Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Bunga Wijayakusuma


__ADS_3

“Sial! Ditya Gorawangsa itu! Aku pasti akan membalasnya.” ucap Ganendra memukul sebuah pilar kayu.



Mereka kembali ke Medangwantu. Membawa Sadana yang terluka. Pemuda itu masih menggigil kedinginan. Buyut Wengkeng berusaha menghilangkan rasa dingin di tubuh Sadana. Namun, sepertinya sia-sia.



“Ki, bagaimana kondisi Kakang Sadana?” tanya Putri Nalini terlihat cemas.



Buyut Wengkeng menggelengkan kepala. Pertanda dia tidak bisa berbuat apa-apa.



“Jika seperti ini…..” Buyut Wengkeng tidak melanjutkan kalimatnya.



“Tidak akan terjadi apa-apa pada Sadana.” ucap Ganendra sambil menatap kawannya yang terbaring tak berdaya.



“La…lalu bagaimana menyembuhkan Kakang Sadana?” tanya Balin sembari menangis.



Parama hanya duduk di sudut ruangan. Matanya terpejam dan menunduk. Pintu terdengar berderit dan terbuka. Buyut Bawada disertai Soma masuk ke dalam. Membawakan air panas. Lantas mengompres Sadana.



“Ki, apa yang harus kita lakukan?” tanya Soma dengan raut wajah cemas.



Buyut Wengkeng hanya mengelus jenggotnya. Hingga terdengar suara Buyut Bawada.



“Ki, apa kau masih ingat? Ada sebuah bunga sakti yang dapat mematahkan semua Yantra?”



Buyut Wengkeng terpengarah, “mak…maksudmu Bunga Wijayakusuma?”



Ganendra langsung menyahut, “Pak Tua, katakan bunga apa itu?”



Buyut Wengkeng mengelus jenggotnya.



“Bunga itu milik salah satu Dewa. Bunga yang tidak tumbuh di bumi. Tidak akan mudah mendapatkannya.”



“Aku tidak perduli. Katakan saja di mana itu? aku akan mendapatkan bagaimanapun caranya.” ucap Ganendra menatap cemas pada Sadana.



Buyut Bawada mengheningkan cipta sejenak. Meminta petunjuk para Dewa. Sesaat kemudian,


“Bunga itu di bawa oleh penggembala sapi bernama Kanha. Dia berada di Gunung Wayang.”



Tanpa berpikir panjang Ganendra bersedia ke sana.



“Aku akan menemanimu.” ucap Parama.



“Aku juga.” Putri Nalini menyahut bersamaan dengan Balin.


__ADS_1


Ganendra menggeleng.



“Biar aku saja yang ke sana bersama Kakang Parama. Aku tidak bisa membiarkan yang lain dalam bahaya.”



Keesokan harinya Ganendra dan Parama berangkat menuju Gunung Wayang. Perjalanan Ganendra dan Parama harus menerobos hutan. Melewati sungai dan ngarai. Hingga sampailah mereka ke Gunung Wayang. Mencari seseorang yang bernama Kanha. Di Gunung Wayang terdapat padang rumput yang sangat luas. Rumputnya tumbuh subur dengan warna hijau yang menyegarkan. Lamat-lamat terdengar suara seruling mengalun. Mengiringi perjalanan Ganendra yang ditemani Parama.



"Kakang Parama, apa kau mendengar suara seruling?" tanya Ganendra yang mulai terbiasa dengan panggilan 'kakang' yang sering digunakan di Swastamita.



Parama mengangguk.



"Disebelah sana." tunjuk Parama.


Keduanya berjalan mencari sumber suara seruling berasal. Benar saja tak jauh dari sana kumpulan sapi sedang asyik memakan rumput. Seorang pria muda sedang meniup seruling di atas pohon.


Lelabuhan kang kangge wong aurip,


Ala lan becik punika,


Prayoga kawruhana,


Adat waton punika dipun kadulu,


Miwah ingkang tatakrama,


Den kaesthi siyang ratri


Suara seruling diiringi kidung penuh makna. Disenandungkan pria muda yang duduk di atas ranting pohon. Ganendra segera menghampiri.


