
Siang telah berganti dengan malam. Semua orang tengah berkumpul di rumah Buyut Wengkeng. Mengelilingi Ganendra yang tak sadarkan diri. Keringat dingin bercucuran. Bekas luka di dadanya menghitam. Tubuhnya lumpuh total. Tak bisa digerakkan.
Buyut Wengkeng dibantu Buyut Bawada menggunakan kekuatan Kadewatannya menghambat menyebarnya racun di tubuh Ganendra. Tetapi karena kekuatan keduanya dipakai berulang kali. Kedua Buyut ini tidak sanggup lebih lama membantu Ganendra. Mereka menggelengkan kepala.
Putri Nalini kelihatan khawatir. Dia berulang kali menyeka keringat di tubuh Ganendra. Sadana memukul pilar kayu. Wajahnya terlihat kesal. Dia yang biasanya tenang, melihat Ganendra dalam keadaan sekarat merasa marah.
"Ki? Apa ada cara menyelamatkan Ganendra? Apa aku perlu mencari Bunga Wijayakusuma?" tanya Sadana.
Parama menimpali, "aku akan siap membantu."
"Aku juga." ucap Soma dan Balin bersamaan.
Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada saling berpandangan.
Buyut Bawada membuka suara, "bisa saja kita menggunakan Bunga Wijayakusuma. Tetapi... waktu kita tak banyak karena energiku dan Buyut Wengkeng terus-terusan digunakan. Jadi..." suara Buyut Bawada terhenti.
"Huaaaaa!!!" terdengar suara Balin menangis keras.
Menatap Ganendra dengan sedih.
"Aku tak bisa melihatmu mati. Harusnya aku menemanimu saat bertarung dengan Sarpakenanga."
Putri Nalini ikut menatap Ganendra. Entah kenapa hatinya merasa sangat sedih melihat keadaan Ganendra.
"Tidak... Tidak... Ini salahku... Seharusnya waktu itu aku mengawasinya. Supaya bisa menghentikannya." mata Putri Nalini berkaca-kaca.
Soma duduk di samping Sang Putri.
"Gusti Putri, jangan merasa bersalah. Kita di sini akan melakukan apapun demi menyelamatkan Ganendra. Pasti ada jalan." ucap Soma menenangkan Putri Nalini.
Malam semakin larut. Buyut Wengkeng mengatakan, jika sampai esok lewat tengah hari Ganendra tak segera mendapatkan penawar. Maka dia bisa kehilangan nyawa.
Putri Nalini terlihat sedang duduk sendirian di samping Ganendra. Mengelap keringat yang terus-terusan mengucur. Luka di dada Ganendra semakin menghitam.
"Kenapa kau sebodoh itu! Kau pikir dirimu hebat. Menantang Sarpakenanga sendirian?"
Isak tangis mulai terdengar dari Putri Nalini. Putri yang biasanya congkak. Berbuat sesuka hati. Kini malah menangisi seorang Ganendra yang diawal dahulu hubungan mereka tidaklah baik. Entah kenapa hati Sang Putri tidak ingin terjadi apa-apa pada Ganendra.
Tiba-tiba Balin masuk dan duduk di depan Putri Nalini.
"Mereka semua masih berdiskusi mencari jalan keluarnya." ucap Balin dengan wajah lesu.
Putri Nalini mengusap air matanya.
"Kita tidak memiliki banyak waktu."
Balin mengangguk, "tetapi menurut hamba ada satu cara. Tapi..."
Kalimat Balin terhenti.
"Katakan apa kau memiliki saran?"
Balin menghela nafas dan melanjutkan, "menurut hamba ada cara yang bisa kita lakukan.
Mengingat waktu yang mendesak."
"Jangan berbelit-belit. Cepat katakan!" ucap Putri
__ADS_1
Nalini sedikit membentak.
Balin sedikit terkejut.
"Ba.. Baik.. Gusti Putri. Menurut hamba, sebaiknya Gusti Putri menemui Ditya Kalandaru."
Putri Nalini langsung terpengarah.
"Apa kau mau, aku dijadikan wadah kelahiran Ditya? Apa kau ingin aku memenggal kepalamu?!"
"Ampun Gusti Putri, hamba tidak berani. Ma... Maksud hamba, Sarpakenanga adalah sekutu Ditya Kalandaru. Mungkin saja jika Gusti Putri membuat kesepakatan. Ditya Kalandaru bisa membantu mencarikan jalan keluar. Ini semua demi nyawa Ganendra... Hiks.. Huaa. ." jawab Balin sambil bersujud di hadapan Putri Nalini.
Mendengar jawaban Balin. Membuat Putri Nalini terdiam beberapa saat. Lantas dia menatap Ganendra yang terbaring tak berdaya. Tangannya mengepal.
...****************...
Putri Nalini berada di gerbang Pancapratala. Dihadang beberapa Ditya. Air liur mereka menetes melihat ada manusia yang berani datang ke sana.
"Mangsaaaa....."
Para Ditya melangkah maju dengan cakar yang mengayun. Putri Nalini mundur selangkah. Dia bersiaga jika para Ditya menyerang. Tetapi sebelum itu terjadi Ditya Kalandaru datang menyambut Putri Nalini.
"Huahahaha kau datang? Kemarilah Nalini. Aku menyambut mu dengan tangan terbuka."
Putri Nalini mengambil nafas dalam. Berusaha meyakinkan dirinya. Ini adalah jalan keluar mencari penawar bagi Ganendra.
"Kalian semua, jangan ada yang berani menyentuh kekasihku." perintah Ditya Kalandaru.
