
Ganendra tak lagi dapat menahan gejolak amarahnya. Meski Buyut Wengkeng sudah memberinya nasihat. Dia tak sanggup, jika harus mengingat saat-saat bagaimana Kemuning dengan berani berlari di depannya. Menggunakan tubuhnya sebagai tameng, untuk melindungi Ganendra.
Kemarahan dan kesedihan berbaur menjadi satu. Rasa bersalah terus menghentak di dada. Membuatnya merasa sangat sesak.
“Gyaaah!!!!”
Ganendra meluapkan perasaan hatinya dengan memukul-mukul sebuah pohon. Tangan kirinya terluka, darah segar keluar begitu saja. Namun, Ganendra tak menggubris. Lebih sakit dan sesak luka di hati daripada tangannya.
Disaat tangan kirinya hendak memukul kembali pohon dihadapannya. Seseorang dengan cepat menahan. Orang itu tak lain Putri Nalini.
“Jangan bodoh! Apa yang kau lakukan?” tanya Putri Nalini setengah berteriak.
“Bukan urusanmu!” jawab Ganendra tanpa menatap Putri Nalini.
Putri Nalini tetap memegangi tangan Ganendra,
“sadarlah, jangan biarkan amarah menguasaimu.”
Tetapi Ganendra tidak perduli. Dia menghempaskan tangan Putri Nalini. Sang Putri terdorong menjauh. Rasa amarah masih menguasai Ganendra. Lalu melayangkan kembali pukulannya ke pohon. Namun dengan gerakan cepat, Putri Nalini berada di hadapan Ganendra. Menyandarkan tubuh pada pohon. Melihat Putri Nalini di hadapannya. Ganendra menahan pukulannya.
“Pergi!” ucap Ganendra.
Putri Nalini menatap mata pemuda di hadapannya itu. Dia dapat merasakan apa yang dirasakan Ganendra. Kesedihan, amarah dan ketidakberdayaan terpancar dari mata berwarna coklat milik Ganendra.
“Aku tidak akan pergi! Jika kau ingin memukulku. Lakukan saja. Biarkan aku menggantikan pohon ini. Menjadi sasaran pukulanmu.”
Mata Ganendra menatap tajam. Tangannya mengepal dengan erat. Lantas dengan gerakan cepat.
Duak!!!
Putri Nalini memejamkan mata. Saat tangan Ganendra terayun. Dia siap jika harus dijadikan sasaran. Tetapi saat mata Putri Nalini terbuka. Dia merasa terperanjat. Pukulan Ganendra hanya mengenai sisi kiri wajahnya. Tepat mengenai pohon yang ada di belakang Putri Nalini.
"Menyingkirlah atau aku akan kehilangan akal." ucap Ganendra dengan tatapan tajam.
Putri Nalini bukannya beranjak. Tetapi matanya menatap sayu pada Ganendra. Perlahan kedua tangan Putri Nalini menyentuh pipi Ganendra.
"Rasa sakit yang kau rasakan. Aku juga ikut merasakan. Jika dengan memukul ku akan mengurangi rasa sakitmu. Maka dengan senang hati aku akan melakukannya."
Mendengar ucapan Putri Nalini membuat Ganendra terpengarah. Dia tak sanggup menahan rasa amarah dan sakit sendirian, karena ketidakmampuannya Kemuning kehilangan nyawa.
Ganendra hanya bisa menunduk. Matanya berkaca-kaca. Di dadanya seolah ada beban yang begitu berat. Putri Nalini menyentuh pipi Ganendra perlahan. Lalu mendekap tubuh pria muda itu dalam pelukannya. Membiarkan Ganendra larut dalam kesedihan.
...****************...
"Keluarlah kau Ditya jelek. Jika aku tidak membunuhmu. Aku tidak merasa tenang." ucap Ganendra berkeliling beberapa tempat sembari berteriak seperti orang gila.
