
Sesosok misterius mengenakan topeng kelana tengah menatap langit. Rembulan tertutup kegelapan. Mendung hitam pekat menggelayut. Sosok berjubah hitam tak lain adalah Kalimakara. Kalimakara menatap langit malam dari sebuah bangunan tua.
Bangunan yang dibuat dari batu disusun dengan rapi menyerupai candi. Aura gelap terpancar dari tempat di mana Kalimakara berada.
Ditangannya terdapat alat musik tiup yang terbuat dari cangkang kerang. Dinamakan Sangkakala. Kalimakara menatapnya sesaat dan meniupnya perlahan. Bunyi yang keluar mengalun dengan misterius. Kalimakara sesekali mendendangkan sebuah kidung. Mengalun hingga menggetarkan dinding-dinding candi.
Aja sipat tan pegat siyang myang dalu
Amuwun ing ngarsa mami
Nora pajar kang kinayun
Lah mara sira den aglis
Tutura mringjeneng ingong
Hingga tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berat. Menaiki anak tangga yang terbuat dari susunan batu. Menuju dimana Kalimakara berada. Dari kegelapan malam terlihat tiga sosok misterius yang belum nampak wujudnya. Aura kegelapan terasa kental keluar dari tiga sosok barusan. Kalimakara yang tadinya melantunkan kidung seketika berhenti. Menatap ke arah tiga sosok misterius dihadapannya.
Kalimakara berjalan perlahan dan duduk di sebuah singgasana. Tepat di atas singgasana terdapat ukiran batu kepala Ditya dengan wajah yang menyeramkan. Matanya bulat lebar, menonjol hampir keluar. Taringnya panjang dengan lidah menjulur. Di kepala patung mengenakan mahkota.
“Kenapa kita tidak memusnahkan Ksatria bodoh yang hanya jadi budak para dewa? Habisi semuanya saja sekalian.”
Tiba-tiba terdengar suara sosok misterius menggeram. Tangannya yang besar terlihat mengepal. Kalimakara hanya duduk sembari menopang dagu.
“Ksatria itu masih berguna untukku. Tidak perlu terburu-buru menghabisi mereka.”
“Tapi, jika seperti ini? Banyak Ditya yang akan terus mati ditangan mereka.” kata sosok misterius pertama.
“Kalian saja yang tidak becus dalam menangani hal ini.” Kalimakara lagi-lagi menjawab dengan nada tenang.
“Dasar kau!!! Jangan sok berkuasa di sini. Memangnya kau berguna hah?!” sosok misterius kedua terlihat kesal pada Kalimakara.
Sosok misterius kedua melanjutkan ucapannya.
“Kau menyia-nyiakan kekuatanmu dengan membuka portal ke dimensi lain. Membawa orang asing yang sama sekali tidak berguna. Kau hanyalah batu sandungan disini. Jangan merasa kau orang istimewa hanya karena Sang Raksas Agung memilihmu.”
Telinga Kalimakara terasa panas mendengar ucapan sosok misterius kedua. Dari balik topengnya, wajah Kalimakara merah padam. Tetapi dia lebih memilih diam. Lantas bangkit dari duduknya.
Sebelum Kalimakara meninggalkan tempat itu. Dia meminta sosok misterius ketiga untuk ikut dengannya. Membisikkan sesuatu yang kedua sosok misterius lainnya tidak mengetahui apa yang direncanakan Kalimakara.
...****************...
Di Desa Medangwantu, Buyut Wengkeng terlihat berbincang dengan Sadana.
"Ki, jika sewaktu-waktu para Ditya menyerang. Kita akan kewalahan menghadapi. Mengingat jumlah kita semakin sedikit." ucap Sadana membuka pembicaraan.
Buyut Wengkeng mengelus jenggotnya. Mencoba memikirkan jalan keluar.
"Aku akan mengirimkan orang untuk melaporkan kepada Sri Mahadana. Mungkin Yang Mulya Sri Mahadana berkenan mengirimkan bantuan."
Buyut Wengkeng berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan bicaranya.
"Tetangga desa kita Medangwangi juga memiliki Ksatria Saka yang cukup tangguh. Kita bisa meminta bantuan mereka. Aku akan bicara dengan Buyut Bawada."
Disaat bersamaan, tiba-tiba angin berhembus kencang. Seseorang bergerak dengan cepat dan kemudian ambruk ke tanah. Semua orang terkejut. Mereka segera menghampiri. Buyut Wengkeng terpana. Rupanya orang itu adalah Buyut Bawada.
"Ki... " rintih Buyut Bawada perlahan.
Buyut Wengkeng segera menghampiri. Melihat Buyut Bawada mengalami luka yang cukup parah. Ganendra yang barusan keluar dari bilik rumah Buyut Wengkeng. Ikut mendekat dan mendengarkan perbincangan keduanya. Setelah mendengar suara keributan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa kau terluka seperti ini?" tanya Buyut Wengkeng.
"Di... Ditya... menyerang Medangwangi." jawab Buyut Bawada.
