Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Hanenda


__ADS_3

Serangan teror seolah tak ada habisnya. Ganendra dan Ksatria Saka terjebak dalam serangan Ditya yang berasal dari Ksatria Saka Medangwangi yang diubah menjadi monster. Mereka menyerang siapa saja tanpa ampun. Ganendra dan Ksatria Saka terkepung. Ditambah Sadana yang terluka dan tak sadarkan diri.



"Ba.. Bagaimana ini?" tanya salah satu Ksatria Saka.



"Kita pasti akan mati." timpal yang lainnya.


Ganendra mengepalkan tangannya erat.


Sejujurnya dia belum pernah mengalami kejadian dikepung kawanan monster. Tetapi pernah dikejar oleh beberapa aparat keamanan karena telah menipu seseorang. Ganendra ingat, meski kelihatannya tidak ada jalan. Jika terus bertahan sampai akhir pasti jalan buntu akan terbuka.



"Kalian Ksatria Saka kenapa menjadi pengecut seperti ini? Jika kalian takut, aku saja yang menghadapi monster itu. Jagalah Sadana." ucap Ganendra penuh keberanian.



Ksatria Saka yang melihat keberanian Ganendra hanya terdiam. Mereka merasa malu pada seseorang yang masih belum ditasbihkan sebagai seorang Ksatria. Tetapi memiliki keberanian melebihi mereka. Tanpa berpikir panjang Ganendra merengsak ke arah Ditya. Mengambil sebongkah batu dan melemparkannya pada Ditya. Mereka meraung-raung tanpa henti.



"Hei!!! Monster bodoh! Kemarilah dan kejar aku!" teriak Ganendra lantang.



Para gerombolan Ditya berlari dan mengejar Ganendra. Setidaknya kini, Ganendra menjauhkan monster itu dari Sadana dan yang lainnya. Supaya mereka aman. Salah satu Ditya melompat hendak mencakarnya. Namun dengan gerakan lincah Ganendra menghindar dan berguling ke sisi lain. Ditya lain hendak menubruknya. Tetapi Ganendra bangkit dan kembali menghindari serangan. Nafasnya mulai ngos-ngosan karena para Ditya mengejarnya.



Tetapi Ganendra tidak menyerah untuk bertahan hidup. Para Ditya semakin meraung karena belum berhasil menjatuhkan Ganendra. Pada akhirnya mereka maju bersama-sama. Ganendra dikeroyok dari segala penjuru arah. Nafas Ganendra terdengar memburu.


Roaaar!!!


Para Ditya maju bersamaan dengan mengayunkan cakarnya.


Aku tidak ingin mati. Ibu sedang menungguku. ucap Ganendra dalam hati.


Mata Ganendra mengamati sekeliling. Lantas berlari dengan memanjat pohon yang tepat berada di belakangnya. Kemudian memutar tubuh dan melayang. Melompat dan mendarat di bahu salah satu Ditya.



"Wooo... Wooo... " Ganendra menyeimbangkan tubuhnya saat mendarat.



Lantas bergerak dengan cepat menginjak bahu atau kepala Ditya. Setelah melewati gerombolan Ditya. Dia menjejakkan kaki dan mendarat ke tanah. Ganendra menyunggingkan sebuah senyum karena merasa bangga bisa melewati kawanan Ditya.



“Monster bodoh.” gumamnya perlahan.



Tanpa terduga, tepat di belakangnya sebuah cakar mengayun dengan cepat.


Srat!!!


Tepat mengenai punggung belakang Ganendra. Dia mengaduh kesakitan. Tanpa Ganendra sadari tepat di belakangnya sudah ada Ditya yang menanti. Ganendra sedikit lengah. Ditya yang lain bergegas mengerumuninya. Pemuda itu sedikit demi sedikit menggeser tubuhnya. Dia melihat sekeliling semua tertutup para Ditya. Akankah Ganendra menjadi mangsa selanjutnya?


Saat semua jalan terlihat tertutup. Tiba-tiba sebuah tombak melesat dengan cepat.

__ADS_1


Jleb!


Jleb!


Dua Ditya sekaligus tumbang terkena lemparan tombak seseorang. Tak lama berselang sebuah sabetan pedang memenggal kepala Ditya dengan cepat. Mata Ganendra terpana saat melihat Ksatria Saka yang masih tersisa ikut membantunya.



“Ka…kalian…???” Ganendra tak menyangka Ksatria Saka akan menolongnya.


“Kami tidak ingin dianggap pengecut oleh orang asing sepertimu.” jawab salah satu Ksatria Saka yang membawa tombak.


Ganendra mengulas sebuah senyum. Salah satu Ksatria Saka yang membawa pedang mengulurkan tangan dan membantu Ganendra untuk berdiri.


“Bagaimana sekarang?” tanya Ganendra.


Melihat situasi mereka yang terdesak.


“Mau tidak mau kita harus lari dari tempat ini.” jawab Ksatria Saka yang membawa tombak.


“Lantas bagaimana dengan Sadana?” Ganendra kembali bertanya.



“Saat kau mengalihkan perhatian para Ditya. Salah satu Ksatria Saka Tri yang selamat telah menggendongnya dan membawa Sadana menjauh dari sini. Selanjutnya adalah giliran kita untuk keluar.”



Ksatria Saka yang membawa pedang segera maju.



“Aku akan membuka jalan. Supaya kalian bisa keluar.”


“Tidak ada waktu berpikir.” balas Ksatria Saka yang membawa pedang.


