Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Memilih Kematian


__ADS_3

Sang Kuwung penguasa singgasana rembulan tengah dimangsa Raja Kegelapan. Sinarnya tertelan pekatnya malam. Ditya Kalandaru tersenyum menyeriangi. Menyaksikan cahaya rembulan redup. Tepat hari ini, terjadi gerhana bulan. Hari yang dinantikan Ditya Kalandaru menanam benih di rahim Putri Nalini.


Sang Ditya percaya, saat rembulan ditelan kegelapan. Maka kekuatan gelap jauh lebih besar. Dia akan mendapatkan bayi Ditya yang dipenuhi kekuatan penguasa gelap. Ditya Kalandaru memerintahkan seluruh Ditya di bawah pimpinannya untuk menjaga ketat Pancapratala. Tidak boleh ada satupun yang mengganggu ritualnya.


Ditya Kalandaru juga memiliki rencana dengan memerintahkan beberapa Ditya mengacau di desa-desa wilayah Kerajaan Ayodya. Para Ditya yang menyerang penduduk desa akan merepotkan Ksatria Saka, dengan begitu dia bebas menjalankan rencana. Mendapatkan anak dari Putri Nalini.


“Ha!Ha!Ha! sudah dipastikan kekuatan besar dari Sang Kegelapan akan menjadi milikku. Kalimakara, kau bukan apa-apa setelah ini khukhu….” ucap Ditya Kalandaru dengan nada congkak.


Suara tawanya menggema di seluruh dinding istana Pancapratala. Para Ditya di bawah pimpinannya meraung-raung. Berkumpul dan menunggu perintah.


“Wahai para Ditya. Malam ini, kalian makanlah para manusia sepuasnya. Penuhi hasrat kalian menjadi pemangsa. Buat teror di mana-mana Ha! Ha Ha!” kata Ditya Kalandaru.


Roarrr!!!


“Pergilah!” perintah Ditya Kalandaru.


Tidak lama berselang, beberapa Ditya berubah menjadi sinar hitam. Sinar hitam melesat ke segala penjuru arah. Menyisakan suara tawa membahana Ditya Kalandaru.


Terjadinya gerhana bulan menguntungkan bagi para Ditya. Kekuatan mereka bertambah berkali lipat. Sang Raksas Agung penguasa kegelapan merestui mereka. Meneror umat manusia di Swastamita.


“Tolong! Tolong!” teriak beberapa warga desa di Medangwantu.


Para Ditya melompat dan menerkam manusia yang ditemui. Lantas mencakar bahkan mencabik. Lalu memakan daging manusia itu dengan lahap.


Roaar!!!


Suara jerit ketakutan berbaur menjadi satu. Ganendra dan yang lain bergegas menghadapi para Ditya.


“Ki Buyut Wengkeng, Bimantara menghubungiku melalui telepati. Saat ini banyak Ditya bermunculan di wilayah Kerajaan Ayodya. Istana kerajaan juga di serang. Aku akan ke Ayodya dan membantu di sana.” ucap Buyut Bawada.


Lantas dengan kekuatan Kadewatannya, Buyut Bawada memanggil binatang suci melalui yantra. Tidak lama berselang, seekor burung Mliwis berwarna putih muncul secara ghaib. Buyut Bawada menunggai burung Mliwis dan terbang secepat kilat. Menuju istana Ayodya.


“Parama dan kau Soma, pergilah ke desa Kahuripan. Bantu penduduk desa di sana.” perintah Buyut Wengkeng.


Parama dan Soma bergegas pergi. Sedangkan Sadana, Ganendra dan Balin mengamankan Medangwantu.


“Kenapa tiba-tiba banyak sekali Ditya menyerang?” tanya Ganendra gusar sembari bertarung dengan Ditya.


“Malam gerhana bulan adalah malam di mana kekuatan Ditya meningkat. Kalian sebaiknya berhati-hati.” ucap Buyut Wengkeng.


“Baik Ki.” ucap Sadana dan Balin bersamaan.


“Sial! Kenapa di saat seperti ini malah banyak Ditya menyerang? Bagaimana kita menyelamatkan Nalini jika seperti ini?’ tanya Ganendra pada Sadana.


“Aku percaya pada Putri Nalini. Bisa menjaga dirinya untuk saat ini. Tapi tugas kita sekarang membunuh Ditya yang menyerang Medangwantu.”


Ganendra hanya bisa menahan amarahnya. Lalu memusatkan tenaga dalam di tangan kiri. Dia berusaha menghajar kawanan Ditya. Pukulannya mengayun ke sana ke mari.


Duak!

__ADS_1


Duak!


Tetapi para Ditya lebih lincah dari sebelumnya. Tubuhnya lebih keras dibanding Ditya yang pernah di hadapai Ganendra.


“Apa-apaan ini?” tanya Ganendra kesal.


Biasanya jika sudah terhantam pukulan Ganendra. Maka Ditya itu akan roboh bersimpah darah hitam. Akan tetapi berbeda kali ini. Perlu lebih banyak tenaga dalam untuk membunuh Ditya.


Di Pancapratala…


Ditya Kalandaru bersiap memasuki kamar di mana Putri Nalini berada.


“Bwahahaha!!! Kekasihku, kemarilah.” ucap Ditya Kalandaru.


Membuat Putri Nalini berjingkat. Dia mulai menjaga jarak dengan Sang Ditya. Putri Nalini masih tidak rela dijadikan wadah.


“Tutup mulut kotormu itu! jangan pernah memanggilku sebagai kekasih.” balas Putri Nalini dengan nada tinggi.


