Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Anugerah Dewa


__ADS_3

Kali ini mendapatkan Bunga Wijayakusuma tidaklah mudah. Ganendra harus bertarung melawan Kanha. Ganendra yakin bisa mengalahkan pemuda yang usianya tak lebih tua darinya. Pasti dengan mudah akan dikalahkan. Akan tetapi Ganendra salah. Pemuda itu bukanlah sembarang pemuda.



Seluruh alam semesta mengelilinginya. Semua tunduk pada kekuatannya. Pemuda yang dilawan Ganendra adalah Yang Maha Sakti, Dewa Keseimbangan Alam. Dia adalah Dewa Padmanaba atau di dunia Ganendra berasal di kenal sebagai Dewa Wisnu.



Ganendra tidak mengetahui siapa yang dilawannya. Tetapi demi menyelamatkan Putri Nalini, dia akan melakukan apapun. Tidak akan menyerah begitu saja. Tekadnya sudah bulat. Rintangan apapun akan dihadapi.



Ganendra berusaha bangkit berdiri. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang tersisa.


“Hyaaa!!!” teriaknya lantang.


Kanha yang sedang berjalan menjauhi Ganendra segera menoleh. Dia terkesiap dan tak menyangka. Kondisi tubuh Ganendra yang sudah terluka. Masih bangkit berdiri. Sekarang malah menerjang ke arah Kanha.



Ganendra terus maju mengarahkan pukulannya. Kanha bersiap menggunakan salah satu tangannya.



“Hyaa!!”


Tangan Kanha berusaha menahan serangan. Tetapi pukulan yang diarahkan Ganendra tiba-tiba berubah haluan. Tangan kiri Ganendra bukannya memukul. Tetapi malah mengambil seruling Kanha. Lantas dengan cepat berguling ke sisi lain.


Kanha terlihat kebingungan. Apa yang sebenarnya di lakukan Ganendra. Tiba-tiba tangan kiri Ganendra terangkat ke atas sembari menggenggam erat seruling milik Kanha.



“Aku mengambilnya!” ucap Ganendra dengan menyunggingkan seulas senyum.


“Kenapa kau mengambil serulingku?” tanya Kanha merasa heran.


Meski kesulitan untuk berdiri dan menderita luka disekujur tubuhnya. Ganendra berusaha bangkit sembari melempar senyum.



“Aku yakin serulingmu ini adalah benda berharga. Kau selalu membawa dan memainkannya bukan?” ucap Ganendra.



“Lantas?” tanya balik Kanha.



“Mari lakukan pertukaran.” jawab Ganendra.


“Pertukaran?”


Ganendra mengangguk, “ya, kita bertukar. Kau memberikanku Bunga Wijayakusuma dan aku akan mengembalikan serulingmu yang berharga ini.



“Kenapa kau bisa menyimpulkan bahwa seruling itu berharga? Hanya karena aku sering memainkannya?” tanya Kanha.



Ganendra menggelengkan kepala.



“Bukan hanya karena kau terus membawanya atau memainkannya. Tetapi setiap nada yang kau mainkan melalui seruling ini. Menjadikan para sapi merasa bahagia sembari menyantap rerumputan. Membuat seiisi gunung merasa lebih damai. Terbukti ketika kau memainkan seruling dahan pohon ikut bergoyang. Angin berhembus perlahan. Menenangkan alam di bawah langit.”



“Apa ini pertama kali kau menyadarinya?” tanya Kanha lagi.

__ADS_1


“Ini bukan pertama kalinya. Tetapi diawal pertemuan kita. Aku sudah melihat dan mengamatinya.”


Sedetik kemudian, seulas senyum terlihat dari wajah Kanha. Lantas tak lama berselang, wujud Kanha sebagai penggembala sapi yang masih muda diselimuti cahaya yang menyilaukan. Hingga beberapa saat wujudnya berubah menjadi seorang Dewa.


Parama maupun Sadana yang melihat wujud sesungguhnya Sang Dewa segera menyembah.



“Aku akui kau memang luar biasa Ganendra Abhirawa.” ucap Sang Dewa. Suaranya lembut dan menenangkan.



Ganendra terkesiap bagaimana orang yang ada di hadapannya bisa mengetahui namanya secara lengkap.


“Tidak perlu merasa heran karena aku bisa melihat semuanya. Aku adalah Dewa Padmanaba, dewa keseimbangan alam. Di duniamu, aku dikenal sebagai Dewa Wisnu.”


Mendengar hal itu. Tentu Ganendra tidak asing lagi. Di dunianya ada beberapa kepercayaan dan keyakinan. Salah satunya mengenai Dewa Wisnu. Pantas saja dia melihat alam semesta mengelilingi Kanha yang merupakan jelmaan Sang Dewa. Meski Ganendra tak percaya. Tetapi setelah melihatnya langsung, Ganendra langsung bersujud.



“Maaf atas ketidaksopananku.” ucap Ganendra meminta maaf dengan tulus.



