
Di suatu tanah lapang dekat pinggiran hutan. Berdiri banyak sekali tenda. Banyak orang terlihat berkumpul di sana. Mereka adalah para Ksatria Saka dan Calon Ksatria yang akan di gembleng bersama.
Menempa calon Ksatria Saka supaya bisa naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Tak jauh dari sana terdapat sungai yang mengalir dari hilir hingga ujung. Airnya jernih hingga kita dapat bercermin di sana. Di pinggiran sungai, Ganendra sedang duduk di atas batu. Menatap air yang mengalir perlahan. Terlihat begitu tenang.
Suara langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya.
"Kau harus bersiap. Sebentar lagi tesnya di mulai.” sapa sumber suara yang tak lain Sadana.
*Sadana
Ganendra hanya diam. Menatap buih air yang jernih. Gemericih suaranya menenangkan hati. Kini, mereka sudah pulih sepenuhnya. Setelah terkena cacar ganas. Ganendrapun kembali ke Desa Medangwantu. Menerima tawaran Buyut Wengkeng untuk menjadi Ksatria Saka. Tujuan Ganendra hanya untuk mendapatkan Tirta Amerta. Mengikuti apa yang diperintahkan Kalimakara.
"Bagaimana tata cara di sini. Ketika kau ingin mendo’akan seseorang yang meninggal?" tanya Ganendra pada Sadana.
"Men.. Mendo'akan? Maksudmu semacam puja?" tanya balik Sadana.
Ganendra mengangguk.
"Kau cukup meletakkan kelopak bunga di sebuah keranjang. Berdirilah di tepi sungai dan menghadap Sang Rawi. Lalu pejamkan mata dan lantunkan puja ke pada seseorang yang telah meninggal. Setelah itu hanyutkan bunga tadi di sungai."
Ganendra mengerti dan bergegas mencari bunga yang ada di sekitar sana. Sadana merasa heran. Kenapa tiba-tiba Ganendra menanyakan hal itu. Sampai tak lama kemudian Ganendra kembali dan membawa keranjang berisi kelopak bunga. Berdiri di pinggir sungai menghadap Sang Rawi penguasa matahari.
Matanya terpejam memanjatkan doa khusu' untuk Ksatria Saka yang dahulu pernah menyelamatkannya sewaktu berada di Medangwangi. Kemudian menaburkan bunganya di sungai. Kelopak bunga mengalir mengikuti aliran sungai. Tepat bersamaan dengan itu suara terompet terdengar nyaring. Bergantian dengan suara genderang bertalu-talu.
Sadana mengajak Ganendra berkumpul dengan yang lain, karena sepertinya tes akan segera dimulai. Keduanya bergegas menuju tempat yang ditentukan. Di sana terdengar hiruk pikuk keramaian. Para Ksatria Saka maupun yang masih Calon Ksatria dari segala penjuru wilayah kerajaan di Swastamita berkumpul di Wiyata Mandala.
Sang Surya bersinar sangat cerah. Banyak Ksatria Saka dari kerajaan lain saling berbincang. Suara genderang kembali berbunyi nyaring. Menggugah semangat para ksatria. Ganendra terlihat tidak perduli. Dia mengikuti tes ini bukan semata-mata ingin menjadi seorang Ksatria Saka.
Tak jauh dari sana, Ganendra mendengar keributan. Seorang wanita muda tengah berdebat dengan dua orang prajurit.
"Putri, sebaiknya kembalilah ke istana. Sang Raja meminta Gusti Putri untuk tidak perlu menjadi seorang Ksatria Saka."
Sang Putri menunjukkan seraut wajah kesal.
"Sampaikan pada ramanda, aku tidak akan kembali sebelum berhasil menjadi seorang Ksatria."
"Te... Tetapi....tidak ada yang seorang wanita yang menjadi Ksatria Saka.” timpal prajurit satunya.
Sang Putri hendak menjawab, namun terpotong suara seseorang yang menegurnya.
"Wah... Wah... Bukankah kau wanita yang mendorongku hingga masuk ke sarang para monster?"
__ADS_1
*Ganendra Abhirawa
Ganendra tiba-tiba menghampiri Sang Putri yang tak lain Putri Nalini. Putri Nalini mengamati pria muda yang ada di depannya.
