Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Bekerjasama Menyerang Ditya


__ADS_3

Teror yang dilancarkan para Ditya saat gerhana bulan lalu. Membuat beberapa wilayah di Swastamita dilanda ketakutan. Banyak manusia yang menjadi korban keganasannya. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sri Mahadana penguasa Kerajaan Ayodya memerintahkan Ksatria Saka di seluruh negeri untuk bekerjasama menghancurkan Ditya. Mereka yang berhasil membumi hanguskan Ditya akan diberi hadiah.



Jika Ditya masih saja dibiarkan berkeliaran memangsa manusia. Ditakutkan bahan pangan ataupun perdagangan di wilayah-wilayah mengalami kemerosotan. Jangan sampai terjadi paceklik sandang pangan. Itulah yang ditakutkan Sri Mahadana dan raja-raja lain di Swastamita.



Ganendra yang beberapa saat lalu mendapatkan senjata Tombak Naga Baruna pemberian Dewa Padmanaba membuatnya semakin percaya diri. Haluannya sedikit demi sedikit telah berubah. Pandangannya mengenai hidup telah membawanya ke jalan yang benar. Menjadi seorang Ksatria Saka sejati. Pemuda itu bertekad menghancurkan kegelapan dan membawa terang di Swastamita.



Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada mengajak Ksatria Saka dari Medangwantu untuk berkumpul.



“Saudaraku Ksatria Saka yang terhormat. Beberapa hari ini teror Ditya semakin meningkat. Banyak dari kita mengalami kesedihan berkepanjangan. Kehilangan sanak saudara, teman, maupun kenalan. Kita tidak bisa tinggal diam seperti ini. Yang Mulia Raja Sri Mahadana memerintahkan para Ksatria untuk segera membumi hanguskan kaum Ditya. Demi kepentingan umat manusia.” ucap Buyut Wengkeng.



Kini giliran Buyut Bawada angkat bicara.



“Beberapa waktu lalu kita berhasil mengalahkan pimpinan Ditya. Tetapi masih ada Ditya kuat yang berkeliaran seperti Ditya Kalandaru dan Ditya Gorawangsa. Bagaimanapun juga secepatnya kita harus menghancurkan mereka.”



Salah seorang Ksatria mengangkat tangan.



“Ki, bagaimana kalau kita serang saja langsung sarang para Ditya itu. Bukankah kelompok Kakang Sadana sudah mengetahui di mana keberadaan sarang Ditya Kalandaru?”



“Kita siap membantu Ki!” teriakan beberapa Ksatria Saka lain penuh gelora.



Mereka sudah tidak tahan harus menghadapi teror Ditya setiap saat. Ganendra yang berada di sana ikut bicara.



“Baiklah, jika semua sudah bersepakat. Kita serang saja Ditya Kalandaru.”



Sorak sorai penuh semangat terdengar membahana. Sadana siap memimpin rombongan Ksatria Saka. Lantas Buyut Wengkeng membagi kelompok. Beberapa Ksatria Saka tetap tinggal di desa untuk mengamankan Medangwantu. Ksatria lain membantu kelompok Sadana. Namun kali ini Parama dan Balin tetap tinggal di desa untuk membantu Ksatria Saka lain.



Sadana akan menjadi pemimpin. Dibantu Ganendra, Soma, dan Putri Nalini. Beberapa Ksatria Saka juga siap sedia membantu. Mereka mempersiapkan diri. Ganendra menatap Putri Nalini yang sejak tadi hanya diam.



“Ada apa? Apa kau takut? Mengingat Ditya Kalandaru pernah menyekapmu?” ledek Ganendra.



“Jangan mengejekku. Pergi sana! jangan mengganggu!” usir Putri Nalini membuat Ganendra hanya tertawa.



Balin yang berada di sana. Mendekati Ganendra seusai Putri Nalini pergi.



“Berhati-hatilah pada Ditya Kalandaru. Apa kau sudah menyiapkan rencana?”



Ganendra hanya menghela nafas dalam.



“Entahlah….kita lihat saja nanti.”



Lalu Balin membisiki Ganendra sesuatu. Membuat mata pria muda itu terbelalak. Sedetik kemudian, Ganendra hanya menatap Putri Nalini yang kelihatan masih murung.



Tidak lama berselang, mereka sudah berada di Pancapratala.



