Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Pertarungan


__ADS_3

"Ha!Ha! meski tidak sempurna. Rencanaku telah berhasil. Pak Tua dari Medangwantu kehilangan tangannya dan kau….kau … membunuh pemuda cacat tak berguna itu bukan? Ha!Ha!” terdengar suara tawa keras dari seseorang yang tak lain Ditya Gorawangsa sembari menunjuk ke arah Parama.


“Membangkitkanmu rupanya berguna juga…. Huahahaha!!”



Ditya Kalandaru hanya menundukkan kepala. Tatapannya kosong. Meski dibangkitkan kembali oleh Ditya Gorawangsa, Ditya Kalandaru hanyalah boneka semata. Tak ubahnya tubuh tanpa jiwa.



Parama membuka suara.



“Aku sudah melakukan perintahmu. Sekarang tepatilah janjimu.”


Flashback


Parama sedang berlatih menggunakan pedangnya. Dia juga ingin mencapai tingkatan Nawa. Bisa memanggil binatang suci Kadewatan. Disaat Parama sedang berlatih, sesosok misterius mengawasi sembari terkekeh.



Angin dingin berhembus perlahan. Parama bersikap waspada, karena dia dapat merasakan energi kegelapan yang besar.



“Aku tau apa yang tersembunyi dalam hatimu khukhu….”



Parama menoleh dan menyipitkan mata. Mencari sumber suara dari mana berasal. Tepat dari balik pepohonan. Parama melihat sosok misterius mengenakan jubah hitam.



“Siapa kau?” tanya Parama sembari menghunuskan pedang. Bersiap bertarung.



Sosok misterius membuka penutup kepala. Sosok itu tak lain Ditya Gorawangsa.



“Kau?!” tanpa rasa takut Parama bersiap menghadapi Sang Ditya.



“Khukhu…aku datang kesini tidak untuk bertarung denganmu. Tetapi ingin menawarkanmu sebuah kesepakatan.”



“Aku tidak akan sudi! Bersepakat dengan kegelapan sepertimu.” balas Parama.



“Yantra Candrasa Apyu!” lanjut Parama lagi.


Pedangnya diselimuti api yang berkobar.



“Khukhu…sudah aku katakan, kedatanganku bukan untuk bertarung. Aku bisa mengabulkan keinginanmu.” bujuk Ditya Gorawangsa.



“Aku tidak tertarik dengan kekuatan macam apapun.” tolak Parama mentah-mentah.



“Bwahahaha!!! Aku tidak yakin kau akan menolak ini.”



Jemari tangan Ditya Gorawangsa menjetik dan dalam sekejap dua sosok terlihat di hadapan Parama. Seketika mata Parama terbelalak. Untuk sesaat dia terkesiap. Dua sosok yang dilihat Parama adalah anak dan istrinya yang telah meninggal. Akibat tewas dibunuh Ditya.



“Aku bisa mengabulkan keinginanmu. Membawa mereka kembali di sisimu.”



“A…apa yang kau inginkan?” tanya Parama dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_1


“Khukhukhu….mendekatlah.” perintah Ditya Gorawangsa.



Parama mendekat dan mendengar setiap kalimat yang diucapkan Sang Ditya.



“Aku ingin kau membunuh Ganendra.”



Seketika membuat Parama terpengarah.



“Bukankah kesepakatan ini sepadan? Jika kau membunuh pemuda itu. Maka anak dan istri yang sangat kau rindukan akan kembali ke sisimu. Kalian bisa hidup bahagia.”



Tangan Parama hanya mengepal. Dia menunduk dan tak memberi reaksi apapun.



“Aku yakin tawaranku sangat menarik.”



*Sebuah kilasan ingatan, saat Desa Medangwantu diserang*.


Tangan Parama mengepal kuat. Dia bersembunyi sembari mengamati pertarungan antara Ganendra dan Ditya Kalandaru. Rasa rindu yang teramat dalam menyeruak masuk dalam relung sanubarinya. Dia sangat merindukan putri kecil dan istrinya. Perasaan rindu itulah yang mendorongnya memilih berada di sisi gelap.


Pedangnya terhunus dan tanpa berpikir panjang. Parama bergerak dengan cepat menebas tangan kanan Ganendra tatkala ada kesempatan. Menghujamkan pedangnya ke tubuh orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara.


Kilas balik ingatan end


Ditya Gorawangsa yang sedang duduk disinggasananya terkekeh. Lantas menjentikkan jemari tangannya. Sebuah sinar muncul secara ghaib dikelilingi asap yang mengepul. Lama kelamaan sinar itu berubah menjadi dua sosok yang sangat dirindukan Parama.


“Bapa!!!” panggil si gadis kecil.


Lantas menghambur ke pelukan Parama.


“Putriku….” balas Parama dengan memeluk erat putri yang sangat dirindukan selama bertahun-tahun.



Dia langsung menghambur dan berpelukan bersama anak serta suaminya. Parama yang tidak pernah menunjukkan emosinya selama ini. Tangisnya kali pecah tatkala bertemu kembali dengan anak dan istrinya. Perasaan rindu terus menghampirinya. Bahkan setiap malam, kerinduan pada keluarga terus mengusiknya.