Sesaat kemudian, Buyut Bawada tak sadarkan diri. Buyut Wengkeng meminta istrinya untuk membawa Buyut Bawada ke dalam rumah. Meminta merawat luka-lukanya. Buyut Wengkeng dan Sadana saling berpandangan.
"Ki, bagaimana ini?" tanya Soma.
"Kita harus membantu Desa Medangwangi."
"Tetapi Ki, dari pihak kita tinggal beberapa saja Ksatria Saka. Hanya ada Kakang Sadana yang sudah setingkat Sapta. Sedang yang lain masih calon Ksatria yang belum kita gembleng."
"Apa kau takut?" tanya Ganendra setengah mengejek.
"Kau! Jika bukan aku dan Kakang Sadana yang menyelamatkanmu pasti sekarang kau hanya tinggal nama." balas Soma dengan nada kesal.
"Aku hanya bertanya. Kenapa kau harus marah? Lagipula bukankah tugas kalian sebagai Ksatria yang harus membunuh monster itu. Kenapa kau takut kalah jumlah. Padahal aku mendengar ada salah satu dari kalian yang ingin menjadi kuat. Apa Ksatria Saka yang sekarang berhati lembek?" Ganendra lagi-lagi membuat dongkol Soma.
Soma hendak maju menyerang Ganendra. Akan tetapi Sadana menengahi.
"Meski terkesan kasar. Aku dapat memahami maksud Ganendra. Kita sebagai Ksatria Saka memiliki tanggungjawab melindungi orang lain dari serangan Ditya. Kita tidak perlu takut menghadapi mereka. Meski jumlah mereka lebih banyak. Yakinlah pada kekuatan kalian."
Mendengar perkataan Sadana. Ganendra tersenyum simpul.
"Ah... Ternyata kau tidak seburuk yang aku kira." ledek Ganendra.
Buyut Wengkeng tersenyum penuh makna.
"Baiklah, beberapa Ksatria segeralah berangkat. Kalian harus bekerjasama." perintah Buyut Wengkeng.
"Sebaiknya kau tetap berada di Medangwantu. Berjagalah di sini bersama Buyut Wengkeng. Aku takut Ditya akan menyerang desa kita.”
"Ta.. Tapi..." Soma hendak membantah. Dia ingin ikut Sadana.
"Hei... Hei.. Kau sungguh tidak peka. Jika kau ikut hanya akan membebani saja." ucap Ganendra sembari melipat tangannya di belakang kepala.
"Kau membuat ku jengkel saja." balas Soma.
"Soma, apa yang Ganendra katakan tidak sepenuhnya salah. Kondisi mu belum sepenuhnya pulih. Kau juga belum begitu menguasai penggunaan panah dengan tangan kiri." Buyut Wengkeng menengahi.
Meski merasa kesal, Soma mulai memahami apa yang dimaksud Buyut Wengkeng maupun Ganendra. Somapun menyetujui untuk tetap tinggal di Medangwantu.
"Jika begitu, aku yang akan menggantikan Soma." ucap Ganendra tiba-tiba.
Ganendra ingin ikut karena sebenarnya ingin mencari informasi mengenai Tirta Amerta. Siapa tahu dengan ikut ke tempat lain dia akan mendapatkan apa yang dia cari. Akan tetapi Sadana tidak mengijinkan, mengingat Ganendra belum memiliki kemampuan apapun selain menghindari serangan.
"Apa kau ingin mendapat pujian sendirian jika berhasil?" lagi-lagi Ganendra membuat jengkel.
"Terserah kau saja." ucap Sadana kemudian.
Buyut Wengkeng hanya menghela nafas dalam sembari mengelus jenggot putihnya.
"Ganendra, ingatlah ini *nuladha laku utama* akan membawamu pada jalan kebenaran yang sejati."
__ADS_1
Ganendra mengernyitkan keningnya. Tanda tidak mengerti apa yang diucapkan Buyut Wengkeng. Ganendra tidak mau ambil pusing dan tetap pada tujuannya mencari Tirta Amerta. Sebelum berangkat, Kemuning si gadis kecil memberikan Ganendra sebuah bungkusan. Kemuninglah yang selama ini merawat Ganendra saat tak sadarkan diri. Akibat terluka saat melawan Ditya Worawari.
"Kakang Ganendra, bawalah ini. Makanlah supaya kau lebih kuat. Aku mendukungmu." bisik Kemuning dengan senyum manis nan tulus.
Ganendra hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya membalas tersenyum. Rombongan Ksatria Saka yang dipimpin Sadana bergerak menuju Desa Medangwangi yang tak jauh dari Medangwantu.
Sesaat memasuki Medangwangi, rombongan yang dipimpin Sadana disambut dengan bau anyir darah. Beberapa tulang belulang berserakan di mana-mana. Desa Medangwangi tampak kosong dan lengang. Sadana yang berada di depan mengamati keadaan sekitarnya. Dia merasa ada yang mengawasi. Ksatria Saka yang dipimpin Sadana hanya terdiri 10 orang saja.