Rombongan Sadana disambut dengan serangan Ditya. Mereka meraung dan menggeram. Soma bergegas mendekati Putri Nalini.



“Gusti Putri, hamba akan melindungi Gusti.” ucapnya sembari melepaskan beberapa anak panah.



“Ksatria Saka tingkat Panca bergerak lebih dahulu. Lindungi Ksatria Saka Eka dan Tri.” Perintah Sadana.



Mereka bergerak dengan serempak. Bergerak secara terstruktur. Ksatria Eka mengayunkan pukulan ke arah Ditya. Ksatria Tri ikut menendang dan diakhiri dengan tebasan pedang atau tombak Ksatria Saka tingkat Panca.



Soma tak ingin kalah. Beberapa Ditya mengayunkan cakar. Pemuda tampan itu melompat ke udara. Sembari mengulas senyum. Beberapa anak panah terlepas dari busurnya.


__ADS_1


Srat!



Srat!



Beberapa Ditya terkena anak panah. Ganendra segera melompat dan mengakhiri dengan tusukan tombak miliknya. Di belakangnya Putri Nalini bergerak dengan lincah. Lalu memberikan tendangan bertubi-tubi ke beberapa Ditya. Mereka terjerembab hingga kapak Sadana mengantar Ditya ke akhirat.



“Kurang ajar!!!” teriak seseorang yang tak lain Ditya Kalandaru.



Matanya nampak terpengarah tatkala melihat Putri Nalini masih hidup. Namun hal itu tak bertahan lama, dia menggeram hebat. Manakala melihat Ditya bawahannya banyak yang tewas.



Ganendra dan Ksatria Saka lain bersikap waspada. Mata Ditya Kalandaru memancarkan amarah. Sang Ditya mengheningkan cipta, memanggil senjata Gada Lukitasari miliknya. Ksatria Saka tingkat Eka dan Tri langsung maju menyerang. Salah satu memukul dan yang lain memberikan tendangan. Tetapi dengan mudahnya Ditya Kalandaru menahan serangan dengan gada dan menghempas mereka semua.



Ksatria Saka yang menyerang lantas terjungkal. Ganendra tidak bisa membiarkan itu. Meski masih kesulitan menggunakan senjata tombak di tangan kirinya, dia berusaha menyerang.



“Hyaaa!!!” teriak Ganendra.



Tombaknya mengarah ke Ditya Kalandaru. Tetapi Sang Ditya menahan dengan mudahnya. Lantas mengadu kepala Ganendra dengan kepalanya sendiri.



Duak!



Darah segar mengalir dari hidung Ganendra. Ditya Kalandaru menatap tajam disertai amarah yang tak terbendung. Tangan kirinya mencekik leher Ganendra.



“Kau selalu merusak rencanaku. Matilah kau!!!” ucap Ditya Kalandaru mengayunkan gadanya pada Ganendra.



Tepat saat itu, Putri Nalini menendang sekuat tenaga. Tendangannya mengenai kepala Sang Ditya. Ditya Kalandaru terhuyung. Namun segera membalas serangan Putri Nalini. Sebelum serangan itu berhasil mengenai Sang Putri. Soma tak tinggal diam. Dia melepaskan sejumlah anak panah. Tepat mengarah pada Ditya Kalandaru.



Ditya Kalandaru menangkis dengan Gada Lukitasari miliknya. Lantas melemparkan gada ke arah Soma.



Duak!




“Yantra Welut Putih.” ucap Ditya Kalandaru.



Seketika tubuhnya transparan, dengan mudah terhindar dari serangan Sadana. Gada miliknya langsung terayun dan membuat tubuh Sadana terpental sampai muntah darah. Putri Nalini yang melihat rekannya berjatuhan. Tak ingin tinggal diam.



Sang Putri merengsak dan menyerang Ditya Kalandaru. Tetapi dengan mudahnya serangan Putri Nalini dapat ditangkis. Sang Ditya langsung menangkap Putri Nalini. Melingkarkan lengannya di leher Sang Putri.



Ganendra bangkit berdiri. Tetapi Ditya Kalandaru membuka suara.



“Ha! Ha! Beraninya kalian mengobrak-abrik Pancapratala. Aku tidak akan segan membunuh Nalini!” ancamnya.



“Tidak akan aku biarkan!” balas Ganendra sembari bergerak dengan cepat.



