Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Kembali Ke Dunia Asal


__ADS_3

Tubuh Ganendra dan Putri Nalini melayang tak tentu arah di ruang hampa. Ruang dan waktu seolah saling tumpah tindih. Membawa keduanya ke tempat antah berantah. Ganendra yang tak sadarkan diri samar-samar mendengar suara bising. Berdengung terus menerus di telinganya.


Tit!


Bim!


Tit!


Perlahan Ganendra membuka mata. Sesekali mengusapnya perlahan. Di sekitarnya suara bising begitu mengganggu. Ganendra melihat ke sisi lain. Dia melihat Putri Nalini masih memejamkan mata. Seketika Ganendra teringat sesuatu.


“Hei! Wanita menyebalkan…bangunlah.” Ganendra menepuk-nepuk pipi Putri Nalini.


Suara rintihan keluar dari bibirnya yang mungil.


“Jangan menggangguku. Sana pergi!”


“Hei, cepat bangun. Sekarang kita tidak tahu sedang berada di mana.” Ganendra terus membangunkan Putri Nalini.


Meski dihinggapi rasa malas, Sang Putri akhirnya membuka mata. Menatap Ganendra dengan kesal.


“Kenapa kau selalu menyebalkan.” ucap Putri Nalini dengan nada kesal.


“Apa kau pikir dirimu tidak menyebalkan? Ah …sudahlah berbicara denganmu membuatku jengkel.” balas Ganendra.


Putri Nalini terlihat kesal. Tetapi dia juga lelah jika harus berdebat. Sembari mengucek matanya, dia bangkit berdiri.


“Di mana kita sekarang?”


Ganendra tersadar dan melihat sekeliling. Dia sedikit tersentak.


“I…Ini?”


Ganendra melihat pagar sebuah rumah dan tembok yang pernah dia lompati dahulu. Tempat sebelum dia bertemu Kalimakara. Tempat di mana dia dikejar aparat keamanan. Setengah tidak yakin, dia bergegas lari keluar gang. Putri Nalini mengikuti dari belakang dengan perasaan heran.


Tepat seusai keluar dari gang. Ganendra disambut dengan kepulan asap kendaraan. Suara bising yang memekakkan telinga. Di sekelilingnya gedung-gedung bertingkat terlihat jelas.


“Ti…tidak mungkin….” ucap Ganendra perlahan. Antara percaya dan tidak percaya.


Putri Nalini langsung menutup mulutnya. Melihat pemandangan yang sama sekali berbeda dari dunianya.


“Se…sebenarnya kita berada di mana?” tanya Putri Nalini merasa terkejut.


Ganendra menatap Putri Nalini. Sedetik kemudian sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya.


“Selamat datang di duniaku.” jawab Ganendra dengan wajah sumringah.


“Hah? A…apa maksudmu?”


Putri Nalini semakin heran dengan ucapan Ganendra.


“Sebenarnya aku bukan berasal dari duniamu. Asalku dari dunia ini. Dunia modern yang tidak pernah ada monster mengerikan.”


Rona keceriaan terpancar dari wajahnya.


“Tu…tunggu…. A…apa maksud semua ini? Maksudmu kau bukan berasal dari Swastamita?” Putri Nalini mencerca Ganendra dengan banyak pertanyaan.


“Benar. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya. Kau bisa melihat sendiri duniaku seperti apa.”

__ADS_1


Putri Nalini memutar tubuhnya. Melihat pemandangan yang jauh berbeda dari dunianya. Dia melihat sesuatu yang berjalan dengan roda. Setiap orang berpakaian aneh tidak seperti dirinya. Orang-orang malah balik melihat mereka dengan tatapan aneh.


“Lihat mereka, apa mereka sedang mengadakan pawai?” bisik seseorang yang lewat di jalanan.


Ganendra yang mendengar itu segera menyadari. Pakaian yang mereka kenakan memang tak lazim di dunianya. Pakaian yang mestinya dipakai untuk acara tertentu saja. Tak berselang lama, tiba-tiba Ganendra teringat sesuatu.


“Ibu…..” ucapnya lirih.