"Apa kau mengetahui. Dimana Kanha berada? Aku sedang terburu-buru."


Pemuda yang memainkan seruling tidak perduli dan tetap meniupnya. Membuat Ganendra kesal.


"Hei? Apa kau tuli? Aku sedang buru-buru."


"Kisanak, maafkan atas ketidaksopanannya. Jika diperkenankan, bisakah kau memberi tahu kami. Dimana keberadaan seseorang yang bernama Kanha?" tanya Parama menjaga sopan santun.


Barulah Si pemuda menghentikan meniup seruling.


"Apa kalian mengetahui. Apa makna di balik kidung yang aku lantunkan?" tanya pemuda itu dengan wajah berseri-seri.


Dia melompat dan turun dari pohon. Wajahnya tampan dengan rona keceriaan terpancar. Kulitnya hitam namun terkesan manis.


"Aku sungguh tidak ada waktu meladenimu. Jadi katakan di mana Kanha?" Ganendra berucap dengan tidak sabaran.


Pemuda itu malah membalas dengan tersenyum.


"Makna dibalik kidung yang aku lantunkan bagaimana pengabdian yang berguna untuk orang hidup. Jelek dan baik itu. Sebaiknya kamu ketahui. Adat istiadat itu hendaknya dilaksanakan. Juga yang berupa tata krama. Dilaksanakan siang dan malam."


"Aku tidak perduli dengan kidung bodoh itu. Waktuku tidak banyak." ucap Ganendra tidak sabaran.


Lagi-lagi Parama yang memohon maklum atas sikap Ganendra.


"Beribu maaf untukmu kisanak muda. Kami dikejar waktu. Teman kami sedang sekarat saat ini."


Pemuda itu tersenyum. Menunjuk Ganendra.


"Kau lebih tua dariku. Tetapi masalah etika, aku tidak kalah darimu."


Ganendra berusaha menahan emosi.


"Katakan saja di mana Kanha. Aku tidak perduli pendapat mu mengenai diriku."


Pemuda itu tersenyum. Wajahnya sumringah.


"Orang yang kalian cari berada tepat di depan kalian." jawabnya sembari merentangkan kedua tangan.


Ganendra dan Parama saling berpandangan. Sedetik kemudian gelak tawa keluar dari mulut Ganendra.


"Hahaha! Tidak mungkin kau adalah Kanha. Dari yang aku dengar dia sosok yang linuwih. Bukan sembarang orang. Pemilik Bunga Wijayakusuma."


"Fiiuhh... Kenapa seseorang melihat hanya sebatas wujudnya. Bukan dari wawasan yang dimiliki?"

__ADS_1


"Jika benar kau adalah Kanha. Bisakah kau membuktikan?" tanya Ganendra.


Pemuda yang mengaku bernama Kanha tersenyum simpul. Lalu menyuruh Ganendra dan Parama mendekat. Melihat ke dalam mulutnya. Ganendra dan Parama menyipitkan mata. Tetapi di sana hanya ada gigi, gusi, dan rahang semata.


Ganendra seketika marah.


"Apa kau ingin mempermainkan kami hah?!"


Pemuda itu kembali tersenyum. Lalu mengeluarkan seberkas sinar dari telapak tangannya. Sebuah bunga berwarna putih keluar secara ajaib. Parama yang menyaksikan langsung menyembah. Tidak salah lagi pemuda itu adalah Kanha.


"Maafkan kami yang tidak mengenali Yang Maha Sakti. Pemelihara keseimbangan alam semesta." Parama menyembah dengan khidmat.


Ganendra hanya mengernyitkan kening. Kenapa bisa pemuda di depannya ini dipanggil Yang Maha Sakti?


"Aku akan memberikan Bunga Wijayakusuma ini asal kalian bisa menjawab pertanyaan dariku."


"Hanya menjawab pertanyaan itu mudah." jawab Ganendra.


"Lekas katakan apa pertanyaannya."


Kanha tersenyum riang. Melihat Ganendra yang benar-benar tidak memiliki tatakrama seperti ini. Parama langsung mendelik menatap Ganendra. Dia tak habis pikir kenapa bersikap tidak sopan.


