Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Ilusi yang Mematikan


__ADS_3

Malang tak dapat di tolak. Untung tak dapat diraih. Kelompok Sadana terjebak dalam sebuah ilusi. Ditambah Putri Nalini diculik oleh bayangan hitam. Mereka terjebak di hutan yang tak ada ujungnya.



“Ba…bagaimana ini? Sang Putri menghilang?” tanya Balin yang mulai ketakutan.



Sadana sebagai pemimpin harus mengambil keputusan.



“Kita harus tetap bersama. Itulah satu-satunya jalan saat ini.”



Parama hanya diam dan menatap sekeliling hutan. Suasananya hening dengan keadaan hutan yang sedikit gelap. Ganendra melihat sesuatu berkilau yang jatuh diantara rerumputan. Rupanya sebuah gelang tangan terbuat dari emas murni. Ganendra tersenyum riang.



*Mungkin benda ini milik si putri congkak*. batin Ganendra.



Lalu dengan cepat memasukkan ke balik ikat pinggangnya. Saat darurat seperti ini. Ganendra malah sibuk memikirkan harta.



“Kalian harus waspada. Jika ada serangan Ditya lagi.” Sadana memberi peringatan.



Ganendra dan Balin berdiri di belakang Sadana. Melihat sekeliling dengan waspada. Benar saja, tak lama kemudian raungan para Ditya kembali terdengar. Sedetik kemudian, para Ditya bermunculan dari balik pepohonan. Parama bersiap di depan dengan pedangnya. Sadana juga waspada.



Salah satu Ditya maju dan menyerang Parama.



Srat!



Kepala Ditya terpenggal. Ditya yang lain merengsak menyerang bersama. Ganendra menghindari serangan dengan berguling. Sadana siap melindungi dengan kapaknya.



Srat!



Ditya yang menyerang Ganendra tergeletak tanpa nyawa.



“Ganendra! Tolong! Tolong!” suara Balin membuat Ganendra dan Sadana tersadar.



Mereka melihat ke arah Balin yang diseret kawanan Ditya.



“Balin!” panggil Ganendra.



Namun terlambat, Balin yang diseret kawanan Ditya menghilang di balik pepohonan. Ganendra dan Sadana bergegas menyusul. Tetapi jejak Balin sama sekali tidak terlihat.



“Gyaaah!!!” teriak Parama.



Ganendra dan Sadana langsung menoleh ke arah Parama yang juga diseret para Ditya. Lantas menghilang tanpa bekas.



“Sial!!! Apa para Ditya membawa mereka ke sarangnya. Lalu dijadikan mangsa?” tanya Ganendra khawatir.



“Entahlah. Semoga saja bukan seperti itu. Kau tetaplah waspada.” jawab Sadana sembari mengamati sekeliling.



Tepat di saat itu sebuah bayangan hitam berkelebat dengan cepat. Sadana bersiaga mengayunkan kapak miliknya. Tetapi sia-sia saja. Dia hanya menyerang ruang kosong. Lantas bayangan itu menangkap Sadana dan menyeret ke dalam kegelapan.



“Sadana!!!” teriak Ganendra.



Kini Ganendra tinggal sendirian. Dia melihat sekeliling yang hening.



“Hei! Siapapun kau keluarlah! Jangan jadi pengecut dan hadapi aku!!!” tantang Ganendra.



Diantara rimbunnya pepohonan hutan. Suara tawa menyeriangi terdengar menggema. Ganendra berusaha menenangkan diri. Menarik nafas dan bersiap. Jika sewaktu-waktu musuh menyerang. Benar saja, sebuah bayangan hitam bergerak dengan cepat dan menyambar tubuh Ganendra. Ganendra tak sempat menghindar. Tiba-tiba semua menjadi gelap.



Di sebuah ruangan, perlahan mata Ganendra terbuka. Tak jauh dari sana. Ganendra melihat cahaya berkilauan.



“Aku di mana?” gumamnya pada diri sendiri.



Lalu berjalan ke arah cahaya yang menyilaukan itu. Matanya seketika terbelalak. Tepat di depan mata, banyak kepingan emas menumpuk. Seketika ekspresi wajah Ganendra sangat girang.



“Wuaaah emas!! Aku kaya!!! Aku kaya!!!” pekiknya penuh kebahagian.



Lantas bermain-main dengan kepingan emas. Menciumnya dengan perasaan bahagia. Melemparkannya ke udara diiringi tawa yang lebar.



“Bu, dengan begini. Aku bisa membawamu ke rumah sakit. Untuk memberimu perawatan yang layak.” kata Ganendra dipenuhi rona kebahagiaan.



Membayangkan ibunya bisa kembali seperti sedia kala. Lalu Ganendra berbaring ditumpukan emas. Tangan kirinya mengambil segenggam. Mengamati dengan perasaan bahagia. Tetapi sedetik kemudian. Dia melihat di tangan kirinya sebuah tato berbentuk gelang rantai. Tiba-tiba Ganendra bangkit berdiri. Tato ditangannya adalah pengikat perjanjian dengan Kalimakara.