Lalu berlari menuju suatu tempat. Di belakangnya Putri Nalini mengikuti. Berteriak-teriak memanggil Ganendra. Tetapi yang dipanggil memilih terus berlari.


“Ikuti saja aku!” teriak Ganendra.


Suara nafas Ganendra terdengar terengah-engah. Lalu dia berhenti di sebuah rumah yang hanya sepetak. Terletak di gang sempit. Tak lama kemudian, Putri Nalini memukul bahunya.


“Ah…ah.,.. dasar pria mesum. Kenapa terus berlari?”


Nafas Putri Nalini juga terdengar ngos-ngosan. Ganendra tidak merespon ucapan Putri Nalini. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Membuka pintu dengan perasaan bahagia.


“Bu! Ibu! Aku pulaaang!”


Saat Ganendra membuka pintu. Suara nan lembut mengalun di telinga Ganendra.


“Kau sudah pulang, putraku.” sebuah senyum hangat terlukis dari wajah seorang wanita.


Wanita itu tak lain, ibu Ganendra. Ganendra terpengarah, melihat ibunya bisa berbicara dan berdiri seperti ini. Tanpa banyak berkata dia langsung menghambur ke pelukan ibunya.


“Bu…ibu…. Aku sungguh merindukanmu….” Ganendra memeluk ibunya dengan sangat erat.


Jauh dilubuk hatinya perasaan rindunya tak lagi dapat tertahankan.


“Bu….ba…bagaimana kau bisa sembuh? Apa yang terjadi?” tanya Ganendra setelah puas memeluk ibunya.


“Ini semua berkatmu. Kau berhasil mendapatkan banyak uang untuk pengobatan ibu. Sehingga ibu bisa sembuh total.”


Tak terperi harunya perasaan Ganendra ketika mengetahui ibunya sudah sembuh. Dia langsung memeluk ibunya dengan erat. Meluapkan rasa rindunya yang selama ini di tahan. Hingga terdengar suara langkah kaki Putri Nalini ikut masuk ke dalam rumah.


“Dasar pria tidak bertanggungjawab. Aku sudah berkorban menyelamatkanmu sampai terbawa ke dunia asing ini. Tetapi kau malah mengabaikanku.” protes Putri Nalini.


Seketika Ganendra teringat saat dia hendak keluar dari dunia ilusi. Putri Nalini melompat ingin membantunya. Tetapi malah berakhir terlempar bersama ke dunia asal Ganendra.


“Ah, itu karena aku merasa sangat bahagia. Jadi sedikit melupakanmu.”


Ibu Ganendra mengernyitkan keningnya. Menatap Putri Nalini penuh tanda tanya. Ganendra langsung memperkenalkan keduanya secara singkat dan menceritakan apa yang dia alami. Meski ibu Ganendra sulit menerima. Tetapi Sang Ibu mencoba memahami. Baginya Ganendra kembali dengan selamat sudah cukup.


Malam semakin larut. Tetapi Putri Nalini masih duduk di depan rumah. Menatap langit yang sepi tanpa bulan dan bintang.


“Dunia macam apa ini? Kenapa tidak ada bulan dan bintang. Lantas bagaimana aku bisa pulang?” Putri Nalini mengacak-acak rambutnya.


Tepat saat itu Ganendra keluar dari dalam rumah. Lalu duduk di samping Putri Nalini.


“Kenapa kau ingin menyelamatkanku? Padahal kita seperti Pandawa dan Kurawa yang saling bermusuhan.”


Putri Nalini, hanya menatap langit di atas sana.


“Entahlah, itu terjadi begitu saja. Sekarang aku menyesal melakukan itu. Bagaimana aku akan pulang.” keluh Putri Nalini.


Ganendra dapat memahami perasaan Sang Putri.

__ADS_1


“Aku akan mencari cara supaya kau bisa pulang ke duniamu.”


Putri Nalini menatap Ganendra.


“Kau tidak ingin kembali? Bukankah kau mengikuti pelatihan di Wiyata Mandala untuk menjadi Ksatria Saka?”


