Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Perlawanan


__ADS_3

Putri Nalini hanya bisa membekap mulutnya sendiri. Dikarenakan tepat di belakang Ganendra wujud ibunya berubah menjadi seorang Ditya dengan taring panjang. Lidah menjulur seperti ular. Tangannya berubah menjadi cakar. Senyum seringai dia perlihatkan. Lantas dengan gerakan cepat mengayunkan cakarnya ke arah Ganendra.


Srat!!!


“Kyaaa!!!” Putri Nalini menjerit keras.


Darah berwarna merah segar mewarnai malam yang begitu pekat.


...****************...


Ganendra tersungkur ke tanah dengan luka di punggungnya. Putri Nalini menggoyangkan tubuh Ganendra.



“Hei…Hei…bangunlah….jangan mati dahulu.”



Tepat di depan mereka. Sang Ditya tertawa terkekeh.



“Khukhukhu!!! Jadi inikah keinginan terdalammu? pria tak berguna?”



Rupanya Ditya Wahmuka masih menjebak Ganendra dan Putri Nalini dalam dunia ilusi. Melihat keinginan terdalam dari diri Ganendra.



“Tuan putri, sayang sekali kau juga harus ikut terjebak di dunia ini.”



Putri Nalini terlihat ketakutan. Dia masih menggoyangkan tubuh Ganendra. Berharap pria muda itu tidak mati begitu saja.



“Pergi sana! Dasar Ditya menjijikkan.” teriak Putri Nalini.



“Khukhukhu, Tuan Putri tidak perlu berteriak. Aku akan memberimu pilihan. Kau ingin tetap tinggal di sini sebagai mangsaku atau keluar dari dunia ini dan dijadikan wadah kelahiran para Ditya?”



Pilihan manapun, tidak ada yang menguntungkan bagi Putri Nalini. Setidaknya kalaupun harus mati, dia harus mati secara terhormat. Itulah yang dipikirkan oleh Sang Putri. Putri Nalini mulai mengumpulkan keberanian. Lantas bangkit berdiri.



“Kau pikir kau siapa? Berhak mengatur hidupku? Aku tidak akan sudi menjadi mangsa atau dijadikan wadah kelahiran para Ditya. Lebih baik aku mati dengan melawanmu.”



“Hahahaha!!! shushushu….jika itu pilihanmu silahkan saja.”



Ditya Wahmuka yang memiliki tinggi badan sekitar tiga meter meraung dengan keras. Putri Nalini mengambil nafas dalam. Berkonsentrasi penuh, mengatur nafas dan mengingat ajaran dari Buyut Bawada. Menyalurkan tenaga dalam ke salah satu bagian tubuhnya.



“Hyaaaa!!!” Putri Nalini berlari ke arah Ditya Wahmuka.



Memukul kaki Sang Ditya sekuat tenaga. Akan tetapi bukannya berhasil namun malah tangan Sang Putri yang kesakitan. Ditya Wahmuka yang melihat itu seketika tertawa terbahak-bahak. Lantas membalas serangan dengan mengayunkan tangannya yang besar mengenai tubuh Putri Nalini. Tubuh Sang Putri terlempar beberapa hasta dan jatuh terjerembab ke tanah dengan keras. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.



“Aku harus melawan Ditya Wahmuka bagaimapun caranya. Meski harus mati sekalipun.” ucapnya dipenuhi keberanian yang membara.



Lantas dia memusatkan pikiran. Mengeluarkan tenaga dalamnya kembali dan berlari ke arah Ditya Wahmuka.



“Terima ini!!!” teriak Sang Putri.



Ditya Wahmuka hanya melempar tawa meremehkan. Hingga kaki Sang Putri menendang kakinya dengan keras.



Duak!!!