Ganendra menyadari ada hal aneh yang terjadi. Tidak mungkin tiba-tiba dia menemukan tumpukan kepingan emas begitu saja. Lantas dia teringat, bayangan hitam menyambar tubuhnya dan berakhir di tempat ini.



“Gawat! Teman-teman yang lainnya?” tanya Ganendra pada dirinya sendiri.



Tepat disaat itu emas yang dia lihat menghilang. Tubuhnya tersedot pusara hitam.


__ADS_1


“Apa-apaan ini???!” teriaknya.



Bruaak!!!



Lantas tubuhnya terjerembab ke tanah dengan keras. Ganendra merintih kesakitan. Perlahan dia bangkit berdiri. Kini, Ganendra berganti berada di sebuah padang rumput yang sangat indah. Banyak kupu-kupu beterbangan. Samar-samar terdengar suara tawa riang dari seseorang.



Ganendra mencari sumber suara tersebut. Tak jauh dari sana, dua orang muda mudi sedang bermain bersama. Mereka tertawa riang sembari berlarian. Salah satu orang dapat Ganendra kenali. Dia adalah Putri Nalini. Sedangkan satunya seorang pria yang belum pernah dia lihat sama sekali.



“Bukankah itu, Si putri congkak.” gumam Ganendra.



Lantas bergegas mendekat. Memegang lengan Sang Putri. Membuat Putri Nalini kaget.



“Siapa kau?” tanya Putri Nalini.



“Hei, saat seperti ini jangan berpura-pura. Kita harus keluar dari sini. Ada yang aneh dari tempat ini.”



Putri Nalini langsung menghempaskan tangan Ganendra.



“Jangan bersikap tidak sopan pada seorang putri raja. Kepalamu bisa dipenggal.” Putri Nalini terlihat marah.



“Aku tidak perduli. Kita harus keluar dari sini.” ajak Ganendra memegangi tangan Putri Nalini.



“Lepaskan! Aku tidak mau pergi dari sini.” Putri Nalini terus meronta.



“Kakang! Kakang!!! Kakang Dananjaya. Tolong aku!!”



“Sadarlah! Ini hanya ilusi!” Ganendra mencoba menyadarkan Putri Nalini.



“Ilusi? Jangan beromong kosong. Aku sedang bersama Kakang Dananjaya. Jadi jangan menggangguku!” teriak Putri Nalini sembari memanggil pemuda yang dinamakan Dananjaya.



Tetapi berapa kalipun Putri Nalini memanggil. Tidak ada yang muncul.



“Sadarlah, jangan terjebak ilusi.” kata Gannedra kemudian.



“Ti…tidak… mungkin….”



Putri Nalini berteriak seperti orang gila. Memanggil Dananjaya berulang kali. Tetapi tidak ada siapapun. Dia terduduk lemas. Ganendra datang menghampiri.




Di tengah kesedihannya. Putri Nalini mengamati dengan seksama wajah Ganendra. Ketika melihat tangan kanan Ganendra yang cacat. Seketika membuat Putri Nalini tersadar.



“Kyaaa!!! Pria mesum! Sana pergi!!!”



Ganendra terlihat kesal.



“Hei! Wanita menyebalkan. Kenapa kau terus mengingat itu. Aku bahkan tidak sengaja.”



Putri Nalini seketika tersadar.



“Kita berada di mana?”



“Entahlah, sepertinya tempat ini adalah ilusi dari keinginan kita yang terdalam.”



Putri Nalini terdiam. Memang benar, untuk sesaat dia seolah kembali ke masa lalu. Bersama seseorang yang dia rindukan. Tanpa menunggu waktu lagi. Ganendra menggenggam tangan Putri Nalini. Mengajaknya lari keluar dari tempat itu.



Saat mereka berlari, tiba-tiba entah dari mana Balin mendarat di depan keduanya.



“Aduh…duh….duh….” rintih Balin kesakitan.



“Balin?!!” Ganendra senang bisa melihat kawannya itu.



Begitu juga dengan Balin.



“Bagaimana kau bisa lepas dari keinginan hatimu?” tanya Ganendra.



“Entahlah. Semua terjadi begitu saja.” Balin tidak begitu ingat.



“Sudahlah, jangan banyak bicara. Kita harus keluar dari tempat aneh ini.” ajak Putri Nalini.



Ganendra dan Balin setuju. Lantas mereka melihat sebuah pintu di kejauhan. Saat mereka masuk ke dalam pintu. Di sana, Parama sedang bertarung habis-habisan dengan para Ditya. Parama terlihat kelelahan. Para Ditya terus bermunculan.



“Aku akan membunuh kalian semua!!!” teriak Parama dengan nada penuh amarah.



Ganendra segera menghadang Parama yang sudah sempoyongan.

__ADS_1



“Sadarlah, ini hanya ilusi. Kau hanya membuang waktumu melawan sesuatu yang kosong.”



“Apa katamu?” tanya Parama.



Lantas dia melihat sekeliling. Tidak ada apa-apa di sana. Selain Balin dan Putri Nalini. Kemudian Parama menyadari sesuatu.