*Putri Nalini
"He??? Kau pria mesum!!" pekik Putri Nalini.
Suaranya yang keras membuat beberapa pasang mata Ksatria melihat kearah mereka. Para Ksatria saling berbisik satu sama lain. Mata mereka menatap Ganendra sambil melempar senyum meledek.
Wajah Ganendra merah padam merasa dipermalukan. Dia hendak berdebat dengan Putri Nalini. Tetapi Sadana buru-buru menengahi. Sampai terdengar suara Bimantara selaku penanggung jawab tempat pelatihan Wiyata Mandala memberikan aba-aba.
"Semua Ksatria Saka silahkan berkumpul!!!"
Suara genderang terdengar bertalu-talu. Para Ksatria Saka berkumpul di satu tempat. Di sebuah panggung yang terbuat kayu Bimantara, Buyut Bawada dan Buyut Wengkeng berdiri di sana.
"Pada pelatihan kali ini. Para Ksatria dari berbagai penjuru wilayah kerajaan-kerajaan di Swastamita berkumpul untuk digembleng bersama. Menaikkan tingkatan kalian bagi Ksatria Saka. Sedangkan kalian calon Ksatria Saka, pada hari ini akan diadakan tes. Untuk menentukan di mana tingkatan kalian berada." ucap Bimantara.
*Bimantara
Buyut Wengkeng kemudian maju selangkah.
Suara gemuruh terdengar bersahut-sahutan. Semangat mereka begitu membara. Ingin menjadi Ksatria Saka, ksatria pemburu para Ditya. Mereka kemudian di kelompokkan ke dalam tingkatan-tingkatan yang telah mereka capai. Khusus bagi calon Ksatria Saka mereka akan di tes dahulu. Melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki.
"Berjuanglah." Sadana memberi semangat.
"Apa kita memiliki hubungan pertemanan sedekat itu? Hingga kau berbicara seperti ini?" tanya Ganendra setengah meledek.
"Terserah kau saja." balas Sadana.
Kemudian berkumpul dengan Ksatria Saka yang setingkat dengannya. Sedangkan Ganendra harus berkumpul dengan calon Ksatria yang lain. Termasuk Putri Nalini. Mereka saling melempar tatapan tidak suka. Di tengah kerumunan para Calon Ksatria. Seseorang menepuk bahu Ganendra. Orang itu tak lain Balin. Balin juga mengikuti tes calon Ksatria Saka.
"Rupanya kau juga ikut?" tanya Ganendra dengan wajah sumringah.
"Tentu saja. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Menjadi Ksatria Saka yang hebat."
"Kumpulan orang tidak berguna." ejek seseorang yang tak lain Putri Nalini. Ikut dalam perbincangan keduanya.
Telinga Ganendra memerah.
"Memangnya sehebat apa kau? Bukankah kemarin kau ketakutan dan bersembunyi di belakang punggungku?" Ganendra ganti mengejek.
__ADS_1
"Kau berani padaku?!" teriak Putri Nalini.
Suara Bimantara menghentikan perdebatan Ganendra dan Putri Nalini.
"Saudara-saudaraku, para calon Ksatria Saka. Bersiaplah, tes akan segera di mulai."
Suara genderang kembali bertalu-talu. Ganendra menyaksikan beberapa orang calon Ksatria Saka menunjukkan kemampuannya. Ada yang bisa melompat sangat tinggi. Berlari dengan cepat atau menghancurkan batu dengan tangan kosong. Meski masih calon Ksatria sepertinya mereka sudah berlatih terlebih dahulu.
Kini, giliran Ganendra yang maju. Semua pasang mata menatapnya. Terutama melihat tangan kanan Ganendra yang kurang sempurna. Dia melihat sekelilingnya saling berbisik. Pandangan mata meremehkan dan merasa kasihan merupakan makanannya sehari-hari.
Ganendra mengepalkan tangannya. Dia tidak perduli bagaimana orang-orang menatapnya. Dia menunjukkan apa yang dia bisa. Ganendra berlari menghindari rintangan. Melompati beberapa halang rintang yang dibuat dari tumpukan kayu. Menghindari serangan yang dilancarkan Ksatria Saka lain yang mengujinya.