Dia telah lupa apa yang diajarkan Buyut Wengkeng. Seorang Ksatria haruslah mampu meredam hawa nafsunya. Baik amarah atau rasa balas dendamnya. Di dada Ganendra hanya merasakan sesak dan sakit. Dia ingin segera menghapus perasaan itu.
Kemudian memilih datang sendirian. Tanpa ada sahabat-sahabat yang mengetahuinya. Ganendra mencari ke hutan atau bahkan hingga ke Pancapratala.
"Bwahahaha!! Rupanya kau yang mencari ku pemuda tampan."
__ADS_1
Apa yang dicari rupanya sudah di depan mata. Ditya Sarpakenanga muncul dari seberkas sinar hitam.
Saat melihat Sarpakenanga, sorot Ganendra memancarkan kemarahan. Dia bersiap menyalurkan tenaga dalam. Melawan Sarpakenanga.
"Bersiaplah!" teriak Ganendra.
Dia melompat ke udara sembari mengayunkan pukulannya. Sarpakenanga bersiap dan menahan pukulan Ganendra. Lalu membalas dengan sebuah tendangan. Ganendra tak sempat menghindar. Membuatnya terhuyung ke belakang.
Ganendra memukul tanah dengan marah. Lantas bergegas bangkit. Menyerang kembali Sarpakenanga.
"Hyaaa!" teriaknya lantang.
Ganendra melesat dengan cepat menggunakan keahliannya sebagai Ksatria Saka tingkat ke tiga. Bergerak dengan cepat. Dia berputar-putar mengitari Sarpakenanga. Ditya wanita itu mengikuti arah putaran Ganendra. Hingga membuatnya pusing.
Tepat saat itu, Ganendra melayangkan pukulan bertenaga pada Sarpakenanga.
Duak!
Membuat Ditya Sarpakenanga terhuyung. Lantas Ganendra menyusul menambah serangan dengan menendang Sarpakenanga.
Duak!
Dak!
Membuat Sarpakenanga terjerembab. Wajahnya merah pedam di pukul dan di tendang seorang Ksatria Saka tingkat rendah.
"Kurang ajar!!! Jika aku berhasil membunuhmu! Ditya Kalandaru akan memberiku banyak hadiah Ha! Ha! Ha!"
Sarpakenanga terhuyung. Matanya yang lebar menampakkan seraut wajah kemarahan.
Roaar!!!
"Ksatria Saka rendahan. Akan aku pastikan merobek wajah tampanmu itu." Sarpakenanga terlihat kesal.
Ganendra berdiri tegap. Menatap Sarpakenanga dengan tajam.
"Justru aku lah yang akan merobek dan mencincang tubuhmu menjadi beberapa bagian." geram Ganendra.
Teringat bagaimana kuku Sarpakenanga merobek tubuh Kemuning. Kemarahannya bergejolak.
"Hyaaa!!!" ucap keduanya bersamaan. Merengsak kedepan.
Adu pukulan tak terelakkan. Kekuatan tenaga dalam mereka cukup kuat. Membuat keduanya terpental. Ganendra mengepalkan tangan dan segera bangkit. Lantas bergerak bagai kilat. Memberikan tendangan pada Sarpakenanga.
Ditya Sarpakenanga meraung, dan menahan tendangan Ganendra. Membalas serangan pemuda itu dengan cakarnya. Ganendra langsung memutar tubuhnya. Menghindari serangan.
Keduanya saling beradu kesaktian. Meski dengan tangan kosong. Sarpakenanga melompat ke udara. Mengayunkan cakarnya. Ganendra mundur beberapa langkah sembari menahan dengan tangan kosong.
Saat Ganendra kewalahan menahan serangan Sarpakenanga yang bertubi-tubi. Tendangannya tepat mengenai dada Ganendra. Hingga Ganendra terpental dan menubruk pohon.
Rasa nyeri di dada Ganendra rasakan. Sebelum sempat bersiap, cakar Sarpakenanga mengarah padanya. Untung respon tubuhnya sangat cepat. Ganendra berguling ke sisi kanan.