Akan tetapi, lama-lama sosok yang dipeluknya menghilang secara perlahan. Membuat Parama kebingungan.


“Anakku…..Istriku….” panggilnya berulang kali.



Tetapi sosok yang dia rindukan lenyap begitu saja. Tergantikan dengan suara tawa Ditya Gorawangsa.



“Ha!Ha!Ha!”


Suara tawa Sang Ditya menyadarkan Parama.


“Kurang ajar! Apa kau mempermainkanku?!” tanya Parama dengan wajah merah padam menahan amarah. Pedangnya terhunus siap menebas Ditya Gorawangsa.



Ditya Kalandaru bergerak dengan cepat. Menghadang langkah Parama. Menjadi pelindung tuan yang telah membangkitkannya.



“Ha! Ha! Tenanglah dahulu. Tidak usah terburu-buru. Kau lihat sendiri bukan? Kekuatan yang kumiliki bisa mengembalikan anak dan istrimu. Tetapi, kau harus membuktikan kesetianmu padaku. Baru aku mengembalikan anak dan istrimu.” Ditya Gorawangsa terkekeh.



“Kau!” teriak Parama yang merasa dipermainkan.



Disaat bersamaan, seberkas sinar hitam melayang di udara. Memasuki istana Ditya Gorawangsa. Sinar hitam mendarat dan berubah menjadi sosok Kalimakara. Parama menatap dengan waspada sosok yang baru pertama dilihatnya.



“Apa yang kau rencanakan Ditya Gorawangsa!” teriak Kalimakara penuh amarah.

__ADS_1



Ditya Gorawangsa bangkit dari singgasananya. Menatap penuh kebencian pada Kalimakara.


“Ha!Ha! untuk apa aku memberitahukan rencanaku padamu?”


“Kurang ajar! Aku sudah katakan berkali-kali. Untuk jangan mengganggu Ganendra dahulu, karena aku masih membutuhkannya. Apa kau ingin, aku memotong kembali telinga sebelahmu lagi? Atau sekalian menebas kepalamu?” ancam Kalimakara.


“Ha! Ha! Aku sudah muak kau perintah! Kau sendiri memiliki rencana mendapatkan tirta amerta seorang diri. Mana mungkin aku membiarkan itu terjadi!”



Kalimakara benar-benar murka. Dia menghunus pedangnya.



“Yantra Candrasa Brama!” teriaknya.



Api berkobar menyelubungi pedang Kalimakara. Ditya Gorawangsa tak tinggal diam.



“Ditya Kalandaru dan kau Parama! Buktikan kesetianmu padaku!” perintah Ditya Gorawangsa.



Parama dengan terpaksa menerima perintah Ditya Gorawangsa. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan mengembalikan anak dan istrinya. Ditya Kalandaru bagai kerbau dicocok hidungnya. Dia mengikuti saja perintah empunya.


“Yantra Candrasa Apyu!” rapalan yantra milik Parama.


Pedangnya juga diselimuti api. Kekuatan Parama dan Kalimakara berasal dari energi api.



“Hyaa!” teriak Parama.



Dia bergerak bagai kilat. Mengayunkan pedangnya ke arah Kalimakara. Kesigapan Kalimakara tak diragukan, dia menahan pedang api milik Parama. Kedua pedang api tersebut saling beradu.



Trang!



Tring!



Suara pedang beradu silih berganti. Ditya Kalandaru bergerak maju dan menyerang ke arah Kalimakara.



*Roaar*!!!



Gada Lukitasari miliknya mengarah pada Kalimakara. Gada itu hampir mengenai tubuh Kalimakara. Namun dengan lincah dia bersalto dan menghindari serangan. Tangan kanannya menahan pedang api milik Parama. Tangan kiri dan kakinya menahan serangan gada Ditya Kalandaru.



Sedangkan Ditya Gorawangsa hanya terkekeh. Duduk di singgasana sembari menyaksikan pertarungan mereka. Tawa seringai terlihat jelas di sudut bibirnya.



“Aku akan menjadi satu-satunya penguasa kegelapan. Pimpinan para Ditya.” ucapnya lirih.



Kalimakara mengayunkan tendangan berputar ke arah Parama dan Ditya Kalandaru. Keduanya menangkis dengan tangannya. Lantas membalas dengan serangan bertubi ke arah Kalimakara. Kalimakara menggeram dan dengan kekuatan penuh menyalurkan energi api pada pedangnya. Apinya semakin berkobar.



“Hyaaa!!!” teriak Kalimakara menyerang ke arah Ditya Kalandaru dan Parama.



Api yang berasal dari yantra Kalimakara begitu kuat. Parama berusaha menangkis dengan pedangnya. Namun, kekuatan apinya tak dapat menahan api milik Kalimakara. Hingga akhirnya sebuah tendangan tepat mengenai dadanya.


Duak!

__ADS_1


Parama terjerembab dengan keras. Ditya Kalandaru menyerang dengan gada miliknya. Gada itu berhasil ditahan oleh Kalimakara. Adu kekuatan antara keduanya tak terelakkan. Entah pihak mana yang akan memenangkan pertarungan.


__ADS_2