
Beberapa hari setelah keluar dari dunia Ilusi ciptaan Ditya Wahmuka. Ganendra dan kelompok Ksatria Pemburu melakukan perjalanan demi mencari sarang Ditya dan memusnahkannya. Mereka tidak bisa hanya diam dan menunggu saja diteror para Ditya. Lebih baik mencari sarangnya dan menghabisi semua adalah jalan terbaik.
Kelompok Ksatria Saka yang beranggotakan Ganendra, Sadana, Balin, Putri Nalini dan Parama memiliki rencana menyerang sarang para Ditya. Meski mereka tidak mengetahui secara pasti di mana sarangnya. Kelompok ini dipimpin oleh Sadana. Sebenarnya Soma ingin ikut. Tetapi tenaganya masih dibutuhkan di Desa Medangwantu dan menemani Buyut Wengkeng.
Setelah kejadian di dunia ilusi. Tampaknya hubungan kelompok ini semakin membaik. Kelompok yang awalnya tidak kompak sama sekali. Malah tanpa sengaja berhasil mengalahkan Ditya Wahmuka.
“Ganendra, aku tidak menyangka. Kau telah mencapai tahapan Ksatria Saka tingkat ketiga. Bagaimana perasaanmu?” tanya Balin yang ikut senang dengan pencapaian temannya itu.
“Ha! Ha! Sudah aku katakan. Aku akan sehebat Sadana dan melampauinya kelak.” jawab Ganendra sedikit sombong.
Putri Nalini yang mendengar ucapan Ganendra terdengar mendengus.
“Fiuuh, baru saja tingkat ketiga sudah membuatmu besar kepala. Ingat, kau bisa mencapai tingkatan itu berkat siapa?”
“Tentu saja berkat diriku yang hebat.” jawab Ganendra sembari membusungkan dada.
“Dasar pria, cepat sekali melupakan jasa seseorang.” gerutu Putri Nalini.
Sadana yang mendengarkan perdebatan mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Jika dipikir-pikir lagi, kau tidak bisa menjadi Ksatria Saka jika bukan karena aku yang merekrutmu. Saat pertama kali kita bertemu dulu.”
Ganendra teringat kenangan dahulu saat pertama kali bertemu Sadana.
“Oho! Jadi maksudnya ingin aku mengingat jasa kalian?”
Semua orang jadi tertawa lebar. Sembari berjalan menyusuri hutan. Parama yang pendiam jadi ikut berbicara.
“Tetapi jangan merasa puas dahulu. Dari yang aku amati. Kau belum menyempurnakan tingkat Eka maupun tingkatan ketigamu.”
Perkataan Parama membuat Ganendra seketika mendengus kesal. Inikah yang dimaksud definisi merusak kebahagiaan orang lain. Sadana dan yang lain malah tertawa melihat ekspresi Ganendra yang mendadak suram. Perjalanan yang mereka lalui menjadi terasa ringan. Jika diselingi dengan tawa.
Beberapa hutan sudah mereka jelajahi. Tetapi mereka tidak tahu pasti di mana sarang Ditya atau keberadaannya. Seolah kemunculan mereka dikendalikan seseorang. Hanya muncul setiap saat saja.
Balin yang suka makan, melihat sesuatu dari kejauhan. Dia melihat tanaman yang berwarna merah menggoda.
“Hemmm mungkin itu buah yang lezaaat.” ucapnya sambil berjalan menuju tanaman itu.
__ADS_1
Di sana beberapa pohon ditumbuhi buah yang berwarna merah. Balin dengan senang hati memetiknya. Dia terlihat bersemangat sampai tidak memperhatikan ada sebuah lubang besar di tempat dia berpijak. Tak ayal Balin terperosok dan masuk ke dalam goa bawah tanah. Dia berteriak kencang.
“Tolong! Tolong! Tolong aku!!!”
Semua orang terkejut dan bergegas mencari keberadaan Balin. Takut Balin bertemu dengan Ditya. Mereka mencari arah sumber suara Balin. Hingga menemukan goa bawah tanah.
