Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Tidak Rela


__ADS_3

Di aliran air terjun yang dingin. Ganendra tengah bersemedi. Merasakan derasnya aliran air yang menerpa tubuh. Ada sedikit kelegaan di hati Ganendra, karena dapat membalaskan kematian Kemuning. Di sisi lain, entah kenapa rasa lega itu belum sepenuhnya tuntas. Masih ada yang mengganjal. Jadi Ganendra membulatkan tekad mencari jawaban.


Pemuda yang dahulu dijuluki penipu ulung, sudah mulai mengubah haluan hidupnya. Ganendra memusatkan pikiran. Merasakan energi yang mengitari tubuhnya. Lantas menyalurkan ke bagian tangan maupun kaki, dalam sekejap mata Ganendra keluar dari aliran air terjun. Melompat ke udara dan berputar sembari mengarahkan pukulan tangan kirinya ke arah sebatang pohon.


Blar!


Pohon itu terbelah menjadi dua. Tidak berselang lama, dia menghentakkan kakinya di sebuah batu. Hentakannya bertenaga dan cukup keras. Sebuah batu besar meledak menjadi kepingan-kepingan kecil.


Di susul pergerakan tubuhnya terasa ringan. Gerakannya saat melangkah begitu cepat. Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Seulas senyum tergambar jelas dari wajahnya. Tingkatan Eka dan Tri sebagai Ksatria Saka sudah sempurna.


Hingga terdengar sebuah tepukan dari pinggir sungai. Suara itu tak lain berasal dari Soma yang memperhatikan latihan Ganendra. Di samping Soma, berdiri Buyut Wengkeng yang mengelus jenggotnya sambil menatap penuh harapan pada Ganendra.


“Aku akan menjajal kemampuanmu!” pekik Soma.


“Silahkan saja.” balas Ganendra penuh percaya diri.


Sebuah anak panah berada di tangan Soma. Merentangkan busur dan membidik Ganendra. Hitungan detik, anak panah melesat mengarah pada Ganendra. Ganendra bersiap, dengan gerakan lincah dia meliukkan tubuh. Menghindari panah Soma. Namun, Soma tak memberi sedikit nafas pada Ganendra.


Lagi-lagi tiga anak panah sekaligus meluncur dari busur Soma. Mata Ganendra terpengarah melihat tiga anak panah yang bertubi mengarah padanya. Ganendra merunduk dengan cepat. Lantas menendang dua anak panah milik Soma sekaligus. Semua anak panah Soma terbuang sia-sia.


“Bagaimana? Aku hebat bukan?” tanya Ganendra saat berhadapan dengan Soma dan Buyut Wengkeng.


“Jangan merasa sombong. Tingkatanmu masih lebih rendah dariku. Jika aku mau menggunakan kekuatan lebih, bisa saja kau akan jadi seperti landak. Tubuhmu dipenuhi panah milikku.” balas Soma.


“Hei! Jangan suka pamer. Mau merasakan pukulanku?” tanya Ganendra sambil melotot ke arah Soma.


“Ah…sudah…sudah… usia kalian berapa? Jangan seperti anak kecil yang selalu berdebat.” ucap Buyut Wengkeng menengahi.


Ketiganya lantas duduk bersila di pinggir sungai. Soma dan Ganendra menghadap Buyut Wengkeng. Seperti biasa, Ki Buyut memberikan wejangan pada dua pemuda yang memiliki potensi sebagai Ksatria Saka hebat.


“Di Swastamita, banyak sekali para Ksatria Saka memiliki potensi dan kehebatan. Tidak hanya kalian berdua saja. Jika memiliki kekuatan lebih tidak perlu menyombongkan diri. Jika melakukan sesuatu yang bermanfaat tidak perlu membesar-besarkan. Layaknya unen-unen ‘aruming jeneng, ngambar-ambar salumahing bumi’ ucap Buyut Wengkeng.


“Makna apa yang terkandung dalam unen-unen itu Ki?” tanya Soma.

__ADS_1


Buyut Wengkeng mengelus jenggotnya. Menyunggingkan seulas senyum tipis.


“Seorang yang berbuat baik dan hal itu bermanfaat bagi kepentingan umum. Tidak perlu membesar-besarkan diri dan berkoar-koar.”


Kemudian Buyut Wengkeng melanjutkan, “Soma, tingkatan Ksatria Saka mu sudah naik ke tingkat Sapta seperti Sadana. Berlatihlah lebih keras.”


“Terimakasih banyak atas wejangannya Ki.” ucap Soma.


Lantas Buyut Wengkeng menatap Ganendra.


“Aku tidak mengetahui, alasan dibalik kedatanganmu ke Swastamita. Hanya Dewa yang Agung mengetahui pasti alasannya. Tetapi aku percaya, kau akan menjadi Ksatria Saka hebat melebihi apa yang kau bayangkan kelak. Menemukan sejatinya keberadaanmu di sini. Jangan pernah menggunakan amarahmu untuk mengatasi masalah. Kau memiliki kecerdasan yang luar biasa. Jadi manfaatkanlah itu untuk menolong sesama. Terutama menghancurkan kegelapan.”