"Baiklah, pertanyaanku adalah…. ada apa di ujung langit?"


Ganendra dan Parama saling berpandangan. Parama langsung menjawab.


"Ada aksara 't"


Seketika Kanha dan Ganendra tertawa.


"Kau cerdas. Tetapi bukan itu yang aku maksud."


Ganendra berpikir sejenak. Menatap dalam pada Kanha. Dia bingung kenapa Parama menyebut Kanha Yang Maha Sakti dan menyembahnya sedemikian rupa. Ganendra lantas menatap langit di atas sana.


"Ada apa di langit sana?" gumamnya sendiri.


"Katakanlah apa jawabannya." desak Kanha.


Parama kembali berpikir. Pasti jawabannya sesuatu yang tidak sederhana.


"Awan" jawab Ganendra sederhana.


Kanha menatap Ganendra. Mencari penjelasan dari pemuda itu.


"Langit itu memiliki luas yang tak terbatas. Langit tak memiliki pangkal dan memiliki ujung. Maka dari itu di langit sendiri hanya ada awan karena kita sebagai manusia memiliki batasan. Melihat ciptaan Yang Kuasa yang tiada batasnya. Sama halnya ketika kau menyuruh kami melihat apa yang ada di dalam mulutmu. Mata kami hanya melihat gigi, lidah, ataupun gusi. Kami tidak bisa melihat yang lain."


Seketika Kanha tersenyum penuh makna.


"Lantas, untuk apa kau menginginkan Bunga Wijayakusuma ini? Aku bisa saja memberikanmu apa yang kau cari selama ini."


Mendengar ucapan Kanha membuat Ganendra terpengarah.


"Tirta Amerta bukan?"


Lagi-lagi Ganendra membelalakkan mata.


"Jangan beromong kosong.”


" Jika seandainya aku sungguh bisa memberikanmu Tirta Amerta. Apa yang akan kau pilih?"


Ganendra terdiam, menimbang sejenak tujuan dia ke Swastamita. Tujuannya hanya untuk mendapatkan Tirta Amerta. Jika orang dihadapannya ini memiliki kesaktian. Dia bisa saja memberikan apa yang selama ini Ganendra cari. Dia bisa segera pulang dan bertemu ibunya.


"Kau tahu kesulitan apa yang harus aku lalui saat di Swastamita? Aku hampir kehilangan nyawa. Jauh dari ibuku. Selalu dikejar monster. Aku ingin mengakhiri ini dan kembali pulang ke duniaku."


"Jadi pilihanmu adalah....?"


Ganendra menatap ke arah Kanha.


"Aku pikir, semua akan mudah. Bisa mengatasi semua sendiri. Tetapi aku salah. Aku bisa sampai di sini karena bantuan teman-temanku. Bisa selamat dari kejaran monster berkat mereka yang melindungiku. Aku tidak bisa egois dan meninggalkan mereka begitu saja." ucap Ganendra dengan wajah serius.


Lantas dia melanjutkan ucapannya. Setelah berhenti sejenak.


"Aku tidak bisa kehilangan temanku yang berharga. Meski aku harus melewatkan kesempatan mendapatkan Tirta Amerta. Pilihanku adalah menyelamatkan temanku."


Mendengar jawaban Ganendra yang tegas dan yakin. Kanha mengangkat tangannya. Telapak tangannya menghadap Ganendra.


"Kau berhati mulia Ganendra Abhirawa. Kau pantas mendapatkan Bunga Wijayakusuma."


Tepat disaat bersamaan. Secara ajaib Bunga Wijayakusuma berada di telapak tangan Ganendra. Dia senang bukan kepalang. Parama ikut tersenyum dan tak menyangka Ganendra sebijak ini.


Mereka berdua bergegas meninggalkankan Gunung Wayang. Di belakang mereka Kanha tersenyum. Tubuhnya memancarkan sinar terang.

__ADS_1


"Semoga selalu diberkati Yang Maha Kuasa." ucap Kanha. Kemudian menghilang dibalik sinar cahaya bersama binatang gembalaannya.


__ADS_2