“Kenapa? Apa karena sekarang wajahku tidak tampan seperti dulu? Ataukah kau mengharapkan kasih dari pemuda cacat itu?”


Plak!


Sebuah tamparan keras dilayangkan Putri Nalini. Tepat mengenai wajah Ditya Kalandaru.


“Kau boleh mengatakan apapun mengenai diriku. Tetapi jangan menghina kekurangan tubuh orang lain.” ucap Putri Nalini tegas.


Roaaar!!!


Ditya Kalandaru menggeram sekuat tenaga. Sang Ditya yang mendengar ucapan Putri Nalini seketika naik pitam.


“Aku tidak perduli. Malam ini penuhilah janjimu. Menjadi wadah kelahiran Ditya.”


Ditya Kalandaru hendak mendekati Putri Nalini. Tetapi Sang Putri mundur selangkah. Lantas menyalurkan tenaga dalam ke kaki ataupun tangannya.


Duak!


Tendangannya mengarah pada Ditya Kalandaru. Tetapi Sang Ditya menahan hanya dengan satu tangannya saja. Putri Nalini kembali melayangkan pukulan. Tetapi lagi-lagi pukulannya dapat di tangkis.


Ditya Kalandaru menatap dengan beringas. Lantas mencengkeram leher Putri Nalini. Sang Putri merontan sembari memukul-mukul tangan Ditya Kalandaru.


“Jangan membuat kesabaranku habis!”


Sembari mencengkeram leher Putri Nalini. Ditya Kalandaru mendorong Sang Putri. Membantingnya di ranjang cukup keras. Putri Nalini meringis kesakitan.


“Lepaskan aku! Aku mohon!” pinta Putri Nalini setengah memohon.


Ditya Kalandaru hanya menatap sambil menggeram.


“Kakang…sadarlah….” rintih Putri Nalini.

__ADS_1


Ditya Kalandaru sama sekali tak bergeming. Baginya saat ini yang terpenting adalah mendapatkan kekuatan besar. Untuk menjadi yang terkuat.


Roaaar!!!


Sang Ditya menggeram. menatap Putri Nalini dengan tatapan buas. Taringnya tajam dengan mata bulat hampir keluar. Tubuhnya menindih Putri Nalini. Mengoyak pakaian yang dikenakan Sang Putri.


“Kakang Dananjaya, ku mohon hentikan.” pinta Putri Nalini setengah menangis.


Tetapi lagi-lagi Ditya Kalandaru tidak perduli sama sekali. Tujuannya hanyalah menjadi yang terkuat. Menguasai Swastamita dan mendapatkan Tirta Amerta.


Di Medangwantu, Ganendra dan kawan-kawannya masih berjuang.


Srat!


Tiba-tiba sebuah cakar mengenai dada Ganendra. Pemuda itu tidak bisa berkonsentrasi karena memikirkan Putri Nalini. Salah satu Ditya melompat dan menindih tubuh Ganendra. Hendak memakannya. Ganendra menahan taring Sang Ditya dengan tangannya kirinya.


Roaar!!!


Srat!


Saat taring Ditya hendak menancap di tubuh Ganendra. Kapak Sadana melesat memenggal kepala Sang Ditya.


“Ganendra, malam ini sepertinya para Ditya tidak bisa hanya dihadapi dengan tenaga dalam biasa. Kau harus lebih meningkatkan energi dalam tubuhmu.” ucap Sadana.


“Bagaimana aku bisa memusatkan energi. Pikiranku sekarang hanya tertuju pada Nalini. Aku merasakan firasat buruk.” jawab Ganendra dengan mata dipenuhi kecemasan.


Kembali ke Pancapratala.


Ditya Kalandaru hendak merudapaksa Putri Nalini. Tetapi Sang Putri terus meronta. Hingga tanpa pikir panjang dia menendang benda kesayangan Ditya Kalandaru. Benda yang terletak antara selangkang. Membuat Sang Ditya meraung kesakitan.


Putri Nalini mendorong Ditya Kalandaru menjauh. Tetapi Sang Ditya segera merapalkan yantra pengikat perjanjian. Tato semacam gelang rantai di pergelangan tangan kanan Putri Nalini tiba-tiba seperti nyala api. Tubuh Putri Nalini terasa terbakar.


“Arghtttt!!” rintih Sang Putri kesakitan.


Ditya Kalandaru tertawa lebar.


“Kau tidak akan bisa kemana-mana. Jadi kemarilah, biarkan aku menanamkan benih Ditya di rahimmu.”


Di tengah rasa panas yang menyerang tubuhnya. Putri Nalini menatap Ditya Kalandaru dengan tajam.


“Sampai kapanpun, aku tidak akan sudi dijadikan wadah.” teriak Putri Nalini.


Lantas dengan gerakan cepat. Menyahut pisau yang tersembunyi di balik ikat pinggang selendangnya. Lalu tanpa banyak berkata, secepat mungkin menghujamkan pisau itu ke dadanya sendiri.


Darah segar keluar muncrat dari luka Putri Nalini. Sang Putri roboh bersimbah darah. Nafasnya yang tadi memburu, kini perlahan mulai samar dan kemudian memudar.


“Nalini!!!” teriak Ditya Kalandaru.


Tepat disaat bersamaan, gerhana bulan perlahan sirna. Sang Dewa rembulan kembali menampakkan cahayanya. Akan tetapi kematian yang dipilih Putri Nalini membawanya dalam keabadian Sang Penguasa Akhirat.

__ADS_1


__ADS_2