“Balin! Apa kau di sana?” tanya Ganendra khawatir.
Tidak ada jawaban. Sadana melihat jejak kaki Balin berada di sekitar sana. Jadi sudah dipastikan Balin terperosok ke dalam goa bawah tanah. Parama mengamati goa bawah tanah tersebut.
“Mungkinkah ini tempat yang dinamakan Luweng Braholo?” gumamnya sendirian.
Sadana menghampiri Parama.
“Apa kau yakin?”
Parama hanya menggelengkan kepala.
“Aku tidak paham apa yang kalian bicarakan. Aku akan masuk ke dalam.”
Akan tetapi Ganendra sudah terjun ke goa bawah tanah.
“Fiuuh, dia selalu merepotkan.” ucap Putri Nalini.
Lalu malah mengikuti terjun ke bawah. Mau tidak mau Sadana dan Parama ikut menyusul. Saat masuk ke dalam, goa bawah tanah itu memiliki jalan seperti perosotan. Tubuh Ganendra meliuk-liuk melewati batu yang terbentuk seperti perosotan. Di belakangnya menyusul Putri Nalini, Sadana dan terakhir Parama.
Mereka melewati dinding-dinding goa yang basah dan lembab. Melewati kegelapan yang seolah tak ada ujungnya. Hingga tak lama kemudian, tubuh Ganendra terpental dan langsung tersungkur ke tanah. Di susul Putri Nalini yang menggencetnya. Sedangkan Sadana dan Parama bisa mengontrol gerakan tubuh. Kemudian melompat ke udara dan menyeimbangkan tubuhnya.
‘Hei!! Bisakah kau jangan menindihku.” ucap Ganendra kesakitan.
Putri Nalini yang tanpa sengaja menindih Ganendra seketika bangkit berdiri. Wajahnya sedikit memerah.
“Dasar ceroboh.” ledeknya sembari mengikuti Sadana dan Parama.
Ganendra hanya bisa mendengus kesal. Lalu berdiri dan mengikuti teman-temannya yang berdiri terpaku. Sedetik kemudian mata Ganendra terbelalak. Tepat di depannya, terdapat gapura dan bangunan yang menyerupai candi. Terkubur di bawah tanah.
“Woiii, kawan-kawan! Di sini!” panggil seseorang yang tak lain adalah Balin sembari melambaikan tangannya.
__ADS_1
Balin sudah berada di dalam candi dan menyalakan obor supaya dapat melihat dengan jelas. Ganendra dan yang lain segera menyusul. Di depan candi terdapat gerbang yang dijaga Dwarapala. Patung manusia yang memegang gada. Ganendra seperti tidak asing dengan patung ini. Mereka melihat sekeliling dan menemukan relief yang terpahat di dinding candi.
Sadana mengambil obor dan mendekatkan pada relief candi. Ada beberapa gambar seperti dua kubu yang saling bertarung. Balin yang sudah berada di puncak candi. Meminta teman-temannya untuk naik ke atas.
Di bangunan atas candi terdapat tempat pemujaan dan sebuah prasasti yang tertulis dengan aksara yang cukup rumit. Sadana dan Balin mendekatkan obor pada prasasti batu tersebut. Aksaranya cukup rumit untuk di baca.
“Tulisan macam apa ini? kepalaku pusing melihatnya.” ucap Putri Nalini.
Giliran Ganendra yang mendekat. Memperhatikan dengan seksama aksara yang tertulis. Dia membersihkan debu atau lumut yang menutupi. Ganendra menyipitkan mata dan sedetik kemudian dia mengenali aksara yang tertulis di sana. Sewaktu kecil dahulu ibunya pernah mengajari cara membaca tulisan seperti ini.
...****************...