__ADS_1



Suara erangan kesakitan keluar dari mulut Sang Ditya. Dia melompat-lompat karena merasakan sakit di bagian kaki. Rupanya tendangan Sang Putri berhasil membuat Ditya Wahmuka kesakitan. Putri Nalini teringat sesuatu. Dia mungkin belum bisa menyalurkan tenaga dalam ke tangannya. Namun ketidaksempurnaan penyaluran tenaga dalam, malah membuat kakinya menjadi kuat. Hingga dapat melukai Ditya Wahmuka.



Sang Ditya menggeram penuh amarah. Lalu melompat dan memberikan tendangan pada Putri Nalini. Sang Putri tidak mampu menahan. Alhasil tubuhnya terjerembab dengan keras. Sebelum dapat bangkit kembali. Ditya Wahmuka mengangkat tangan Sang Putri. Hingga tubuhnya terangkat ke udara. Lalu tanpa ampun memberikan pukulan pada Sang Putri. Putri Nalini muntah darah.



Ditya Wahmuka tertawa menyeriangi. Kemudian tanpa ampun menghempas tubuh Sang Putri. Putri Nalini pasrah jika memang dia harus menghadap Sang Hyang Pencipta Alam. Tanpa dinyana, saat tubuhnya hendak membentur tanah. Seseorang menangkapnya dengan cepat. Mata Putri Nalini terbelalak. Orang itu adalah Ganendra.



“Kau belum mati?” pekik Putri Nalini terdengar girang.



Ganendra mengangguk.



“Aku sering terluka dan hampir mati. Luka sekecil ini hanyalah angin lalu.”



“Dasar sombong.” ledek Putri Nalini.



Keduanya lantas melempar senyum. Pemandangan yang jarang sekali terlihat. Biasanya mereka akan saling mendebat. Namun, tidak kali ini. Ganendra kemudian membantu Putri Nalini berdiri.



“Dasar monster menjengkelkan. Beraninya memanfaatkan keinginanku. Menggunakan wajah ibuku sembarangan. Aku sendiri yang akan menghabisimu.”



Ucapan Ganendra dipenuhi amarah yang meluap.



“Huahahahaha!!!! Jangan beromong kosong. Bisa apa kau manusia cacat tidak berguna!!!” ejek Ditya Wahmuka.




“Yo… Putri Congkak. Apa kau masih punya tenaga?”



Putri Nalini mengulas senyum.



“Tenagaku seperti gajah. Tidak akan habis begitu saja Pria Mesum menjengkelkan.”



Ganendra tersenyum dan bersiap. Lalu dia berlari ke arah Ditya Wahmuka. Sang Ditya mengayunkan cakarnya. Tetapi dengan sigap, Ganendra menghindar ke sana kemari. Putri Nalini mengerahkan tenaga dalamnya yang terpusat pada kaki. Lalu dengan cepat menendang kembali kaki Ditya Wahmuka. Sang Ditya meringis kesakitan memegangi kakinya.



Sebelum dia dapat bergerak. Putri Nalini kembali menendang kaki satunya. Membuat Ditya Wahmuka terjerembab. Ganendra kemudian bergerak dengan cepat. Melompat ke tubuh Ditya Wahmuka. Tubuh Sang Ditya memang tinggi besar. Tetapi kesaktiannya hanya terletak pada kekuatan ilusi. Ganendra dapat membaca hal itu saat berhadapan dengan Sang Ditya.



Tangan Ganendra bersiap memukul. Tetapi dengan gerakan cepat Sang Ditya mengayunkan cakarnya. Membuat Ganendra terpental dengan luka cakar. Nyeri sekaligus perih Ganendra rasakan. Dia memegangi dadanya yang berdarah akibat luka cakar Ditya Wahmuka.



Putri Nalini bergegas menghampiri Ganendra.



“Bagaimana ini? dia masih terlalu kuat.”



Ganendra mengambil nafas perlahan.



“Aku tidak tahu bisa mengalahkannya atau tidak. Tetapi kita harus tetap mencoba. Jangan pernah menyerah. Tetap konsentrasilah dan gunakan kekuatan tenaga dalam pada kakimu.”