“Kita terperangkap di dunia ilusi, sepertinya musuh memanfaatkan keinginan terdalam kita. Menjebak semuanya di sini.” kata Ganendra yang dibenarkan oleh Balin dan Putri Nalini.



Parama segera bangkit berdiri. Ganendra mengajak semuanya keluar. Saat mereka berlari. Memasuki pintu yang lain. Mereka malah berganti di sebuah tempat yang ramai. Di sana Sadana sudah mencapai tingkatan Nawa. Memiliki tunggangan suci para dewa. Menjadi Ksatria Saka yang kuat. Dielu-elukan banyak orang.



“Sudah kuduga, dia penuh ambisi.” kata Ganendra lantas menghampiri Sadana.



“Sadarlah bodoh!” teriak Ganendra sambil memukul Sadana dengan keras.



“Hei! Apa yang kau lakukan!” teriak Sadana marah sembari mengeluarkan kapaknya.



Bersiap menghadapi Ganendra. Balin langsung memegangi tangan Sadana yang memegang kapak.



“Kakang Sadana, sadarlah tempat ini hanya ilusi semata.”



Sadana mengernyitkan keningnya. Lantas melihat Parama dan Putri Nalini menghampiri. Perlahan Sadana menurunkan tangannya. Menatap Ganendra yang meyakinkannya bahwa ini adalah ilusi.



“Ma…maafkan aku.” ucap Sadana.



“Kita harus segera keluar dari sini.” ajak Parama.



Sebelum mereka melangkah keluar. Tempat itu berubah menjadi ruang yang gelap. Suara tawa seringai terdengar membahana. Dari balik kegelapan muncullah sesosok Ditya dengan kulit berwarna hijau. Rambut panjang awut-awutan. Taring tajam yang menonjol dan perut buncit. Tubuhnya bertinggi tiga meteran.



“Khukhukhu aku adalah Ditya Wahmuka yang hebat…selamat datang di dunia ilusi yang aku ciptakan.”



“Hei! Ditya jelek, cepat keluarkan kami dari sini.” teriak Ganendra dan Putri Nalini bersamaan.



Ditya Wahmuka hanya tertawa lebar.



“Carilah sendiri jalan keluarnya Ha! Ha! Ha!”



Tak berselang lama, sebuah pintu terbuka. Ditya Wahmuka berjalan hendak keluar dari pintu. Sadana dengan cepat melompat ke udara.



“Kapak Bajra!” teriaknya lantang.



Kapak miliknya berputar dengan cepat ke udara mengarah pada Ditya Wahmuka. Tetapi sayang kapaknya meleset.



“Huahaha!!! Dasar Ksatria bodoh! Kapakmu meleset.”



Tetapi Sadana hanya menyunggingkan sebuah senyum di sudut bibirnya.



“Siapa bilang, aku ingin menyerangmu.”



“Apa?!!” Ditya Wahmuka menyadari sesuatu.



Rupanya kapak Sadana menancap di pintu yang dibuka oleh Wahmuka. Menahan pintunya agar tetap terbuka. Ganendra langsung berlari dengan cepat dan melompat ke udara. Menaiki punggung Ditya Wahmuka sembari memukul-mukul kepalanya.



“Cepat keluar dari sini!” teriaknya pada teman yang lain.



Sadana mengangguk dan berlari menuju pintu keluar. Di susul Putri Nalini, Parama dan Balin. Ganendra yang sedang memukul-mukul wajah Ditya Wahmuka segera melompat turun.



“Kurang ajar!!!” suara Ditya Wahmuka menggeram.



Dia menggunakan kekuatannya untuk menutup pintu. Kapak milik Sadana mulai tak bisa menahan. Balin yang sedang berlari ke arah pintu keluar tiba-tiba berteriak ketakutan.



“Waaaa aku takut!!! Berada di tempat aneh ini.” sembari menggerakkan tubuhnya ke sana kemari.



Kakinya tiba-tiba tanpa sengaja bergerak menendang ke arah Ganendra yang berlari di belakangnya. Tak ayal tubuh Ganendra terjungkal menjauhi pintu keluar. Pintu semakin tertutup. Sadana berteriak memanggil Ganendra supaya segera keluar. Ganendra berusaha berdiri. Lantas berlari menuju pintu keluar.



“Ganendra cepatlah!” teriak Sadana.



Pintunya semakin lama semakin tertutup.



“Sial!!!” teriak Ganendra yang sedang berlari.



Tangannya telulur hendak menjangkau tangan Sadana. Tiba-tiba dengan gerakan cepat Putri Nalini melompat masuk kembali ke dunia ilusi. Berusaha menangkap tangan Ganendra. Bersamaan dengan itu pintu keluar tiba-tiba tertutup rapat. Suara Sadana dan yang lain semakin samar dan kemudian menghilang.



Tubuh Ganendra dan Putri Nalini melayang-layang di dalam kegelapan. Mata mereka terpejam. Hanya keheningan yang menemani keduanya. Bagaimana nasib mereka selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2