Ribuan tahun silam. Ketika zaman Satyayoga para dewa dan kaum Ditya, mengadakan pertemuan di puncak gunung Mahameru. Pertemuan kala itu, membahas tentang cara-cara memperoleh tirta amerta. Air suci yang membuat hidup kekal abadi. Kala itu Sang Hyang penjaga keseimbangan alam atau Dewa Padmanabha bersabda 'jika menghendaki tirta amerta, aduklah lautan susu atau Ksirasagara yang kerap dikenal Ksirarnawa'. Sebab di dalam lautan tersebutlah, terdapat tirta amerta.
Semua akhirnya berangkat ke Ksirarnawa atau lautan susu. Di sana pula ada gunung yang sangat tinggi, bernama Gunung Mandara atau Mandara Giri. Gunung itu kemudian dicabut oleh Sang Anantabhoga dengan segala isinya. Lalu gunung dijatuhkan di laut ksira, sebagai tongkat pengaduk.
Tatkala mengaduk itu, muncullah seekor kurma atau awatara Dewa Padmanabha yang berwujud kura-kura bernama Akupa. Kemudian Akupa mengapung di lautan susu, sebagai dasar dari Gunung Mandara agar mudah diputar untuk mengaduk.
Para dewa dan para Ditya berlomba-lomba, ingin mendapatkan tirta amerta dengan cara mengikat Mandara Giri. Kemudian Naga Basuki bertugas membelit lereng gunung yang sudah disangga oleh kura-kura besar penjelmaan Dewa Padmanabha.
Dewa perang Swargapati bertugas memegang puncak gunung Mandara, agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama memutar, para dewa memegang ekor Naga Basuki. Sedangkan para raksasa memegang kepalanya. Terdengar suara gemuruh, dan Gunung Mandara panas, sehingga membuat Naga Basuki menyemburkan api yang membuat para Ditya kepanasan.
Dewa Swargapati turun, dan mengambil awan mendung agar turun hujan yang kemudian mengguyur para Ditya. Pemutaran gunung kian dikeraskan, hingga keluar kendi yang berisi tirta amerta yang dibawa Dewi Dewantari.
Sayangnya, ketika pembagian terjadi keributan antara para Ditya dan para dewa. Para Ditya tidak terima, karena para dewa mendapat bagian yang lebih banyak. Tirta amerta berhasil direbut para Ditya, dan membuat Dewa Padmanabha berubah menjadi gadis cantik.
Merayu para Ditya agar menyerahkan tirta amerta. Tirta berhasil dibawa Dewa Padmanabha. Para Ditya menyadari terkena tipu, mereka marah dan berperang dengan para dewa. Dewa Padmanabha membantu para dewa dengan membidikkan panah cakranya. Membuat banyak Ditya terbunuh. Tirta dibawa ke Wisnuloka dan para dewa meminumnya sehingga hidup abadi.
Mendengar banyak Ditya yang terbunuh. Sang Raksas Agung putra Mahadewa yang dikutuk tak terima, mengubah diri menjadi dewa. Mencuri Tirta Amerta. Akan tetapi sayangnya cepat diketahui oleh Sang Rawi dan Dewa Bulan.
Dewa Padmanabha pun membidikkan panah cakra ke leher raksasa yang telah sempat meminum tirta amerta dan menelan Sang Rawi beserta Dewa Bulan. Dari sinilah timbuh gerhana matahari dan gerhana bulan. Tubuh Sang Raksas Agung jatuh ke bumi dan berubah menjadi lesung. Sedangkan kepalanya melayang-layang penuh dendam kesumat.
Tirta amerta yang sempat tercecer di kumpulkan kembali oleh Dewa Padmanabha. Lantas meminta putranya untuk menjaga tirta amerta. Tirta amerta tersembunyi di penghujung batas garis cakrawala. Tempat yang tiada bertepi.
...****************...
Seusai membaca prasasti tersebut. Ganendra terperanjat. Jadi inikah yang selama ini di cari Kalimakara? Tirta Amerta, air keabadian. Akan tetapi ada bagian prasasti yang hilang entah kemana. Perjalanan yang dilalui Ganendra akan semakin sulit.
__ADS_1