Para Ditya mulai menyingkir dan membiarkan Putri Nalini masuk ke dalam.
"Aku tak menyangka kau berani datang kemari Ha! Ha!" ucap Ditya Kalandaru yang duduk di singgasananya.
"Aku tidak ingin berbelit-belit." balas Putri Nalini.
Ditya Kalandaru menatap Putri Nalini, "apakah ada maksud kau datang ke Pancapratala?"
"Benar, aku ingin meminta penawar racun yang disebabkan oleh Sarpakenanga."
"Bwahahaha!!! Maksud mu kau datang kemari ingin mencarikan penawar racun untuk pemuda cacat yang tidak berguna itu?"
Putri Nalini menatap tajam pada Ditya Kalandaru.
"Jaga mulutmu! Jangan pernah menghina Ganendra dengan mulut kotormu!"
Brak!
Ditya Kalandaru membalas dengan menggebrak meja.
"Nalini... Nalini... Ada apa denganmu?! Kau yang dahulu tidak akan pernah perduli pada keadaan orang lain. Lantas kenapa? Kau begitu perduli dengan pemuda itu?" tanya Ditya Kalandaru naik pitam.
"Sudah aku katakan aku tidak ada waktu. Aku memintamu memberikan penawar itu. Setidaknya kau mengingat hubungan kita dahulu."
"Hahahaha!!!" terdengar tawa membahana dari Ditya Kalandaru.
"Apakah jangan-jangan perasaan mu telah...."
Putri Nalini segera memotong pembicaraan Ditya Kalandaru.
__ADS_1
"Aku tidak ada waktu membicarakan omong kosong. Sebaiknya kau berikan saja penawarnya."
"Hahahaha!!! Aku menyukai sikapmu yang tegas seperti ini."
Ditya Kalandaru diam sejenak. Memikirkan sebuah rencana. Mengambil kesempatan ini untuk mencapai tujuannya.
"Baiklah... Aku akan memberikan penawarnya. Tetapi ada syaratnya."
"Katakan cepat! Apa syaratnya?"
"Tenanglah Nalini." jawab Ditya Kalandaru sembari beranjak dari duduknya.
Menghampiri Sang Putri.
"Syaratnya adalah kau harus bersedia menjadi pengantin ku dan menjadi wadah kelahiran Ditya." ucap Ditya Kalandaru dengan tawa seringai.
Mendengar persyaratan yang diajukan. Putri Nalini terdiam. Tangannya mengepal. Ditya Kalandaru tersenyum licik.
"Hemmm... Aku rasa kau tidak akan.... "
"Akan aku lakukan." jawab Putri Nalini dengan tatapan serius.
Ditya Kalandaru menyunggingkan senyum.
"Baiklah kita sepakat."
"Tetapi bagaimana aku bisa mempercayaimu?mengingat kejadian tempo hari kau ingkar janji."
"Hahaha!!! Baiklah, kita melakukan yantra pengikat perjanjian."
Putri Nalini pun setuju. Ditya Kalandaru mengheningkan cipta. Merapalkan yantra pengikat perjanjian. Beberapa detik kemudian, di tangan kanan Putri Nalini terdapat sebuah tato seperti gelang rantai. Sama seperti milik Ganendra.
Ditya Kalandaru juga memanggil Sarpakenanga melalui cipta. Hanya beberapa detik saja Sang Ditya muncul di hadapan Ditya Kalandaru. Mengatupkan kedua tangan di dada. Menyembah pada junjungannya.
Ditya Kalandaru berbisik pada Sarpakenanga.
"Hahaha! Jadi begitu? Kau sungguh berani datang kemari. Demi menyelamatkan pemuda cacat itu."
Lantas Sarpakenanga melukai dirinya sendiri. Menaruh darahnya di sebuah wadah. Ditya Kalandaru tersenyum penuh kemenangan.
"Ini adalah penawar racun. Suruh Ganendra meminumnya."
Putri Nalini terlihat ragu. Sarpakenanga angkat bicara.
"Penawar racun ku adalah darahku sendiri. Jika aku berbohong Ditya Kalandaru akan membunuhku karena kalian telah terikat perjanjian. Seandainya Ditya Kalandaru mengingkari janji. Maka, dia sendiri yang akan merasakan sakit di tubuhnya."
Putri Nalini mengerti dan bergegas kembali ke Medangwantu.
Di Medangwantu, racun hampir menyebar ke seluruh tubuh Ganendra. Tubuhnya mulai menghitam. Nafasnya tak beraturan. Buyut Wengkeng dan yang lainnya berusaha menahan racun supaya tidak menyebar. Di saat itu Putri Nalini datang. Meminumkan darah Sarpakenanga pada Ganendra.
Perlahan tetapi pasti. Warna hitam akibat racun di tubuh Ganendra berangsur-angsur menghilang dan kemudian lenyap. Luka di dadanya juga telah pulih. Ganendra sepenuhnya telah terbebas dari racun mematikan.
Suara erangan kecil keluar dari mulutnya. Lantas matanya terbuka.
"Di.. Dimana ini?" tanya Ganendra sembari bangkit dari tidurnya.
Mata Putri Nalini terlihat berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Ganendra dengan erat. Ganendra merasa kebingungan.
__ADS_1
"Hei! Hei! Putri Congkak. Ada apa denganmu?"
Tetapi Putri Nalini hanya diam dan memeluk Ganendra dengan erat. Ganendra hanya menatap sekeliling. Dia masih kebingungan dan tidak mengerti pernah sekarat.