Sadana dan Ksatria Saka lain ikut membantu Ganendra. Mereka menyerang bersamaan. Ganendra menerjang dengan cepat. Putri Nalini tanggap dan menginjak kaki Ditya Kalandaru sekuat tenaga. Erangan kesakitan keluar dari Sang Ditya.



Roaaar!!!



Ganendra segera menarik Putri Nalini ke arahnya sembari memberikan tendangan. Meski sia-sia karena tubuh Ditya Kalandaru seperti kebal akan serangan. Ksatria Saka lain menerjang bersamaan. Ditya Kalandaru menggunakan gadanya dan menghantam tubuh mereka. Tak ayal Ksatria Saka terjerembab keras hingga muntah darah.



Sadana tidak akan membiarkan teman-temannya terluka.



“Yantra Kapak Bajra Maruta!” teriaknya



Di susul yantra dari Soma, “yantra agni astra!”

__ADS_1



Angin tornado dipadu putaran kapak membuat sisi – sisinya tajam. Disusul beberapa panah yang ujungnya di selimuti api mengarah pada Ditya Kalandaru. Tawa meremehkan terpancar jelas dari wajahnya.



“Yantra Welut Putih!”



Tepat disaat tubuh Ditya Kalandaru berubah transparan. Ganendra menyiramkan pasir dan campuran abu gosok ke arah tubuh Sang Ditya. Pasir itu membuat tubuh Sang Ditya tak lagi transparan. Tak ayal tubuhnya menerima serangan Sadana dan Soma.



Blar!!!



Roaaar!!!!!



Raung Ditya Kalandaru dengan beberapa luka di tubuh. Disertai panah yang menancap ditubuhnya. Matanya mendelik menatap Ganendra.



“Ba..bagaimana kau bi…bisa…?” tanya Ditya Kalandaru terbata dengan darah hitam menyembur dari tubuhnya.



Ganendra menghampiri Ditya Kalandaru yang tak berdaya. Diiringi seulas senyum.



“Aku hanya teringat saat di duniaku. Jika ada benda transparan, disiram dengan benda semacam pasir atau abu gosok. Maka sifat benda itu akan mengikat benda yang transparan.”



“Ku…kurang ajar!” ucap Ditya Kalandaru tanpa bisa bergerak.



“Nalini, apa ada yang ingin kau sampaikan padanya?” tanya Ganendra.



Putri Nalini berjalan ke arah Ditya Kalandaru.



“Na…Nalini….ingat kebersamaan kita. Ja…jadi…tolong aku…” pinta Ditya Kalandaru dengan wajah memelas.



“Tidak ada apapun diantara kita. Pria yang aku cintai telah tiada sejak dahulu kala.” jawab Putri Nalini.



Putri Nalini ikut memegang tombak milik Ganendra.



“Mari lakukan bersama.” ucap Putri Nalini.


Ganendra mengangguk. Tangan keduanya memegang tombak.



“Nalini…ja…jangan….” mohon Ditya Kalandaru.


Mendengar permohonan Sang Ditya. Putri Nalini tak bergeming sama sekali.



“Tombak Naga Baruna!” ucap Ganendra dan Putri Nalini bersamaan.



Crat!



Roaar!!!



Tombak Naga Baruna tepat menancap dijantung Ditya Kalandaru. Sang Ditya tewas menemui ajalnya.



Terdengar sorak sorai membahana. Ksatria Saka merayakan kemenangan mereka melawan Ditya Kalandaru. Setidaknya langkah mereka menjadi ringan, sebab salah satu Ditya terkuat telah tiada.



Putri Nalini tersenyum dan menggenggam tangan Ganendra.



“Terimakasih.” kata Putri Nalini.


Ganendra balas melempar senyum. Kelompok Sadana kembali ke Medangwantu dengan perasaan suka cita.


...****************...


Malam telah tiba…


Angin dingin berhembus kencang. Tubuh Ditya Kalandaru yang sudah tak bernyawa tergeletak begitu saja sampai sebuah sinar hitam datang. Wujud sinar hitam berubah menjadi Ditya Gorawangsa. Taringnya menyeringai begitu tajam. Senyum liciknya terlihat jelas. Hingga beberapa saat kemudian dia menghilang bersama tubuh Ditya Kalandaru.

__ADS_1


__ADS_2