Ganendra tidak memberikan reaksi apapun. Mendengar ucapan Buyut Wengkeng, membuat benaknya dipenuhi banyak pertanyaan. Kedatangannya ke Swastamita karena ingin mendapatkan Tirta Amerta yang bisa dia tukar dengan hadiah. Akan tetapi, lama kelamaan secara perlahan haluannya berubah. Sejak kematian Kemuning, Ganendra berpikir untuk membuat Swastamita damai. Tanpa adanya ancaman para Ditya.


Disaat Ganendra disibukkan dengan pikirannya. Sebuah teriakan tiada henti.


“Apakah Ditya sedang menyerang?” tanya Ganendra.


“Entahlah, sebaiknya kita periksa.” ajak Soma.


“Balin, ada apa?” tanya Ganendra seusai memegangi kedua bahu Balin.


Balin terlihat panik dan cemas.


“Gu….Pu…Na…” nafas Balin terdengar terengah.


“Tarik nafas perlahan dan katakan ada apa sebenarnya?” tanya Soma.


Balin mengikuti arahan Soma. Dia menarik nafas perlahan, menenangkan dirinya.


“Gu…Gusti Putri Na…Nalini…ditangkap Ditya Kalandaru.” kata Balin dengan nada cemas.


Penuturan Balin menyulut emosi Ganendra.

__ADS_1


“Dasar Ditya sialan! Belum jera juga dia! Akan ku beri pelajaran.” teriak Ganendra kesal.


Kakinya hendak melangkah. Tetapi buru-buru Balin mencegahnya.


“Percuma saja.” ucap Balin.


“Memangnya kenapa? Kita tinggal membunuh Ditya jelek itu.” kata Ganendra.


Soma ikut menimpali, “benar apa yang dikatakan Ganendra. Kita bunuh saja Ditya Kalandaru dan selamatkan Gusti Putri Nalini.”


Buyut Wengkeng ikut bersuara, “Balin, katakan apa yang sebenarnya kau ketahui.”


Balin terlihat kebingungan. Tetapi Ganendra maupun Soma terus mendesaknya.


“I…itu…. Putri Nalini telah mengikat yantra pengikat perjanjian dengan Ditya Kalandaru. Tempo hari, Gusti Putri membuat kesepakatan dengan Ditya itu. Ditya Kalandaru akan memberikan penawar racun untuk Ganendra. Asalkan Gusti Putri bersedia dijadikan wadah kelahiran Ditya sebagai gantinya.”


“A…apa?!!!” membuat Ganendra terkejut setengah mati.


Soma tak kalah terkejut. Terutama Buyut Wengkeng yang merasa curiga. Bagaimana bisa Putri Nalini mendapatkan penawar racun Ganendra dengan mudah.


“Aku tidak perduli. Aku akan tetap menyelamatkan Nalini.” ucap Ganendra dipenuhi amarah yang membuncah.


“Kau tidak bisa asal membunuh seseorang. Jika orang itu telah terikat perjanjian dengan yang lainnya.” cegah Buyut Wengkeng.


“Apa maksudmu Pak Tua?” tanya Ganendra dengan rasa dongkol.


“Meski sekalipun kau bisa membunuh Ditya Kalandaru. Gusti Putri Nalini juga akan kehilangan nyawa, sebab Putri Nalini berada dipihak yang terikat. Bukan yang mengikat. Bagaimanapun yantra itu mengikat yang bersangkutan sampai mati. Sampai janji atau kesepakatan antara keduanya terpenuhi.”


“Gyaaah!!! Dasar sialan!!!!” teriak Ganendra sembari memukul tanah yang dipijaknya.


Dia begitu marah. Demi dirinya, semua orang harus mengorbankan nyawa. Ganendra merasa sangat tidak berguna. Merasa sangat bersalah. Dahulu Kemuning yang rela mengantarkan nyawa. Sekarang giliran Putri Nalini yang melakukannya. Bagaimana bisa Ganendra tinggal diam.


“Katakan Pak Tua, adakah jalan keluarnya? Apapun itu akan aku lakukan demi menyelamatkan Nalini.” pinta Ganendra dengan perasaan bercampur baur.

__ADS_1


“Tidak ada jalan keluar. Selain Gusti Putri memenuhi janjinya pada Ditya Kalandaru.”


Mendengar ucapan Buyut Wengkeng. Membuat tubuh Ganendra terhuyung. Tepat dipelupuk matanya, kilasan kejadian di Medangwantu manakala para wanita desa dijadikan wadah kelahiran Ditya. Mereka tetap saja mati di mangsa Ditya kecil seusai melahirkannya.


__ADS_2