Kemuning, gadis kecil yang rela mengorbankan nyawanya demi melindungi Ganendra.


Ganendra hanya diam mematung. Menatap nanar tubuh Kemuning. Ingatannya kembali melayang saat pertama tiba di Medangwantu. Kemuninglah yang dengan telaten merawat lukanya. Memberi Ganendra singkong rebus. Mengajaknya berbicara banyak hal. Membuat Ganendra merasa bahagia tinggal di Medangwantu. Meskipun Kemuning seorang anak yatim piatu. Tetapi dia masih bisa tersenyum dan menjadi gadis periang.


Mata Ganendra mulai berkaca-kaca. Entah kenapa dadanya terasa sakit. Ini kali pertama kehilangan seseorang yang bukan sedarah tetapi sakitnya melebihi saudara kandung.


Flashback


"Kakang Gane, apa di duniamu tidak ada Ditya?" tanya Kemuning saat itu.


"Tidak ada sama sekali. Kau bisa bebas kemanapun sesukamu tanpa harus takut dimangsa para Ditya."


Kemuning menatap Ganendra dengan mata berbinar.


"Aku juga ingin Swastamita seperti duniamu. Tidak ada Ditya dan dipenuhi kedamaian."


Ganendra bisa merasakan ketulusan dari ucapan gadis kecil itu.


"Jadi dunia Kakang Ganendra, pasti sangat damai. Aku ingin pergi ke duniamu suatu saat nanti." ucap Kemuning riang.


"Tentu saja, jika ada kesempatan. Aku akan membawamu jalan-jalan di sana. Aku akan mengajakmu ke taman bermain. Di sana kau bebas mau bermain seperti apa?"


"Ta... Taman bermain? Apakah menyenangkan?" tanya Kemuning penasaran.


Ganendra mengangguk pasti.


"Janji? Kakang akan mengajakku ke sana?" tanya Kemuning sembari mengangkat jari kelingking nya.


"Janji." balas Ganendra sembari mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Kemuning.


Keduanya tertawa bahagia sambil menikmati sinar mentari senja di Desa Medangwantu.


Flashback End


Kini terdengar puja dan puji. Mendoakan para penduduk desa yang meninggal bisa mendapatkan Swargaloka bersama para Dewa. Buyut Wengkeng maju dan memulai membakar jenasah. Di susul Sadana maupun Soma. Api pembakaran membumbung tinggi ke angkasa.


Ganendra yang sedang memegang obor hanya diam terpaku. Pikirannya masih menerawang jauh. Dia sungguh terpukul atas kematian Kemuning.


Putri Nalini memahami perasaan Ganendra. Dia mendekati pemuda itu. Lalu memegang tangan kiri Ganendra yang memegang obor.

__ADS_1


"Mari lakukan bersama dan mengantar Kemuning ke Swargaloka."


Meski dengan perasaan berat. Ganendra menahan kesedihannya. Lantas berjalan beriringan bersama Putri Nalini membakar jenazah Kemuning untuk terakhir kalinya. Suara isakan tangis kembali terdengar. Menangisi kepergian penduduk desa yang meninggal akibat ulah kaum Ditya. Malam penuh duka bagi seorang Ganendra dan warga Desa Medangwantu.


...****************...


"Hya! Hya!"


Ganendra terlihat sedang berlatih. Buyut Wengkeng datang menghampiri.


"Jika kau berlatih untuk melampiaskan kesedihan atau amarahmu. Tenaga dalammu tidak akan tersalur dengan benar."


Ganendra menghentikan pukulannya dan menatap Buyut Wengkeng. Pancaran matanya dipenuhi kesedihan.


"Bagaimana caranya menjadi kuat?" tanya Ganendra menatap Buyut Wengkeng.


Buyut Wengkeng mengelus jenggotnya.


"Duduklah terlebih dahulu."


Sambil menghela nafas. Ganendra duduk bersila dihadapan Buyut Wengkeng.


Buyut Wengkeng menghela nafas sebentar.


"Sang Ksatria mendapatkan ujian dari Dewa. Sang Dewa mengutus beberapa bidadari untuk menggodanya. Mengajaknya bercumbu. Akan tetapi Sang Ksatria tak bergeming sama sekali karena mengingat tujuan utama dia Samadhi adalah mendapatkan senjata dewa untuk menegakkan keadilan. Pada akhirnya setelah melalui proses Samadhi yang panjang, tidak makan, tidak minum, tirakat yang luar biasa. Menolak kecantikan para bidadari yang hendak mencumbunya. Berkat keteguhan hatinya Sang Mahadewa menganugerahkannya sebuah senjata hebat."