Ini pertama kali dia meminta maaf dengan seseorang. Dewa Padmanaba tersenyum.



“Kau memiliki potensi melebihi apa yang kau bayangkan. Teruslah berlatih menjadi seorang Ksatria Saka sejati. Swastamita membutuhkan seseorang yang pantang menyerah sepertimu. Di depan sana, masih banyak jalan terjal yang harus kau lalui. Maka aku memberikan anugerah padamu.” ucap Dewa Padmanaba.



Tangannya lantas terangkat. Seberkas sinar putih keluar dari tangan Sang Dewa. Merubah wujud seruling yang Ganendra pegang menjadi sebuah tombak. Mata Ganendra seketika terpengarah.



“Aku … Dewa Padmanaba, mengakui tekad dan jiwa pantang menyerah seorang Ganendra. Maka aku memberikan sebuah tombak yang bernama Tombak Naga Baruna.”




“Terimakasih banyak.” ucap Ganendra.



Parama dan Sadana juga ikut bergembira. Melihat Ganendra mendapatkan anugerah dari Yang Maha Sakti.



“Berkat tekadmu ingin menolong Sang Putri. Maka kuberikan Bunga Wijayakusuma untukmu.” ucap Dewa Padmanaba.



Tak ayal betapa senangnya Ganendra menerima anugerah yang diberikan Dewa.



“Beribu terimakasih ku ucapkan untuk mu Yang Maha Sakti.” ucap Ganendra sembari mengatupkan tangan di dada. Diikuti Parama dan Sadana.



Dewa Padmanaba tersenyum dan kemudian menghilang kembali ke Kahyangan. Meninggalkan kebahagiaan yang membuncah di hati Ganendra. Ketiga orang itu lantas bergegas kembali ke Medangwantu.



*Di Desa Medangwantu*…


__ADS_1


Ganendra segera menyerahkan Bunga Wijayakusuma pada Buyut Bawada. Ki Buyut mengheningkan cipta. Memohon para dewa untuk memberikan anugerahnya. Mengembalikan nyawa Putri Nalini.



Bunga Wijayakusuma yang berwarna putih diletakkan di dada Sang Putri. Seberkas cahaya putih menyelimuti Putri Nalini. Mengembalikan nyawa Sang Putri ke tubuhnya. Dewa rupanya merestui Putri Nalini hidup kembali.



Memberikannya kesempatan untuk berjuang bersama Ksatria Saka. Perlahan, mata Putri Nalini mengerjap. Ganendra yang melihat Putri Nalini bereaksi segera menggenggam tangannya.



“Nalini….Nalini…kau mendengar suaraku? Bukalah matamu.” ucap Ganendra perlahan. Wajahnya terlihat berbinar ceria.



Perlahan tapi pasti. Mata Putri Nalini terbuka lebar. Dia melihat sekeliling. Lalu menatap Ganendra yang menggenggam tangannya erat. Menatapnya dengan intens.



“Kyaaa!!! Dasar pria mesum!”



Plak!



Pekik Putri Nalini sambil menampar pipi Ganendra dengan keras.



“Hei! Dasar Putri Congkak!” teriak Ganendra marah.



Semua orang menahan Ganendra. Supaya jangan kasar pada Putri Nalini.



“Huaaaa….Gusti Putri, kau akhirnya kembali hidup.” ucap Balin menangis terharu.


Putri Nalini melempar senyum lebar.


“Terimakasih semuanya.”



Semua orang merasa lega mendengar bahwa Sang Putri baik-baik saja sekarang. Mereka tertawa memecah keheningan malam. Diantara tawa semua orang, Putri Nalini tersenyum sembari menatap Ganendra.



“Terimakasih Pria Mesum.” ucap Sang Putri lirih.


Ganendra tak jadi marah dan balas melempar senyum.



Di balik pepohonan, yang tak jauh dari rumah Buyut Wengkeng. Kalimakara mendengar hingar tawa Ganendra dan kawan-kawannya. Matanya menatap menyiratkan sesuatu.



“Aku tidak menyangka, Sang Dewa memberikan anugerah pada Ganendra. Hal yang tidak ada dalam rencanaku. Tetapi ini bagus, semakin cepat naik tingkatannya. Maka semakin cepat pula Tirta Amerta berada dalam genggamanku. Cepatlah naik ke tingkat yang lebih tinggi Ganendra Abhirawa. Aku menantikan saat-saat itu tiba.”



“Bwahahahaha!!!!”


Tawa Kalimakara membuat beberapa binatang hutan ketakutan. Burung-burung beterbangan dan membuat binatang lainnya lari tungganglanggang.

__ADS_1


Bagaimana kisah perjalanan Ganendra selanjutnya? Akankah jalan yang dilaluinya untuk menjadi seorang Ksatria Saka sejati akan mudah? Nantikan kelanjutannya. Meski tidak ada yang baca.


__ADS_2