
Sadana dan yang lainnya dikejutkan dengan kedatangan sosok Kalimakara.
“Siapa kau?” tanyanya dengan sikap siaga.
“Menyingkirlah, aku ingin menemui Ganendra.”
Sadana menghadang langkah Kalimakara, “aku tidak bisa membiarkanmu masuk. Aku tidak ingin Ganendra dalam bahaya.”
Sadana bersiap dengan kapak miliknya.
“Jika kau terus menghalangi. Ganendra akan mati kehabisan darah.” ucap Kalimakara yang terus berjalan hendak masuk ke bilik di mana Ganendra berada.
“Aku tidak bisa membiarkan orang asing masuk begitu saja.”
Sadana mengayunkan kapaknya. Namun Kalimakara dengan cepat merapalkan yantra.
“Yantra Angrok!”
Sebuah sinar hitam melilit di leher Sadana. Mencekik lehernya begitu kuat.
“Apa-apaan ini?! Lepaskan dia!” ucap seseorang yang tak lain Soma diiringi Buyut Wengkeng keluar dari bilik.
Soma hendak menyerang. Namun Buyut Wengkeng segera mencegahnya.
“Lepaskan Sadana dari yantra milikmu.” ucap Buyut Wengkeng sembari mengamati sosok Kalimakara yang mengenakan topeng kelana.
Entah kenapa, nalurinya merasa mengenal sosok yang ada dihadapannya. Perlahan Kalimakara mencabut yantra angrok. Seketika Sadana jatuh dengan nafas tersengal-sengal.
“Tidak penting siapa aku. Bukankah kalian membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan Ganendra?” ucap Kalimakara dengan tenang.
“Kami tidak akan sudi menerima bantuan dari orang asing yang dipenuhi aura kegelapan.” Soma siap menyerang Kalimakara.
Lagi-lagi Buyut Wengkeng mencegahnya. Membiarkan Kalimakara masuk ke dalam bilik. Dia belum bisa menebak. Apakah sosok asing ini kawan atau lawan. Namun, Buyut Wengkeng dapat merasakan energi kegelapan yang begitu kuat dalam tubuhnya.
Mata Buyut Wengkeng terus mengamati sosok yang sedang berjalan ke arah Ganendra yang terbaring tanpa daya. Putri Nalini dengan setia menggenggam tangan Ganendra. Matanya sembab karena terus menangis.
Buyut Bawada melihat kedatangan orang asing yang dipenuhi aura kegelapan. Dia hendak menyerang. Namun, Buyut Wengkeng memberikan isyarat untuk melihat saja terlebih dahulu.
Kalimakara menatap Ganendra yang berbaring tak berdaya. Wajahnya memucat dengan darah masih terus saja mengucur dari tubuhnya. Kalimakara mengheningkan cipta. Memusatkan energi di telapak tangannya.
Pancaran energi Kalimakara berwarna merah terang. Menyelimuti tubuh Ganendra. Perlahan, luka yang di derita Ganendra semakin lama mengering. Darah tak lagi mengucur. Luka Ganendra sembuh dalam sekejap mata.
“Ganendra…. ka..kau bisa mendengarku?” tanya Putri Nalini dengan nada penuh kecemasan.
__ADS_1
Mata Ganendra mengerjap perlahan. Semua orang mengerubungi. Menanyakan keadaan pemuda itu. Tidak lama berselang, Ganendra terbangun sembari menatap sekelilingnya. Hingga matanya terantuk pada sosok Kalimakara.
“Ka…kau?!” Ganendra terpengarah.
“Jika ingin mengalahkan Ditya Gorawangsa. Pergilah ke Goa Barong.” ucap Kalimakara.
“Apa tujuanmu memberitahu keberadaan Ditya Gorawangsa?” tanya Buyut Wengkeng curiga.
“Ha!Ha! apa aku harus memberitahu kalian tujuanku?”
“Siapa kau sebenarnya?!” tanya Soma hendak menyerang Kalimakara.
“Siapapun aku tidaklah penting. Tetapi, ingatlah Ganendra. Alasanku membawamu ke Swastamita.”
Setelah mengatakan hal itu. Kalimakara menghilang menjadi seberkas sinar hitam.
“Apa kau mengenal sosok bertopeng itu?” tanya Putri Nalini pada Ganendra.
Sadana ikut menimpali, “katakan dengan jujur apakah ada yang kau sembunyikan?”
Untuk sesaat, Ganendra diam sejenak. Dia tidak lagi bisa mengelak. Lantas mulai menceritakan ihwal mula kedatangannya ke Swastamita. Hingga ceritanya usai. Membuat semua orang terhenyak.
“Celakalah kau! Jika sampai mengusik milik para Dewa.” ucap Buyut Bawada.
“Ka..kau menjadi Ksatria Saka hanya untuk mendapatkan Tirta Amerta? begitukah?” Balin juga ikut menimpali.
“Memang benar adanya. Aku bergabung dengan Ksatria Saka hanya untuk memuluskan jalanku mendapatkan tirta amerta.” jawab Ganendra.
“Kau sungguh picik! Bagaimana bisa kau melakukan itu! Memanfaatkan kami untuk mencapai tujuanmu. Lantas selama ini, kau bertarung bersama kami hanyalah untuk mendapatkan keinginanmu semata?!”
Balin mendesak Ganendra dengan lontaran kata-kata yang memojokkan.