Seulas senyum tersungging di sudut bibir Ganendra.


“Alasanku datang ke duniamu karena ingin menyembuhkan ibuku. Sekarang ibuku, sudah sembuh seperti sedia kala. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk kembali.”


Putri Nalini memahami itu. Dia pun dapat mengerti.


“Tetapi bagaimanapun caranya. Kau harus mencari jalan supaya aku kembali ke duniaku. Aku tidak ingin bersama pria mesum di sini.”


“Hei, kau mulai lagi. Waktu itu aku tidak sengaja melakukannya. Aku ingin menarikmu dari cengkraman para monster.” Ganendra menjelaskan Panjang lebar. Mereka masih saja berdebat hingga larut malam.


Kini, keheningan malam mulai terasa. Putri Nalini tidak bisa tidur karena berada di tempat asing. Ditambah tempat tidur yang sudah usang. Jauh berbeda dengan Keputren yang di penuhi kemewahan.


“Ah…. karena tidak bisa tidur. Aku merasa haus sekarang.”


Lalu Putri Nalini beranjak dan keluar dari kamar. Rumah sekecil ini nampak lembab dan tidak terawat. Cahaya temaram membuatnya menyipitkan mata. Mencari jalan menuju dapur. Langkahnya perlahan supaya tidak membangunkan Ganendra dan ibunya yang sepertinya tidur lelap.


Entah kenapa, suasananya sedikit aneh. Membuat Putri Nalini tidak nyaman. Saat melangkah menuju dapur, dia mendengar suara samar-samar. Suara mendesis seperti lidah ular.


“Nyam…Nyam…”


Lagi-lagi Putri Nalini menyipitkan mata. Supaya dapat melihat dengan bantuan cahaya temaram. Di dapur, seseorang tengah berjongkok membelakanginya. Suaranya lahap seolah sedang memakan sesuatu.


"Slurp…nyam…nyam…"


Melihat dari siluetnya sepertinya seorang wanita. Putri Nalini menduga, wanita itu adalah ibu Ganendra. Sang Putri lantas mendekat dan melihat apa yang di makan ibu Ganendra. Sedetik kemudian, betapa terkejutnya Putri Nalini. Melihat ibu Ganendra memakan tangan manusia.


“Kyaaaa!!!” jeritan suara Putri Nalini membuat ibu Ganendra menoleh.


Menatapnya dengan tajam dan meraung keras.


“Dityaaa!!!” pekik Putri Nalini.


Lantas berhamburan keluar rumah. Jeritannya membuat Ganendra yang tidur langsung terbangun. Mencari arah sumber suara. Dia langsung ke luar rumah. Saat mendengar Putri Nalini memanggil namanya berulang kali.


“Hei! Jangan berisik. Di sini, kau tidak bisa berteriak sembarangan. Meskipun di Swastamita kau adalah seorang putri. Tetapi di sini kau tidak bisa berbuat seenakmu.” ucap Ganendra dengan nada kesal.


Putri Nalini terduduk sambil menutup mulutnya. Ganendra melangkah menghampiri.


“Ayo masuklah. Ini sudah malam.” ucap Ganendra menurunkan nada suaranya.


Dia berpikir Putri Nalini sedang syok karena datang ke dunia asing. Sama seperti dia dahulu sewaktu datang ke Swastamita.


“Putraku, apa ada masalah?” tanya Ibu Ganendra yang ikut keluar dari rumah.


“Ah, aku rasa Sang Putri hanya syok saja karena baru datang ke dunia ini.” jawab Ganendra tanpa menoleh.


Putri Nalini membekap mulutnya sendiri karena tepat di belakangnya. Wujud ibu Ganendra berubah menjadi seorang Ditya dengan taring panjang. Lidah menjulur seperti ular. Tangannya berubah menjadi cakar. Senyum seringai dia perlihatkan. Lantas dengan gerakan cepat mengayunkan cakarnya ke arah Ganendra.


Srat!!!


“Kyaaa!!!” Putri Nalini menjerit keras.

__ADS_1


Darah berwarna merah segar mewarnai malam yang begitu pekat.


__ADS_2