"Lalu apa makna dibalik kisah ini?" tanya Ganendra.


Sembari mengelus jenggotnya. Buyut Wengkeng menjawab.


"Tidak ada di dunia ini didapatkan dengan mudah. Segala sesuatu melalui kesulitan dan menahan godaan. Tidak hanya menahan godaan hawa nafsu tetapi rasa amarah ataupun dendam karena itu hanya akan menghambat menemukan dirimu yang sejati. Jadilah seorang Ksatria yang . iro yudho wicaksono. Bermakna Ksatria yang berani berperang membela kebenaran, menegakkan keadilan dengan berlandaskan prinsip kebijaksanaan. Maka kau akan menjadi Ksatria yang kuat."


Ganendra mencerna apa yang disampaikan Buyut Wengkeng. Sanubarinya terketuk. Selama ini tujuannya menjadi seorang Ksatria Saka hanyalah untuk mendapatkan Tirta Amerta yang dapat ditukar dengan sepeti kepingan emas.


Tetapi rasanya sekarang berbeda. Kata-kata Kemuning terngiang dalam benaknya.


Meski tidak sedarah. Tetapi Kemuning menganggap Ganendra adalah keluarga. Sesama keluarga harus saling melindungi.


Jiwa Ganendra yang sekarang terlihat dipenuhi tekad. Tekad memenuhi janjinya pada Kemuning. Membuat Swastamita seperti dunianya. Dunia yang tidak ada Ditya. Dunia yang damai. Sehingga bisa bebas kemanapun pergi.

__ADS_1


Buyut Wengkeng terlihat mengajari Ganendra menyalurkan tenaga dalam yang benar. Pikiran bersih dan berkonsentrasi. Merasakan energi di sekitar tubuh. Saat bisa merasakan energi. Maka salurkan ke bagian tubuh mana saja yang dikehendaki.


Ganendra mempraktekkan apa yang dikatakan Buyut Wengkeng. Menyalurkan tenaga dalam dengan hati yang tenang. Bukan dengan rasa amarah, dendam atau lainnya.


Blar!


Blar!


Ganendra berhasil menghancurkan pohon dalam sekali serang. Kakinya menendang sebuah batu hingga terangkat ke udara. Lalu melompat dan memukul dengan tangan kiri sekuat tenaga.


Kretek…


Blar!


Batu itu retak dan kemudian meledak. Hancur berkeping-keping. Buyut Wengkeng mengangguk dan mengelus jenggotnya. Benar apa yang dia pikirkan. Ganendra memang pemuda yang memiliki potensi. Hanya perlu mengarahkan di jalan yang benar. Mungkin ada suatu alasan kenapa Ganendra bisa datang ke Swastamita.


Ganendra tersenyum pada Buyut Wengkeng. Dia berhasil menguasai tenaga dalam dengan benar.


"Pak Tua, terimakasih sudah membimbingku."


Ini pertama kalinya Ganendra mengucapkan terimakasih dengan tulus. Selama ini dia tidak pernah mengucapkan kata terimakasih sekalipun.


"Lalu, bagaimana aku bisa mencapai tingkat kelima?" tanya Ganendra.


"Tingkat ke lima Ksatria Saka disebut Panca. Keahlian memainkan sebuah senjata yang sesuai dengan energi dalam tubuhmu."


Ganendra kembali mencerna ucapan Buyut Wengkeng.


"Berlatihlah dahulu menyalurkan energimu. Jika saatnya tiba, aku akan memberi tahu caranya."


Biasanya Ganendra tidak mau mendengar orang lain. Memilih bersikap sesuka hatinya dan tidak sabaran. Tetapi kali ini berbeda. Demi mewujudkan janji dan mimpi Kemuning. Ganendra akan bersabar dan melatih kemampuan Ksatria Saka dalam dirinya.


Tanpa mereka ketahui. Dari balik pepohonan Kalimara mengawasi Ganendra yang sedang berlatih. Senyum seringai terlihat dari balik topengnya.


"Sepertinya kali ini Ditya Kalandaru melakukan tugasnya dengan benar. Meski bukan suatu kesengajaan. Ini bagus untuk memuluskan rencanaku." gumam Kalimakara sendirian.


Sampai sosok misterius berdiri di belakangnya menundukkan kepala tatkala berdiri di belakang Kalimakara.


"Tetap lakukan tugasmu seperti yang aku perintahkan."

__ADS_1


Sosok misterius itu mengangguk. Kalimakara kembali tersenyum menyeriangi.


__ADS_2