“Pada awalnya aku memang seperti itu. Tetapi, berkat kebersamaan dengan kalian. Aku menyadari banyak hal.”
“Kami tidak akan semudah itu percaya padamu! Kau hanya memanfaatkan kami saja.” balas Balin dengan nada tinggi.
Soma yang merasa kecewa dengan sikap Ganendra. Ikut menimpali.
“A…aku sungguh tidak percaya. Kau memanfaatkan kami yang tulus membantumu. Kamu sungguh mengecewakan.”
Ganendra yang merasa dipojokkan dan tidak dipercayai oleh sahabat-sahabatnya. Merasa sangat kecewa.
__ADS_1
“Kau memang seorang penipu! Aku salah mempercayai orang sepertimu.” teriak Balin.
Ganendra semakin emosi dibuatnya.
“Jika memang tidak percaya padaku! Terserah kalian saja!” balas Ganendra dengan wajah merah padam.
Lantas bergegas meninggalkan rumah Buyut Wengkeng. Sadana hanya diam karena juga ikut merasakan kekecewaan. Selama ini Ganendra menyembunyikan cerita sebenarnya. Hanya Putri Nalini yang menatap kepergian Ganendra dengan perasaan sedih.
Ganendra memang berwatak keras. Jika ada orang lain yang tidak percaya padanya. Meski dia sudah menjelaskan. Maka Ganendra memilih tidak perduli dan membiarkan orang lain salah paham.
Dia terus berjalan menjauh dari Desa Medangwantu. Meski kini, tangan kanannya yang lumpuh benar-benar putus. Tak lantas membuat Ganendra merasa sedih. Justru dia merasa sangat marah sekaligus kecewa. Mengetahui sahabat-sahabatnya tidak ada yang mempercayainya. Pemuda itu berjalan tak tentu arah. Perasaan amarah mengusai Ganendra. Dia memilih pergi meninggalkan Desa Medangwantu. Untuk apa bertahan di tempat yang sudah tidak mempercayainya.
Ganendra mengikuti ke mana langkah kaki membawanya. Di depan sana, sebuah hutan lebat sedang menanti. Sinar Mentari tak dapat menembus lebatnya pepohonan hutan. Rasa haus dan lelah mulai menyergapnya. Tanpa Ganendra sadari, dia telah menjauh dari Desa Medangwantu.
“Terserah saja! Jika mereka tidak percaya padaku. Aku tidak akan perduli!” gerutu Ganendra.
Dia berhenti dan duduk di sebuah batang kayu yang roboh. Menatap bahu kanannya yang tanpa tangan. Tangan kanannya yang lumpuh sudah tertebas. Kini hanya tinggal tangan sebelahnya yang sedang memegangi Tombak Naga Baruna.
Tato bergambar gelang rantai masih setia melingkar di tangan kirinya. Pertanda bahwa Ganendra masih terikat yantra pengikat perjanjian. Entah apa yang akan dilakukan Ganendra saat ini. Apakah dia akan terus melanjutkan tujuannya mendapatkan tirta amerta? Tiba-tiba rasa rindu pada ibunya menyeruak dalam hati.
*Bu… apakah kau baik-baik saja? Aku sungguh merindukanmu*… ucap Ganendra dalam hati.
Untuk sesaat Ganendra berpikir, akan lebih baik secepatnya dia mendapatkan Tirta Amerta dan pergi dari dunia ini. Bertemu dengan ibunya kembali. Hidup berdua bahagia serta tidak lagi berurusan dengan para Ditya. Mungkin itu akan lebih baik.
Disaat Ganendra sedang duduk memikirkan langkah apa yang akan dia ambil. Tiba-tiba pepohonan bergoyang dengan kencang. Suara rauangan terdengar bersahut-sahutan. Ganendra merasakan sesuatu yang aneh mendekat ke arahnya.
Benar saja, tak lama berselang. Suara langkah kaki berat mengarah ke tempatnya berada. Ganendra bersikap waspada.
*Roaar*!!!
*Roaar*!!!
Tiba-tiba dua sosok misterius keluar dari balik pepohonan. Menyerang Ganendra secara tiba-tiba. Ganendra bersiaga dan melompat ke udara sembari menjejakkan kakinya di batang pepohonan. Lantas mendarat ke tanah dengan aman.
Sosok misterius yang menyerang Ganendra tidak hanya satu saja. Melainkan dua orang Ditya yang berpenampilan mirip satu sama lain. Wajah mereka menampakkan kebuasan dengan taring menonjol keluar.
“Ganendra!!! beraninya kau membunuh Sarpakenanga. Kami akan membalas dendam kematiannya. Kau akan mati ditangan kami!” ucap kedua Ditya bersamaan.
“Ah, rupanya kalian saudara Sarpakenanga? Kemarilah, aku akan hadapi kalian.” balas Ganendra tanpa rasa takut.
“Ketahuilah wahai manusia bodoh! Kami adalah suami dari Sarpakenanga. Bersiaplah untuk mati!” teriak keduanya sembari menyerang Ganendra bersamaan.
Dua Ditya tersebut tak lain merupakan suami-suami dari Sarpakenanga yang telah tewas ditangan Ganendra dan sahabat-sahabatnya. Mereka bernama Ditya Kardusana dan Ditya Nopati.
__ADS_1
Ganendra tidak merasa gentar. Meski dikeroyok dua Ditya sekaligus. Dia mengayunkan tombak Naga Baruna mengarah pada dua Ditya. Kedua belah pihak saling bertarung satu sama lain.