__ADS_1
Srat!
Cakar Sarpakenanga merobek pohon hingga terbelah. Pohon itu mulai menghitam. Akibat terkena racun dari kuku Sarpakenanga. Ganendra terkesiap. Dia harus waspada pada kuku beracun itu.
"Huahahaha!!! Kau tidak akan menang melawanku." ucap Sarpakenanga dengan nada penuh kesombongan.
Nafas Ganendra mulai naik turun. Energinya cukup terkuras melawan Sarpakenanga. Bagaimanapun dia tidak akan menyerah begitu saja.
"Aku pasti akan membunuhmu!"
"Hyaaa!!" ucap Ganendra dan bergerak dengan cepat.
Sarpakenanga mengayunkan tangannya ke arah Ganendra. Ganendra menundukkan kepala. Kakinya dengan sigap memberikan tendangan. Sarpakenanga mundur selangkah. Ganendra tak memberi kelonggaran. Dia langsung memberikan tendangan memutar. Tepat mengenai kepala Sarpakenanga.
Duak!!!
Ditya Sarpakenanga terjerembab. Sebelum bisa bangkit Ganendra menginjaknya sekuat tenaga.
Roaaar!!!
Sarpakenanga meraung kesakitan. Ganendra segera melayangkan pukulan ke arah Sarpakenanga. Tetapi Sarpakenanga tak bisa diremehkan. Dia menahan pukulan Ganendra. Lantas menghempas sekuat tenaga. Ganendra berguling, sebelum dia bisa berdiri. Sarpakenanga melingkarkan lengannya di leher Ganendra.
Mencekiknya sekuat tenaga. Membuat Ganendra mulai kesulitan bernafas.
"Aku akui keberanianmu pemuda tampan. Tetapi Ksatria Saka tingkat rendah seperti mu masih belum bisa menandingiku."
Ganendra berusaha meronta. Tangan kirinya memukul lengan Sarpakenanga. Tetapi lengan itu tak bergeming. Ganendra semakin kesulitan bernafas. Tetapi dia tidak boleh mati begitu saja.
Pemuda itu segera menggunakan sikutnya. Tepat mengenai kepala Sarpakenanga. Kemudian memberikan tendangan mengenai perut Sarpakenanga. Raungan kesakitan keluar dari mulut Sang Ditya.
Ganendra, mengatur nafasnya. Sarpakenanga menatap Ganendra dengan penuh amarah.
"Huaaaarghh! Kubunuh kau!"
Sarpakenanga memusatkan energi pada kuku andalannya. Ganendra mulai kehabisan tenaga akibat pertarungannya. Dia mengambil nafas dan bersiap dengan apapun yang terjadi.
Sarpakenanga dengan cepat mengayunkan kukunya. Ganendra berusaha menahan serangan. Tetapi terlambat, kuku beracun Sarpakenanga mengenai tangan Ganendra.
Ganendra terduduk dengan dada terluka. Racun masuk ke dalam tubuhnya. Dia terkapar di tanah. Sarpakenanga tertawa keras.
"Matilah kau!" teriak Sarpakenanga lantang.
Cakarnya siap terayun memberikan serangan terakhir. Ganendra hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apa-apa.
Duak!
Saat kuku Sarpakenanga mengayun. Seseorang dengan gerakan bagai kilat menendangnya dengan cepat. Membuat Sarpakenanga tersungkur. Dia menggeram siapa yang berani melawannya.
"Kalimakara!" mata Sarpakenanga melotot.
"Pergi! atau bersiaplah kepalamu terpisah dari badanmu." ancam Kalimakara.
__ADS_1
Meski merasa kesal. Sarpakenanga tak ingin mengambil resiko menantang Kalimakara. Nafas Ganendra mulai tersengal-sengal. Racun dari Sarpakenanga mulai masuk ke dalam darahnya. Semakin lama pandangan Ganendra semakin gelap.