__ADS_1


Putri Nalini mengerti. Lalu membantu Ganendra berdiri.



Roaar!!!



“Manusia tidak berguna! Aku akan membunuhmu!!”



Suara Ditya Wahmuka meraung. Lalu bergerak dengan kakinya menggetarkan tanah yang dipijak. Ganendra kembali mengatur nafas. Menatap tajam Ditya Wahmuka.



“Jangan pernah meremehkan kekuatan manusia!!!” teriak Ganendra lantang.



Dia teringat ajaran Buyut Bawada. Atur nafas dan konsentrasi pada penyaluran tenaga dalam. Tangan Ganendra mengepal erat.



“Hyaaa!!!” teriak Ganendra bergerak menghindari serangan Ditya Wahmuka.



“Sekarang!!!” teriak Ganendra pada Putri Nalini.



Sang Putri melompat dan menendang tangan Ditya Wahmuka dengan tenaga dalam penuh. Sang Ditya meraung kesakitan.



“Aku tidak akan pernah memaafkan monster sepertimu yang berani memanfaatkan kesedihan orang lain. Hyaaa!!!”



Ganendra kemudian bergerak dengan lincah. Gerakan tubuhnya lebih cepat dari biasanya. Dia mulai bisa merasakan energi di sekitarnya. Disaat Ditya Wahmuka mengayunkan cakarnya. Ganendra melompat tinggi. Lalu mengayunkan tangan kirinya ke arah wajah Ditya Wahmuka.



Blar!!!



Tubuh Sang Ditya terhuyung dan kehilangan keseimbangan. Melihat ada kesempatan, Putri Nalini bergerak dengan cepat. Menggunakan kakinya dan menginjak dada Sang Ditya. Erangan kesakitan kembali terdengar. Ganendra mengambil kesempatan. Lalu bergerak dengan sangat lincah. Dia merasa tubuhnya lebih ringan. Lantas berlari dengan kencang dan melompat ke udara. Menggunakan tusuk rambut milik Putri Nalini yang tadi sempat dia pinjam.



Lalu dengan gerakan cepat menusuk mata kanan Ditya Wahmuka. Kemudian mencongkelnya keluar.



Srat!!!



“Arrrghhhtttt! Roaarrrr!!!”



Mata kanan Sang Ditya mengeluarkan darah hitam. Tatkala mata Sang Ditya terluka. Sebuah pintu tak jauh dari sana sedikit terbuka.



“Ganendra!” pekik Putri Nalini.



Ganendra mengangguk dan menusuk mata satunya hingga tercongkel keluar. Erangan kesakitan memekakkan telinga. Ditya Wahmuka meraung-raung. Melihat pintu yang semakin terbuka lebar. Ganendra dan Putri Nalini menebak itu adalah pintu keluarnya.



Tubuh Ganendra yang bisa bergerak dengan cepat melebihi gerakan biasanya, segera melesat ke arah Putri Nalini. Meletakkan lengan kirinya mengelilingi punggung Sang Tuan Putri. Putri Nalini mengerti, dia segera melingkarkan lengannya di bahu Ganendra dan mengangkat sedikit kakinya. Ganendra tidak bisa memegangi kaki Putri Nalini karena tangan kanannya lumpuh.



Tanpa banyak berkata, Ganendra lari dan melesat menuju pintu keluar. Meninggalkan Ditya Wahmuka yang meraung-raung kesakitan. Ganendra dan Putri Nalini melihat cahaya yang semakin lama semakin menyilaukan mata. Membawa mereka keluar dari dunia ilusi. Keduanya saling bertatapan dan melempar senyum.



“Sepertinya kau sudah naik tingkatan menjadi Ksatria Saka tingkat ketiga. ” ucap Putri Nalini yang berada dalam gendongan Ganendra.


__ADS_1


Ganendra tidak menanggapi dan hanya membalas dengan senyuman. Tujuan utama mereka sekarang kembali ke Medangwantu.


__ADS_2