Kemudian Ganendra diminta untuk menghancurkan sebuah benda apa saja. Mata Ganendra menatap ke sebuah batang kayu. Dia menghela nafas dalam. Lantas memukul batang kayu di depannya menggunakan tangan kiri dengan sekuat tenaga.
Batang kayu tersebut bukannya patah malah terpental dan melayang ke udara. Tepat mengenai kepala salah satu Ksatria Saka. Seketika membuatnya pingsan. Suara tawa bergemuruh menyaksikan kejadian itu. Lagi-lagi Ganendra menjadi bahan ejekan. Suara bisik-bisik terdengar cukup jelas.
“Kenapa pemuda dengan tangan cacat seperti dia diikutkan sebagai calon Ksatria?”
Ganendra hanya bisa menggigit bibirnya. Menahan amarah, karena memang begitulah keadaannya. Dia hanyalah seorang penyandang disabilitas yang selalu di remehkan. Ganendra menatap tajam semua orang.
“Jika berani bicaralah di depanku. Jangan hanya berbisik di belakang.” tantang Ganendra.
Bimantara yang melihat situasinya sedikit memanas. Meminta semua orang untuk menahan emosinya. Lalu meminta Ganendra mundur lebih dahulu. Giliran Putri Nalini yang tampil.
Semua mata tertuju pada Sang Putri. Di Mata para ksatria, kecantikan Putri Nalini layaknya Dewi Kamaratih. Begitu mempesona dengan wajah rupawan. Putri Nalini maju dengan percaya diri. Bimantara lantas memintanya untuk melompati beberapa halang rintang.
“Aku seorang putri, untuk apa melakukan hal remeh semacam itu. Aku ingin langsung ketahapan yang lebih tinggi.” ucapnya dengan nada congkak.
“Huuuuuuu!!!” tiba-tiba terdengar suara sorakan dari para calon ksatria.
“Diam semua!!!” perintah Bimantara dengan suara lantang.
Seketika semua terdiam. Lalu Bimantara melangkah mendekati Sang Putri.
“Gusti putri, untuk menjadi Ksatria Saka. Tidak bisa langsung ke tahap tertinggi. Semua melalui proses dari tingkat paling rendah. Lakukanlah dengan benar, jika Gusti sungguh-sungguh ingin menjadi seorang ksatria. Hamba tidak akan memperlakukan Gusti sebagai seorang putri di sini. Semua akan diperlakukan sama.”
Mendengar ucapan Bimantara membuat Putri Nalini melipat tangan di dada memasang wajah masam. Bimantara kemudian mengetes calon Ksatria yang lain termasuk Balin. Balin juga tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.
Tes dilakukan hingga Sang Bagaskara kembali ke peraduannya. Tes bagi calon Ksatria Sakapun selesai. Ganendra, Balin, dan Putri Nalini di kelompokkan menjadi Ksatria Saka tingkat paling rendah yaitu Eka. Mereka akan digembleng lebih lama dibanding yang lain karena belum menunjukkan potensi yang berarti.
Cahaya jingga terlihat di ufuk barat. Semua orang selesai melakukan puja pada Sang Maha Pencipta dan menghentikan segala kegiatannya. Ganendra terlihat duduk di tepi sungai sambil melempar kerikil. Wajahnya terlihat masam. Buyut Wengkeng berjalan dan menghampiri pemuda dari dunia lain itu.
“Apa kau mengetahui makna, Wiyata Mandala?” tanya Buyut Wengkeng.
Ganendra hanya menggeleng. Buyut Wengkeng tersenyum tipis.
__ADS_1
“Makna dibalik Wiyata Mandala adalah pandangan atau sikap hidup terhadap lingkungan pengajaran untuk dapat memiliki wawasan. Aku percaya padamu. Kau akan menjadi Ksatria Saka yang berpedoman pada wawasan maupun nuladha laku utama. Mencontoh perilaku yang baik.”
Kemudian menepuk bahu Ganendra. Ganendra hanya diam dan menatap Sang Rawi tenggelam di ufuk barat.