Ganendra yang berjalan di belakang membuka bungkusan yang diberikan Kemuning. Di saat seperti ini, dia malah sibuk membuka bungkusan. Rupanya Kemuning memberikannya bekal singkong rebus. Ganendra tersenyum simpul dan memakannya dengan lahap. Tiba-tiba, suara derap langkah kaki mengepung mereka.
"Badama!!!" teriak seseorang memberi perintah.
Tidak lama kemudian, beberapa Ditya muncul dan langsung menyerang Sadana dan kawan-kawan. Sadana bersiaga melemparkan kapaknya. Ksatria Saka tingkat Panca yang ahli dalam senjata segera bergerak. Salah satu Ksatria Saka yang memiliki kemampuan memainkan pedang melompat ke udara dan menebas beberapa Ditya. Mereka maju dengan gagah berani tanpa rasa takut.
Sadana menggunakan Kapak Bajra dan menebas beberapa Ditya sekaligus. Ganendra bersiap dengan membawa sebilah batang kayu. Memukul Ditya yang sebenarnya sudah tak berdaya karena dihabisi Ksatria Saka lain. Ditya yang berdatangan dihabisi semua oleh Sadana dan rekan-rekannya. Namun itu hanya permulaan saja.
Sebelum mereka dapat mengambil nafas. Suara gemuruh langkah kaki berderap menuju arah Sadana dan yang lainnya.
*Roaar*!!! Suara mereka meraung-raung.
Sadana bersiap dengan kapak ditangan. Begitu juga Ksatria Saka lain. Tetapi betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa yang harus dihadapi. Mereka adalah Ksatria Saka dari Medangwangi yang berubah menjadi Ditya.
Ditya yang berasal dari Ksatria Saka merengsak ke depan. Menggunakan keahliannya sebagai Ksatria Saka melawan Sadana dan yang lain. Tak ayal pertarungan sengit terjadi. Sadana mengayunkan kapak miliknya. Namun dengan cekatan, Sang lawan dapat menghindari serangan. Lantas membalas dengan mengayunkan pedangnya. Sadana bergerak cepat bagai kilat menghindari serangan.
Di sisi lain, Ganendra yang sedang memakan singkong rebus diganggu dengan kedatangan salah satu Ditya. Sang Ditya menggeram dan menghempaskan bungkusan yang berisi singkong rebus. Membuat Ganendra kesal dibuatnya.
“Dasar monster menyebalkan! Awas kau!” teriaknya.
Ganendra menyadari, dia belum kuat untuk memukul Ditya. Jadi dia berguling ke sisi lain dan mengambil sebilah pedang. Berusaha mengayunkan ke arah musuhnya. Tetapi dengan gampangnya si musuh mematahkan pedang Ganendra. Sang Ditya membalas dengan mengayunkan tangannya yang tajam seperti cakar. Ganendra lebih sigap dengan pola serangan musuh. Berkat pengalamannya selama ini bertemu dengan Ditya. Dia dengan cepat berguling ke sisi lain dan melemparkan sebuah batu tepat mengenai kepala Ditya.
Ksatria Saka lain yang tak jauh dari Ganendra bergerak cepat menebaskan pedang ke arah Ditya. Kerjasama yang cukup bagus antara keduanya. Ganendra tersenyum simpul. Lantas keduanya bahu membahu mengalahkan Ditya lain.
Akan tetapi Ditya yang sebenarnya merupakan Ksatria Saka dari Medangwangi yang diubah menjadi monster memiliki kemampuan yang cukup hebat. Tidak mudah dikalahkan begitu saja. Beberapa kali Ganendra terkena pukulan atau cakaran dari Ditya. Membuat lukanya yang hampir sembuh terbuka kembali.
Ksatria Saka dari Medangwangi mulai terdesak. Satu persatu mulai berguguran. Kini, hanya tersisa lima orang saja.
“Kakang, bagaimana ini?” tanya salah satu Ksatria Saka pada Sadana.
“Aku akan mengeluarkan kekuatan kadewatanku.” jawab Sadana.
“Cepatlah!!!” pekik Ganendra yang sedang menghadang dua Ditya yang hendak menggigitnya.
Sadana mengheningkan cipta. Merapalkan mantra pemanggil angin miliknya. Dia melayang ke udara.
“Yantra Bajra Maru…..” belum habis Sadana mengucapkan rapalan mantranya.
Tiba-tiba sebuah bola api besar menghantamnya.
*Blar*!!!!
Tubuh Sadana terbakar dan jatuh terjerembab ke tanah. Ganendra yang mengetahui hal itu segera menendang dua Ditya yang menghalanginya. Lantas berlari ke arah Sadana. Memadamkan api yang membakar rekannya itu. Dibantu Ksatria Saka lain. Tangan dan kaki Sadana mengalami luka bakar yang sangat serius. Membuatnya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Para Ksatria Saka yang berubah menjadi Ditya mengepung Ganendra dan Ksatria Saka yang tersisa. Nafas Ganendra naik turun, sepertinya mereka mengalami jalan buntu. Teror monster masih menghantui dan siap menjadikan mereka mangsa.