Seusai berbicara, dia segera maju. Membuka jalan dengan menghabisi Ditya dari jelmaan Ksatria Saka yang berasal dari Medangwangi.



“Ayo!” ajak Ganendra yang melihat jalan untuk keluar.


Ksatria Saka yang membawa tombak terlihat keberatan. Namun tak ada pilihan lain. Ganendra sedikit menyeret paksa. Jika tidak, semua orang akan menjadi mangsa.


“Majulah kalian semua!!! Lawan aku!!!” teriak Ksatria Saka pembawa pedang.



Dia begitu gagah berani dan tak mengenal rasa takut. Menebas beberapa Ditya dan melindungi Ganendra serta rekan satunya. Meski lama kelamaan dia kewalahan menghadapi Ditya yang semakin ganas. Cakaran demi cakaran dia terima. Namun, Ksatria Saka itu tetap berusaha melawan.



Ganendra dan Ksatria Saka yang membawa tombak merasakan sedih yang menusuk ke ulu hati. Melihat temannya mengorbankan nyawa demi menyelamatkan mereka. Sembari berlari keduanya menengok ke belakang. Melihat temannya untuk terakhir kali. Dia masih berjuang membunuh Ditya meskipun sudah tergigit atau tubuhnya terkena cakaran. Hingga terdengar suaranya untuk kali terakhir.



“Sadā devān smaranti!!!” pekiknya lantang sampai semua Ditya mencabik-cabik tubuhnya hingga tercerai-berai.



Meski dengan berat hati, Ganendra dan Ksatria Saka yang tersisa lari dengan sekuat tenaga. Meninggalkan tempat itu. Peristiwa demi peristiwa yang dialami Ganendra. Tanpa sadar telah mengubah sesuatu dalam dirinya.


__ADS_1


Duka nestapa dirasakan penduduk Desa Medangwantu. Mereka bersama-sama memanjatkan puja dan puji pada Sang Hyang Manon pengusa tertinggi kehidupan dan pencipta semesta. Asap pemujaan mengepul di desa Medangwantu. Suara tangis bersahut-sahutan karena kehilangan beberapa Ksatria Saka yang merupakan keluarga mereka. Ganendra hanya diam terpaku diantara suara kidung pemujaan bernada sendu. Dipenuhi kesedihan yang mendalam.


...***...


Beberapa hari kemudian.


Ganendra yang sudah sembuh akibat luka-luka yang dideritanya berkeliling Desa Medangwantu. Berkat perawatan gadis kecil bernama Kemuning membuat lukanya cepat sembuh. Selama tinggal di Medangwantu, Ganendra sama sekali belum melihat keadaan desa. Dunia yang dia tinggali saat ini berbeda dengan dunia modern yang dikenalnya.



Semua yang ada di dunia ini seperti di era jaman kuno kerajaan dahulu. Ganendra teringat ibunya pernah menunjukkan gambar-gambar kerajaan era dahulu sebelum negaranya Indonesia berdiri seperti sekarang ini. Pakaian yang mereka kenakan sama persis dengan gambar yang ditunjukkan ibunya. Para Wanita mengenakan kain yang dililitkan hingga ke dada yang dinamakan *kemben*. Sedangkan para pria mengenakan kain dibagian bawah yang diikat dengan kain semacam selendang. Kebanyakan dari mereka bertelanjang dada seperti yang dikenakan Ganendra.



Mau tidak mau Ganendra berganti pakaian seperti mereka, karena pakaian yang dia kenakan selama ini sudah sangat lusuh. Ditambah dengan bekas bercak darah. Meski tidak nyaman, dia berusaha menyesuaikan diri. Langkahnya perlahan mengelilingi desa. Beberapa penduduk menatapnya dengan tatapan sinis. Terkadang tatapan mereka seolah merendahkan Ganendra. Banyak rumor beredar bahwa penyebab kekalahan Ksatria Saka dikarenakan adanya Ganendra yang menjadi beban.



Tetapi pemuda bertinggi 180 cm itu tidak perduli. Dia menemui Soma dan mencari tahu mengenai Tirta Amerta.



“Kau sudah gilaa?!!! Menanyakan hal seperti itu? Tirta Amerta bukan sesuatu yang sembarangan bisa kau dapatkan.” jawab Soma.



“Kenapa begitu?” tanya Ganendra semakin ingin tahu.



“Tirta Amerta adalah milik Para Dewa. Jadi, tidak usah mengusik apa yang menjadi milik dewa.”



Lanjut Soma, “lagipula orang sepertimu mana bisa berhadapan dengan dewa.”



Mata Soma melirik ke arah tangan kanan Ganendra yang lumpuh dan mengecil. Jauh berbeda dengan tangan kirinya. Ya… Ganendra memang seorang penyandang disabilitas. Namun, hal itu tidak membuatnya lantas rendah diri.



“Apa kau sedang mengejek kekurangan fisikku ini hah?! Awas kau?! Aku akan menghajarmu!” tantang Ganendra.



“Siapa takut.” Soma menerima tantangan Ganendra.



“Jika aku menang. Kau harus memberitahuku dimana Tirta Amerta.” Ganendra terus memaksa.



“Meskipun aku tahu, tidak akan kuberitahu.” balas Soma.



Keduanya berkelahi seperti anak kecil yang mendebatkan sesuatu. Tanpa mereka sadari Buyut Wengkeng sedang mengamati sembari mengelus jenggotnya.



“Hanenda…. Pria yang pantang menyerah…” ucapnya perlahan dengan sebuah senyum tipis mengiringi.

__ADS_1


__ADS_2